
Baru saja aku merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya bersama orang yang aku cintai, orang yang bisa menghargai aku serta kakek, namun kebahagiaan itu tak bertahan lama, aku dan kakek diculik, lalu kami dibuang ke tempat asing nan jauh.
*
''Jangan pernah kembali lagi ke kehidupan Tuan Muda Edgar, awas saja. Kalau kamu nekad, kami tidak akan segan-segan untuk melenyapkan kamu dan Kakek mu itu.'' Ucap pria yang tubuh nya paling kekar dengan suara keras dan penuh penekanan, ia mengancam, tatapan matanya tajam.
Setelah itu mereka meninggalkan aku dan kakek, mobil yang membawa mereka melaju menjauh dengan kecepatan tinggi.
*
''Kek, bangun Kek,'' aku menepuk pelan pipi penuh keriput yang ada dipangkuan ku. Di malam yang pekat, aku diturunkan oleh pria-pria bertubuh kekar di jalanan yang sepi dan gelap. Jalanan berbatu dan berdebu.
Aku takut, tentu saja. Tapi yang lebih membuat aku takut adalah kehilangan Kakek.
Saat kami diturunkan tadi, tangan serta kaki kami diikat, pun mulut kami diperban.
Sekitar setengah jam lamanya aku berusaha untuk melepaskan ikatan di pergelangan tangan ku, akhirnya tali yang mengikat tangan ku berangsur longgar dan terlepas. Tidak ada usaha yang sia-sia.
Setelah selesai melepaskan ikatan di kaki serta melepaskan perban di mulut ku, aku lalu melepaskan ikatan di tubuh Kakek.
Pria renta yang selalu setia membersamai ku tak sadarkan diri, beliau pingsan. Aku sangat khawatir dan merasa bersalah. Karena bersama ku, kakek jadi seperti ini.
Sudah berulangkali aku berusaha untuk membangunkan Kakek, tapi usaha ku belum membuahkan hasil.
Hingga akhirnya aku berteriak berharap ada bantuan yang datang.
''Tolong!''
''Siapapun, tolong kami,'' seru ku dengan penuh harap akan ada seseorang yang mendengar teriakkan ku.
Tangis ku tentu saja sudah pecah sedari tadi, tidak lama setelah itu gerimis mulai berjatuhan. Kecemasan semakin aku rasakan. Aku melihat ke kiri ke kanan, tengkuk ku meremang menyadari tempat ini begitu sepi, sunyi dan suara-suara aneh terdengar menakutkan ditelinga.
''Kek, bangunlah. Hiks,'' racau ku.
''Kek!'' seru ku. Tidak bisa aku bayangkan kalau harus berada di tempat ini sepanjang malam dengan hujan membasahi tubuh kami. Bisa-bisa nyawa Kakek melayang. Tidak, itu tidak boleh terjadi.
''Apa ada orang di sana?'' mata ku menyipit karena silau oleh cahaya sinter. Ternyata usaha ku tidak sia-sia, teriakkan ku berhasil mengundang seseorang menghampiri kami. Repleks senyuman ku terkembang.
''To-tolong aku, Kakek ku pingsan, aku tak kuat membopongnya,'' ujar ku sedikit keras.
''Kalian dari mana?'' pria bertubuh tinggi tegap sepantaran dengan Mas Edgar sudah duduk di depan ku, ia memeriksa kondisi Kakek. Memeriksa pergelangan tangan serta detak jantung.
''Kami berasal dari Jakarta. Kami di culik lalu di buang ke tempat ini,'' jelas ku berterus terang.
__ADS_1
''Ya ampun. Kasihan sekali kalian. Kalau begitu ayo ikut saya, saya akan membantu membawa Kakek mu,'' pria itu lalu menggendong tubuh Kakek, tubuh Kakek yang sudah semakin kurus dengan mudah ia bawa karena perawakan tubuh nya yang tinggi dan tegap.
Ia berjalan dengan langkah kaki lebar, aku mengikuti nya dari belakang. Aku harap pria ini adalah pria baik, yang benar-benar tulus membantu aku dan Kakek.
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya kami tiba disebuah rumah. Rumah kecil yang berdinding papan.
Sepertinya sekarang aku sedang berada disebuah perkampungan kecil. Rumah warga berjarak cukup jauh dari rumah yang satu ke rumah yang lain.
''Masuklah,'' ucap pria yang masih belum aku ketahui namanya. Ia masuk lebih dulu.
"Iya,'' jawabku.
Setibanya kami di dalam rumah, ia meletakkan tubuh Kakek di atas ranjang kecil, ranjang yang mirip seperti brankar rumah sakit.
Eh, tunggu dulu. Aku baru menyadari, ternyata tidak hanya ada ranjang, lemari yang penuh dengan obat-obatan tampak berdiri tegas di samping ranjang, di sertai dengan meja dan laci juga.
