Benih Tuan Muda

Benih Tuan Muda
Rencana Jahat


__ADS_3

''Kamu berdiam dirilah di Apartemen untuk sementara waktu, jangan kemana-mana. Kalau butuh apa-apa tinggal perintahkan saja para bodyguard yang telah aku tugaskan untuk menjaga kamu dan Kakek. Dan kalau bahaya sedang mengintai kalian, hubungi aku segera, aku takut kamu kenapa-napa. Ancaman Kartika tidak bisa di anggap remeh, dia nekat orangnya. Begitu juga Oma, aku juga takut Oma menyakiti kamu dan Kakek,'' ucap Edgar panjang lebar, ia menatap Laras dengan penuh kecemasan. Saat ini mereka tengah berdiri di depan pintu Apartemen dengan dua orang pria bertubuh kekar berdiri di samping mereka, dua pria itu adalah para bodyguard yang ditugaskan oleh Edgar untuk menjaga Laras dan Kakek Ridwan.


''Kenapa kamu tidak menuruti perkataan Oma saja. Mari kita berpisah, agar semuanya tak semakin rumit,'' balas Laras.


''Hei Sayang. Kenapa kamu gampang sekali menyerah. Ingat, di perut mu ada anak kita, dia butuh kasih sayang dari kita sebagai orang tuanya. Jangan sampai anak kita lahir tanpa adanya aku di sisi kamu, aku tak ingin itu sampai terjadi. Aku tidak ingin nasib anak kita sama seperti aku yang tumbuh tanpa di dampingi kedua orang tua. Jadi, aku harap kamu mau berjuang bersama aku untuk mempertahankan hubungan kita ini. Nanti malam aku akan ke sini lagi, aku akan membawa penghulu serta para saksi untuk segera menikahkan kita,'' Edgar berkata serius.


Laras menarik nafas dalam lalu menghembuskan perlahan.


''Baiklah.'' Ucap nya mengangguk kecil.


''Oke, kalau begitu masuklah. Katakan sama Kakek tentang niat baik kita nanti malam,'' Edgar tersenyum tipis, ia mencium kening Laras cukup lama, tangannya bergerak pelan membelai perut Laras. Laras merasa sangat nyaman saat berada di dekat Edgar.


*


Edgar tiba di halaman rumah nya, ia mendengus kesal saat melihat mobil Kartika masih terparkir di halaman.


Ketika sudah berada di ruang keluarga, ia melihat Kartika sedang berbaring dipangkuan sang oma, sang oma mengelus pelan rambut Kartika. Tampak sekali kalau hubungan mereka begitulah dekat.


Edgar berjalan laju tanpa menyapa sang oma dan mantan kekasihnya itu. Ia berjalan begitu saja menaiki anak tangga menuju kamarnya.


''Oh, lihatlah. Di mana cucuku yang dulu begitu sopan dan ramah? Inilah dampak buruknya kalau berpacaran bersama orang kampung, kamu sekarang sudah jadi cucuku yang pembangkang dan tak tahu sopan santun.''

__ADS_1


Mendengar perkataan sang oma, Edgar menghentikan langkahnya, ia menoleh kearah sang oma.


''Aku capek. Pengen istirahat,'' ujar Edgar malas.


Kartika menegakkan tubuh nya, duduk ia dengan benar di sofa di samping Risma. Matanya tampak sembab, pastilah ia habis menangis di pangkuan Risma disertai dengan curahan hatinya yang begitu pilu.


''Duduklah dulu, oma mau bicara sama kamu,''


Edgar membuang nafas kasar, lalu ia menuruti perintah sang oma.


Kartika tersenyum tipis melihat Edgar yang hendak duduk bergabung bersama mereka.


Edgar menjatuhkan pantat nya pada sofa yang berseberangan dengan Kartika dan Risma.


''Cucu ku Sayang, lihatlah wanita cantik yang ada di samping oma sekarang. Dia adalah wanita yang dulu begitu kamu cintai, hubungan kalian sudah berjalan cukup lama. Banyak kenangan indah yang sudah kalian ciptakan. Dia tak bisa melupakan begitu saja kenangan manis antara kalian. Tapi kenapa kamu begitu cepat berubah? Tidakkah kamu merasa kasihan dengan wanita yang sudah membersamai mu beberapa tahun lamanya?'' ucap Risma masih berusaha membujuk Edgar agar mau kembali bersama Kartika.


''Tidak. Aku akan tetap menikahi Laras.'' Edgar berucap tegas.


''Jika alasannya karena wanita itu tengah mengandung anak mu, kalau begitu ayo, ayo kita bikin anak sekarang juga. Aku bersedia menikah dengan mu Edgar, asalkan kamu mau kembali kepada ku,'' ucap Kartika dengan suaranya yang serak. Kini ia tak merasa malu lagi kalau harus mengemis cinta kepada Edgar.


Edgar tersenyum miring.

__ADS_1


Risma mengangguk setuju.


"Kartika sudah bersedia menikah serta mengandung anakmu. Secepatnya oma akan mempersiapkan segala sesuatu untuk prosesi pernikahan kalian,'' Risma berkata dengan senyum mengembang. Namun, senyumnya itu tak bertahan lama.


''Oma, harus berapa kali aku mengatakan, aku tidak mau lagi menikah dengan Kartika, yang aku inginkan saat ini adalah menikahi Laras. Please Oma, mengertilah,'' tegas Edgar. Berdiri dia dari duduknya.


Wajah Risma dan Kartika memerah karena murka mendengar perkataan Edgar yang begitu jelas.


Kali ini dua wanita itu merasa Laras telah berhasil merebut Edgar sepenuhnya dari mereka. Sungguh, saat ini mereka sangat-sangat membenci Laras.


Edgar lalu melangkahkan kaki lebar menuju kamarnya, tak ia pedulikan lagi Oma serta mantan kekasihnya.


*


Malam hari.


''Iya, bereskan semuanya. Bayar bodyguard yang menjaga gadis kampung itu dua kali lipat agar mereka bersedia beralih haluan menjadi pihak kita. Pastikan gadis kampung itu lenyap!'' Risma memutuskan panggilan, ia tersenyum penuh arti. Saat ini ia tengah berdiri di balkon kamar.


Bisa ia lihat, mobil yang membawa sang cucu malaju cepat keluar dari halaman rumah.


''Oma pastikan, kamu tidak akan bertemu lagi dengan wanita pelayan itu Edgar,'' gumam Risma dengan senyuman licik menghiasi wajah tuanya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2