
“Bagaimana kabarmu?” tanya Amir dengan senyum ramahnya. Beberapa hari telah berlalu sejak kepulangan mereka dari ekspedisi. Pada sore yang cerah ini, Anastasia sedang sendirian menikmati secangkir teh di teras rumahnya.
“Selamat datang, Tuan,” Gadis itu buru-buru bangkit dan membungkukkan wajahnya dengan hormat. Entah mengapa, ia belum siap melihat Amir lagi sejak perlakuan dinginnya tempo hari. Namun, ia masih bisa sekadar menjawab, “Kondisi saya telah membaik. Terima kasih atas perhatian Tuan.”
“Asya, kamu nggak perlu bicara formal begitu,” kata Amir seraya mengusap kepala Asya yang dibalut kerudung, tapi beberapa anak rambutnya yang berwarna pirang masih tampak sedikit. Amir pun berinisiatif memperbaikinya agar terlihat lebih baik. “Kamu adalah istriku dan istriku bukanlah pelayan atau budak.”
Asya malah semakin tertunduk dalam. Ia malu menunjukkan mukanya yang merona merah. Tangannya gemetar sehingga membuat Amir mengira bahwa istrinya masih belum membaik. Pria itu pun melepaskan tangannya dari Asya.
“Apa kamu sungguh sudah sehat?” tanya Amir sedikit cemas. Asya belum mau menjawab. Ia refleks mundur beberapa langkah, lalu menunduk, memastikan Amir benar-benar tidak melihat wajah merahnya, “Mohon maafkan kelancangan saya. Saya akan segera membuat makan malam.”
Asya bergegas masuk ke rumah dan meninggalkan Amir yang termangu di teras sendirian. Sebelum menuju ke dapur, ia menenangkan hatinya dulu di kamar. Lagi-lagi ia bersikap pada suaminya dengan dingin. Kegelisahan pun kembali menyusup ke dadanya. Bagaimana kalau Amir tersinggung dengan sikapnya itu? Bagaimana kalau ia marah nanti? Apa yang bisa dijelaskan padanya?
Dengan pikiran-pikiran yang membebaninya itu, Asya memasak di dapur. Ia tidak bisa berkonsentrasi pada masakannya sehingga beberapa bahan tertukar, takarannya kurang atau berlebihan, dan berbagai masalah lainnya. Untung saja hasilnya tetap terlihat cantik.
Saat makanan itu dihidangkan pada Amir, pria itu sedang membaca. Ia pun menoleh dan tersenyum melihat hasil masakan Asya. Jika dilirik sekilas saja, terlihat jelas betapa lezatnya makanan itu. Aroma harumnya pun menyeruak ke penjuru ruangan yang tidak terlampau luas.
“Duduklah! Mari kita makan bersama,” Amir terus berusaha menunjukkan perhatiannya pada Asya. Sepiring makan malam telah siap di hadapannya. Saat ia mencicipi suapan pertama, lidahnya langsung merasa kelu.
Asin yang teramat pekat memenuhi mulutnya, lalu diikuti pahit yang merata. Tak lama kemudian, rasa pedas yang menyengat seakan menusuk-nusuk lidahnya. Amir pun langsung sadar bahwa ada yang tidak beres dengan makanannya. Padahal, ia yakin sekali bahwa masakan Asya sebelum ekspedisi tidak seburuk ini.
__ADS_1
Amir memperhatikan Asya yang masih saja menyembunyikan mukanya. Ia pun menutupi mulutnya untuk menyelidiki sesuatu yang mengganggu di lidahnya. Lada!? Ada lada utuh di sup yang gadis itu buat. Jumlahnya pun cukup banyak untuk porsi sup dua orang.
“A, apa masakan saya tidak enak?” Asya bertanya gugup begitu melihat Amir menghela napas panjang. Ia sendiri belum sempat merasakan mahakarya dari dapurnya. Hatinya masih gundah gulana karena konflik batin yang tak kunjung mereda.
“Enak kok,” bohong Amir dengan senyum malaikatnya. Ia pun melanjutkan suapannya dengan terpaksa. Sup itu mengingatkannya pada sayur buatan Aminah di episode awal. Bedanya, Aminah sengaja membuat sayur itu sangat asin untuk menghukumnya, sementara mungkin saja Asya masih belum terbiasa dalam memasak dan harus lebih banyak belajar.
Asya amat tertegun ketika merasakan masakannya sendiri. Ia pun baru sadar bahwa Amir telah berbohong padanya. Pria itu berbohong demi menjaga muruah istrinya. Entah mengapa, hati Asya jadi terasa hangat karena itu.
Amir bangkit lebih dulu dari meja makan untuk pergi sembahyang. Setelah punggung pria itu menghilang di balik pintu, barulah Asya dapat menghela napas lega. Ia merasa bodoh karena mengira suaminya akan marah dengan masalah sekecil itu.
Hari demi hari berlalu seperti biasa. Amir datang ke Joglo Barat dengan sisa pekerjaannya di sore hari, lantas pergi di pagi hari. Ia dan Asya tidak pernah tidur sekamar karena gadis itu masih menunjukkan tanda-tanda keberatannya. Jadi, Amir berpikir untuk tidak membebaninya, bahkan sampai di hari terakhir ia tinggal di Joglo Barat.
