
Anastasia melayani tantangan Hanif dan Syarif sebanyak yang kedua bocah itu mampu. Ini sudah kelima kalinya mereka bertarung pedang dan ia selalu memenangkan semua pertandingannya. Setiap kali selesai satu ronde, ia pasti mengoreksi kesalahan kedua anak tirinya itu.
“Hmph, Bibi kan dah besar,” Syarif tak mau menerima kekalahannya. Dibantingnya pedang kayu pemberian Asya. Bocah itu pun masuk ke rumah untuk mencari air minum dan melepas dahaga.
“Kamu masih mau coba lagi,” tanya Anastasia ketika melihat Hanif kembali berdiri dan membuat kuda-kuda. Tanpa menjawab pertanyaan itu, si sulung langsung menyerang. Asya tidak terkejut sama sekali. Ia dengan mudah menghindari serangan yang lambat itu, lalu mengetuk kepala Hanif sekali dengan kekuatan yang lemah.
“Aduh!” Hanif menjatuhkan pedangnya dan langsung menutupi kepala dengan kedua lengan. Responnya itu membuat Asya terkekeh. Tatapan tajam bocah itu sudah tidak lagi terlihat seram di matanya. Mereka justru tampak menggemaskan karenanya.
“Kenapa Bibi selalu menghindar dan memukul kepala?” bentak Hanif tak terima. Asya pun menjawab dengan santai, “Karena seranganmu teralalu lambat dan penuh celah.”
Asya pun mempraktekkan sebuah bentuk kuda-kuda, lantas meminta Hanif menirukannya. Ia memperbaiki beberapa posisi Hanif yang masih kurang. Terutama di bagian kaki dan tangan yang menghunuskan pedang.
“Kaki yang depan sedikit ditekuk, yang belakang lurus, terus ayunkan pedang ke setengah jalur senjata lawan untuk membelokkannya. Tangkis serangan itu dengan tekanan sekecil mungkin,” Anastasia memberi contoh blokir kepada Hanif dengan mempraktikkannya, tapi tetap saja Hanif tidak mengerti karena Asya menggunakan bahasa yang bercampur dan berantakan.
“Tirukan saja gerakanku! Ulangi berkali-kali! Lama-lama kamu bakal terbiasa,” Asya mengacak rambut Hanif yang terbengong. Wanita muda itu tersenyum pada anak tirinya penuh makna. Ia yakin bahwa tak lama lagi, hubungan mereka akan menjadi semakin baik dan ia pun akan semakin damai hidup di negeri asing ini.
“Hanif, Syarif,” panggil Maimunah yang datang tak lama setelah Hanif beristirahat, “Capat pulang! Siap-siap mengaji sana.”
“Siap, Opah!” Hanif langsung bangkit. Ia pun berlari ke dalam joglo untuk memanggil adik kembarnya. Beberapa jenak kemudian, keduanya melangkah cepat dan turun ke kediaman utama. Waktunya mandi dan bersiap mengaji.
Saat Maimunah dan Asya masuk ke joglo, mereka berdua mendapati lantai rumah itu dipenuhi jejak kaki anak-anak. Beberapa barang pun bergeser dari tempatnya. Sebuah gelas tergeletak tak jauh dari kolong meja. Anastasia menarik napas, Maimunah pun menepuk pundaknya, “Mari kubantu membersihkannya. Beginilah kalau ada anak-anak. Apalagi kalau mereka berdua hiperaktif seperti Hanif dan Syarif.”
“Terima kasih, Nyonya,” Anastasia tersenyum dan memberi hormat. Mereka pun membersihkan rumah bersama. Di tangah bersih-bersih, Maimunah mengingat sesuatu, “Melihatmu sudah bisa bermain dengan anak-anak, berarti kondisimu sudah membaik. Ami mengundangmu untuk datang kalau kamu berkenan.”
“Saya pasti akan datang,” balas Asya.
__ADS_1
“Jangan kaku-kaku begitu. Jangan juga panggil aku dengan sebutan ‘Nyonya’, panggil saja bibi atau opah kalau di depan anak-anak,” sama seperti Amir, Maimunah ingin berkomunikasi lebih santai dengan Asya.
“Baik, Nyo … Bibi,” ucap Asya gelagapan, belum terbiasa dengan gaya komunikasi seperti itu.
...***...
“Selamat datang,” sebuah kata yang luput dari bayangan Anastasia terdengar di telinganya dari mulut seorang wanita berhijab yang tengah mengandung. Wanita itu memiliki senyum secantik bidadari, mata seindah mutiara, dan kulit yang mempesona. Pantas saja Amir sangat mencintainya.
“Duduklah, aku sudah siapkan teh karena bibi bilang kamu akan datang,” Aminah menunjuk salah satu bangku dengan kelima jarinya yang terbuka, memunjukkan sopan santun yang seharusnya. Satu lagi yang ada di luar dugaan Asya. Ia pun jadi merenungkan pikirannya yang terlalu sering buruk berprasangka.
“Sa, salam, Nyonya,” kata Anastasia gugup. Wajahnya tertunduk, bahkan setelah ia duduk di kursinya. Aminah yang melihat itu hanya tersenyum tipis, “Jangan panggil aku ‘Nyonya’. Aku tidak terbiasa dengan panggilan seperti itu. Hubungan kita jadi tampak seperti atas dan bawah. Itu bukanlah hal yang baik untuk masa depan. Panggil saja aku ‘Kakak’. Toh, kamu memang lebih muda dariku.”
