
Anastasia baru selesai menyiapkan makan siang saat Amir sampai di kediamannya. Ia sudah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memasakkan makanan terbaik bagi suaminya yang baru pulang dari salat Jumat itu. Dengan senyum yang merekah indah, Asya menyambut suaminya dengan hangat.
“Gimana jalan-jalannya sama anak-anak tadi?” tanya Asya mengisi keheningan di meja makan. Amir pun menoleh. Hari Jumat adalah hari liburnya. Pagi ini, ia bergi jalan-jalan bersama Hanif dan Syarif untuk latihan berburu. Ini adalah olahraga yang digemarinya sejak kecil.
“Yah, mereka keasyikan main, jadi nggak dapet satu pun hewan buruan,” jawab Amir dengan senyum tipisnya, “Tapi, mereka dapat ikan lumayan banyak sih waktu mancing di danau.”
“Apa ikan ini juga hasil pancingan mereka?”Asya menunjuk ikan bakar yang masih hangat di meja makannya. Amir pun mengangguk, “Iya, tadi Syarif girang banget waktu dapet itu.Dia yang paling banyak dapat ikan.”
“Wah, apa nanti aku nggak bakal dimarahin sama dia?” Asya mengingat bocah yang masih belum mau melepas permusuhan darinya itu. Padahal, ia sudah sering memberi Syarif camilan dan makanan-makanan sedap. Yah, sembunyi-sembunyi sih.
“Nggak bakal kok, apalagi kalau dia cicipi masakanmu yang enak,” ucap Amir santai. Asya tersenyum mendengarnya. Hatinya selalu berbunga-bunga setiap kali mendapat pujian itu. Dalam diam, ia amat bersyukur pada Tuhan karena diberi suami yang baik dan perhatian seperti Amir. Ia tetap senang meskipun jadi yang kedua.
Makan siang itu selesai dengan cepat. Setelah merapikan meja makan, Amir dan Asya duduk bersama di ruang tamu sambil mengobrol santai. Hari libur adalah hari yang tepat untuk melepaskan penat.
“Rasanya tenang,” gumam Amir dengan suara yang lirih, “Biasanya anak-anak masih pada main di sini kan kalau jam segini?”
“Ya, biasanya mereka baru pulang sore kalau Kangmas nggak ada di sini,” balas Asya sambil memilin-milin rambut pirangnya. Rasanya jadi agak sepi karena kedua bocah berisik itu tidak berkunjung ke mari.
__ADS_1
“Haha, mereka pasti kecapean habis seharian main di hutan sama danau,” Amir tersenyum tenang membayangkan anak-anaknya yang tertidur lelap, “Mereka mungkin sudah tidur habis dibacain cerita sama Ami.”
“Anak-anak suka cerita ya?” Asya jadi penasaran. Ia pun kembali bertanya setelah Amir mengangguk, “Cerita apa biasanya?”
“Di rumah ada banyak kisah para nabi dan rasul. Ada juga hikayat para sahabat,” Amir mengambil cangkir poci yang tersedia di meja. Setelah minum seteguk, ia pun melanjutkan, “Hanif paling suka Hikayat Sayyid Hamzah. Kalau Syarif sukanya Hikayat Sahabat Utsman.”
“Emang ceritanya gimana?” Asya jadi terpikirkan sebuah rencana untuk Hanif dan Syarif. Ia masih belum bisa sepenuhnya dekat dengan kedua bocah itu. Mereka masih saja memancarkan aura permusuhan padanya, apalagi Syarif yang sangat sayang dengan ummanya.
Amir tidak langsung menjawab pertanyaan Asya. Ia meminta istri keduanya itu untuk geser sedikit ke pojok bangku panjang di ruang tamu. Setelah terdapat tempat yang luang di sisinya, Amir pun menaruh kepalanya di pangkuan Asya. Perbuatannya yang tiba-tiba itu membuat Asya sedikit terkejut, tapi tidak protes sama sekali.
“Sayyid Hamzah bin Abdul Muthalib adalah paman Rasulullah SAW.,” Amir memulai ceritanya. Matanya menatap langit-langit rumah seolah pandangannya dapat menembus cakrawala waktu. “Beliau orang yang tegas, kuat, dan disegani oleh Suku Quraisy, suku terbesar di Jazirah Arab saat itu. Perkataannya akan didengar oleh mereka dan dia adalah orang yang teguh pendirian dan ucapannya.”
Berita itu menyebar sangat cepat karena Hamzah adalah orang yang amat berpengaruh di Kota Makkah. Sejak Islamnya beliau bersama Umar bin Khattab, Islam pun mulai disyiarkan secara terang-terangan.
