
Amir mendapati wajah istrinya yang cerah ketika sampai di rumah sepulang kerja seolah-olah ada bunga-bunga indah yang bermekaran di sana. Senyumnya pun merekah karena hal itu. Pasti telah terjadi sesuatu yang bagus hari ini.
“Gimana ketemuanya tadi?” tanya Amir penasaran. Ia telah mendapatkan laporan bahwa kedua istrinya sudah saling bertemu. Aminah pun mengajak suaminya untuk duduk dulu, baru kemudian ia bercerita tentang pertemuannya dengan Anastasia.
“Dia baik. Dia juga mau dekat sama anak-anak,” kata Aminah ketika ditanya oleh suaminya. Senyum yang mengembang saat ia bercerita membuat Amir tidak perlu cemas lagi. Puji syukur dalam hati pun ia panjatkan teruntuk Tuhan Yang Maha Esa. Ia amat senang mendengar kedua istrinya dapat saling akur dan berinteraksi dengan akrab.
Makan malam yang Aminah buat hari ini juga terasa lebih sedap. Hanif dan Syarif sampai minta tambah kedua kalinya. Kalau saja mereka tidak cepat kenyang, mereka pasti akan terus makan dengan lahap.
Selepas salat Magrib. Amir selalu menetap di surau. Ia ikut mengajarkan anak-anak di Tasik cara membaca dan menulis, juga ilmu-ilmu agama. Bersama para mubalig lainnya, ia mendidik generasi penerus bangsa demi mengharap rida Allah Ta’ala.
Panglima muda itu memiliki cara yang menarik dalam mengajar. Suaranya lantang dengan intonasi yang bermacam. Gaya berbicaranya selalu membuat anak-anak mau aktif berdiskusi dan bertanya. Apalagi saat ia sedang bercerita.
“Abah, Abah,” panggil Hanif dalam perjalanan pulang selepas salat Isya. Amir yang berjalan sambil membawa lentera pun menoleh. Dilihatnya Hanif yang tengah menarik-narik ujung jubahnya. “Hm? Ada apa?”
“Besok pagi langsung latihan pedang saja, ya?” pinta Hanif. Syarif yang berjalan di sampingnya mengangguk setuju. Ia pun berseru-seru mendukung usulan kakaknya. Namun, Amir tetap menggeleng tegas, “Besok pagi mengaji dulu, baru latihan.”
“Abah …,” panggil Hanif dengan nada merajuk. Ia terus meminta agar dapat segera kembali latihan berpedang. Permintaannya yang terlihat amat memaksa itu sampai membuat Amir heran, “Ada apa sih memangnya?”
“Hm … Bibi Asya!” seru Syarif melaporkan, “Bibi Asya curang. Dia sudah besar.”
“Ha?” Amir semakin bingung. Hanif yang sedikit lebih dewasa pun menjelaskan, “Tadi pagi, kami kalah terus sama Bibi Asya. Bibi kuat banget. Padahal, kita dah maju bareng-bareng. Katanya, gerakan kami masih kaku sama lambat.”
__ADS_1
“Oh … kalian jadi latih tanding lagi sama Bibi Asya tadi pagi?” tanya Amir memastikan. Hanif dan Syarif mengangguk kompak. Mereka berniat untuk membalaskan kekalahan itu. Di sorot mata mereka yang tajam seolah ada percikan api yang membara.
“Hais … kalian boleh kok kalau mau tambah waktu latihan, yang penting tetap mengaji dulu,” kata Amir, lantas mengacak rambut kedua putranya. Mereka telah sampai di halaman rumah. Aminah segera menyambut mereka dan mengajak kedua bocah itu untuk segera tidur.
“Cerita, cerita,” seru Syarif menagih janji sang umma. Ia paling suka mendengar cerita dari Aminah, apalagi sebelum tidur. Cerita-cerita berhikmah itu turut membantu pembentukan karakter dan emosional mereka. Perasaan dan empati pun dapat terbangun dengan baik tergantung dari apa saja yang mereka dengarkan.
“Anak-anak sudah tidur?” Amir menoleh saat merasakan kehadiran Aminah. Dilihatnya sang istri yang sedang mengandung itu mengangguk. Ia pun tersenyum, lalu merentangkan selimut ke pundak istrinya. Ia lantas mengulurkan tangan, “Ke luar sebentar yuk.”
Aminah turut tersenyum dan kembali mengangguk. Ia pun menerima uluran tangan itu dan keluar menuju halaman bersama Amir. Angkasa berbintang yang indah segera menyambut mereka. Bulan sabit yang temaram duduk di tengah-tengah mereka.
Ini adalah malam-malam pembuka akhir bulan. Hawa Ramadan yang dinanti sudah mulai terasa seolah ada di pelupuk mata walaupun nyatanya masih harus menunggu tiga bulan lagi. Bulan Ramadan itu selalu menjadi bulan yang istimewa.
Bagi Amir dan Aminah, bukan hanya Bulan Ramadannya yang ditunggu, tapi juga buah hati mereka yang akan segera lahir nanti. Mereka amat menantikannya setelah bertahun-tahun Aminah tak mengandung lagi. Betapa senangnya ketika membayang keramaian yang menghias kediaman ini di masa depan kelak.
