
Laras memutuskan menyewa sebuah Apartemen kelas atas yang ada di pusat kota, cukup mewah dan dengan fasilitas lengkap di dalam nya. Tidak tanggung-tanggung, dia menyewa Apartemen tersebut selama 6 bulan, dan uang sewaan nya sudah di bayar lunas menggunakan kartu black card pemberian Edgar.
Bukankah kata Edgar uang di kartu kredit itu tidak akan habis? Jadi, sah-sah saja Laras menikmati pemberian Edgar, Laras tidak ingin terlalu bodoh jadi orang. Hidup sudah banyak masalah, tanpa uang tentunya akan semakin susah. Makanya Laras memutuskan untuk menikmati uang pemberian Edgar, tidak munafik semua orang butuh uang. Setidaknya dengan kartu itu hidup nya dan sang kakek akan lebih mudah.
*
Kakek Ridwan duduk di ujung kasur king size, sepasang mata tua nya menyapu kamar tempat dia berada sekarang.
''Empuk dan mewah sekali,'' gumam Kakek Ridwan takjub. Pantatnya naik turun menikmati keempukan kasur.
Selama ini tak pernah dia merasakan kasur selembut serta seempuk sekarang, itu karena sedari muda hidupnya sudah sederhana. Bekerja hanya cukup untuk makan saja, pun kalau ada lebih nya ia simpan untuk tabungan masa tua. Beli tanah atau apalah, tapi saat sudah tua, sang anak lah yang menikmati hasil jerit payah nya, Ida dengan tega menghabiskan uang hasil dari penjualan tanah.
Sementara itu, Laras pamit keluar kepada sang kakek, katanya dia akan berbelanja membeli beras serta kebutuhan mereka lainnya.
Kakek Ridwan masih penasaran, di mana Laras bisa mendapatkan banyak uang, pertanyaan tersebut terus berkelindan di benaknya, tapi dia yakin, sang cucu tidak mungkin mencuri atau berbuat yang aneh-aneh.
Dia percaya, Laras masih sama seperti Laras yang di kenalnya dulu.
*
Di supermarket terdekat, Laras sibuk memilih barang belanjaannya. Yang terakhir dia mengambil beberapa macam roti di rak. Roti untuk sang kakek. Ada roti tawar dan ada juga roti selai.
Belum selesai dia memasukkan roti ke keranjang belanjaannya, tiba-tiba dia merasakan tepukan di bahu kanan nya, tepukan lembut tapi cukup membuat nya kaget. Repleks dia menoleh kebelakang.
Beberapa detik setelah itu, bungkusan roti yang sedang ia pegang terjatuh di sertai dengan netranya yang mendadak melebar.
''Tu-tuan,'' gugup Laras, mundur ia satu langkah.
Edgar menunduk, mengambil bungkusan roti di lantai, lalu dia masukkan ke keranjang.
''Kenapa kamu pergi tanpa memberitahu saya Laras?'' pertanyaan lembut itu berhasil membuat Laras salah tingkah.
''Em, a-aku rasa Tuan tak perlu tahu.''
''Ayo, saya temani kamu bawa belanjaan ke kasir, setelah itu kamu ikuti saya,''
Edgar mengambil alih keranjang belanjaan dari tangan Laras, setelah itu dia berjalan lebih dulu.
__ADS_1
Laras masih saja salah tingkah, tapi dia tetap mengikuti Edgar dari belakang, langkah nya ragu-ragu.
Padahal Laras sudah memegang kartu black card milik Edgar, tapi dengan royalnya Edgar membayar semua barang belanjaan Laras.
''Tuan, kenapa di bayar?'' tanya Laras saat dia mengikuti langkah Edgar dari belakang. Mereka berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman supermarket.
Edgar tak membalas perkataan Laras, di masukkan nya barang belanjaan milik Laras ke bagasi mobil, lalu dia membuka pintu untuk Laras.
''Masuk Lah,''
''Kita mau kemana?''
''Masuk saja dulu, saya hanya ingin memastikan sesuatu.''
''Tu-an, a-aku tidak hamil,'' ucap Laras menunduk.
''Saya tidak percaya dengan perkataan mu, sebelum saya membuktikan dan melihat sendiri hasilnya,'' Edgar menatap Laras lekat.
