Berbagi Cinta: Puspita Timur & Barat

Berbagi Cinta: Puspita Timur & Barat
Isi Hati Aminah


__ADS_3

“Ami, tolong jaga anak-anak,” pesan Amir sebelum pergi. Aminah menatapnya tanpa berkedip. Kilatan matanya seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tak kunjung keluar. Ia hanya dapat termangu saat kecupan Amir mendarat di dahinya, “Insyaallah kami cepat pulang.”


Anastasia hanya mengamati dari atas kudanya sejak tadi. Sebelum berpaling pergi, tatapan matanya bertemu dengan Aminah. Tanpa sepatah kata pun terucap, mereka seolah saling berjanji untuk berdialog pascaekspedisi ini.


Aminah memandangi punggung Amir yang beranjak pergi setelah berpamitan. Tidak seperti biasanya, perjalanan Amir kali ini didampingi seorang wanita, wanita yang seolah datang dari dunia lain dan tiba-tiba menjadi madunya. Dengan senyum tipis yang menutupi kecemburannya, ia mengantar kepergian sang suami di teras kediaman Tumenggung Tasik.


“Umma … Umma …,” Syarif menarik-narik gaun tunik Aminah, mencari perhatian ibundanya yang tengah termenung sendirian di ruang tamu. Hanif berdiri di sampingnya sambil membawa sejilid buku tebal. Mereka meminta Aminah untuk membacakan sebuah kisah seolah mengajak ia agar bersabar dan tabah menjalani ujian cintanya.


Aminah pun mencium kening kedua putranya, lantas mengajak mereka masuk ke rumah. Ia mulai membacakan cerita, sementara Hanif dan Syarif membaringkan kepala mereka di pangkuannya. Sesekali kedua buah hati itu bertanya. Kadang pertanyaan mereka mengandung makna yang sama sehingga Aminah harus mengulang penjelasannya sampai mereka paham.


Aminah menutup bukunya setelah menyelesaikan sejudul cerita. Ia mendapati Hanif dan Syarif telah terlelap. Wajah mereka sangat menggemaskan dan menyejukkan hati saat tertidur begitu pulas, apalagi ketika tersenyum senang. Keberadaan mereka adalah anugrah yang teramat besar bagi ibunda penyayang.


“Ami, perhatikan dan didiklah anak-anak dengan baik. Insyaallah mereka dapat menjadi anak-anak yang saleh dan salehah dengan kasih sayang dan kelembutan hatimu,” Aminah mengingat kata-kata Amir di awal masa pernikahannya dulu. Ia pun tersenyum getir. Ternyata waktu berlalu teramat cepat.


Saat itu umurnya masih 14 tahun, usia di mana ia mulai memikirkan cinta dan pasangan. Sebagai putri dari seorang mubalig yang hidup dalam lingkungan religius, tentu ia sangat mengerti dengan syariat-syariat agama. Ia sangat paham bagaimana Islam melindungi dan mengangkat hak-hak perempuan. Segala perintah dan larangan dalam syariat adalah tabir pelindung. Keberadaannya bagai pagar yang membatasi ujung jalan di antara jurang-jurang kehidupan yang curam.


Seorang gadis …


Ketika cinta datang menyapa, mengajak ia ke dunia baru yang belum dikenalnya, gadis itu jadi amat penasaran, berdebar, dan bahagia. Hanya dengan mendengar nama orang yang disukainya, pipi merona merah bak melati muda yang baru mekar. Namun, bagaimana jika ia dilamar oleh orang yang tidak dicintainya? Bagaimana jika ia tidak mengenal sama sekali orang yang kelak menjadi suaminya? Apakah pernikahannya akan bahagia?


Perasaan bercampur aduk bagai langit yang gelap. Awan kecemasan mengepul di kepala, halilintar kengerian bergemuruh di dada, tapi air hujan perasaan tak sabar untuk melihat bumi yang baru. Orang tua selalu mengharapkan kebaikan untuk anaknya. Maka, gadis yang tabah itu pun menerima lamaran dengan lapang dada.

