
Pasukan Tumenggung Tasik membawa para penyamun yang menyerah ke kamp penahanan di kota terdekat. Mereka akan diinvestigasi terlebih dahulu, baru kemudian didakwa sesuai hukum yang berlaku. Hukaman mereka berbeda-beda tergantung dari tingkat kejahatannya.
Para begal yang membunuh dan merampok akan dieksekusi dan disalib, yang merampas harta tanpa membunuh akan dipotong tangan dan kakinya secara bersilang, sedangkan yang menoror tanpa membunuh maupun merampok akan diasingkan ke negeri jauh. Demikian adalah hukuman yang setimpal atas perbuatan jahat mereka sekaligus sebagai peringatan bagi orang-orang agar tidak melakukan hal yang sama.
Anastasia meminta izin untuk ikut dalam salah satu interogasi para penyamun. Ia mencari keberadaan kakaknya di Lembah Kumuning. Dalam hati, ia sangat berharap agar kakak bodohnya tidak ikut terlibat dalam kasus buruk ini.
“Tidak ada yang melihat kakakmu di sana,” Amir datang setelah urusannya di markas selesai. Waktu yang ia habiskan dalam ekspedisi ini kurang lebih dua minggu. Ia akan segera kembali ke Tasik dan bersua dengan keluarga yang menunggu kedatangannya. Sesuai janjinya pada Aminah, ia tidak pergi terlalu lama dan kembali dengan selamat.
“Syukurlah kalau begitu. Itu berarti … kakak saya bebas dari tuduhan kan?” tanya Anastasia penuh harap. Ia menatap Amir dengan mata sendu. Padahal, saat berada di tengah pertempuran, ia seolah tak memiliki rasa takut. Gadis itu jelas sekali amat mencintai keluarganya.
“Masih belum. Masalah yang terkait dengannya bukan hanya berurusan dengan Penyamun Kumuning, tapi pembakaran gudang pangan di Kota Kejaksian dan beberapa kasus lainnya,” jelas Amir kompleks, “Lagi pula, kita masih belum bisa melepas kecurigaan terhadapnya dalam kasus Kumuning ini, sementara para Penyamun Kumuning sendiri masih banyak tersisa. Bisa jadi, kakakmu ikut kabur dengan mereka ke arah timur.”
“Apa tidak ada yang bisa saya lakukan?” Anastaisa tertunduk dalam. Ia benar-benar tidak ingin Schlutz jatuh dalam bahaya. Kalau bisa, dia ingin menggunakan cara itu lagi agar kakaknya tidak celaka.
“Jangan berpikir untuk memintakan amnesti kedua baginya. Dia sudah mengkhianati pengorbananmu. Toh, permintaan amnestimu tidak akan diterima lagi setelah apa yang dia lakukan,” kata Amir seolah dapat membaca rencana yang dipikirkan istrinya. Anastasia terdiam selama beberapa saat. Ia menahan air matanya agar tidak keluar. Setelah merasa mampu mengendalikan emosinya, barulah ia berkata, “Saya mengerti.”
__ADS_1
Kasus yang menimpa Schultz de Raiziger tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tapi juga berdampak kepada keluarga dan orang-orang sebangsanya. Rakyat Aliansi Tanah Jawa memandang buruk orang-orang Lojie. Terutama para pengungsi dari Malaka yang tanah airnya dijajah oleh mereka. Kalau saja Anastasia tidak merapatkan kerundungnya sampai menutupi setengah wajah dan rambut pirang keemasannya, mungkin ia akan mendapatkan banyak olokan dari warga di kota.
“Jangan hiraukan perkataan mereka. Kamu bukanlah orang jahat yang mereka maksud,” hibur Amir dalam perjalanan pulangnya. Ia terus memperhatikan Asya yang tidak pernah sekalipun tersenyum. Sejak kemarin, hati kecilnya berusaha mencari solusi untuk membuat gadis itu merasa lebih baik.
“Saya mengerti,” begitulah Anastasia menjawab setiap kali Amir menghiburnya. Ia benar-benar mengerti maksud junjungannya. Batinnya tertekan karena gelisah dan terus memikirkan nasib Schultz. Hatinya sayup-sayup menyesal telah ikut dalam ekspedisi ini. Kalau saja ia tetap di rumah dan hidup dengan tenang di sana, mungkin hubungannya dengan si kembar akan ada kemajuan.
Hari demi hari berlalu. Sampai tiba di Kediaman Tumenggung Tasik, Amir tetap tak melihat tanda-tanda kejernihan di air muka istri keduanya. Padahal, panglima muda itu sudah berkali-kali mencoba untuk lebih dekat dengan Asya. Walaupun ia tidak terlalu mencintainya, ia tetap melakukan yang terbaik untuk bersikap adil pada kedua istrinya. Termasuk dalam memberikan perhatian.
“Saya ingin sendiri. Mohon pengertiannya. Lebih baik Tuan segera mengunjungi Nyonya Besar,” kata Asya dengan suara yang lirih dan lesu. Ia menolak Amir yang berniat mengantarnya sampai ke Joglo Barat. Dengan wajah tertunduk, ia berjalan seorang diri ke rumahnya.
