Berbagi Cinta: Puspita Timur & Barat

Berbagi Cinta: Puspita Timur & Barat
Di Kediaman Utama


__ADS_3

Selepas pulang dari surau, Amir mendapati Asya masih tertidur di ranjang. Istri keduanya itu terlihat amat pulas sehingga ia pun tak tega membangunkannya. Ia pun pergi dan berharap agar kondisi wanita itu bisa segera membaik.


Sebelum pulang ke kediaman utama, Amir mampir ke rumah bibinya, Maimunah. Ia pun menitipkan pesan dan beberapa hal pada wanita itu untuk diserahkan kepada Anastasia. Maimunah pun mengangguk dan mengingatkan, “Nak, Allah memberimu kemampuan untuk mengikuti sunnah rasul-Nya. Maka, bersikap adillah kepada kedua istrimu karena itulah syarat yang wajib kamu penuhi.”


“Terima kasih, Bibi. Saya akan selalu mengingatnya,” Amir pun pamit undur diri. Ketika ia hampir sampai di kediaman utama, Ia melihat kedua putra kembarnya sedang bermain pedang-pedangan di halaman rumah. Mereka berdua tampak asyik bermain. Namun, saat keduanya melihat kedatangan Amir, mereka langsung menyelonong masuk ke rumah tanpa menyambut sang abah.


“Abah sudah pulang, ya?” terdengar suara lembut Aminah saat Amir sampai di halaman. Ia pun mengucapkan salam yang segera dibalas oleh keluarganya. Dilihatnya Aminah menyambut ia dengan senyum manis yang merekah di bibirnya, sedangkan Hanif dan Syarif berdiri di belakang sang umma sambil mencengkeram tunik panjangnya.


Aminah langsung memeluk suaminya dengan erat seakan tak mau saling berpisah lagi. Amir pun membalas pelukannya mesra. Ia tersenyum senang dan melihat Hanif dan Syarif yang menatap iri padanya.


“Bunda, Bunda,” Syarif menarik-narik tunik Aminah, meminta perhatiannya. Begitu mendengar panggilan sang buah hati, Aminah melepas pelukannya dan menoleh pada Syarif. Rupanya, bocah itu memintanya untuk bermain bersama di halaman.


“Tapi …,” Aminah ingin menolak karena pekerjaannya belum selesai. Sebelum ia menuntaskan kalimatnya, Hanif pun berseru, “Biar Abah saja yang masak. Umma main saja sama kita. Abah kan bisa masak juga?”


Syarif mengangguk setuju. Ia menarik-narik tunik panjang sang umma lebih keras, mendesaknya agar menerima ajakan itu. Aminah pun menoleh kepada Amir seolah meminta kesanggupannya.


“Nggak apa-apa kok,” Amir akhirnya angkat suara dengan senyum ramahnya yang khas. Ia pun mencium pipi Aminah sehingga membuat sang istri merona. Aminah langsung mendorong Amir ke dapur untuk menyelesaikan masakannya, sementara Hanif dan Syarif hanya menonton keuwuan itu dengan tatapan polos.


“Ayo, Umma,” seru Syarif setelah Amir pergi ke belakang. Suara nyaringnya yang meminta Aminah membacakan sebuah cerita terdengar sampai ke dapur. Rumah sederhana ini jadi terasa sangat hangat walaupun hanya ditinggali empat orang. Yah, sebentar lagi akan bertambah satu. Amir pun berdoa untuk kesehatan istri dan anak ketiganya yang masih dalam kandungan.


“Hm? Hanif, kamu nggak ikut dengerin ceritanya umma di depan?” tanya Amir begitu melihat putra sulungnya itu berdiri di pintu dapur. Ia sedang mengiris-iris bawang saat itu. Suara irisannya yang rapi jadi terhenti karena kedatangan Hanif.


“Masak yang enak!” kata Hanif seolah memberi perintah. Amir mengerutkan kening. Ia pun bertanya, “Hanif mau bantu?”


“Nggak,” jawab Hanif sambil menggeleng, “Pokoknya, masak yang enak!”

__ADS_1


“Hah … iya, iya,” jawab Amir dengan seulas senyum tipis, lalu kembali mengiris-iris bumbu yang disiapkan istrinya, “Sama apa lagi? Cuman itu saja?”


“Abah,” panggil Hanif sehingga Amir kembali menoleh, “Apa Bibi Asya masih sakit?”


“Bibi Asya? Hm … belum tahu sih. Moga saja hari ini sudah sembuh,” jawab Amir yang kemudian memasukkan rempah ke panci sup. Ia jadi ingat dengan Anastasia karena Hanif membahasnya. "Memangnya kenapa?”


“Kemarin,” Hanif mengambil sebuah sutil, lalu menghunuskannya seperti sebuah pedang, “Aku kalah sama Bibi Asya. Kok Bibi Asya bisa pintar main pedang sih? Yang main pedang kan cuman anak laki-laki. Umma saja cuman bisa main panahan.”


“Hm, berarti Bibi Asya sudah latihan dari kecil. Seni pedang itu bukannya enggak cocok untuk anak perempuan,“ jelas Amir, lalu mengingatkan, “Nanti, kalau Bibi Asya masih belum sembuh, jangan diajak main dulu loh. Kasihan Bibi Asya. Mungkin masih capek.”


“Kan Bibi Asya sudah istirahat yang lama,” Hanif menghintung jari tangannya yang masih memegang sutil, lalu menunjukkan empat jarinya pada Amir, “Sudah tiga hari.”


