
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang budak juga pemimpin atas atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawabannya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.”
“Begitulah sabda Rasulullah SAW.,” kata Aminah setelah selesai membacakan sebuah hadis, “Apa yang bisa kamu simpulkan dari hadis ini?”
Anastasia menggeleng. Ia sama sekali tidak mengerti. Apa yang baru saja dibacakan oleh kakak madunya itu sama sekali tidak menjawab pertanyaannya tentang poligami. Apa hubungannya kepemimpinan dengan poligami? Tidak ada sama sekali. Asya ingin mengatakan itu, tapi ia sungkan mengungkapnya dan hanya dapat terdiam sembari menunggu penjelasan.
“Pertama, aku ingin sekalian memberimu perbandingan antara paligami dan poliandri,” terang Aminah, “Mengapa Islam membolehkan seorang lelaki berpoligami, sedangkan seorang wanita tidak boleh berpoliandri?”
Anastasia mengangguk. Ia ingin mendengar penjelasan terakait hal itu. Pasti akan bagus bila ia mengetahuinya.
“Kedua, aku ingin kita merenungkan antara keadilan dan kesetaraan,” Aminah membuka jari telunjuk dan jari tengahnya, menunjukkan angka dua, “Apakah keduanya sama? Manakah yang lebih baik? Keadilan atau kesetaraan?”
Asya kembali mengangguk. Ia pun mulai merenungkan pertanyaan-pertanyaan itu.
“Hadis yang tadi kubaca adalah penjelasan bahwa tanggung jawab laki-laki lebih besar daripada tanggung jawab perempuan. Ia adalah pemimpin untuk seluruh keluarganya. Dalam keluarga itu ada anak dan istri. Ia harus memberi nafkah dan menjaga mereka dari panasnya api neraka,” kata Aminah mulai menjelaskan, “Nah, mengapa lelaki diberi tanggung jawab sedemikian besarnya?”
“Itu …,” Anastasia amat tahu dengan jelas jawabannya, “Karena umumnya laki-laki lebih kuat darpada perempuan, baik dalam fisik maupun akal. Mereka bisa bekerja lebih keras daripada wanita dan mampu memutuskan lebih cermat dengan logikanya.”
“Tepat sekali!” Aminah tersenyum. Senangnya memiliki kawan yang cerdas, “Karena itu, tidak adil jika kita menyetarakan hak dan kewajiban antara laki-laki dan wanita, sedangkan keduanya memiliki kemampuan yang berbeda. Kamu mengerti maksudku kan? Penyetaraan itu memukul sama rata kedua belah pihak. Dalam aspek ini, jelas tidak adil menyetarakan kedua hal itu. Wanita akan sangat dirugikan karenanya.”
__ADS_1
Anastasia terdiam. Cangkir pocinya yang sudah kosong kembali diisi oleh Aminah. Makan dan minum yang manis-manis itu pas untuk mendinginkan kepalanya yang berpikir keras.
“Lalu, mari kita bahas lebih lanjut mengenai perbedaan fisik dan kondisinya antara laki-laki dan perempuan,” Aminah menepuk tangannya sekali setelah selesai menuangkan teh yang baru pada Asya, “Dalam aspek ini, perempuan tidak memiliki kecocokan untuk melakukan poliandri karena dialah yang mengandung. Jika wanita berpoliandri, anaknya tidak akan memiliki kejelasan nasab karena sel telur dibuahi oleh lebih dari satu pemilik ******.”
Anastasia mengerutkan kening. Ia tidak mengerti maksud Aminah.
“Simpelnya, si anak tidak dapat diketahui mana ayahnya,” terang Aminah, “Lalu, seorang wanita tidak akan dapat menunaikan kewajiban-kewajibannya terhadap suami dengan benar jika ia berpoliandri. Kamu pasti mengerti kewajiban-kewajiban seorang istri kan? Maka, bayangkan jika kamu memiliki banyak suami? Tentu sangat tidak logis menimbang bagaimana fisik wanita yang umumnya.”
“Sedangkan laki-laki,” lanjut Aminah, “Mereka memiliki kemampuan untuk tetap bersikap adil kepada setiap istrinya. Apabila ia merasa tidak mampu bersikap adil, maka cukuplah baginya seorang saja.”
“Tapi, bukankah poligami itu menyakiti hari wanita?” Anastasia mengerti maksud Aminah. Walaupun ia adalah istri kedua, ia tetap merasakan cemburu. Apalagi setelah cintanya pada Amir mulai mekar. Ia takut bila suatu saat nanti sang suami akan meninggalkannya begitu saja.
“Benar, begitulah kodrat wanita,” balas Aminah yang kembali tersenyum getir, “Karena itu, di awal tadi kubilang bahwa kuncinya adalah kesabaran. Barang siapa bersabar, maka baginya pahala tak terbilang. Aku masih berusaha melatihnya sampai sekarang dan akan terus melatihnya.”
Aminah lama terdiam. Senyum dibibirnya perlahan luntur. Rasa sakit hati dan kecemburuan kembali menusuk-nusuk kalbunya. Ia ingin sekali mengusir wanita di depannya ini dari tempatnya. Namun, ia tahu bahwa itu sama sekali tidak menambah apa-apa selain kerusakan.
