
Dengan langkah yang hati-hati, Schultz memasuki gubuk kecil itu. Belatinya telah terjatuh entah di mana. Ia tidak lagi memiliki senjata. Saat ini, tak ada yang dapat dilakukannya selain waspada dengan apa yang akan dilakukan oleh pria tua itu.
“Maaf, aku tidak punya pakaian hangat untukmu, tapi kamu bisa pakai ini,” kata sang pria tua menawar selembar kain. Schultz pun menerima kain itu. Ia bisa mengerti perkataannya, tapi ia tidak mampu memberi jawaban apa-apa. Kemampuan berbahasa asingnya memang berbeda dengan Anastasia yang giat belajar sejak tinggal di Malaka.
“Tunggulah, air di dapur akan segera masak. Kamu bisa menikmati secangkir jahe panas setalah ini,” sang pria tua pergi meninggalkan Schultz tanpa curiga sedikit pun. Toh, pemuda itu tak akan dapat berbuat apa-apa. Badannya yang lemas membatasi setiap pergerakannya.
Mata Schultz hampir terpejam saat tiba-tiba sang pria tua keluar dari dapur dengan teko dan dua gelas poci di atas nampan yang ia bawa. Pria itu pun menuangkan secangkir jahe untuk tamunya. Uap dari minumannya masih mengepul tebal, menunjukkan bahwa minuman itu sangat panas. Cocok sekali untuk dijadikan teman mengobrol di tengah hujan yang lebat.
“Aku sedang menanak nasi. Nikmatilah jahe ini sedikit demi sedikit. Itu akan membuat tubuhmu semakin hangat,” ucap sang pria tua, kemudian kembali lagi ke dapur.
Tangan Schultz mengigil keras. Ia sangat kedinginan setelah lumayan lama berjalan di luar. Apalagi bajunya masih basah karena terguyur hujan. Ia pun meletakkan tangannya di dinding poci untuk merasakan sedikit kehangatan.
Wangi jahe nan semerbak menusuk hidung pemuda itu. Mata Schultz pun menatap ke uap yang masih mengepul di permukaan poci. Ia ingin menyeruputnya sedikit, tapi panas air itu membuatnya tak dapat minum begitu saja.
Sempai sang pria tua kembali datang, Schultz masih belum meminum setetes pun jahenya. Minuman itu masih panas bahkan setelah didiamkan selama beberapa saat. Schultz hanya bisa mengamatinya dalam diam.
“Nak, makanlah. Kulihat kamu sangat lelah. Kamu pasti belum makan seharian ini,” kata sang pria tua menawarkan. Ia sudah menyidukkan seporsi nasi berlauk daging puyuh. Ada wangi rempah yang tercium dari sana.
Saat Schultz hendak menerima piring makan itu, ia tiba-tiba teringat sesuatu. Kalau saja ia punya tenaga, ia pasti akan menatap tajam pada sang pria tua. Bisa jadi ada racun atau bius dalam makanan ini. Namun, ia kini hanya dapat memandang sendu.
Sang pria tua mengerutkan kening. Ia pun tersenyum getir menyadari maksud pandangan Schultz yang terlihat sinis walaupun sedu. Tanpa berkomentar apa pun, ia lantas mengambil jatah makannya. Sebelum memakan sesuap pertama, ia berkata kepada Schultz, “Nak, makanlah. Aku bersumpah atas nama Tuhan Yang Maha Esa bahwa makanan itu aman kamu makan. Aku tidak akan memaksamu. Rugi sekali kalau kamu tidak makan daging spesial ini.”
__ADS_1
Schultz tetap tidak bergeming. Ia membiarkan begitu saja makanan yang tersedia di hadapannya sambil menatap sang pria tua yang makan dengan lahap dan penuh kenikmatan. Lama kelamaan, ia pun tak mampu menahan rasa laparnya. Akhirnya, ia memakan makanan pemberian sang pria tua.
Schultz merasa aneh dengan cara makan sang pria tua yang baginya kampungan. Pria tua itu makan dengan tangannya langsung seolah tak ada masalah apa-apa. Yah, karena memang tidak ada sendok, Schultz pun menirukan cara sang pria tua makan. Rasanya memang lebih nyaman daripada makan dengan sendok. Entah mengapa Schultz baru mengetahuinya sekarang.
Saat suapan pertama masuk ke mulutnya, ia langsung merasakan sesuatu yang tidak terduga. Makanan ini sangat lezat. Rasanya sedap dan baunya wangi. Kalau saja tenaganya sudah pulih, Schultz mungkin akan langsung memakan makanan putih berlauk daging itu dengan lahap.
Jahe Schultz mulai dingin saat ia selasai makan. Ia pun meminumnya dan merasakan sesuatu yang seperti menusuk, tapi sedap di lidah. Dalam hati ia bergumam bahwa minuman ini lebih enak daripada anggur apa pun yang pernah ia minum. Mungkin karena ia sudah lama tidak minum minuman berasa seperti ini. Ia jadi ingin merasakannya lagi
Selesai makan dan minum, Schultz tidak langsung istirahat. Tepatnya, ia tidak bisa langsung beristirahat. Bayang-bayang peristiwa yang terjadi padanya akhir-akhir ini bermunculan bak luapan air yang deras. Ia sampai merasa pusing saking depresinya.