Anastasia mendongak. Setiap kata yang terlontar dari bibir Aminah tak pernah sekali pun terbayang di kepalanya. Selama perjalanan tadi, ia menduga-duga bahwa dirinya akan dibentak-bentak dan dimaki. Namun, lisan wanita di depannya itu tak sedikit pun melakukannya.
“Ka—Kakak?” Asya mencoba untuk membiasakan diri. Aminah pun menoleh dan tersenyum, “Iya?”
“Apakah ada yang harus saya lakukan?” tanya Anastasia penasaran. Sejak tadi, ia belum bisa menebak sebab musababnya diundang oleh Aminah. Apakah akan dimarahi? Dicaci? Atau hanya minum teh saja seperti ini?
“Apa maksudmu?” Aminah malah balik bertanya heran.
“Kenapa Ka, Kakak memanggil saya ke mari?” Anastasia memperjelas pertanyaannya. Aminah tak langsung menjawab. Ia menatap madunya itu agak lama, baru kemudian berkata, “Aku cuman mau mengobrol saja denganmu, sekaligus penasaran dengan sosok yang mampu menarik hati imamku.”
“Ma—maaf. Sa—saya …,” Anastasia ingin menjelaskan pernikahannya yang terduga itu begitu melihat senyum getir di wajah Amianh. Namun, ia sama sekali tak dapat mengungkapkannya. Aminah pun menatapnya dengan ramah, lalu berkata, “Tak apa-apa, aku mengerti.”
“A—apa Kakak baik-baik saja?” Anastasia tak yakin dengan jawaban itu. Ia sangat yakin bahwa pasti ada rasa tak suka di hati wanita itu. Aminah pun menggeleng setelah lama terdiam. Ia pun menjawab pertanyaan Asya, “Nggak, jelas aku sakit hati.”
__ADS_1
Hati Anastasia berdesir. Wajahnya kembali tertunduk. Ia lihat kedua tangannya yang merinding di bawah meja. Ia mungkin akan segera mendapatkan kemarahan setelah ini. Walaupun ia punya ilmu seni pedang, ia tak bisa menggunakannya sembarangan.
“Sabar, orang yang sabar itu pahalanya tak terbilang,” kata-kata Aminah selanjutnya tak dapat dimengerti Anastasia. Sabar? Bagaimana seorang istri dapat bersabar setelah diduakan oleh suaminya? Bagaimana ia bisa rela begitu saja? Apakah ia terlalu naif? Ataukah hatinya sesuci embun?
“Kecemburuan di hati wanita adalah ketetapan Allah. Itu adalah ujian bagi mereka,” jelas Aminah kemudian, “Allah menguji setiap hamba-Nya sesuai kadar kemampuannya. Bagi orang-orang sabar, untuk merekalah pahala yang tak terbilang.”
Asya terdiam, tak berani lagi bertanya. Suasana menjadi canggung karena tak ada lagi yang angkat bicara. Masing-masing seolah sibuk dengan tehnya sendiri. Keduanya berdiskusi dalam diam, saling mencoba untuk membaca kepribadian lawan. Kecanggungan itu menebal selama beberapa saat sampai akhirnya Anastasia kembali bertanya, “Kakak, apa Kakak bahagia?”
“Hm, bahagia? Ya, tentu saja,” jawab Aminah, “Bahagia itu mudah. Belajarlah bersyukur dan menerima apa adanya, merasa cukup dengan segala hal yang kamu punya. Orang yang selalu merasa kurang, merekalah hakikatnya orang miskin, miskin hati yang berujung pada ketamakan duniawi.”
“Ah! Saya mengerti. Terima kasih atas nasihat Kakak,” ucap Anastasia tulus. Ia masih bisa melihat senyum getir di wajah Aminah. Namun, ia tak berani membahas masalah pernikahan lagi. Ia pun menanyakan hal yang sejak dini pagi tadi dipikirkannya, “Kakak, apa wanita benar-benar memiliki hak yang sesuai dengan kadarnya?”
“Yah, bukankah sudah jelas? Ada apa dengan itu?” tanya Aminah heran.
“Ta—tapi …, di tempat asalku, wanita dianggap sebagai sumber dari segala dosa,” ucap Anastasia menceritakan hal yang sama seperti yang ia ceritakan kepada Amir. Aminah pun menatapnya dengan tatapan tidak mengerti. Ia lantas bertanya, “Bagaimana bisa begitu? Bukankah itu diskriminasi keras?”
“Doktrin itu,” Anastasia memalingkan wajah begitu mengingat masa lalunya yang kelam, “Sudah ada sejak dulu. Saya pun tidak mengerti bagaimana para pemuka agama dapat membuatnya.”
“Pemuka agama? Mereka pasti akan menanggung dosa yang besar. Kalian telah mengalami ujian yang berat,” Aminah tak dapat membayangkannya, “Dalam Islam, segala aspek kehidupan telah diatur. Termasuk hak dan kewajiban manusia, baik lelaki dan perempuan. Masing-masing ditetapkan sesuai kadarnya.”
“Apa wanita memiliki hak waris?” tanya Anastasia.
“Yah, sesuai kedudukannya,” Aminah pun menjelaskan hukum waris dalam surah An-Nisa yang berarti perempuan, surah yang membahas hak-hak dan kewajiban wanita secara menyeluruh.
“Tapi, mengapa laki-laki boleh berpoligami? Apa mereka tidak diajarkan untuk setia?” tanya Anastasia lagi. Aminah tidak langsung menjawab. Ia pun meminta Asya untuk menunggu. Ia masuk ke dalam rumahnya, lalu keluar membawa sebuah buku berjilid tebal.
__ADS_1