Anastasia pun semakin tertunduk karena Aminah tidak juga menjawab. Ia takut kalau-kalau akan Aminah menggeleng seperti tadi. Hidupnya mungkin akan kembali berubah setelah ini. Ia tidak ingin membayangkannya, apalagi Amir sudah menyentuhnya.
“Aku …,” suara Aminah yang lirih terpotong. Anastasia yang mendengarnya semakin gelisah. Kira-kira, apa yang akan dikatakan oleh kakak madunya itu? Apa ia akan diusir? Ataukah diterima sebagaimana yang telah ia alami selama ini?
__ADS_1
“Aku ingin bisa menerimamu dengan lapang dada, semoga aku bisa melakukannya,” ucapan Aminah bagai angin musim semi yang meniup hati Asya. Entah mengapa ia senang. Mungkinkah karena ia diperlakukan dengan baik? Mungkinkah karena ia tidak akan terombang-ambing dalam ketidakpastian? Ataukah karena ia sangat ingin tetap bersama suaminya, Amir?
Asya tidak mengerti sama sekali. Hatinya bergejolak antara suka dan duka. Air matanya pun perlahan berkumpul di pelupuk mata, lalu menetes deras di pipi. Sejenak kemudian, ia terisak dan menangis. Ditutupnya wajah yang bersedih itu dengan kedua tangan, lantas mengucapkan kata, “Maaf. Maaf … dan terima kasih.”
Aminah menutup mulutnya. Entah mengapa ingin ikut menangis. Apa tangisan itu menular? Air matanya pun benar-benar tumpah walaupun tidak sebanyak Asya. Namun, karena tangisan itu, hatinya jadi merasa lebih baik. Luka-luka di hatinya seolah mengalir jatuh bersama tetesan air mata itu. Ia pun bangkit, lalu memberi pelukan hangat pada Asya.
Mereka berdua menangis bersama selama beberapa saat. Saat keduanya berhenti, kecanggungan kembali menyeruak. Mereka saling terdiam, tapi tak ada satu pun yang beranjak dari bangkunya seolah pembicaraan ini masih belum usai dan harus dilanjutkan.
Mulut Asya pun kembali terbuka saat matanya melihat anak-anak yang berlarian di depan surau. Ia ingin mengucapkan sesuatu, tapi belum tahu cara mengungkapkannya. Pikirannya melayang ke masa depan, membayangkan masa-masa indah yang mungkin akan segera datang.
“Anak-anak itu sangat aktif dan menggemaskan bukan?” Aminah yang akhirnya membuka kembali pembicaraan. Asya pun mengangguk. Ia menceritakan bagaimana dirinya ingin dapat menjadi akrab dengan Hanif dan Syarif. Aminah mendengarnya dengan takzim. Sesekali ia tertawa saat mendengar tingkah menggemaskan anak-anaknya.
“Kakak akan segera punya anak lagi. Siapa namanya?” Asya mulai dapat berkomunikasi dengan santai setelah obrolan mengalir begitu saja. Aminah pun langsung menjawab, “Namanya Latif, tapi kakanda mau namanya Latifah.”
“Hm? Kedengarannya mirip,” Asya menaikkan sebelah alisnya. Jari-jemarinya memilin-milin ujung kerudung yang ia pakai. Aminah pun mengangguk dan berkata, “Memang sama. Maksudku, aku mau punya anak laki-laki lagi. Jadi, namanya Latif. Kan jadi kompak anak-anak. Hanif, Syarif, Latif. Tapi, kakanda maunya anak perempuan. Jadi, namanya Latifah. Kamu saja deh nanti yang lahirin anak perempuan buat dia.”
Wajah Asya langsung bersemu merah. Ia pun memutup mukanya cepat-cepat agar tidak ketahuan Aminah. Bayangan tentang pengalamannya pertamanya kemarin malam jadi muncul kembali di benaknya. Asya sungguh tak dapat mengelak darinya.
Aminah tertawa melihat tingkah Asya yang lucu itu. Pantas saja Amir juga suka membuatnya merona. Ternyata kesenangan yang dirasakan suaminya mirip seperti ini. Ia sudah tidak lagi memikirkan kecembuaruannya. Ia mulai dapat bersabar dan bersyukur. Yah, bersyukur karena madunya bukanlah wanita jahat yang sombong.
__ADS_1
Obrolan mereka terus berlanjut. Aminah hanya berhenti saat waktunya menunaikan salat fardu. Asya mengamatinya dari deket saat ia sedang beribadah. Ketika mereka melanjutkan obrolan, Asya pun bertanya tentang kondisi Aminah yang sedang hamil. Apa dia tidak keberatan beribadah?
“Tidak, justru kalau bermalas-malasan akan membawa efek buruk,” jawab Aminah santai, “Saat hamil nanti, cobalah tetap beraktivitas. Namun, jangan terlalu kecapean juga. Banyaklah baca doa dan zikir agar hatimu yang sedang sensitif dapat mejadi lebih tenang. Kalau sudah masanya nanti, aku juga mau ajarin kamu baca Al-Qur’an karena di dalam Al-Qur’an itu penyembuh.”