Benih Tuan Muda

Benih Tuan Muda
Kehilangan


__ADS_3

Pria tampan nan gagah itu begitu kebingungan sekarang. Istri yang teramat dicinta tiba-tiba menghilang entah kemana tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.


Semua pakaian serta barang-barang miliknya masih utuh di Apartemen. Termasuk dompet yang berisikan beberapa kartu termasuk kartu kredit black card yang diberikan oleh Edgar waktu itu.


Edgar sudah meminta pihak Apartemen untuk mengecek cctv, tapi sayangnya cctv di Apartemen Laras sudah di rusak sebelum kejadian hingga tak terlihat kejadian apapun diruangan itu, semuanya gelap.


Feeling Edgar mengatakan bahwa istri nya dan Kakek Ridwan telah di culik oleh sekelompok orang.


Keterangan dari pihak Apartemen mengatakan tidak ada hal yang mencurigakan yang terjadi sepanjang hari, semua terlihat baik dan aman-aman saja.


Edgar marah besar mendengar itu.


''Bagaimana mungkin tidak ada orang yang mencurigakan masuk ke Apartemen ini? Sementara istri saya dan kakeknya tiba-tiba menghilang!'' ucap Edgar geram menatap satu persatu petugas keamanan Apartemen yang dianggapnya tak becus.


''Benar Tuan, kami benar-benar tidak melihat adanya kejanggalan hari ini, mungkin istri Tuan dan Kakek nya sedang jalan-jalan keluar,'' jawab pihak Apartemen. Edgar sangat muak mendengar itu.


''Arg! Kalian masih saja menyangkal! Sudah dibayar berapa kalian hah?'' wajah Edgar memerah.


Tetap saja pihak Apartemen mengatakan tidak tahu apa-apa.


Akhirnya Edgar angkat kaki dari Apartemen, ia akan pergi ke suatu tempat.


Di tengah malam yang pekat, matanya sama sekali tidak mengantuk, karena kecemasan dan ketakutan begitu kentara ia rasa. Ia takut sang istri disakiti oleh orang-orang jahat.


Setibanya di tempat tujuan, dengan tidak sabaran ia menggedor pintu yang papan nya sudah sedikit lapuk.


Tidak lama setelah itu keluar seorang wanita yang hanya memakai daster dengan rambut acak-acakan.


''Ada apa? mengganggu aja kamu ini!'' ucap wanita itu ketus seraya menguap lebar. Matanya belum melihat Edgar dengan jelas.

__ADS_1


''Apa Laras dan Kakek Ridwan ada di sini?'' tanya Edgar datar dan jelas.


Ida memperjelas penglihatan nya, setelah itu barulah ia sadar bahwa pria yang ada dihadapannya adalah pria yang sama dengan pria waktu itu.


''Kamu yang waktu itu pernah ke sini juga, 'kan?'' kata Ida lembut seraya tersenyum genit.


''Iya. Mana Laras dan Kakek? Saya sedang tidak ingin berbasa-basi sekarang,''


''Kenapa kamu selalu mencari Laras? Ada hubungan apa kamu dengannya? Wah, wajah mu itu sama persis seperti wajah pria yang sering saya lihat di televisi dan sosial media. Kamu pengusaha sukses yang baru-baru ini tengah ramai dibicarakan di acara gosip karena telah memutuskan kekasihmu yang seorang model terkenal itu, 'kan?'' ucap Ida lagi, berbinar matanya menatap Edgar, ia tak menyangka Edgar akan datang lagi ke rumah nya. Sayangnya Dira sedang tidak berada di rumah, hingga larut malam Dira masih bekerja entah pekerjaan apa yang ia geluti. Karena keuangan mereka yang sudah menipis membuat Ida mengizinkan Dira bekerja apa saja yang penting dapat uang untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.


Kali ini Edgar benar-benar muak melihat tingkah tante nya Laras. Karena Ida hanya membuang-buang waktu saja dengan berbicara omong kosong, bagi Edgar tidak ada penting-penting nya apa yang Ida bicarakan.


''Katakan, apa Laras ada di dalam?'' tanya Edgar dengan suara lantang.


