
“Kalau cerita yang disukai Syarif gimana?” Asya masih ingin mendengar cerita selanjutnya. Pandangannya menoleh pada Amir yang juga menatapnya. Pria itu pun tersenyum ramah seperti biasanya, “Namanya Utsman bin Affan ra., Khulafah Ar-Rasyidin yang ketiga. Ia adalah seorang yang jujur lagi rendah hati, pedagang yang dermawan, dan politisi yang cakap. Ia dijuluki Dzun Nurain yang berarti Sang Pemilik Dua Cahaya karena menikah dengan dua putri Nabi SAW., yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum.”
Asya mengerutkan kening. Sejauh pengetahuannya yang masih sedikit, Islam tidak memperkenankan pernikahan bersama seorang kakak dan adik dengan satu suami. Amir pun tersenyum ketika ia menanyakannya.
“Benar, itu tidaklah dibolehkan. Dalam kasus Utsman bin Affan, beliau menikah dahulu dengan Raqayyah binti Rasulullah SAW., baru setelah Raqayyah wafat, beliau pun menikah dengan adiknya, Ummu Kultsum binti Rasulullah SAW.,” jelas Amir komplek, “Hal yang demikian ini diperbolehkan dalam Islam. Kamu bisa memeriksanya dalam surah yang menjelaskan secara rinci tentang wanita, yaitu surah An-Nisa ayat 22-24.”
Amir pun menceritakan kisah awal Utsman bin Affan.
Beliau juga dipanggil Abu Layla karena kelemahlembutannya pada orang-orang. Sebelum beliau masuk Islam, hatinya telah tertambat pada putri Nabi SAW., Raqayyah. Sayangnya, ia telah keduluan oleh Utbah bin Abu Lahab sehingga patahlah hatinya. Saat itu, Ruqayyah telah dilamar oleh Utbah.
Dalam kegalauannya itu, beliau bertemu dengan bibinya, Su’da binti Kariz. Sang bibi memberitahukannya tentang kemunculan seorang nabi yang akan menghapus penyembahan berhala yang dianut oleh para penduduk Makkah saat itu dan menyerukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Setelah itu, Ustman pun mendatangi Abu Bakar, sahabatnya untuk menanyakan berita dari bibinya.
Abu Bakar membenarkan, lantas mengajak Utsman kepada Islam. Dengan kecerdasan dan kebijaksanaannya, Utsman menerima ajakan itu karena sadar bahwa patung-patung yang disembah oleh kaumnya tidak berkuasa sama sekali. Beliau masuk Islam dan meninggalkan berhala-berhala walaupun para kerabatnya menentang hal itu. Beliau bahkan sampai diusir.
Saat turun surah Al-Lahab yang mengantarkan ancaman kepada Abu Lahab dan istrinya yang amat menentang Nabi SAW., Abu Lahab pun memerintahkan kedua putranya untuk menceraikan kedua putri Nabi SAW., Ruqayyah dan Umm Kultsum.
“Kita bisa menebak apa yang terjadi setelah itu,” Amir menyeruput teh baru yang Asya tuangkan untuknya sebelum melanjutkan, “Utsman bin Affan pun melamar Ruqayyah. Pada peristiwa hijrah pertama ke Habasyah, beliau dan istrinya ikut dalam rombongan guna menghindari segala gangguan berat yang Kaum Quraisy lancarkan. Di negeri inilah putra Utsman yang bernama Abdullah lahir.”
Saat berita hijrah ke Yastrib yang kini bernama Madinah Al-Munawarah sampai kepada rombongan hijrah pertama di Habasyah, Utsman pun memutuskan untuk ikut berhijrah ke Madinah bersama istrinya. Karena berhijrah dua kali itu, Ruqayyah binti Muhammad bergelar Dzatul Hijratain.
Di tahun kedua Hijriah, Perang Badar antara kaum Kafir Quraisy dan Umat Islam pecah. Saat perang itu terjadi, Ruqayyah tengah jatuh sakit. Utsman pun diperintahkan untuk menjaganya. Tak lama setelah itu, sang putri kedua Nabi SAW. wafat dan saat itulah berita kemenangan Perang Badar sampai kepada penduduk Madinah. Ketika Rasulullah SAW. mendengar kabar wafatnya sang putri, beliau pun berkata, “Segala puji bagi Allah, telah dimakamkan putri-putri dari perempuan-perempuan yang mulia.”
__ADS_1
“Entah bagaimana perasaan Utsman bin Affan kala itu,” Amir mengulas senyum tipis dengan sedikit pandang sendu di matanya. Wajah Aminah pun terbayang di benaknya. “Kalau itu aku, aku pasti sangat sedih kehilangan sosok yang sangat kucintai.”
Asya terdiam. Ia mengedipkan matanya beberapa kali, penasaran dengan apa yang ada di hati terdalam suaminya. Kira-kira, sebesar apakah cinta Amir padanya dalam lubuk yang paling misterius itu.
Setelah meninggalnya Ruqayyah, Utsman sempat mendapat tawaran dari Umar bin Khattab untuk menikah dengan putrinya, Hafsah binti Umar. Namun, Utsman menolak tawaran itu. Beliau mendapat wanita yang lebih baik daripada Hafsah, sedangkan Hafsah sendiri mendapat pria yang lebih baik daripada Utsman.
