
"Oma, tapi Laras tengah mengandung anak aku Oma, di janinnya sedang tumbuh penerus keturunan kita. Aku mohon, terima Laras demi aku, aku mencintai dia dan janin yang ada di kandungan nya. Walaupun dia tidak berpendidikan tinggi, tapi dia wanita baik-baik, dan yang paling penting, aku bahagia saat bersamanya,'' wajah Edgar memelas menatap sang oma.
Risma paling tidak tahan melihat wajah memelas sang cucu.
Ia membuang muka ke samping, kedua tangannya bersendekap di dada. Lalu berucap.
''Tidak, sekali tidak tetap tidak Edgar!'' Risma masih tetap pada pendiriannya.
''Seperti tidak ada wanita lain saja, bahkan putri dari seorang presiden pun bisa kamu nikahi, ini malah memilih gadis bau kencur dan tidak memiliki keahlian apapun selain mengurus rumah, bagaimana bisa dia mendidik anak-anak mu, bagaimana bisa kamu membawanya untuk menghadiri pesta-pesta besar perusahaan. Dia tidak akan bisa berbaur bersama orang-orang hebat, yang ada dia malah bikin malu kamu. Pengetahuan nya masih cetek!'' lanjut Risma meremehkan Laras.
''Kalau begitu aku permisi.''
Laras menarik langkahnya menjauhi Risma dan Edgar. Dengan langkah laki lebar sedikit berlari dia keluar dari rumah megah tersebut. Dia tak sanggup lagi mendengar kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut Risma.
Edgar mengejar Laras.
Risma tersenyum sumbang melihat itu, ia pastikan, rencana Edgar untuk menikah dengan Laras tak akan terwujud. Mudah baginya untuk menyingkirkan butiran debu seperti Laras.
Para pelayan yang menguping berbisik-bisik di balik dinding. Ada yang merasa kasihan sama Laras dan ada juga yang senang melihat Laras direndahkan.
__ADS_1
''Semoga Laras tetap kuat menjalani cobaan hidup ini. Aku tidak menyangka, ternyata dia tengah mengandung. Aku yakin, Laras tidak mungkin menyerahkan keperawanannya kepada Tuan Muda begitu saja. Aku kenal betul siapa dia, dia adalah gadis yang polos dan sangat menjaga dirinya,'' gumam Retno di dalam hati dengan kekhawatiran nya memikirkan Laras.
*
''Laras, tunggu Sayang,'' Edgar menarik tangan Laras meminta Laras berhenti berlari.
''Lepas! Kamu denger sendirikan apa yang dikatakan Oma tadi, aku memang tidak pantas mendampingi kamu!'' Laras menepis kasar tangan Edgar.
Di depan pintu gerbang nan tinggi dan lebar, Laras dan Edgar berdiri berhadapan.
''Sayang, percayalah, aku akan memperjuangkan kamu,'' ucap Edgar meyakinkan. Ia menghapus air mata di kedua pipi Laras.
''Aku mau kembali ke Apartemen,''
''Tidak usah. Aku bisa naik taksi,''
''Tidak. Jangan naik taksi, aku tak mengizinkan mu.''
Edgar menarik pelan tangan Laras menuju mobilnya yang masih terparkir di depan teras.
__ADS_1
Namun, saat mereka sudah berada di dekat mobil, tiba-tiba sebuah mobil melaju cepat memasuki halaman lalu berhenti tepat di samping mobil Edgar.
Sang pemilik mobil keluar dengan cepat dari mobil, lalu, tanpa di duga-duga.
Plak!
Tangan Kartika melayang cepat di pipi Laras tanpa sempat Edgar cegah.
Wajah Kartika memerah menatap Laras, dadanya naik turun saat melihat Edgar memegang tangan Laras. Sakit sekali hatinya melihat pria yang dicintai bersama wanita lain. Pria yang selama ini begitu setia, nyatanya kini telah berpaling hati.
Laras menyentuh sudut bibirnya yang berdarah. Kini, bukan hanya hatinya saja yang sakit, tapi juga pipinya. Perih panas berdenyut-denyut.
''Kartika!'' bentak Edgar tak terima.
Edgar dengan cepat mengelus pipi Laras, ''Sayang, pasti sakit sekali, ya. Maaf,'' ucap Edgar lembut.
Semakin terluka lah Kartika melihat itu.
''Oh, jadi ini wanita ****** nya?! Cabe-cabean ternyata. Tinggalkan dia sekarang juga Edgar, atau kalau tidak, aku tidak akan pernah membuat hidup nya tenang!'' ancam Kartika.
__ADS_1
''Aku sama sekali tidak takut sama ancaman mu itu. Dan aku juga tidak akan pernah meninggalkan Laras. Mendingan kamu cari pria lain saja Kartika, aku sungguh tak bisa lagi kembali dengan mu,'' ucap Edgar dengan nada tinggi.
Dia dan Laras lalu masuk ke mobil tanpa memperdulikan Kartika lagi, setelah itu mobil melaju meninggalkan Kartika yang masih berdiri diam mematung dengan perasaan yang begitu hancur. Ia tak menyangka, Edgar benar-benar sudah tak menginginkan nya lagi. Penyesalan semakin dalam ia rasakan, saat teringat penolak demi penolakan yang selalu ia lontarkan dulu saat Edgar mengajaknya untuk menikah, entah kenapa kini ia begitu menginginkan ajakan tersebut. Kini ia bersedia menikah dengan Edgar bahkan ia sudah bersedia memberikan Edgar keturunan.