Ida sedikit gelagapan mendengar bentakan tersebut. Ia takut tetangga terbangun karena ulah Edgar.


''Tidak, tidak ada. Laras dan Ayah saya tidak pernah pulang semenjak kepergian mereka waktu itu. Ganteng-ganteng kok galak!'' ujar Ida merenggut dengan kedua tangan bersendekap di dada.


Kali ini tujuan Edgar adalah rumah sakit.


Begitu sampai di rumah sakit, Edgar langsung saja menarik tangan Kartika menuju tempat sepi, Kartika yang tadinya tengah sibuk dengan ponselnya begitu kaget dengan apa yang dilakukan mantan kekasihnya itu.


Risma lagi tidur, jadi akan lebih leluasa bagi Edgar untuk mengintrogasi Kartika.


''Edgar, kamu apa-apaan sih?! Sakit tauk!'' protes Kartika, ia menepis tangan Edgar yang memegang pergelangan tangannya cukup kuat.


''Kartika, katakan di mana Laras sekarang? Kamu apakan dia dan Kakeknya?'' dilorong rumah sakit yang sepi, suara Edgar bergema jelas.


''Kamu apa-apaan sih! Makin nggak jelas aja. Ya mana aku tahu, dia kan istri kamu, kenapa kamu malah bertanya sama aku!'' jawab Kartika.

__ADS_1


Edgar tak puas sama jawaban tersebut.


''Jangan pura-pura polos kamu Kartika. Aku tahu kamu tak pernah suka dengan Laras, aku yakin kamu lah dalang dibalik menghilang nya Laras dan Kakek nya.'' Edgar semakin memojokkan Kartika, kini punggung Kartika sudah terpentok dinding. Tatapan Edgar begitu tajam, ia sungguh tak baik-baik saja sekarang.


Baru tadi malam ia merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya karena bisa tidur satu ranjang dengan sang istri, namun sekarang istrinya itu tak tahu di mana.


Ia merasa menyesal dan bersalah juga, karena telah meninggalkan Laras di Apartemen sepanjang hari dalam situasi yang mengancam.


Seharusnya ia tak boleh mempercayakan Laras begitu saja kepada Bodyguard. Bodyguard Bodyguard itu bisa saja berkhianat jika sudah disuap dengan uang yang lebih banyak.


''Kamu jangan asal menuduh tanpa adanya bukti. Itu fitnah namanya. Aku tidak tahu apa-apa tentang hilangnya istri mu itu. Jadi jangan tanyakan lagi kepada ku!'' ucap Kartika dengan mimik wajah begitu meyakinkan.


Edgar tak percaya begitu saja, ia akan tetap menyelidiki kasus ini secara diam-diam. Akan ia tugaskan mata-mata yang handal untuk ikut membantu mencari Laras serta mencari tahu siapa dalang dibalik hilangnya Laras.


Berjalan Edgar menuju ruangan sang oma, Kartika mengikuti nya dari belakang.


Setelah itu dengan beraninya Kartika memeluk Edgar dari belakang. Kedua tangannya melingkar di perut Edgar.


Edgar kaget dengan apa yang dilakukan sang mantan kekasih.


''Beib, aku kangen. Kembali lah kepadaku. Aku rela jadi yang kedua asal bisa sedekat ini dengan mu,'' ucap Kartika lembut dan lirih.


Edgar melepaskan tangan Kartika dari perutnya dengan kasar.


''Beraninya kamu. Jangan kurang ajar Kartika. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah kembali kepadamu!'' ucap Edgar penuh penekanan.


''Kamu jahat Edgar,'' netra Kartika berkaca-kaca. Lalu tangisnya pecah.


Bukannya membujuk, tapi Edgar malah meninggalkan Kartika begitu saja dilorong rumah sakit yang tamaran serta sepi.

__ADS_1


''Kita lihat saja nanti Edgar. Akan aku buat kamu kembali kepadaku, aku tidak akan menyerah begitu saja.'' Kartika berucap di dalam hati seraya tersenyum penuh arti. Penolakan demi penolakan yang ia dapatkan dari Edgar membuat ia bertekad di dalam hati untuk membuat Edgar kembali ke pelukannya apa pun yang terjadi.


__ADS_2