''Kamu Dokter di sini?'' tanyaku. Kini pria itu tengah sibuk memeriksa Kakek dengan alat-alat medis nya.
''Iya, saya juga berasal dari Jakarta.'' Dia masih fokus memeriksa Kakek tanpa menoleh ke arah ku.
''Oh. Terimakasih banyak, aku merasa sangat bersyukur bisa dibantu oleh kamu. Kalau tidak ada kamu entah bagaimana nasib aku dan Kakek ku,''
''Jangan berbicara seperti itu, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Aku senang bisa menjadi berguna untuk orang lain,''
''Sekali lagi terimakasih banyak Dok,''
''Nama yang bagus,'' repleks aku berucap.
Dokter Fathir tersenyum tipis kepadaku. Di bawah cahaya bohlam, bisa aku lihat wajahnya dengan jelas. Dia tampan dan memiliki tatapan mata yang teduh.
''Aku sengaja datang ke desa-desa terpencil seperti ini untuk membantu mereka-mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan. Bagi mereka, untuk sampai ke kota butuh waktu tempuh yang lumayan jauh, tentunya akan mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk biaya transportasi kalau ada warga yang sakit. Kasihan, hidup sudah susah malah semakin susah saja,'' jelas pria yang memiliki wajah rupawan tersebut.
Aku manggut-manggut mendengarkannya.
''InsyaAllah Kakek kamu tidak lama lagi akan sadarkan diri,''
''Alhamdulillah,'' ucapku senang.
''Kamu lagi hamil?'' tatapannya tertuju ke perut ku.
''Iya.''
''Kalau begitu lebih baik kamu beristirahat. Ada satu kamar di bagian belakang, tidur lah di sana. Itu kamar yang biasa saya tempati tapi saya rasa sekarang kamu lebih membutuhkan tempat itu,''
__ADS_1
''Em, tidak. Aku tak apa kalau harus tidur di sini, aku akan menunggu kakek ku. Aku tidak ingin semakin merepotkan kamu,''
''Jangan ngeyel. Wanita hamil harus banyak-banyak beristirahat. Beristirahat lah, saya tidak mau kamu jatuh pingsan seperti kakek mu, bisa tambah repot saya,''
''Ba-baiklah.'' Akhirnya aku mengangguk setelah mendengar perkataan Fathir yang ada benarnya juga.
''Saya akan menjaga kakek mu,''
''Sekali lagi terimakasih banyak,''
''Hm.''
*
Berbaring aku di kasur, aku menarik selimut menutupi tubuhku yang kedinginan. Udara di desa ini begitu dingin. Apakah sekarang aku lagi berada di Bandung? Karena kata orang-orang cuaca di Bandung cukup dingin dari provinsi yang lain.
Ku usap perutku, tiba-tiba air mata ku menetes.
Aku rindu dengan pria yang telah menyemaikan benih di rahim ku. Rindu suara serta aroma tubuh nya yang menenangkan.
Malam ini merupakan malam kedua pernikahan kami, tapi kini kami tak tidur seranjang lagi. Tubuh kami telah terpisah jarak cukup jauh. Entah sampai kapan begini? Mungkin selamanya.
Ancaman pria bertubuh kekar tadi selalu aku ingat.
''Nak, bisakah kita hidup dengan baik tanpa adanya Papa di samping kita?'' gumamku masih mengelus perutku dengan tangan sedikit gemetar.
''Apakah Papa ingat kita? Sedang apa ia sekarang? Apa di sana Papa sama risau nya seperti Mama?'' lagi aku bergumam, lalu tangis ku semakin menjadi-jadi saja. Aku menangis tanpa suara. Jangan sampai Fathir mendengar suara tangisan ku.
Aku sangat merindukan suamiku. Aku harap Mas Edgar baik-baik saja di sana.
Ternyata resiko mencintai pria sempurna seperti Mas Edgar memang besar, aku tidak bodoh. Aku tahu betul siapa dalang dibalik semua ini.
Sakit rasanya mengingat anak yang ada di rahimku akan tumbuh tanpa adanya seorang ayah.
Jika aku kembali ke Jakarta, sudah pasti orang-orang itu akan semakin membenci aku dan mereka tidak akan membiarkan aku hidup lebih lama lagi.
*
Cahaya pagi masuk melalui celah-celah papan yang tak rapat. Aku terkesiap. Segera bangun saat tahu aku kesiangan.
Berjalan aku keluar kamar, begitu tiba di luar, aku mencium aroma masakan yang membuat perut ku meronta-ronta minta diisikan.
''Laras, kamu sudah bangun? Dibelakang ada sumur, mandilah di sana supaya tubuh kembali segar,'' ucap Fathir membuat aku kaget. Ia muncul tiba-tiba di hadapan ku.
__ADS_1
''Kamu tahu nama ku?'' tanyaku heran.
''Iya, Kakek Ridwan sudah sadar. Ia sudah menceritakan semuanya,''