"Cepatlah masuk. Jangan membuang-buang waktu, atau kalau tidak, saya habisi Kakek mu yang ada di Apartemen,'' perkataan Edgar berhasil membuat Laras mendongak, dia menatap Edgar tajam.
''Makanya, kamu harus nurut Laras. Masuk!'' ucap Edgar penuh penekanan. Baru kali ini dia membentak Laras.
Tubuh Laras mendadak gemetar, dia lalu menuruti perkataan Edgar, duduk dia di samping kemudi.
Sementara Edgar berjalan memutari mobil, dia masuk ke mobil, duduk dikemudi di samping Laras.
Sebelum menyalakan mobil, Edgar menatap Laras sekilas, bisa dia lihat, mata jernih dan indah milik Laras telah berair, Laras sudah menangis.
Sebenarnya Edgar tak serius dengan ucapannya ingin menghabisi Kakek Ridwan, dia berkata seperti itu hanya ingin mengancam Laras, supaya Laras mengikuti apa mau nya.
Mobil melaju membelah jalanan malam, Edgar dan Laras hanya diam, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Tidak lama setelah itu mobil berbelok memasuki gerbang, ternyata Edgar membawa Laras ke klinik kandungan.
''Turun,''
Tanpa membantah lagi, Laras langsung saja turun.
__ADS_1
''Berdiri di samping saya, jangan berjalan dibelakang saya lagi,'' titah Edgar.
Laras mengangguk, kini dia sudah berdiri di sisi Edgar.
Lalu tanpa di sangka-sangka, Edgar malah menggenggam tangan Laras. Laras menatap Edgar, tatapan protes.
''Kita harus pura-pura menjadi pasangan suami istri, agar mereka yang di dalam tak mencap kamu sebagai wanita murahan. Kamu jangan salah menilai saya, saya tidak sebejad yang kamu kira, saya bertanggungjawab,'' jelas Edgar.
Mendadak wajah Laras menghangat, ada kelegaan tersendiri bagi dirinya setelah mendengar penjelasan Edgar.
Dia tak menyangka, sang tuan muda yang dikenal dingin serta angkuh selama ini ternyata memiliki hati yang baik juga.
Iya, kalau Edgar tak baik, mana mungkin dia rela menyerahkan kartu black card nya kepada Laras, lalu kini dia malah membawa Laras ke klinik untuk melakukan pemeriksaan.
Laras dan Edgar berjalan memasuki klinik, telapak tangannya yang tadi nya dingin, kini sudah terasa hangat karena berada di dalam genggaman tangan Edgar. Jantung Laras berdebar-debar, dia sepertinya mulai terpikat dengan pesona sang tuan muda.
*
Di tempat berbeda, Kakek Ridwan gelisah memikirkan Laras.
Dia berjalan mondar-mandir di kamar, hatinya tak tenang sekarang, dia takut sang cucu kenapa-napa. Ingin menghubungi Laras, sayangnya dia tak memiliki ponsel.
*
Sementara itu, di sebuah rumah yang megah. Kartika lagi mengobrol bersama Oma Risma. Mereka duduk di taman samping rumah.
''Oma, sebenarnya Edgar kemana sih? Tidak biasanya dia begini?'' ucap Kartika menyampaikan keluh kesah nya.
''Oma juga tidak tahu dia di mana sekarang Kartika. Iya, tidak biasanya Edgar keluar tanpa memberi kabar,''
''Mana ponselnya mati lagi. Ah... Aku merasa Edgar sudah mulai berubah Oma. Oma, aku takut cucu oma jatuh cinta sama wanita lain,'' wajah Kartika nampak sedih.
''Kamu tenang saja Sayang. Edgar tak mungkin jatuh cinta sama wanita lain. Cinta dia ke kamu sudah begitu dalam, kamu tak kan tergantikan di hatinya,'' yakin Oma Risma dengan senyuman simpul. Dia membelai rambut Kartika yang tergerai.
''Iya, aku tidak akan tergantikan. Edgar sangat-sangat mencintai aku, itulah yang sering dia katakan.'' Ucap Kartika menenangkan dirinya sendiri.
Bersambung.
__ADS_1