__ADS_1


Perempuan yang baik untuk lelaki yang baik. Dengan jaminan itu, Aminah menyerahkan segala keputusannya kepada Allah. Syeikh Yunus telah mendidiknya dengan baik. Ummu Ahmad, ibunya pun juga demikian. Maka, pastilah mereka menjodohkannya dengan lelaki terbaik yang akan menuntun ia dan keluarganya menuju kebahagiaan abadi di sisi Allah Yang Maha Esa.


Aminah tersenyum hangat kala mengingat masa-masa ta'aruf mendebarkan itu. Matanya terpejam. Ia bersandar pada dinding sambil mengelus-elus kedua putranya yang manis. Samar-samar bibirnya bergetar seolah menggumamkan sesuatu. Dalam hatinya, zikir dan salawat senantiasa bergema.


Saat membuka mata, Aminah kembali memandang kedua buah hatinya. Kakinya pegal dan kesemutan, tapi ia tak tega membangunkan mereka. Ia pun menghela setarik napas pasrah. Ketika matanya tertuju pada buku yang entah sejak kapan dipeluk Syarif, ia jadi teringat hari pertama kedatangan Anastasia.


Hari itu, Aminah merasa sangat sakit hati. Perasaan terkhianati menusuk-nusuk kalbunya. Buah simalakama seakan jatuh di hadapannya. Ia tak ingin berpisah dengan Amir, tapi tak rela pula diduakannya.


Hanif dan Syarif bahkan bereaksi sangat keras. Sungguh reaksi yang amat tak terduga. Mereka membentak gadis yang datang bersama abahnya. Bentakan yang tak hanya menggetarkan gadis pendatang itu, tapi juga ibunda keduanya.


Air mata Aminah tiba-tiba menetes. Ia seketika teringat perasaan terdalam di hari itu. Perasaan yang melebihi sakitnya diduakan oleh sang suami. Luka hati yang lebih menyayat daripada egoisme diri untuk menjadi satu-satunya di sisi sang junjungan hati, yaitu perasaan gagal seorang istri sekaligus ibu yang diamanahkan untuk mendidik anak-anak yang berbakti.


“Umma,” panggilan lembut Hanif mengalun di telinga Aminah. Si sulung itu terbangun saat pipinya terkena tetesan tangis sang ibunda. Kesedihannya pun mengalir lewat mata, lantas merasuk ke hati. Entah mengapa, Hanif ikut merasakan sakit. Tangan mungilnya pun mencengkeram pergelangan Syarif tanpa sadar. Si bungsu sampai ikut terbangun dan mendapati kakaknya terpaku dengan air mata yang meleleh di pelupuk.


Tak ada sepatah kata pun terucap. Hanya isak tangis yang terdengar. Selama beberapa saat, mereka terus berpelukan seakan seling menguatkan. Tangis Hanif dan Syarif bahkan sampai membasahi kedua bahu Aminah. Saat sang umma siap untuk mencurahkan hatinya, barulah mereka tenang.


“Hanif, Syarif,” panggil Aminah pelan. Ia masih merasa berat untuk menyampaikan isi hatinya. Jika ia adalah wanita bodoh yang hanya mementingkan dirinya, ia tidak akan menyampaikan apa pun yang ada di hatinya itu. Ia pasti akan lebih memilih untuk membiarkan anak-anaknya mengusik Anastasia agar gadis dari dunia lain itu segera pergi. Itu adalah cara termudah yang dapat dilakukannya untuk mengusir Asya. Namun, ia bukanlah wanita antagonis seperti itu.


“Anak-anak umma yang saleh,” Aminah masih kesulitan mengungkapkannya. Tangan umma yang mengelus kepala kedua putranya itu bergetar. Ia pun memaksakan dirinya sedikit lagi, “Umma mau kalian jadi anak yang berbakti. Jaga hati, lisan, dan perbuatan.”


Itu adalah nasihat yang sudah sering diungkapkannya, bukan itu yang menjadi inti dari curahan hatinya. Suara Aminah masih tertahan. Ia pun kembali memaksakan dirinya, “Umma ….”

