
Sinar mentari panas menyengat bumi. Angin yang berhembus kencang pun tak mampu mengalahkannya. Siang itu, Aminah dan Asya mengobrol seperti biasa. Seperangkat alat minum teh ikut menemani mereka dalam sebuah diskusi mengenai masa lalu.
“Islam adalah agama para nabi dan rasul. Seluruhnya, mereka semua beragama Islam, agama yang menyeru kepada Tuhan Yang Maha Esa, tiada sesembahan selain Ia,” Aminah membacakan sebuah buku tebal berisikan risalah para rasul sembari mengisi waktunya bersama Asya, “Termasuk Nabi Adam, Ibrahim, Musa, dan Isa alaihimus salam, sedangkan penutup para nabi dan rasul adalah Nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam.”
Aminah menggunakan nada suara yang lembut, kosa kata yang mudah, dan senyum yang senantiasa tersungging ramah. Ia akan menerangkan apa pun yang ditanya oleh Asya selama itu berada dalam jangkauan ilmunya.
“Dakwah para nabi dan rasul tidak selalu berjalan mulus, justru ada banyak cobaan dan rintangan yang harus mereka hadapi. Tak jarang pula mereka harus berhadapan dengan para penguasa negeri yang zalim lagi kejam. Di antaranya bahkan sampai bertanya-tanya kapan datangnya pertolongan Allah, sedangkan pertolongan Allah itu dekat.”
Aminah menceritakan satu per satu kisah para nabi dan rasul ulul azmi. Dari kisah-kisah itu, setiap pembacanya pasti dapat mengambil sebuah pelajaran yang bermakna dan penuh hikmah. Di setiap kesulitan, pasti ada kemudahan. Begitulah salah satu hikmah di antaranya. Setelah Aminah selesai membacakan kisah para rasul terdahulu, ia pun mulai menceritakan risalah Nabi Muhammad SAW.
“Para sejarawan muslim menuliskan era sebelum kerasulan Nabi Muhammad SAW., sebagai zaman Jahiliyah. Itu karena rendahnya akhlak dan moral orang-orang di sana,” kata Aminah sembari memandang ke langit seolah-olah ia bisa menembus cakrawala waktu yang telah berlalu, “Aku sudah pernah menceritakan kepadamu tentang kondisi para wanita di zaman itu. Para wanita yang lemah selalu mendapat diskriminasi sosial, sedangkan para wanita yang kuat dan kaya hidup sesukanya.”
“Yah, keadaannya tidak berbeda jauh dengan kondisi di Lojie,” balas Asya yang sekilas mengingat kembali kondisi di kampung halamannya, apalagi di lingkungan bangsawan kelas bawah seperti keluarganya. Wanita seolah dilahirkan hanya untuk kepentingan politik saja. Adapun para wanita kelas atas, mereka berias dan berdandan molek, menunjukkan kecantikannya pada publik kasta tinggi guna mendapat pujian-pujian semu. Mereka hanya melakukan kesenangan buta yang cepat atau lambat akan membawa kerugian besar bagi dirinya maupun masyarakat ramai.
“Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurkan akhlak,” lanjut Aminah yang kini bertatapan langsung dengan Asya, “Salah satu di antaranya dengan syariat untuk menutup aurat bagi laki-laki maupun perempuan. Masing-masing memiliki batasan yang berbeda.”
Aminah pun menjelaskan batasan aurat kepada Asya. Untuk laki-laki, batasan auratnya dari pusar sampai lutut, sedangkan perempuan meliputi seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Maka, muncul pertanyaan. Mengapa aurat wanita lebih luas?
“Itu karena tubuh wanita adalah perhiasan yang harus dijaga. Kamu pasti mengerti kenapa aku menyebutnya perhiasan kan?” Aminah memastikan. Ia pun kembali menerangkan setelah Anastasia mengangguk, “Jika suatu perhiasan diumbar begitu saja, pasti akan ada orang yang berusaha mencurinya. Karena itu, perhiasan harus disembunyikan dan dijaga dengan baik.”
__ADS_1
“Wanita-wanita Arab pra-Islam dulu juga tidak berhijab. Jadi, tidak tepat jika dikatakan bahwa hijab adalah budaya Arab. Hijab itu adalah syariat Islam. Setiap wanita muslimah harus menutup auratnya sebagaimana yang telah disyariatkan, baik ia orang Arab maupun non-Arab,” Aminah tiba-tiba membahas persoalan itu walaupun Asya tidak memintanya. Yah, Asya pun tidak merasa keberatan dengan penjelasan itu.
“Apa Kakak nggak gerah pakai jilbab terus setiap hari?” celetuk Asya setelah penjelasan tentang hijab selesai. Aminah pun tertawa kecil, baru kemudian menjawab, “Hm … gerah sih, tapi aku sudah terbiasa. Makanya itu, aku lebih suka di rumah, apalagi kalau cuacanya panas kayak siang ini.”