“Iya, tapi kan perjalanannya Bibi Asya lebih dari tiga hari, Sayang,” balas Amir. Ia tidak mungkin bisa menjelaskan bahwa lelah istri keduanya itu mungkin karena hal lain. Hanif malah melirik tak percaya, “Ha? Masa lama banget istirahatnya? Aku saja cuman istirahat sehari habis jalan-jalan sama Ki Fadil semingguan.”


Hanif mencomot sepotong tempe sebelum melaksanakan perintah itu. Ia makan sambil berlari sehingga mendapat omelan dari Amir begitu kembali ke dapur. Sang abah berceramah panjang lebar sembari menunggu tempe di wajannya masak. “Jangan diulangi lagi ya, Anak soleh.”


“Ya,” jawab Hanif singkat. Ia amat tergoda dengan sedapnya bau tempe itu sampai ia melupakan adab makan yang sudah dipelajarinya. Matangnya tempe kedua mengakhiri ceramah Amir. Ia pun menyuruh Hanif untuk memanggil Syarif dan Aminah guna sarapan bersama.


...***...


“Apa dia sudah baikan?” tanya Aminah selepas sarapan. Hanif dan Syarif telah pergi main ke luar saat itu, meninggalkan Amir dan Aminah berdua di rumah. Amir terdiam sejenak sebelum menjawab, “Belum tahu sih. Kalau semalam masih belum, tapi tadi pagi ….”


Amir batal menceritakannya. Ia pun memandang istri pertamanya yang masih tertunduk dengan wajah sendu. Ia amat yakin Aminah sedang menyembunyikan kecemburannya saat ini. Rasa cemburu tidak mungkin hilang begitu saja.


“Kanda,” Aminah menyenderkan tubuhnya pada Amir, ia pun berkata lirih, “Dinda bisa sabar kok. Orang yang sabar kan pahalanya tak terhitung.”

__ADS_1


“Maaf, ya,” balas Amir dengan suara yang lirih pula. Senyum tipis terulas di bibirnya. Ia pun menatap perut istrinya yang semakin buncit, “Harusnya aku lebih perhatian sama kamu, tapi aku malah ….”


“Nggak apa-apa kok,” Aminah meraih tangan kanan suaminya, memengangnya dengan erat seakan dengan begitu cinta mereka senantiasa mengalir, “Lagian, kamu nggak ada pilihan kan?”


“Memangnya kamu nggak cemburu?” Amir akhirnya menanyakan hal itu langsung. Aminah tersenyum getir dalam pelukan suaminya. Ia pun menjawab dengan jujur dan nada yang agak ketus kali ini, “Mana mungkin? Pasti cemburu lah, apalagi dia cantik banget.”


“Kamu juga cantik kok. Kamu yang nomor satu,” hibur Amir sambari mengelus perut istrinya. Ia pun mencium kening wanita itu tiba-tiba sehingga membuat Aminah lagi-lagi merona, tapi tidak mendorong suaminya lagi kali ini.


“Sudah enam bulan, ya? Bulan Ramadan nanti insyaallah dia lahir,” Amir tiba-tiba membahas anak bungsunya yang masih dalam kandungan. Aminah mengangguk, “Kanda sudah kepikiran nama buat dia?”


“Belum, Dinda sendiri sudah nemu nama yang cocok belum?” Amir balik bertanya.


“Kira-kira dia laki-laki atau perempuan?” Aminah menggeleng, lalu meletakkan tangannya di atas tangan Amir yang sedang mengelus perutnya. Ia mendambakan anak laki-laki lagi, atau mungkin kembar laki dan perempuan.


“Wah, perjuanganmu jadi tambah berat loh kalau mau anak kembar lagi,” Amir mengingatkan. Aminah malah membalas dengan berkata, “Biarin, yang hamil kan aku.”


“Kalau kamu kenapa-napa gimana nanti?” Amir menunjukkan kekhawatirannya. Aminah tersenyum, lalu mencium pipi suaminya, “Insyaallah aku selamat kok. Aku saja bisa sabar diduakan sama kanda.”


“Gimana kalau namanya Nasirah?” usul Amir guna mengalihkan obrolan agar tidak lagi membahas pernikahan keduanya. Aminah berpikir sejenak, lalu bertanya, “Kenapa Nasirah?”


“Nasirah kan artinya wanita penolong. Moga saja dia bisa jadi puti yang menolong kita dari panasnya api neraka nanti,” terang Amir menunjukkan keinginannya memiliki seorang anak gadis. Aminah tidak membantahnya, tapi mengusulkan nama lain, ”Latif saja. Nanti kan jadi kompak. Hanif, Syarif, Latif.”


“Latifah kalau gitu,” Amir tetap menunjukkan keinginannya punya seorang putri walaupun tahu Aminah ingin seorang putra. Ia kembali mencium kening istrinya, lalu berkata, “Yah, lihat saja nanti. Kita kan masih belum tahu. Kalau yang lahir laki-laki, namanya Latif. Kalau yang lahir perempuan, namanya Latifah.”


“Iya, moga saja yang lahir laki-laki,” doa Aminah sambil tersenyum hangat. Amir ikut tersenyum menanti kelahiran anak ketiganya. Hatinya tak lepas mengucap doa dan zikir. Ia selalu berharap agar keluarganya dapat berkumpul kembali di surga nanti. Ia pun juga berdoa agar Anastasia lekas mendapat hidayah.

__ADS_1


__ADS_2