__ADS_1


Lagi-lagi Aminah terhenti. Isaknya nyaris kembali. Ia harus benar-benar mengalahkan egonya untuk menyampaikan hal itu. Bibirnya bergetar, “Umma nggak sendiri lagi.”


“Apa …?” kata-kata Hanif tertahan. Ia menatap ummanya yang kembali meneteskan air mata. Hanya dengan melihatnya saja, ia bisa mengerti bahwa ada hal berat yang berusaha ibundanya sampaikan.


“Umma nggak sendiri lagi. Sekarang ada Bibi Asya di samping abah,” akhirnya Aminah dapat mengatakannya. Ia memaksakan senyum di wajahnya dengan berderai air mata. Pesannya masih belum selesai, tapi ia seakan kembali kehilangan kekuatannya untuk berkata-kata.


Hanif dan Syarif jadi tampak geram begitu melihat Aminah menangis tertekan. Mereka sudah bisa tahu sebab dan pelaku yang membuat sang umma menderita begini. Hanya ada satu orang. Yah, hanya ada satu orang yang merebut kedudukan umma dari sisi abah. Orang asing yang tak tahu diri dan merebut setengah markas mereka. Orang itu tidak bisa dimaafkan.


Ketika hati kecil kedua bocah itu tengah menyusun siasat, membayangkan rencana-rencana jahat untuk meningkatkan intimidasi dan hegemoni mereka, Aminah kembali memeluk keduanya. Pelukan itu selalu membuat Hanif dan Syarif terkejut dan kebingungan. Mereka tidak akan bisa memberontak bila umma telah memalunnya begitu.


“Nak, tolong berhenti!” pinta Aminah diiringi isak tangis, “Bibi Asya sudah jadi keluarga kita. Tolong jangan ganggu dia lagi. Nak, umma nggak mau kalian jadi anak nakal. Tolong, jangan jadi anak nakal.”


Hanif dan Syarif termangu dalam pelukan Aminah. Pandangan mereka menusuk langit seakan masih berusaha mencerna maksud sang umma. Walau mereka tidak lagi melihat kesedihan sang ibunda dalam pelukan itu, tapi hati mereka kini mengerti sedikit demi sedikit. Mereka pun akhirnya sadar bahwa pelaku sebenarnya yang membuat sang umma sangat bersedih bukanlah Anastasia.


“Nak, perbuatan kalian, umma yang tanggung. Sewaktu umma tidak melihat, Allah Maha Melihat. Nak, tolong bantu umma. Bantu umma bebas dari murka Allah dan siksa neraka,” Aminah mengencangkan pelukannya. Ia kembali mengingat tugas pertama yang Amir berikan padanya, tugas yang amat mulia lagi penuh kehormatan sebagai istri salehah nan berbakti pada suaminya.


Hari-hari Aminah yang singkat pun berlalu. Setiap kali ia mengingat Amir dan Anastasia, ia selalu menyertakan memori lain untuk meleburkan kecemburuannya. Memori pertamanya bersama sang suami tercinta. Hatinya pun bergema meneguhkan jiwa dengan berkata, “Aku harus mendidik anak-anak dengan baik agar mereka bertakwa.”


***


“Pangeran Anom, kita terkepung,” ucap seorang ajudan yang mengawal ekspedisi Amirdiningrat. Tanpa mendengar laporan itu pun, Amir sudah tahu. Ia bahkan sudah menghunuskan pedangnya sejak tadi. Begitu pula para prajurit yang dibawanya. Mereka dalam keadaan siap siaga menghadapi para bandit yang mengepung di sekitarnya.

__ADS_1


“Harusnya aku benar-benar tidak mengizinkannya ikut,” sesal Amir dalam hati. Matanya melirik Anastasia sesaat. Gadis itu juga sudah menghunus pedangnya di atas kuda. Kemampuannya memang dapat diandalkan. Namun, situasi ini tetap membuat Amir khawatir.


“Kumuning Raga! Kita dapat tangkapan besar!” seru seorang bandit berbadan timbun. Ia menyeringai seram. Otot-ototnya gemuk dan berlemak. Walaupun gempal dan buruk rupa, satu teriakannya dapat menyeru para penyamun Kumuning untuk merengsek maju.


__ADS_2