Aminah pun melanjutkan bacaannya tentang risalah Nabi Muhammad SAW., setelah selesai membahas tentang hijab dan perempuan dalam Islam. Begitu selesai belajar, mereka mengobrol bersama, tertawa, dan bercerita. Mereka baru berhenti setelah Hanif dan Syarif datang, lalu menantang Asya untuk latih tanding.
...***...
“Terima kasih telah datang membawa surat ini, Sir Raiziger,” kata seorang pria bermata biru dengan perawakan gagah, “Ini tetap penting walaupun isinya tak berguna.”
“Tuan Diaz, apa yang akan kita lakukan setelah ini?” tanya Schultz yang tengah berlutut dengan wajah tertunduk. Ia telah menunggang kuda selama tiga hari berturut-turut dengan kecepatan penuh. Walaupun masih dalam keadaan lelah, ia tetap bersemangat menanti pembalasan dendamnya.
“Tidak ada? Lalu, buat apa kita melakukan semua investigasi ini?” Schultz pun mempertanyakan tujuan dari misi-misi yang dijalankannya. Ia sudah lelah ke sana-ke mari menantang bahaya. Berulang kali ia nyaris tertangkap, bahkan terbunuh.
“Mengumpulkan informasi. Ini mungkin tidak berguna untuk saat ini, tapi akan berguna di masa depan,” Diaz menatap Schultz dengan tajam. Ia menyeringai seram saat melihat kobaran amarah di mata pemuda itu. Seketika, sebuah ide muncul di kepalanya. “Apa ada yang kamu harapkan?”
Schultz tidak langsung menjawab. Ia terdiam cukup lama. Emosi yang selama ini ditimbunnya sedang bersenyawa, bersatu padu membentuk kesumat yang paling pekat. Tangannya pun mengepal kuat, ia lantas berkata, “Bantai para bedebah itu!”
“Heh, aku suka semangatmu,” Diaz terkekeh. Ia tahu bahwa itu tidak mungkin. Namun, ambisi bocah ini harus tetap dimanfaatkan, “Bawa ini kepada Pakuan. Ini lebih berguna di tangan mereka.”
__ADS_1
Schultz menerima sebuah gelungan kecil berpita gelap. Ia tidak protes sama sekali walaupun terus dilempar-lempar seperti ini. Demi dapat membalaskan dendamnya, ia rela melakukan apa pun, bahkan walau harus menggali kuburannya sendiri.
Saat Schultz sampai di kamp terdekat Pakuan, ia tidak langsung diterima. Kemampuan berbahasanya yang buruk cukup membuatnya kesulitan. Setelah bertemu orang Pakuan yang paham dengan perkataannya, barulah ia dibawa menghadap kepada seorang komandan.
“Ternyata Lojie masih mau mencari muka,” ucap seorang pria berbadan kekar dengan nada menyindir. Sayangnya, Schultz tidak terlalu mengerti dengan maksudnya. Setelah penerjemah menjelaskan perkataan itu, barulah ia membalas, “Mohon maaf, Kisanak. Kami disergap Aliansi Tanah Jawa saat hendak berlabuh di Kalapa. Tidak ada cara lain selain mundur saat itu. Saya pun sudah tertangkap oleh mereka. Kalau saja saya tidak bisa kabur, saya mungkin akan terus mendekam di tengah-tengah mereka.”
“Aku bisa mengerti. Kalau saja kami bisa bertahan lebih lama saat itu, pasti kalian juga akan baik-baik saja,” sang komandan mencengkeram dahinya, merasa segalanya akan tetap sia-sia walaupun mereka telah mendapat informasi yang Schultz bagikan.
“Kisanak, kita tidak boleh menyerah. Kumpulkan pasukanmu dan gunakan celah itu untuk membalas Aliansi Tanah Jawa,” ucap Schultz mendorong sang komandan agar tetap membantunya.
“Yah, kamu benar, Kesatria,” sang komandan pun menghembuskan napasnya, “Biar kubicarakan dulu masalah ini dengan panglima besar.”
“Kita harus bergerak secepat mungkin sebelum Aliansi Tanah Jawa mengisi celah itu. Kalau kita ragu-ragu, bisa jadi tidak akan pernah ada kesempatan untuk maju,” hasut Schultz penuh keyakinan, “Paling tidak, beri aku pasukan untuk menyerbu ke sana. Kupastikan kalian akan berhasil mendapat kemajuan dalam peperangan ini.”
Sang komandan terdiam. Ia tidak terlalu suka dengan permintaan Schultz, tapi ia tidak menyampaikannya. Perkataan pemuda itu sama saja mengolok-olok keperwiraannya. Ia yang merupakan seorang komandan senior seolah terlihat tidak dapat mengambil keputusan dengan bijak.
“Tunggu saja kabar dariku,” kata sang komandan, “Kita akan bertemu lagi dalam waktu yang dekat.”
Schultz pun dipersilakan untuk pergi. Saat tenda telah hening, sang komandan segera menulis sepucuk surat. Ia pun meminta kurir tebaiknya untuk menyampaikan surat itu secepat mungkin kepada panglima besar. Ia tetap butuh persetujuan untuk memberi kendali pasukan pada orang asing.
__ADS_1