Wanita mulia itu adalah Ummu Kultsum binti Muhammad, putri ketiga sang Nabi SAW., sekaligus adik dari Ruqayyah. Begitulah Utsman menyandang gelar Dzun Nurain, Sang Pemilik Dua Cahaya. Beliau menikah dengan kedua putri Nabi SAW. yang mulia.
“Apakah pernikahnnya bahagia?” tiba-tiba Asya menanyakan hal itu. Amir malah tertawa kecil mendengarnya. Ia pun menjawab, “Coba saja tanyakan kepada kedua putri nabi di surga nanti, yang jelas aku tidak pernah mendengar bahwa istri-istri Utsman pernah mengeluh padanya. Jadi, bukankah sudah terang bahwa pernikahannya bahagia?”
“Hm, aku mengerti,” Asya mengangguk pelan.
Si yahudi mematok harga yang tinggi untuk mengambil air dari sumurnya. Orang-orang pun jadi kesulitan karenanya. Dalam kondisi yang memprihatinkan itu, Rasulullah SAW. bersabda, “Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat maka akan mendapat surga-Nya Allah Ta’ala.”
Maka, Utsman pun mengambil kesempatan itu dan bernegosiasi dengan si yahudi. Meski diberi tawaran yang bagus, si yahudi tetap tidak mau menjual sumurnya. Ia akan kehilangan pendapatan sehari-harinya yang sudah pasti jika kehilangan sumur itu.
Akhirnya, Utsman pun menawarkan untuk membeli setengah kepemilikan sumur. Sehari milik si yahudi, sehari milik Utsman. Dengan demikian, si yahudi tetap mendapat banyak uang dari Utsman tanpa kehilangan sumurnya. Transaksi itu pun disetujui.
“Utsman membebaskan biaya air pada hari gilirannya,” Amir menunjuk ke arah danau yang terlihat dari Joglo Barat seakan-akan danau itu ibarat sumur Utsman, “Maka, di hari giliran Utsman itu, orang-orang mengambil air sebanyak-banyaknya untuk persediaan mereka.”
Akibatnya, tak ada seorang pun yang mengambil air di hari giliran si yahudi. Karena merasa tidak lagi mendapat untung dari sumurnya, si yahudi pun mendatangi Utsman dan menawarkan kepemilikan penuh atas sumurnya.
__ADS_1
Utsman setuju. Ia pun membayar setengah kepemilikan sumur yang tersisa, lalu mewakafkan sumur itu kepada umat. Sumur itu bernama Raumah. Sampai sekarang, airnya masih mengalir. Utsman menghabiskan 20.000 dirham atau keping perak untuk membeli sumur itu. Dengannya, ia mendapat jaminan surga.”
“Makanya, Syarif pernah bilang kalau dia mau jadi pedagang yang kaya, lalu bersedekah sebanyak-banyaknya,” Amir menutup ceritanya, “Ia sudah bisa mengerti bahwa sejatinya harta adalah yang diinvestasikan untuk akhirat. Ia bahkan sangat semangat menghafal ayat mengenai keutamaan berinfak, yaitu ayat ke-261 surat Al-Baqarah yang menjanjikan minimal 700 kali lipat kebaikan dari setiap apa yang diinfakkan di jalan Allah dan Allah Mahakuasa untuk menambahkannya sampai tak terbatas.”
“Benarkah? Apa kisah-kisah teladan itu berdampak besar pada karakter anak?” Asya hampir tidak percaya. Ia memang pernah beberapa kali melihat Syarif membagikan jajanan yang ia punya kepada kawan-kawannya. Sekarang ia mengerti bagaimana karakter itu bisa terbentuk dalam diri putra tirinya.
“Yah, begitulah,” Amir mengangguk.
“Tapi …,” Asya menatap jari-jemarinya yang saling terpaut satu sama lain, “Dia masih belum mau menerima kehadiranku sepenuhnya.”
“Dia masih kecil, moga saja sikapnya nggak buat kamu terganggu,” hibur Amir sembari merangkul pundak istrinya, “Ami juga sudah sering menegurnya. Ia akan mengerti seiring berjalannya waktu.”
“Yah, aku nggak masukin ke hati kok,” Asya tersenyum membalas perkataan Amir, “Lagian, itu kan bentuk keegoisan anak kecil. Wajar saja dia begitu.”
Asya merasakan sebuah kecupan yang tiba-tiba mendarat di pipinya sehingga meronalah ia. Puspita dari Barat itu pun spontan menoleh dan mendapati Amir hendak membisikkan sesuatu padanya.
“Terima kasih telah berlapang dada dalam menerima semua ini,” bisik Amir pelan.
Siang itu pun berlalu. Asya mulai memikirkan masa depannya. Ia sudah memiliki suami yang baik, kakak madu yang menerimanya dengan sabar, dan anak-anak tiri yang selalu bertingkah usil dan menggemaskan. Hidupnya bahagia dengan syukur. Maka, bagaimanakah besarnya kebahagiaan yang ia dapat nanti ketika ia dikaruniai buah hati dari kandungannya?
“Itu pasti akan menjadi hari-hari yang lebih bahagia,” Asya menatap wajah Amir yang terlelap di hadapannya. Ia pun membelai pipi suaminya itu, lantas berdoa agar cahaya dalam hatinya semakin terang dan semakin terang sehingga tak tersisa keraguan sedikit pun di sana.
__ADS_1