Benih Tuan Muda

Benih Tuan Muda
Tak Ada


__ADS_3

Laras kebingungan sendiri di kamar mandi, ia sudah selesai membersihkan dirinya, ingin keluar tapi ia lupa membawa handuk.


Berjalan mondar-mandir ia di kamar mandi dengan tubuh polosnya tanpa ditutupi sehelai benang pun. Dia tengah berpikir sekarang. Ingin memakai kembali kebaya rasanya tak mungkin, engap sekali kalau harus memakai kebaya yang pas di tubuh dan memilki banyak payet-payet.


Namun semua cara yang sempat ia pikirkan sia-sia saja, tetap saja ia butuh handuk untuk mengeringkan tubuhnya sekaligus menutupi lekuk tubuhnya agar tak terlihat oleh sang suami.


Akhirnya ia memberanikan diri untuk memanggil sang suami.


''Tuan, tolong ambilkan handuk. A-aku tadi lupa bawa handuk,'' sedikit gugup Laras berucap. Walaupun sekarang Edgar sudah menjadi suaminya, tapi ia masih merasa malu dan sungkan.


Rupanya sedari tadi Edgar sudah berdiri di depan pintu kamar mandi dengan tangan memegang handuk, karena Laras yang sudah cukup lama berada di kamar mandi membuat ia merasa penasaran apa yang tengah dilakukan istrinya itu. Ia bisa mendengar suara krasak-krusuk di kamar mandi, tapi ia memilih tetap diam, menunggu sang istri memanggil nya.


''Buka pintunya Sayang, ini handuknya,'' ujar Edgar lembut sembari mengetuk pintu.


Mendengar suara khas sang suami, membuat dada Laras berdegup kencang.


Tak ada pilihan lain, akhirnya ia membuka pintu.


''Mana handuknya Tuan?'' kata Laras, tangannya ia ulur lewat celah pintu yang hanya ia buka sedikit saja, sementara tubuhnya bersembunyi dibelakang daun pintu.


''Jangan panggil Tuan lagi dong Sayang. Kita sekarang 'kan sudah menikah. Panggil Sayang atau apa gitu,'' goda Edgar, ia memang kurang suka mendengar sang istri yang masih memanggil nya dengan sebutan Tuan.


''Iih buruan, sini handuknya, aku udah kedinginan ini,'' Laras sedikit mendesak.


''Panggil Sayang dulu,''


''Em ya udah, Sayang kasih aku handuknya dong,'' wajah Laras merona dengan dada berdebar-debar saat mengucapkan kata sayang. Ia sebel tapi senang juga.


Edgar tersenyum lebar, puas dia sekarang. Lalu ia meletakkan handuk pada tangan sang istri.


Beberapa saat setelah itu Laras keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit dada, Edgar meneguk ludah melihat sang istri yang tampak mempesona serta menggoda.


Laras berjalan kearah lemari untuk mengambil pakaian, namun Edgar malah mengikuti langkah kakinya dari belakang.


Seketika Laras membalikkan tubuhnya, hingga ia dan Edgar berdiri saling berhadapan.


''Ngapain kamu ngikutin aku? Sekarang giliran kamu bersihin diri di kamar mandi,'' kata Laras dengan alis saling bertautan. Ia menatap Edgar lekat dan heran.


''Hm aku akan mandi sebentar, tapi kamu jangan pake baju dulu. Tunggu aku, berbaringlah yang anteng di ranjang,'' ucap Edgar dengan wajah memelas.


''Apa? Menunggu di ranjang?'' ulang Laras dengan debar-debar di dada semakin kentara ia rasa.


''Iya Sayang. Malam ini adalah malam pertama kita. Kamu pasti mengerti apa yang aku inginkan. Aku janji, aku akan menyentuhmu dengan hati-hati, aku tidak akan menyakiti anak kita,'' bisik Edgar tepat di telinga Laras. Tangannya bergerak pelan mengelus perut sang istri, dan sentuhan itu semakin menambah keinginannya untuk menyentuh sang istri lebih dalam lagi.