“Apa dia baik-baik saja?” Aminah turut khawatir dengan kondisi Asya. Ia tak tega melihat gadis yang tampak ringkih itu berjalan sendirian ke puncak bukit. Padahal, ia masih merasakan kecemburuan di dadanya beberapa saat lalu.
Pandangan Asya mendongak ke atas. Ia melihat rumahnya yang berdiri di puncak sebuah bukit sambil tersenyum tipis. Baru kali ini ia berpikir bahwa joglo itu adalah rumah yang paling damai dan tenang sepanjang hidupnya. Hanya dengan melihat keasrian sambil mendengar gemercik air di sekitar kediamannya, ia sudah bisa merasa lebih baik dan lega. Ia pun sadar bahwa yang dibutuhkannya sekarang adalah kedamaian.
Sepasang bocah kembar terlihat keluar dari Joglo Barat dan bergegas menuruni bukit. Kedua bocah itu adalah Hanif dan Syarif yang baru saja mendengar kabar kedatangan abahnya. Anastasia kembali tersenyum saat melihat mereka. Ia yakin kedua bocah itu akan memberikan cibiran remeh padanya dengan wajah-wajah yang imut. Yah, itu tidak masalah. Mungkin saja cibiran kecil mereka malah bisa menghiburnya sekarang.
__ADS_1
Hanif dan Syarif berhenti saat berhadapan dengan Asya. Pandangan mereka saling bertemu. Kedua anak itu terdiam dengan wajah yang dingin dan tatapan tajam. Walau begitu, mereka terlihat seolah sedang menahan diri dari sesuatu.
Anastasia memandang mereka dengan tanda tanya di atas kepalanya. Biasanya si kembar akan langsung mengoceh jika bertemu dengannya. Namun, hari ini mereka seperti berusaha untuk melakukan hal lain. Setelah beberapa saat terjebak dalam kecanggungan, akhirnya Hanif berkata, “Selamat datang, Bibi Asya.”
“Eh … ya?” Asya semakin kebingungan dengan sikap anak-anak tirinya. Ia tak tahu bagaimana harus membalasnya, apalagi saat melihat tatapan dingin kedua bocah itu. Pada akhirnya, mereka berdua pergi meninggalkan Anastasia yang berdiri tertegun sendirian.
Sikap Hanif dan Syarif yang berbeda membuat Asya bernapas panjang. Ia pun melanjutkan pendakiannya ke Joglo Barat dengan hati yang kosong. Yah, hati yang kosong dan bingung. Entah bagaimana harus mendeskripsikannya. Sungguh perasaan yang aneh.
Saat masih bersama Amir tadi, Asya merasa sedih dan gundah. Perasaan takut kehilangan keluarganya membayang-banyang di kepala. Kemudian, saat ia beranjak kembali dan mengamati pemandangan di sekitar rumahnya, hatinya merasa damai dan terhibur. Seakan-akan ada sesuatu yang sangat ingin ditemuinya. Namun, ketika Hanif dan Syarif meninggalkannya dengan dingin barusan, ia pun merasa kosong. Rasanya seolah benar-benar ditinggalkan oleh keluarganya sendiri.
"Apa yang aku harapkan? Sejak kapan aku jadi serakah begini? Lagi pula, mereka kan bukan anak-anakku," gumam Asya pelan. Sebuah angan terlintas di benaknya dalam sekajap. Ia pun segera menggeleng dan membuang angan itu jauh-jauh sambil berbisik pada dirinya sendiri, "Asya, jangan serakah! Jangan serakah! Kamu hanyalah boneka tawanan."
Sekarang, Anastasia benar-benar sendirian. Ia melepas kerudung yang melilit kepalanya, lantas bernapas lega. Rambut pirangnya yang keemasan seketika tergerai. Ia pun membaringkan tubuhnya di kasur dan menatap langit-langit kamar.
Setelah berpikir cukup lama, ia baru sadar bahwa sikapnya terhadap Amir beberapa hari belakangan ini terlalu dingin. Padahal, pria itu menunjukkan perhatian yang hangat padanya. Namun, semakin Amir memberi perhatiannya, semakin Asya bersikap cuek padanya. Kira-kira, menapa dia jadi bersikap plin-plan begitu? Seolah-olah ... ia sedang mencari perhatian darinya.
__ADS_1
Mata Anastasia perlahan tertutup seiring larutnya ia dalam lamunan. Ia terus memikirkan sikapnya pada Amir beberapa hari ini. Saat ia tidak merasakannya lagi hari ini, ia merasakan kekosongan di relung hatinya. Persis seperti saat Hanif dan Syarif meninggalkannya.
Detik demi detik berlalu. Mentari pun berpamitan untuk kembali ke peraduannya. Saat langit mulai berwarna kemerahan, Amir datang ke Joglo Barat. Dilihatnya Asya tengah tertidur pulas. Ia pun tersenyum karena mendapati air muka istrinya kini terlihat lebih jernih. Sebelum pulang kembali ke kediaman utama, Amir mengecup kening Asya dan menyelimuti gadis itu dengan lembut.