“Tuhan, huh? Apa omong kosong seperti itu benar-benar ada?” gumam Schultz dalam duduknya. Tubuhnya mulai menggigil lagi. Ia merasa sedang mengalami siksaan yang amat berat. Takdir yang ia alami ini seakan mempermainkannya.
“Hm, padahal bukti itu sudah ada pada dirimu. Apa kamu tidak bisa mengerti?” tanya sang pria tua sambil mengerutkan dahinya. Schultz menggeleng. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh sang pria tua.
“Nak, dari manakah kau berasal?” sang pria tua kembali bertanya.
“Lojie.”
“Bukan yang itu. Asalmu yang lain. Dari mana kamu lahir?” sang pria tua mengoreksi pertanyaannya. Schultz pun menjawab, “Ibuku.”
“Lalu, dari manakah ibumu?” tanya sang pria tua lagi. Schultz pun kembali menjawab, “Nenekku.”
__ADS_1
Sang pria tua terus menanyakan hal yang sama dengan variabel yang dijawab oleh Schultz. Ia mengajak pemuda itu untuk merenungkan asal mula manusia. Jangan tanyakan teori evolusi. Teori itu belum ditemukan pada masa kehidupan Schultz. Lagi pula, teori itu telah banyak dibantah dan sangat tidak mungkin dibuktikan. Pertanyaan itu pun berhenti sampai Schultz menyebut nenek moyangnya, yaitu sang manusia pertama, Nabi Adam as.
“Kamu mengerti itu. Bukankah harusnya itu cukup?” sang pria tua heran pada pemuda di hadapannya. Apalagi saat pemuda itu kembali menggeleng pelan, merasa belum cukup dengan penjelasan sang pria tua.
“Nak, apa kau tahu bahwa manusia itu pernah berada dalam masa di mana ia belum dapat disebut?” tanya sang pria tua yang kembali dibalas dengan gelengan tidak mengerti oleh Schultz, “Nak, sesungguhnya manusia itu diciptakan dengan dua nutfah yang bercampur, yaitu nutfah laki-laki dan nutfah perempuan. Tuhan mengujinya, maka Tuhan memberinya pendengaran dan penglihatan. Coba pikirkanlah! Kamu akan menemukan petunjuk dari sini.”
“Lalu, pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam,” kata sang pria tua karena lagi-lagi Schultz menggeleng tidak mengerti, “Terdapat tanda-tanda kekuasaan Tuhan bagi orang-orang yang berpikir.”
“Nak, segala sesuatu itu pasti ada yang menciptakaannya, termasuk langit dan bumi yang luas dan indah ini. Cobalah pikirkan bagaimana proses penciptaannya. Mungkin kamu akan berpikir bahwa langit dan bumi itu terbentuk sesuai hukum alam yang berlaku,” jelas sang pria tua, “Maka, kamu juga harus ingat bahwa setiap hukum itu pasti ada yang menetapkannya.”
“Adapun pergantian siang dan malam,” lanjut sang pria tua, “Keduanya tidak akan saling mendahului. Bukankah kamu melihat proses itu setiap hari. Itu adalah bagian kecil dari sekian banyak tanda-tanda kekuasaan Tuhan.”
“Nak, setelah hujan ini reda, cobalah melihat langit. Lihat bagaimana sempurnanya ia! Langit adalah makhluk yang luar biasa. Kamu tidak akan menemukan kecacatan di sana barang sedikit pun,” kata sang pria tua sambil tersenyum takzim, “Nak, langit itu juga bagian dari tanda-tanda kekuasaan Tuhan.”
Schultz tertunduk merenungkan perkataan sang pria tua. Ia terdiam dalam duduknya sampai tiba-tiba tergelak saking lelahnya. Sang pria tua pun menghela napas. Ia tak pernah menyangka akan kedatangan tamu seperti pemuda ini di hari tuanya.
“Oh, rambut pirang itu,” kata sang pria tua, “Sungguh mengingatkanku pada masa lalu. Kira-kira, bagaimana keadaan di sana sekarang? Aku sungguh rindu mereka. Apa mereka masih hidup? Ataukah sudah lebih dulu mendahuluiku? Mana pun jawabannya, kuharap mereka menerima cahaya Tuhan sebelum meninggalkan dunia yang fana ini.”
Schultz baru terbangun setelah mentari terbit cukup tinggi. Badannya masih kedinginan. Ia tidur dengan pakaian yang basah kuyup. Kain yang diberikan sang pria tua semalam jadi sia-sia.
Tubuh pemuda itu belum benar-benar pulih. Ia hanya mampu berjalan sampai ke halaman gubuk saja. Di sana, ia menjemur dirinya dengan sinar mentari yang hangat. Rasanya begitu nikmat seakan kelelahan dalam jiwanya ikut terangkat bersama menguapnya air.
__ADS_1