Mendadak bulu kuduk Laras merinding mendengar ucapan suami nya itu. Ia hanya mampu mengangguk kecil tanpa berkata sepatah katapun.


Bukankah sekarang Edgar sudah menjadi suaminya? Tidak ada alasan lagi baginya untuk menolak permintaan sang suami, karena akan berdosa bila seorang istri menolak nafkah batin yang diinginkan sang suami.


Edgar berjalan cepat ke kamar mandi, ia sudah tak sabar ingin bermain-main dengan istrinya itu.

__ADS_1


Sementara Laras dengan polosnya ia mengikuti perkataan sang suami, berbaring ia di kasur dengan perasaan begitu gugup. Berulangkali ia mengelus dadanya agar debaran sedikit berkurang.


*


Edgar langsung saja mematikan lampu utama di kamar saat ia selesai membersihkan dirinya. Ritual malam pertama akan segera di mulai.


Handuk putih melilit di pinggang Edgar, mendengar langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya, membuat Laras membuka matanya yang sempat ia pejamkan beberapa saat.


Ia pun terpesona melihat sang suami yang begitu tampan, dada bidang dengan perut kotak-kotak seperti roti sobek membuat Laras merasa bagai mimpi bisa mendapatkan pria sempurna seperti Edgar. Sudah lah tampan, kaya raya dan perhatian pula. Laras sangat bersyukur.


''Ternyata kau menuruti perkataan ku Sayang. Bagus. Tetaplah menjadi istri yang penurut agar aku semakin sayang sama kamu,'' kata Edgar lirih.


Ia mencondongkan tubuh semakin mendekati Laras, tubuh mereka hampir bersentuhan.


Cahaya tamaran yang berasal dari lampu tidur semakin membuat suasana menjadi syahdu.


Tampan dan cantik. Dua manusia berbeda jenis kelamin itu saling memuji pasangan mereka di dalam hati. Mereka sama-sama merasakan debaran cinta yang semakin dalam di rasa.


Wajah keduanya saling berhadapan cukup dekat, hidung mancung mereka sudah saling bersentuhan, pun hembusan nafas kedua nya bisa mereka rasakan.


Tak ada lagi kata, mereka berbicara lewat tatapan mata, keinginan mereka sama, yaitu menyelami surga dunia sama-sama, merasakan betapa nikmatnya hubungan badan bila dilakukan bersama pasangan yang dicinta.


Perlahan Edgar mendaratkan bibirnya pada bibir sang istri. Kini bibir keduanya sudah saling bertaut, mereka berpagutan dengan nafsu yang begitu membuncah. Laras hanya diam dengan mata ia pejamkan. Tangan nya melingkar di tengkuk sang suami.


Tangan Edgar bergerak melepaskan lilitan handuk di dada Laras, hingga handuk itu benar-benar terlepas Edgar melempar nya secara asal ke lantai kamar. Handuk yang melilit pinggang Edgar pun sudah terlepas, kini tubuh mereka sudah sama-sama polos.


''Sayang, aku sangat mencintaimu,'' bisik Edgar sebelum permainan nya semakin gencar ia lakukan.


Mendengar itu, Edgar semakin bersemangat, nafasnya memburu, ia mencumbu bibir, leher, dada bahkan hingga tubuh bagian bawah sang istri.


Laras menggeliat merasa sensasi yang selama ini tak pernah ia rasakan.


''Ah,'' gumamnya panjang dengan menggigit bibir.


*


Edgar meraba tempat tidur disebelah nya, tidak ia rasakan keberadaan sang istri. Lalu ia membuka mata dan melihat Laras tak ada lagi di sisinya.


Ia lalu duduk di atas kasur, ia mengambil ponselnya yang ada di atas laci di sisi ranjang.


''Pantas saja, ternyata sudah pukul 7 pagi,'' gumam Edgar. Niat nya tadi hanya ingin melihat waktu, namun kini ia dibuat penasaran saat melihat begitu banyak panggilan dari sang oma begitu juga dengan pesan masuk. Pesan yang masuk ke ponselnya satu jam yang lalu.


