Berbagi Cinta: Puspita Timur & Barat

Berbagi Cinta: Puspita Timur & Barat
Bab 024: Tingkah Si Kembar


__ADS_3

Aminah menatap senja yang elok. Awan kemerahan mengambang bebas di atas sana, berjalan pasrah bersama angin bertiup, dan membentuk pola yang cantik. Ini adalah pemandangan yang indah di tengah kampung iyang asri.


"Umma, Umma," suara Hanif dan Syarif terdengar amat riang. Aminah pun segera menoleh. Dilihatnya kedua bocah itu tengah berlarian di halaman rumahnya dengan cepat. 


"Hanif, Syarif, hati-hati jalannya!" pinta Aminah cemas, "Nanti jatuh loh."


"Aku duluan!" seru Hanif semangat. Dia sampai lebih dulu teras rumah dan bergegas memeluk Aminah. 


"Curang! Kamu curang!" Syarif tidak terima dengan kemenangan saudaranya itu. Sambil menarik-narik ujung baju ibunya, ia melapor, "Bunda, Hanif curang. Tadi kan, tadi dia lari duluan. Masa habis satu langsung tiga?"


"Terserah aku dong," Hanif tak peduli, "Salahmu sendiri gak fokus."


"Ssst, udah-udah," Aminah pun melerai keduanya. Andai ia tidak sedang mengandung, ia mungkin kuat menggendong kedua anak kembarnya ini. "Ayo mandi dulu. Keburu dingin loh."


"Aku duluaaan …," Syarif langsung berlari ke belakang. Hanif pun jadi tak mau kalah. Bocah itu segera melepas pelukannya dan menyusul Syarif. Aminah hanya dapat menggeleng-geleng maklum melihat itu, lalu kembali mengingatkan, "Hanif, Syatif, jangan lari-lari di rumah begitu. Nanti jatuh."


"Iya, Umma," Syarif langsung menyahut.


Aminah pun ikut ke belakang. Didengarnya suara anak-anak yang sedang ramai bermain di kamar mandi. Mereka terdengar riang mandi bersama. Aminah kembali menggeleng dalam diam, lalu mengingatkan sekali lagi pada anak-anaknya agar tidak lama-lama di kamar mandi.


"Iya, Umma," kali ini, Hanif yang menjawab.


Sembari menunggu, Aminah duduk di ruang makan. Dilihatnya meja yang sudah penuh dengan lauk makan malam sekaligus sayur dan nasinya. Hari ini adalah jatahnya bersama Amir. Jadi, suaminya itu pasti pulang selepas bekerja.


"Assalamu alaikum," suara orang yang dinanti akhirnya tiba. Aminah pun berdiri dari duduknya. Ia berjalan ke ruang tamu guna menyambut sang suami tercinta.


"Wa alaikumus salam wa rahmatullahi wa barakatuh," sambut Aminah dengan seulas senyuman indah di bibirnya. Senyuman itu menular. Amir langsung tersenyum pula pada istri, bahkan berlanjut mengecup keningnya.


"Rasanya rindu," bisik Amir pelan. 


Aminah jadi merona mendengarnya. Ia pun tak kalah rindunya meski hanya berpisah rumah beberapa malam saja. Wanita lantas memeluk suaminya mesra.

__ADS_1


"Umma, Umma," suara Syarif terdengar nyaring memanggil, "Syarif dah selesai mandi. Eh, abah baru pulang?"


Kalimat terakhir Syarif memang polos, tapi terdengar seakan sedang menyindir. Amir pun hanya dapat tersenyum tipis, lalu berkata dengan lembut kepada Syarif, "Sayang, keringin dulu badannya sana, terus dipakai bajunya."


"Hm?" Syarif tak langsung merespon, tapi malah memiringkan kepalanya.


Melihat reaksi bocah itu, Aminah pun segera mengambilkan handuk, lalu mengeringkan tubuh putranya itu. Tak lama kemudian, Hanif datang dengan kondisi yang sama seperti Syarif. Maka, Aminah pun segera mengeringkannya. 


"Abah, tolong bantuin Syarif pakai bajunya," pinta Aminah. 