Malam itu, bulam purnama datang menghias malam. Cahaya temaramnya yang indah sayup-sayup menyiram kegelepan. Bintang-bintang pun tak mau kalah mewarnai angkasa. Mereka berkerlap-kerlip dengan senangnya sambil berzikir kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Asya berniat melanjutkan tidurnya, tapi entah mengapa ia tidak bisa. Kesadarannya pun perlahan terhimpun. Matanya mulai bisa terbuka menurut kemauannya. Telinganya semakin jelas mendengarkan lantunan yang menentramkan hati itu. Ia pun menoleh ke pintu dan berpikir untuk mendengarnya lebih dekat.
Cahaya purnama menemani pandangan Asya. Binar temaran itu datang lewat jendela yang entah sejak kapan terbuka. Pantas saja ruangan jadi sangat dingin. Rupanya angin juga masuk dari sana.
Asya membiarkan jendela itu tetap terbuka. Ia langsung berjalan dengan selimut yang merungkup di badannya. Langkah kakinya nyaris tak terdengar. Ia berjalan perlahan seperti maling yang menyusup dalam kegelapan di rumah orang lain.
__ADS_1
Saat sampai di depan kamar yang diklaim sebagai markas oleh Hanif dan Syarif, Asya menghentikan langkahnya. Ia pun duduk meringkuk di sana sembari mendengar lantunan yang indah itu. Pandangannya pun menatap ke langit-langit rumah. Pikirannya mulai dipenuhi memori yang dialaminya akhir-akhir ini.
Gadis itu menghela napas. Kepalanya pun tertunduk. Matanya mulai terpejam. Rasa kantuk yang teramat berat kembali menerjang. Ia nyaris tertidur saat tiba-tiba lantunan yang dinikmatinya berhenti terdengar.
“Asya, kamu ngapain di sini?” suara Amir mengagetkan Anastasia. Gadis yang meringkuk di depan pintu itu segera bangkit. Ia membuang mukanya, menyembunyikan malu yang tak tertahankan sambil berharap kegelapan menutupi rona merah di pipinya.
“Malam-malam dingin begini, kamu nggak bisa tidur?” tanya Amir sembari menaikkan selimut di pundak Asya. Ia pun tersenyum ketika melihat gadis itu mengangguk. Mungkin ini bisa menjadi kesempatan yang bagus untuk lebih mengenalnya.
“Malam ini sangat indah, mau menemaniku ke luar?” Amir mengulurkan tangannya. Senyumnya yang ramah tidak terlalu kentara di ruangan yang gelap, tapi Asya tetap dapat merasakan ketulusannya. Ia pun menerima uluran tangan itu dengan sedikit ragu-ragu. Saat tangan keduanya saling bergandengan, Amir pun membawanya ke halaman.
Kecanggungan menyeruak begitu mereka mulai duduk. Keduanya sama-sama memandang langit dalam diam. Sebenarnya, Amir ingin mengajak istrinya mengobrol, tapi ia bingung menentukan topik karena hawa yang membebani ini.
“Mengapa …?” Asya yang akhirnya membuka suara. Pertanyaannya terputus sehingga membuat Amir hanya menoleh. Setelah beberapa jenak terdiam, barulah ia melanjutkan, “Mengapa Anda begitu baik kepada saya?”
“Hm? Bukannya sudah kubilang? Kamu adalah istriku. Apa aku butuh alasan yang lebih dari itu untuk berbuat baik padamu?” jawab Amir dengan santainya. Anastasia merapatkan selimutnya mendengar hal tersebut. Ternyata ia tidak dipandang sebelah mata walaupun ia hanya seorang tawanan. Gadis itu masih saja berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya agar tidak terlihat oleh Amir. Ia pun kembali bertanya setelah mengingat situasinya, “Bagaimana dengan Nyonya Besar? Apa beliau tidak masalah dengan kehadiran saya?”
“Maksudmu Ami? Aku yakin dia akan merasa aneh jika kamu memanggilnya begitu. Dia jelas cemburu denganmu. Hais .. dia bahkan tega menghukumku,” curhat Amir. Kali ini, Asya merapatkan pelukan selimutnya karena merasa bersalah. Sudah ia duga, pasti ia tidak akan diterima oleh istri Amir yang pertama.
“Tapi, bukannya dia tidak menerimamu,” lanjut Amir menjelaskan, “Aku kan sudah bilang sejak kemarin. Dia menunggu kunjunganmu. Saat kamu terlihat murung di hari itu, dia juga khawatir padamu. Ami adalah wanita dan istri terbaik bagiku. Aku mencintainya karena Allah. Cobalah untuk belajar darinya.”
__ADS_1
“Benarkah?” Asya masih belum percaya bahwa Aminah akan menerimanya begitu saja. Saat Amir mulai membahas ke ranah religius, ia pun kembali teringat oleh sesuatu dan bertanya, “Mengapa … mengapa kalian selalu ketat menyuruh kami untuk menggunakan kerudung yang gerah itu?”
“Gerah? Ah, itu sudah wajar. Kamu pasti belum terbiasa menggunakannya. Namun, kuharap kamu mengerti. Wanita muslimah disyariatkan untuk memakai kerudung karena mereka berharga,” jelas Amir sambil tersenyum menatap langit yang cerah nan berbintang, “Wanita adalah sosok yang mulia. Kami melindunginya sepenuh hati karena rasa sayang kami kepada mereka. Begitulah Islam meninggikan derajat wanita, apalagi seorang ibu atas anak-anaknya.”