[Oma mendadak pusing, pulanglah. Antar Oma ke rumah sakit.]


[Edgar, Oma tak tahan lagi. Pusing sekali, sepertinya tensi Oma naik.]


Mendadak Edgar merasa cemas setelah membaca pesan dari sang oma.


Setelah itu ia membaca pesan dari Kartika lagi.

__ADS_1


[Aku sudah membawa Oma ke rumah sakit, datanglah ke rumah sakit. Sebelum Oma benar-benar pergi meninggalkan kamu.]


[Ternyata wanita itu memang sudah berhasil meracuni kamu, membuat kamu menjadi betah lama-lama berada di dekatnya tanpa peduli sedikitpun sama kondisi Oma.]


Setelah selesai membaca pesan dari Kartika, Edgar meletakkan kembali ponselnya di atas laci.


Lalu ia bergegas memakai pakaian nya, ia akan segera menemui sang oma.


Laras masuk ke kamar, ia heran melihat suaminya sudah berpakaian rapi.


''Kamu sudah selesai mandi besarnya?'' tanya Laras begitu tubuh nya sudah di dekat sang suami.


''Belum Sayang. Nanti saja. Aku akan segera pergi. Oma sakit, saat ini ia sedang berada di rumah sakit,''


''Aku ikut kamu,''


''Untuk saat ini jangan dulu ya, tensi oma naik, aku takut tensinya malah semakin naik melihat keberadaan kamu. Bukan apa-apa, aku tidak ingin kamu disalahkan. Kamu tenang saja, aku tidak akan pernah bosan untuk membujuk oma agar bisa menerima kamu sebagai istri aku,'' ucap Edgar lembut seraya menyelipkan anak rambut Laras di belakang telinga. Rambut Laras masih basah karena ia habis keramas.


"Baiklah. Semoga Oma kembali sehat seperti sediakala,'' Laras berkata tulus.


Edgar memeluk Laras beberapa saat, setelah itu ia pamit pergi. Ia juga pamit kepada Kakek Ridwan yang tengah menyantap sarapan pagi.


*


''Oma, maafkan aku. Bukan maksud aku mengabaikan oma, tapi tadi aku masih tidur,'' ucap Edgar begitu sampai di rumah sakit di ruangan sang oma.


''Sudah, sekarang Oma sudah di rumah sakit, sudah mendapatkan penanganan terbaik. Mending kamu pergi saja, tetaplah bersama wanita itu, tidak usah pedulikan oma. Sudah ada Kartika, ia lebih peduli sama Oma,'' ucap Risma ketus. Ia mengalihkan wajahnya, ia ngambek.


Mendengar itu membuat Edgar merasa serba salah.


Alhasil sepanjang hari ia menunggu Risma di rumah sakit bersama Kartika, semua itu ia lakukan untuk membujuk sang oma agar tak merajuk lagi.


Kartika merasa senang karena bisa berduaan bersama Edgar lagi.


Bahkan Edgar pun terpaksa mandi besar di kamar mandi rumah sakit karena ia tak ingin meninggalkan sang oma. Ia tak ingin di cap sebagai cucu durhaka.


*


Malam hari.


''Kenapa pesan dari aku tak kunjung dibalas sama Laras, di telepon nomernya tidak aktif,'' gumam Edgar cemas, saat ini ia tengah menyetir menuju Apartemen.


Begitu sampai di Apartemen, Edgar dibuat kaget saat mendapati Laras dan Kakek Ridwan tidak ada di Apartemen. Pun kondisi Apartemen nampak begitu berantakan.


Dua orang bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga Laras dan Kakek Ridwan juga tak ada.


Edgar kalang kabut, ia benar-benar panik sekarang.


Apalagi ponsel Laras ia temukan diatas kasur dalam keadaan sudah lowbat.

__ADS_1


''Laras, kamu di mana Sayang?!'' seru Edgar panik.


__ADS_2