
“Abah? Kenapa Abah di sini?” panggil Hanif yang tengah berlari ke Joglo Barat. Anak itu pun langsung berhambur ke pangkuan abahnya. Raut wajahnya ceria bagai mutiara yang bersinar cerah. Namun, saat ia melihat Anastasia, wajahnya langsung berubah masam. Ia pun membuang muka, enggan melihat ibu tirinya. Anastasia hanya dapat tersenyum getir melihat sikap bocah itu.
“Hanif, nggak boleh gitu, Sayang,” tegur Amir halus. Bukannya menurut, Hanif malah bangkit dengan wajah kesal dan mengajak Syarif untuk segera masuk ke rumah. Tak lama kemudian, Maimunah datang membawa beberapa barang.
“Apa anak-anak memang suka main di sini?” tanya Amir pada wanita tua itu.
Maimunah mengangguk. Ia pun menceritakan kronologi persaingan si kembar dengan Anastasia beberapa hari terakhir ini. Saat Amir menoleh ke Anastasia, gadis itu mengangguk pelan. “Apa mereka nggak ngganggu kamu? Kamu nggak beratan mereka main di sini kan?”
“Saya baik-baik saja, Tuan,” jawab Anastasia lirih. Senyum tulusnya mengembang tipis saat memikirkan betapa menggemaskannya kedua bocah itu. Lagi pula, ia sudah bertekad untuk berdamai dengan mereka. Ia juga tidak bisa menjawab pertanyaan suaminya sembarangan. Pasti ini jawaban yang terbaik kan?
“Alhamdulillah kalian bisa cepat akrab begini. Sekali-kali berkunjunglah ke bawah. Ami pun tidak keberatan untuk bertemu denganmu,” Amir bangkit dari duduknya. Ia merasa sudah cukup beristirahat. Tangannya pun diulurkan kepada Asya, mengajaknya berdiri, “Aku jadi lebih tenang buat pergi deh.”
“Abah mau pergi ke mana?” tanya Syarif yang datang begitu saja sampai mengagetkan Amir. Berbeda dengan Hanif, wajah bocah itu tak berubah saat melihat Asya. Namun, wajahnya memang sudah dingin sejak awal. Ia cenderung tidak peduli dengan ibu tirinya itu dibanding menolak keras. Yah, ia punya waktu sendiri untuk menolak kehadiran Asya.
“Abah mau kerja ke luar. Syarif di rumah jaga umma sama Bibi Asya, ya,” ucap Amir sambil menepuk kepala Syarif pelan. Bocah itu tidak menjawab apa-apa selama beberapa saat. Mulutnya sedikit terbuka seakan ada yang ingin ia sampaikan.
“Abah pergi lagi?” tanya Hanif menggantikan adiknya yang diam membeku. Ia sama sekali tak ingin melihat Asya. Jadi, pandangan sendunya hanya terfokus pada Amir. Ia mewarisi perasaan rindu ibunya. Perasaan sedih sering berpisah dengan abahnya.
“Iya, ada tugas dari Ki Fadil. Doain abah, ya. Moga abah pulang dengan selamat,” Amir kini berlutut. Ini memang terlalu awal untuk pamit, tapi tidak ada salahnya untuk disampaikan. Ia pun memeluk kedua putra tercintanya yang hebat dan menawan. Dalam pelukannya, ia menyisipkan doa kepada Allah Yang Maha Esa agar keturunannya menjadi anak-anak yang saleh, berbakti, dan menyejukkan hati semua orang.
Anastasia melihat keakraban itu dalam diam. Sebagai warga asing yang tertawan akibat peperangan, ia merasakan syok budaya yang amat kental. Budaya orang-orang di Tanah Jawa ini berbeda jauh dengan budaya kebangsawanan feodal di Benua Barat. Apalagi wilayah ekstrim seperti Lojie. Rasanya seperti datang ke dunia lain yang berbeda.
__ADS_1
“Abah habis ngapain? Kok ada pedang di sini?” Hanif kembali bertanya setelah Amir melepas pelukannya. Si sulung itu menunjuk pedang kayu yang tergeletak tak jauh darinya. Ia tertarik dan ingin memiliki pedang seperti itu. Kelihatannya kuat dan kokoh, tidak seperti kayu-kayu ranting yang biasa ia gunakan untuk bermain bersama Syarif.
“Abah habis latihan sama Bibi Asya. Bibi Asya pinter main pedang loh,” jawab Amir sembari memuji istri keduanya dengan tulus. Walaupun Anastasia bilang kalau dirinya baik-baik saja, ia yakin hubungannya dengan Hanif dan Syarif belum sebaik itu. Anak-anak jelas belum mau menerimanya. Semoga saja dengan begini mereka dapat jadi lebih akrab.
“Masa?” Hanif menatap ibu tirinya tak percaya. Wajahnya itu terlihat amat menyebalkan. Tangan Asya gatal ingin mencubit pipinya agar ia tahu diri. Sekarang masih belum bisa, tapi suatu saat nanti pasti ada masanya.
“Kamu mau coba?” Amir tersenyum usil. Ia mengakui kemampuan Anastasia. Pasti sangat menarik dapat melihat anak-anaknya mengambil pelajaran dari gadis itu. Barusan, ia mendapat ide menarik.
“Tuan …,” Anastasia hendak menolak, tapi Hanif dan Syarif lebih dulu menjawab tantangan ayahnya dan berseru, “Mau! Hai! Ayo tanding.”
