Benih Tuan Muda

Benih Tuan Muda
Menjenguk Lagi


__ADS_3

Sore hari, panas tubuh Laras belum juga turun, tadi siang Bik Retno sudah memberikan dia obat penurun panas biasa yang di jual di toko-toko. Setelah meminum obat, panasnya sempat turun, namun sekarang, suhu nya malah naik lagi.


Laras masih berbaring di pembaringan, ingin bangkit dan lari dari rumah Sang Tuan, dia tak punya kemampuan sekarang, remuk rasa seluruh tubuhnya, terlebih hatinya.


Ponsel Laras yang ada di sebelah bantal berdering, perlahan dia mengangkat nya dengan tangan gemetar, ia letakan ponsel di dekat telinga dengan kedua mata tetap terpejam.


Saat panggilan terhubung, suara sang tante terdengar jelas, suara bak kaleng bekas yang di pukul berkali-kali, bising dan begitu menganggu pendengaran.


''Laras, gimana? Kamu udah gajian? Tante lagi butuh uang nih. Kakek sakit-sakitan, perlu berobat, mana beras udah mau habis lagi. Hanya tersisa untuk makan hari ini aja. Pusing sekali kepala Tante.'' Sang Tante yang bernama Ida menyampaikan keluh kesah nya.


''Tan, aku belum gajian, masih beberapa hari lagi.'' Laras memaksa bicara dengan suaranya yang serak serta berat.


''Kamu gimana sih, Laras? Terus gimana Kakek? Gimana kami harus makan besok pagi. Pokoknya kamu harus kirim uang hari ini juga, pinjam uang teman mu yang seprofesi dengan mu itu. Tante tidak mau tahu! Kamu harus ingat Laras, dulu siapa yang menyekolahkan kamu hingga lulus jenjang SMA, Kakek dan Tante, Laras! Kami yang menyekolahkan kamu. Jadi kamu harus membalas budi baik kami, kamu cari uang untuk berobat Kakek serta untuk makan kami sampai dapat!'' Ida berkata penuh penekanan.


Setelah berkata panjang lebar, Sang Tante langsung memutuskan panggilan.


Laras menjatuhkan ponsel nya di samping kepala, di saat sakit begini, bukannya perhatian, tapi malah tuntutan yang di dapatkan nya. Sang tante mana peduli dengan kondisinya, mau sehat mau sakit, yang penting uang dari Laras terkirim ke rekening sang tante. Ida sama sekali tidak menanyakan kabar Laras.


Itulah alasannya kenapa Laras perlu berpikir beribu kali untuk meninggalkan kediaman Edgar, dia butuh uang setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan Kakek, Tante serta sepupunya. Kini, Laras merupakan tulang punggung keluarga.


''Begini amat hidup ku. Semoga Kakek enggak kenapa-napa. Nanti aku akan mencoba meminjam uang Bi Retno.'' Gumam Laras lirih dengan dada terasa sesak.


Dia tahu, ditangannya ada kartu black card pemberian Edgar, tapi dia belum mau menggunakan kartu itu, yang pastinya dia belum bisa melakukan pengiriman pakai kartu kredit, dia belum sanggup berjalan jauh untuk sampai ke mesin ATM atau tempat pengiriman uang lainnya.


Mau minta tolong Retno untuk menarik uang pakai black card, tentunya akan menimbulkan pertanyaan serta kecurigaan dari Retno.


*


''Bik, aku pinjam uang Bibik boleh? Gajian aku ganti.'' Ucap Laras begitu Retno menjenguk nya di kamar.


Retno menyuapi serta memberikan obat kepada Laras.


Selama beberapa bulan bekerja di kediaman Edgar, kepala pelayan itu memang sangat baik kepada Laras, dia menganggap Laras sudah seperti putrinya sendiri.


''Boleh saja, Laras. Emang kamu mau pinjam berapa? Mau kirim ke Tante kamu, ya.''

__ADS_1


''Iya, Bik. Kakek sakit. Aku mau pinjam 500 ribu Bik.''


''Baiklah, nanti Bibi kirim ke rekening Tante kamu. Masih rekening biasa, 'kan?''


''Masih Bi. Terimakasih banyak ya, Bik. Karena Bibik sudah sangat baik sama aku.'' Laras menatap Retno dengan perasaan haru. Dia merasa beruntung bisa dipertemukan dengan orang sebaik Retno.


