Benih Tuan Muda

Benih Tuan Muda
Pulang


__ADS_3

''Larasati mana, Bik?'' tanya Edgar pada Retno pagi Minggu.


Pagi-pagi sekali Edgar sudah rapi dengan stelan olahraga, tampak segar dan semakin tampan saja. Dia akan berlari kecil mengelilingi kompleks perumahan tempat tinggal nya.


Biasanya tugas Laras yang menyapu halaman, tapi kali ini tidak. Bik Retno menggantikan Laras membersihkan halaman. Hal itulah yang membuat Edgar bertanya.


''Laras ada di kamar nya, Tuan. Dia sakit.'' Jelas Retno.


''Sakit lagi? Bukankah satu bulan yang lalu dia juga pernah sakit.'' Ucap Edgar, ia mulai menyelidiki kondisi terkini Laras.


''Iya, Tuan. Tapi kali ini sepertinya sakit nya beda.''


''Beda?'' mata Edgar menyipit menatap Retno.


''Waktu itu Laras demam tinggi, tapi kali ini dia mual-mual sama muntah juga. Tidak mau makan dan kepalanya juga pusing. Begitu katanya. Mungkin dia masuk angin, atau magh nya kambuh, tadi malam punggung nya sudah Bibik kerokin.'' Jelas Retno.


Mendengar penjelasan Retno, membuat pikiran Edgar ke mana-mana. Ada satu hal yang menggangu pikiran nya dan membuat dia menduga-duga sendiri.


''Apa kali ini Laras sakit juga karena perbuatan ku?'' ucap Edgar di dalam hati.


''Ya sudah, saya lari pagi dulu Bik.'' Dengan langkah kaki lebar Edgar meninggalkan halaman rumah, dia terus berlari, pikiran nya masih melalang buana memikirkan Laras.


Entahlah, semenjak kejadian malam itu, sosok Laras sering hadir di mimpi-mimpinya.


*


Pukul delapan pagi, Edgar tiba di rumah. Dia rasa cukup olahraga nya hari ini.

__ADS_1


Dia berjalan menuju kulkas untuk mengambil minuman dingin.


''Lho, Bibik mengupas mangga muda untuk siapa? Itu mangga muda yang tumbuh di samping rumah, 'kan?'' tanya Edgar heran.


''Iya, Tuan. Bibik metik satu buah. Laras tidak mau makan apapun, saat di tanya, katanya dia pengen banget makan mangga muda.''


Penjelasan Retno semakin membuat Edgar gelisah, dengan cepat dia mengambil botol air, lalu meneguk nya hingga tandas.


Peluh menetes dari kening serta dagu nya.


Dia berjalan ke kamar untuk membersihkan diri dan juga berganti pakaian.


Setelah beberapa saat, akhirnya penampilan Edgar sudah terlihat rapi.


Dia akan pergi ke suatu tempat.


*


Apoteker langsung mengambil apa yang Edgar minta.


Setelah membayar, Edgar masuk ke dalam mobilnya, dia akan segera menemui Laras untuk membuktikan kecurigaan nya.


''Lah, itu bukannya Tuan Edgar? Emang dia beli test pack untuk siapa? Setahu aku dia belum menikah.'' Ucap Apoteker yang mengenali siapa Edgar.


''Menikah sih emang belum, tapi kalau kawin udah dong. Dia 'kan pacaran sama model terkenal itu, mereka sudah lama berpacaran, dan mungkin saja pacar nya sudah mengandung di luar nikah. Kebobolan.'' Timpal temannya, lalu mereka tertawa kecil.


*

__ADS_1


''Edgar, kamu dari mana? Sibuk banget kayaknya hari ini. Padahal weekend lho,'' tanya Oma Risma.


''Aku habis dari Apotek Oma.'' Jawab Edgar keceplosan.


''Apotek? Emang beli apa?''


''Em aku beli... Vitamin.'' Jawab Edgar lagi, berbohong.


''Kamu kok repot-repot keluar, padahal kamu bisa minta tolong pelayan untuk membeli kebutuhan mu.''


''Mumpung hari Minggu, Oma. Enggak sibuk juga, jadi aku pergi sendiri saja.''


Risma manggut-manggut mendengar penuturan sang cucu.


Lalu fokusnya kembali pada televisi yang menyala.


Edgar mencuri kesempatan, dia lalu pamit, katanya mau minum kebelakang, nyatanya dia ingin menemui Laras.


Saat hendak membuka pintu kamar Laras, tiba-tiba Edgar di buat kaget. Dia menoleh kebelakang, Retno menyapanya. Edgar sudah kayak kucing ketahuan maling ikan. Wajahnya sedikit berubah pucat.


''Mau menjenguk Laras, Tuan?''


''Iya, Bik.'' Jawab Edgar berusaha bersikap santai. Kedua tangannya berada di saku celana, yang mana di saku celana itulah dia menyimpan test pack.


''Tapi Laras nya tidak ada di kamar, Tuan. Laras sudah pulang, tadi dia juga sudah pamit sama Oma.''


''Pulang?'' ulang Edgar kaget.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2