“Bagus! Ingat baik-baik gerakan yang kalian pelajari selama ini, ya,” Amir menepuk tangannya sekali sambil tersenyum ramah seperti biasa. Ia pun menyuruh kedua putranya itu untuk mengambil sepasang pedang yang tergeletak di halaman, pedang kayu yang ia gunakan untuk sparing bersama Anastasia tadi.
“Tuan … saya rasa … ini berbahaya,” Anastasia berusaha menolak. Gadis itu tidak khawatir dengan keselamatannya—toh ia lincah menghindar dan menangkis serangan. Ia hanya takut melukai kedua bocah itu tanpa sengaja.
Anastasia berpikir cepat. Ini adalah kesempatan terakhirnya. Tugasnya tidak sulit. Hanya saja, ia harus berhati-hati dalam mengendalikan kekuatannya. Kalau Hanif atau Syarif sampai terluka, bisa jadi misinya gagal dan ia punnbatal ikut dalam ekspedisi.
“Baiklah, saya menerima perintah, Tuan,” Asya menunduk dan menjinjingkan roknya sedikit. Tanpa sadar, ia memberi hormat ala gadis bangsawan dari Barat. Suaminya hanya mengangguk pelan melihat itu. Ia pun mengambil sebilah bambu pendek yang tersimpan di pondasi atap joglo.
“Ayo cepat!” seru Hanif semangat. Tampang jahatnya sangat mirip dengan Amir saat tersenyum usil. Ia merencanakan sesuatu bersama saudara kembarnya. Mereka jadi tidak sabar untuk bertarung.
Asya tidak membalas seruannya. Ia berdiri tegak dan membangun kuda-kuda bertahan. Sebelum pertandingan benar-benar dimulai, ia menarik napas dalam-dalam dan menajamkan konsentrasi.
__ADS_1
“Mulai!” Amir memberi aba-aba.
Hanif dan Syarif langsung melesat cepat. Mereka menggenggam pedangnya erat-erat dan mengumpulkan tenaga untuk menebas bagian yang dapat mereka gapai. Sepertinya akan seru saat melihat lawan mereka menangis tersedu-sedu nanti.
Anastasia mengamati pergerakan kedua lawannya dengan cermat. Ia menghindari serangan Hanif dengan bergerak selangkah ke kanan dan menangkis jalur pedang Syarif yang menyergapnya. Posisi kuda-kudanya tidak goyah sedikit pun. Seperti yang Amir bilang, ia tidak bisa meremehkan kedua bocah itu.
Hanif dan Syarif sempat terkejut. Mereka berdua pun segera melancarkan serangan selanjutnya. Dominasi serangan mereka terkonsentrasi pada seni menebas. Tebasan mereka sangat kuat untuk anak-anak berusia 6 tahun.
Anastasia bahkan sempat terdorong selangkah ke belakang. Namun, ia masih tak tersentuh sedikit pun. Gadis itu dengan lincah mengelak dan menepis serangan-serangan yang datang kepadanya. Saking lincahnya, gerakan yang ia lakukan sampai terlihat seperti tarian pedang.
“Ih …! Jangan menghindar terus. Sini maju!” teriak Syarif sebal. Ia pun kembali menyerang dengan mengincar ulu hati Asya. Sayangnya, lagi-lagi serangan yang ia lakukan dapat ditepis dengan mudah oleh gadis itu.
Hanif dan Syarif mulai kelelahan karena terlalu banyak bergerak dan mengerahkan tenaga, sedangkan Anastasia masih stabil dengan kuda-kudanya yang kuat. Gadis itu pun menyungging senyum gemas. Hanif dan Syarif jadi sebal melihatnya.
“Cukup, Anak-anak,” Anastasia memukul kepala kedua bocah itu dengan pelan untuk mengakhiri pertandingan. Hanif dan Syarif yang baru saja gagal menyerang langsung memegang kepalanya dan melotot kesal. Walaupun pelan, rasanya tetap saja sakit.
Jujur saja, sebenarnya Asya sangat menikmati latih tanding dengan kedua bocah berbakat itu. Ia bahkan sudah melupakan tujuan aslinya. Namun, ia merasa kasihan dengan Hanif dan Syarif yang sudah tampak amat kelelahan. Bisa-bisa keduanya cidera karena hal itu nanti.
Amir tersenyum melihat Asya dapat melawan kedua putranya dengan baik. Seperti yang ia kira, sangat seru melihat gadis itu mengomeli mereka. Beberapa hari ini, kedua bocah itu sempat mengabaikannya seperti Aminah. Ini adalah pembalasan yang cocok untuk mereka.
Anastasia mengomel cukup panjang. Ia mengkritik teknik Hanif dan Syarif dalam memainkan pedangnya tanpa ingat bahwa ia telah kalah dengan teknik pedang itu saat melawan Amir tadi. Ia juga memperbaiki cara kedua bocah itu membentuk kuda-kuda. Tanpa sadar, ia menyelesaikan tugas dari Amir dengan sempurna.
__ADS_1
Hanif dan Syarif hanya termangu mendengarnya. Rasanya seperti saat umma mereka sendiri yang memarahi keduanya. Mereka seakan tak memiliki kuasa untuk melawan maupun menginterupsi. Karena itu, mereka pergi dengan murung dan kesal setelah Asya selesai mengomel panjang kali lebar kali.
“Kamu menyelesaikannya dengan baik lagi,” Amir menepuk pundak Asya. Sesuai janjinya, gadis itu akan ikut dalam ekspedisi nanti.