''Iya, sama-sama. Ya sudah, kalau begitu Bibi mau ke kamar dulu, mau ambil ponsel. Kamu beristirahatlah.'' Retno mengelus kepala Laras, lalu ia berlalu dari kamar.


*


Edgar tiba di rumah, dia berjalan menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai atas, sesampainya di kamar, cepat dia melepaskan pakaian kantoran yang membaluti tubuh tegap nya. Dia akan mandi, kerja hari ini cukup menguras tenaga serta pikirannya, karena dia harus bolak balik keluar perusahaan untuk bertemu klien.


''Hah... Segar sekali.'' Gumam Edgar dengan kedua mata tertutup. Kini, dia berdiri di bawah shower, menikmati guyuran air yang membasahi seluruh tubuhnya, sensasi dingin air terasa begitu menyegarkan.


Tiba-tiba bayang wajah sendu Laras menari-nari diingatan, Edgar membuka mata.


''Bagaimana keadaan pelayan itu sekarang, ya?'' ucap Edgar di dalam hati, perasaan bersalah terus menghantui nya.


*


''Ya, Oma. Aku baru selesai mandi, makanya baru sempet menjawab panggilan dari Oma.''


''Edgar, besok pagi-pagi sekali Oma dan Kartika sampai di Jakarta. Kamu jemput kami di bandara, ya.''


''Oke Oma. Kartika mana?''


''Kekasih mu lagi keluar, katanya pengen makan diluar.''


''Kenapa Oma tidak menemani Kartika?''


''Oma capek banget, kaki Oma udah pegel karena seharian ini jalan jalan menyusuri kota New York.''


''Oh ya sudah. Oma beristirahat saja di kamar hotel, aku tidak ingin Oma sakit. Aku tutup dulu ya, aku pengen pakai pakaian ku.''


''Eh tunggu dulu, Edgar.''

__ADS_1


''Iya Oma,'' Edgar urung memutuskan panggilan.


''Edgar, gimana kondisi di rumah dan perusahaan? Apa semuanya baik-baik saja?''


''Semuanya baik Oma. Aman terkendali.''


Setelah berkata seperti itu, barulah sang oma memutuskan panggilan.


Sementara Edgar masih duduk terpaku di pinggir kasur dengan dada terbuka, hanya handuk bewarna putih yang melilit pinggang nya.


Lagi-lagi Edgar terpikirkan dengan sosok Larasati.


Kejadian malam itu terus menari-nari di benaknya.


Entah apa yang akan terjadi jika Oma serta kekasihnya tahu kalau dia sudah meniduri seorang pelayan.


Edgar berdiri dari duduknya, dia memakai pakaian dengan cepat.


Setelah selesai memakai kaos oblong serta celana cargo selutut, berjalan dia ke lantai bawah, dia akan melihat kondisi terkini Larasati.


Saat hendak membuka pintu kamar Larasati, tanpa di ketahui nya, aksi nya di pergoki oleh Retno. Retno yang baru dari depan merasa heran kenapa sang tuan muda rajin sekali mengunjungi Laras.


Retno bersembunyi di dinding pembantas, setelah tubuh Edgar benar-benar sudah masuk ke kamar Laras, baru lah Retno keluar. Dia membawa langkahnya ke depan pintu kamar Laras.


Untuk menjawab rasa penasaran nya, Retno memutuskan untuk menguping. Tidak biasanya Edgar memasuki kamar pelayan, pasti ada sesuatu. Begitulah pikir Retno.


Di dalam kamar, Larasati yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang merasa kaget melihat kedatangan Edgar.


Matanya melebar seperti melihat hantu saja. Di tariknya selimut, lalu ia menutupi setengah tubuh nya, karena tadi pahanya yang putih mulus terekspos jelas, untuk menurunkan demamnya secara alami, sengaja dia memakai kaos oblong dengan celana sot.


''Ma-mau apalagi Tuan ke sini?'' suara Laras tercekat.


.


Bersambung.

__ADS_1


Hai teman-teman, makasih sudah berkenan membaca novel terbaru aku.


Jangan lupa like komen dan kasih hadiah serta vote juga ya. Supaya cerita ini bisa naik dan di baca banyak orang. Salam kenal dan salam sayang dari aku.


__ADS_2