Amir pun menurut. Ia mendekati Syarif, hendak memakaikannya pakaian. Namun, begitu ia sampai di hadapan putranya itu, Syarif malah langsung kabur dan mendekap ummunya.


"Nggak mau," seru Syarif cempreng, "Aku nggak mau sama Abah."


"Syarif, nggak boleh gitu," ujar Aminah lembut, "Sana, biar dibantu Abah."


"Aku maunya sama Umma," balas Syarif menolak.


"Nggak mau," Syarif bersikukuh menolak, padahal Hanif sudah rapi berpakaian dengan gamisnya sekarang. 


"Hah …," Aminah menghela napas kecil, lalu mengambil gamis Syarif dari suaminya. Ia pun memakaikan gamis itu pada si sulung. Setelah terdiam menatap putranya sebentar, ia pun bertanya, "Kenapa Syarif nggak mau sama Abah?"


"Abah lama nggak pulang," jawab Syarif spontan, "Syarif nggak suka."


"Syarif …," panggil Aminah pelan. Ia pun menatap suaminya sendu. Tatapannya itu seolah meminta pada Amir untuk bertanggung jawab.


"..." 


Amir pun berlutut di hadapan kedua putranya. Tatapan mereka saling bertemu dalam diam. Entah mengapa, tiba-tiba Syarif menggembungkan pipinya. Hanif pun mengikuti.


"Syarif, Hanif, maafin abah, ya," pinta Amir dengan senyuman tulus di bibirnya, "Abah memang nggak bisa setiap malam menemani Syarif, Hanif, dan Umma. Tapi, itu bukannya tanpa alasan."

__ADS_1


"Hmph!" Hanif memalingkan wajah. 


Aminah tak suka melihat itu. Ia pun memegang kepala bocah, lantas berkata, "Hanif, nggak boleh kayak gitu. Itu nggak sopan. Jangan berpaling kalau orang tua sedang bicara."


"..."


Pandangan Hanif jatuh ke lantai. Ia terlihat menyesal, tapi tak mengungkapkannya dengan kata-kata ataupun permintaan maaf. Syarif yang melihatnya jadi ikut tertunduk. Mereka telah melihat raut beriak di wajah ummanya, karena itulah mereka menyesali perbuatannya. Kedua bocah itu tak mau membuat ummanya bersedih.


"Syarif, Hanif, gimana kalau besok kita jalan-jalan?" Amir melancarkan siasat rayuan. 


Mendengar itu, Syarif dan Hanif kompak memeluk ummanya. Mereka mencengkeram kuat-kuat gaun yang di pakai Aminah. Sesaat kemudian, Syarif berkata, "Sama umma."


"Iya," tambah Hanif, "Aku nggak mau kalau nggak sama umma."


"Oke, umma pasti ikut kok," janji Amir, "Tapi, kita perginya nggak jauh-jauh karena umma harus banyak istirahat."


Syarif dan Hanif kompak menatap perut buncit Aminah yang sudah semakin besar. Mereka amat tertarik dengan kehamilan ummanya itu. Keduanya juga penasaran dengan adik mereka yang masih tidur di sana.


"Umma, dia dedek laki-laki atau perempuan?" tanya Hanif tiba-tiba. Syarif pun menyahut, "Jelas perempuan dong. Aku mau punya adik perempuan."


"Jangan," Hanif menggeleng tak setuju, "Laki-laki aja biar sama kayak kita."


"Perempuan!" tegas Syarif.


"Laki-laki!" tegas Hanif.


Aminah dan Amir pun tertawa melihat perubahan suasana yang teramat cepat itu. Sore itu, mereka berkumpul bersama di ruang makan. Sembari menunggu azan berkumandang, Syarif dan Hanif bercengkerama ria bersama. Mereka menempelkan telinga ke perut sang umma, merasakan pergerakan adiknya di sana.


"Dia nendang," seru Hanif heboh.


"Iya," Syarif ikut heboh, "Umma, Umma. Umma nggak sakit kan ditendang dedek bayinya."

__ADS_1


"Nggak, Sayang," Aminah membelai kepala putra sulungnya dengan lembut, "Kalian dulu juga suka nendang-nendang pas di perut umma. Lebih kencang lagi, tapi umma nggak apa-apa."


__ADS_2