
Para koki di rumah megah tersebut sudah selesai menyiapkan hidangan sarapan pagi untuk sang majikan.
Berbagai macam jenis masakan sudah tertata rapi di atas meja, hanya tinggal menunggu sang majikan menyantapnya. Aroma masakan menguar menusuk indra.
Tidak lama setelah itu, Edgar masuk ke ruang makan, duduk dia di kursi.
''Tuan, mau lauk, apa? Biar saya masukkan.'' Tawar Retno. Sang ketua pelayan.
''Tidak usah. Saya bisa ambil sendiri. Bibi ke belakang saja.'' Usir Edgar dengan nada halus.
Retno mengangguk kecil, lalu dia berjalan meninggalkan ruang makan.
Edgar tak berselera melihat masakan para koki yang berbaris rapi di meja, padahal semuanya sudah di sajikan dengan menu spesial. Saat ini pikiran Edgar di penuhi tentang kejadian semalam, iya, dia memikirkan Larasati.
Berdiri Edgar, tanpa menyicipi sama sekali masakan yang terlihat nikmat, dia hanya meneguk segelas susu.
Dia berjalan ke belakang, ke kamar para pelayan.
''Bik, yang mana kamarnya pelayan paling muda di rumah ini?'' tanya Edgar pada Retno. Retno kaget melihat Edgar yang sudah berdiri di dekat kamar pelayan. Sebelumnya tidak pernah Edgar sampai menginjakkan kaki di dekat kamar para babu.
''Maksud Tuan kamarnya Larasati?''
''Saya tidak tahu namanya. Setahu saya dia merupakan pelayanan paling muda di sini.''
''Itu kamar Larasati, Tuan.'' Retno menunjuk barisan kamar nomer tiga.
''Larasati tidak ikut bantu-bantu pagi ini, karena dia sakit. Tadi saya sudah masuk ke kamarnya, tubuhnya panas dan keningnya sudah saya kompres.'' Jelas Retno.
Edgar tak menyahut ucapan Retno, dia membawa langkah lebar memasuki kamar Larasati.
Saat sudah tiba di kamar berukuran kecil itu, dia mengunci pintu kamar dari dalam. Edgar tak ingin satu orang pun tahu tentang peristiwa tadi malam. Cukup hanya dia dan Larasati lah yang tahu, tidak boleh sampai bocor ke kuping orang lain. Karena kalau sampai bocor, bisa berabe urusan nya.
Edgar membalikkan tubuhnya, sehingga terlihat lah olehnya, wanita muda yang tengah berbaring terlentang di kasur dengan kedua mata tertutup, di keningnya terdapat handuk kecil.
Edgar berjalan, lalu dia duduk di sisi kasur, tepat di samping Laras.
Netranya menatap wajah Laras lekat, dia akui, paras Laras sungguh lah cantik, meskipun tanpa polesan bedak dan lipstik.
Tangan Edgar terangkat, hendak menyentuh kening Laras.
Dan benar saja, kening itu terasa panas.
Edgar mengambil handuk di kening Laras, lalu mencelupkan ke air di dalam baskom kecil, dia meremas handuk tersebut, lalu kembali meletakkan di kening Laras. Entah kenapa Edgar merasa kasihan melihat kondisi Laras, dia tahu Laras sakit pasti karena perbuatan nya tadi malam.
__ADS_1
Saat Edgar meletakkan kembali handuk di kening Laras, Laras terbangun karena merasakan ada gerakan di keningnya. Begitu matanya sudah terbuka, dia kaget melihat Edgar sudah ada di depannya.
Bangkit dia, tubuhnya beringsut menjauhi Edgar, hingga punggung nya menabrak dinding. Dia seperti melihat setan saja, atau bahkan lebih seram dari setan, karena setan tak mungkin merampas kesucian seseorang, sedangkan Edgar? Mengingat itu, jatuhlah air mata Laras, ia begitu terluka dan frustasi.
''Hei, kamu jangan nangis. Aku tidak akan menyakiti mu. Aku hanya ingin meminta maaf karena perbuatan ku tadi malam, aku benar-benar tidak sengaja, semua terjadi diluar kendali ku,'' ucap Edgar lirih dengan jari telunjuk berada di bibir, dia meminta Laras diam.
Semakin berderai lah air mata Laras, menurutnya gampang sekali Edgar meminta maaf.
''Tuan, mending Tuan keluar sekarang.'' Serak Laras berucap. Wajahnya menunduk, dia duduk meringkuk di kasur.
''Aku akan keluar. Tapi aku cuma mau bilang sama kamu, tolong kamu merahasiakan tentang kejadian semalam dari orang-orang. Jangan katakan kepada siapapun kalau kita sudah melakukan hubungan badan. Aku tidak ingin kekasih dan Oma ku tahu. Aku harap kamu mengerti.'' Ucap Edgar penuh penekanan.
''Tuan jahat sekali.''