“Kalau aku sih terserah. Kita kan belum tahu nanti yang lahir laki-laki atau perempuan,” balas Amir santai, “Hm … masa kamu nggak sebegitu nggak maunya sih punya anak perempuan?”
“Bukannya nggak mau!” bantah Aminah. Ia pun menegaskan maksudnya, “Aku cuman lebih berharap punya anak laki-laki lagi. Kalau Kanda mau anak perempuan, berdoa aja biar anak pertamanya Dik Asya nanti perempuan.”
Amir terkesiap. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Aminah akan menyinggungnya sampai seperti itu. Ketika ia menoleh, wajah Aminah telah ada di hadapannya. Kecupan sang istri langsung mendarat ke bibirnya.
Aminah pun segera membuang wajahnya malu-malu setelah selesai mencium suaminya. Pipinya merona merah lebih indah dari mekarnya melati. Dengan suaranya yang lirih, ia pun mengajak Amir untuk masuk ke kamar.
__ADS_1
...***...
Asya terbaring di atas ranjang dalam kesendiriannya. Ia merapatkan selimut tebalnya guna menangkis hawa dingin yang merambat di tengah kegelapan. Kegelapan yang amat pekat bertemankan kesunyian.
Kegelapan itu sama sekali tidak membuat Asya takut. Ia hanya merasa kesepian karena tidak ada orang yang menemaninya malam ini. Padahal, lusa malam lalu, ia masih suka dengan suasana ini.
Waktu itu, ia justru berharap agar Amir yang menginap di kediamannya segera pergi. Namun, Asya kini menyesal telah mengharapkan hal itu. Ia baru sadar kalau dirinya juga butuh perhatian seseorang. Ia mulai dapat jujur pada dirinya setelah mendengar kata-kata indah Aminah tadi siang. Yah, ia bisa jujur pada dirinya bahwa ia tak ingin berpisah dengan suaminya.
Tiba-tiba Asya menghitung jari. Ia menghitung perkiraan lama kesendiriannya ini akan berlalu. Rupanya masih tiga hari lagi. Minggu ini, ia mendapat jatah empat hari, sementara Aminah tiga hari. Jadi, minggu depan gantian ia yang mendapat tiga hari, sementara Aminah empat hari. Ia pun merasa rugi karena tidak memanfaatkan jatah empat harinya di minggu ini dengan baik.
Saat sadar dengan apa yang dilakukannya, Asya segera menarik selimut. Ia seolah ingin menyembunyikan wajahnya yang merona sendiri. Padahal, tak ada siapa pun di sekitarnya. Ia sendirian di rumahnya yang terletak pada sebuah puncak bukit yang tidak terlampau tinggi. Yah, sendirian dalam kesunyian dan kesepian.
Hari demi hari berjalan dengan damai dan penuh ketenangan. Hubungan Aminah dan Asya juga semakin membaik. Mereka mulai lebih sering bertemu dan mengobrol. Obrolan mereka selalu mengalir bak sungai yang tiada berujung.
Namun, suasana yang damai itu bak ketenangan sebelum badai. Tidak ada yang tahu jelas kapan badai itu akan datang. Saat Amir dan keluarganya tengah menikmati hari-hari yang indah seperti biasa, badai kemelut sedang berhimpun menunggu waktu untuk terjun.
Ki Fadil merasakan hawa itu seperti seorang pelaut yang handal. Ia pun memerintahkan para prajuritnya untuk menelusuri dan menyelidiki setiap titik-titik yang mencurigakan. Baru beberapa bulan lalu ia berhasil mengusir para penjajah dan membuka Jayakarta. Kondisi kotanya masih belum stabil mengingat para Lojie bisa datang kembali kapan saja. Apalagi saat salah seorang dari mereka berkeliaran dengan bebas di bumi Aliansi Tanah Jawa.
“Si Sekelut itu sebenarnya ke mana?,” keluh seorang prajurit. Investigasi mereka belum juga membuahkan hasil. Padahal, para prajurit telah dikerahkan ke seluruh penjuru. Namun, buronan yang dicari tak juga tertangkap.
“Kabarnya, si Sekelut itu terlihat di Barat. Padahal, laporan sebelumnya mengatakan kalau orang itu ada di Timur,” kata prajurit lain, “Hah … bisa gawat kalau penjahat itu membuat masalah lagi.”
__ADS_1
“Hais … padahal ayah dan adiknya ditawan, tapi dia nggak ada takutnya sama sekali,” tambah yang lainnya, “Dia mungkin sudah tidak peduli dengan keluarganya. Kasihan adiknya yang sudah berkorban untuk menjamin keselamatannya.”
“Lihat saja nanti,” batin Schultz setelah mendengar cemoohannya itu. Rambutnya yang pirang sudah tak ada lagi. Ia mewarnainya gelap agar tidak dapat dikenali banyak orang. Pakaiannya pun compang-camping. Ia terlihat seperti penghuni gunung atau pengelana yang tak punya arah. Dengan begitu, ia bisa aman melewati setiap gunung dan lembah. Saat hendak memasuki sebuah kota, ia sama sekali tidak ingat bahwa bentuk fisiknya jauh berbeda dengan orang-orang Tanah Jawa.