''Kamu tenang saja, aku akan memberikan uang yang banyak untuk mu, dan aku akan tetap memperkerjakan kamu di sini. Please, tutup mulut.''
''Tuan kira aku akan ceplas-ceplos ngomong ke orang-orang kalau aku sudah tidak perawan lagi? Tidak Tuan, aku tidak akan pernah ngomong gitu. Aku lebih malu kalau sampai orang lain tahu aku sudah tidak perawan lagi padahal aku masih gadis. Aku tahu bagaimana cara menghargai diri ku. Aku tidak mungkin membuka aib ku sendiri apalagi memanfaatkan keadaan. Tuan tenang saja, aku tidak akan memeras Tuan.''
Mendengar perkataan Laras, Edgar memegang kepalanya yang terasa begitu berat.
Dia kasihan dengan Laras, apalagi melihat kepolosan Laras. Dari cara bicara Laras, bisa Edgar nilai kalau Laras bukanlah wanita bodoh. Laras wanita pintar dan terhormat. Iya, dia cantik, tapi dia rela bekerja menjadi seorang pelayan. Padahal dengan wajah cantik serta bentuk tubuh nya yang indah, bisa saja dia bekerja menjual dirinya kepada pria hidung belang yang kaya raya. Dengan begitu, dia akan cepat mendapatkan banyak uang. Tapi Laras tidak melakukan itu, dia berbeda.
''Berapa usiamu?''
''Kamu baru lulus sekolah?''
''Iya, aku lulus SMA tahun lalu.''
''Kenapa kamu tidak melanjutkan ke Universitas?''
''Aku tidak punya biaya. Aku anak yatim piatu, selama ini aku tinggal bersama Kakek serta Tante aku. Makanya aku bekerja di sini, karena aku tahu tidak ada yang gratis di dunia ini.''
Edgar mengangguk mengerti.
Selama ini dia terlalu sibuk dengan dunianya. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan serta urusan percintaan nya, sehingga tidak ada waktu baginya untuk memperhatikan para pekerja di rumah.
Tanpa pikir panjang, Edgar mengambil sesuatu dari dalam saku celana nya, dia mengeluarkan dompet kulit.
''Ini untuk mu.'' Edgar menyerahkan kartu kredit black card kepada Laras. Kartu kredit tanpa limit.
Laras menggeleng.
''Aku tidak mau. Tuan jangan menyogok aku.''
__ADS_1
''Ambillah, pegang kartu ini, gunakan uangnya untuk memenuhi kebutuhan mu. Kalau perlu berhenti lah kamu bekerja di sini, lanjutkan pendidikan mu ke Universitas.''
''Aku tetap mau bekerja.''
Edgar menghembus nafas kasar, dia bingung apa maunya Laras, padahal dia sudah berbaik hati memberikan kartu Balck Card miliknya.
''Iya, kamu tetap akan bekerja. Tapi ambillah kartu ini,''
Ragu-ragu Laras mengambil apa yang di berikan oleh Edgar. Lumayan, dengan kartu itu, pastilah dia tidak akan pusing lagi memikirkan masalah keuangan.
''22 12 93. Itu kata pin nya.'' Ucap Edgar tersenyum tipis.
Laras mengangguk mengerti, setelah itu Edgar keluar dari kamar. Dia akan segera ke kantor, banyak pekerjaan yang harus di kerjakan nya di perusahaan.
*
''Laras, ngapain Tuan muda ke sini?'' tanya Bik Retno.
''Dia tidak menyakiti dan memarahi kamu, 'kan?'' sambung Retno penasaran.
''Tidak, Bik. Tuan Edgar hanya ingin melihat kondisi ku.'' Jawab Laras berbohong. Kini, dia sudah kembali berbaring di kasur dengan posisi terlentang.
Dia menyimpan kartu pemberian Edgar di bawah bantal.
''Benarkah?''
''Iya, Bik.''
''Tidak biasanya Tuan muda menjenguk pelayan yang sakit. Kamu beruntung sekali Laras.''
''Hm.''
Laras hanya berdehem, dia kembali memejamkan matanya, seharian ini rasanya dia ingin beristirahat penuh di kasur, karena kalau di bawa berdiri, ************ nya terasa sakit dan perih.
*
''Ini, tolong di cuci.''
''Baik Mas. Dua hari lagi sudah boleh di jemput ya, Mas. Soalnya selimut nya tebal, butuh beberapa hari untuk memastikan selimut nya benar-benar kering.'' Ucap sang pekerja loudry begitu ramah. Dia menatap Edgar lekat, dia terpesona dengan ketampanan Edgar. Jarang-jarang ada cowok tampan mengantar cucian ke loudry.
Edgar merenggut kesal mendengar pekerja loudry memanggil nya dengan sebutan Mas. Dia tidak suka dengan panggilan itu.
Edgar memilih mengantar selimut ke loudry karena dia tidak ingin pelayan di rumahnya yang mencuci, dia tidak ingin orang rumah melihat bercak darah Laras yang tercetak jelas di selimut.
__ADS_1
Bersambung.