Hamzah bin Abdul Muthalib turut serta di perang paling berpengaruh dalam lembar sejarah manusia sebagai seorang pemimpin. Itu adalah Perang badar yang seandainya Allah tidak memenangkan Islam pada hari itu, maka tidak akan pernah ada sejarah Islam selanjutnya. Persia akan terus bersaing dengan Romawi. Mungkin mereka akan bertahan lebih lama seandainya mereka tidak angkuh dalam melawan bangsa Arab di bawah naungan Islam.
Dalam perang paling bersejarah itu, Hamzah bin Abdul Muthalib menjadi salah prajurit yang ikut dalam duel di awal perang. Kemenangannya membangkitkan moral pasukan muslimin dan menggentarkan hati orang-orang kafir.
__ADS_1
DI perang selanjutnya, Perang Uhud yang berakhir seri, Hamzah juga terjun di sana memimpin pasukan kaum muslimin. Sayangnya, beliau terbunuh di ujung tombak seorang budak dan dimutilasi dengan keji.
“Beliau adalah singa Allah yang paling gagah juga pemimpin para syuhada,” Amir menutup matanya, membayangkan betapa mulianya Hamzah bin Abdul Muthalib di sisi Allah, “Karena itu, Hanif sangat suka dengan kisahnya. Ia ingin menjadi panglima yang hebat seperti Hamzah.”
Asya jadi ingat sebuah doktrin tentang Islam yang dihembuskan para pemuka agama di kampung halamannya dulu karena Amir membahas tentang perang. Namun, ia mendapati bahwa doktrin itu tidaklah benar setelah tinggal di tengah-tengah kaum muslimin, apalagi suaminya sendiri seorang muslim.
Sampai saat ini, Asya tidak pernah dipaksa untuk masuk Islam. Dalam agama itu sama sekali tidak ada paksaan. Ia belajar sedikit demi sedikit tentang Islam dengan mendengarkan penuturan Aminah dan Amir. Sekarang pun ia mulai tertarik untuk mempelajarinya lebih dalam.
“Dulu, orang-orang bilang bahwa Islam disebarkan dengan pedang dan peperangan. Apa itu benar?” tanya Asya spontan. Ia tidak pernah merasa takut lagi setiap menanyakan sesuatu karena ia yakin bahwa keluarga barunya ini adalah orang-orang yang ramah dan toleran.
“Jelas itu salah,” jawab Amir tegas, “Islam disebarkan dengan kedamaian. Persebarannya sangat masif di sepanjang jalur perdagangan, bahkan sejak zaman dahulu di abad-abad awal tersebarnya Islam. Syiar agama tauhid itu telah menyentuh setiap jengkal dunia, termasuk tanah Jawa yang sangat jauh dari Jazirah Arab ini.”
“Lalu, bagaimana dengan perang-perang dan penakhlukan yang dilakukan oleh para khalifah sampai saat ini?” Asya meminta penjelasan lebih lanjut.
“Perang antara Islam dengan Kekaisaran Persia sampai mereka runtuh karena kezaliman kisra sendiri. Ia menyobek-nyobek surah dari Rasulullah SAW., karena masalah sepele dalam urutan penyebutan nama,” jelas Amir, “Kisra bahkan mengumumkan perang terhadap Islam karena percaya dengan kedigdayaannya, padahal kuasa yang sebenarnya itu hanya milik Allah. Allah memberi kekuasaan pada siapa pun yang dikehendakinya dan mencabut kekuasaan dari siapa pun yang dikehendakinya.”
“Adapun perang dengan Romawi,” lanjut Amir setelah beberapa saat terdiam, “Itu bermula dari pembunuhan seorang duta Islam yang Rasulullah SAW., kirim untuk mensyiarkan Islam kepada pemimpin Bushra. Dalam hukum internasional, baik dulu maupun sekarang, pembunuhan duta suatu negara sama saja dengan pengumuman perang. Karena itu, Rasulullah SAW., mengirim tiga ribu tentara muslim untuk berperang melawan Romawi di Mu’tah. Itu adalah perang pertama antara Romawi dengan Islam di mana tiga panglima Rasulullah SAW., wafat sebagai syahid dan digantikan oleh Khalid bin Walid, panglima paling brilian yang tidak pernah kalah dalam setiap perang yang dipimpinnya.”
__ADS_1
“Begitulah, seandainya Islam tidak maju pada saat itu, pasti Romawi yang akan lebih dulu mengirim pasukan untuk menakhlukkan Madinah sebagaimana Persia berniat demikian,” Amir bangkit dari pangkuan istrinya, “Islam tidak memaksakan agamanya dengan pedang. Perang dalam Islam adalah usaha mempertahankan diri dari musuh-musuh besar yang ada di sekitarnya. Di setiap kota yang dibukanya pun, Islam pasti menjamin setiap nyawa penduduknya. Tidak akan ada pertumpahan darah. Mereka cukup masuk Islam atau membayar jizyah sesuai hukum yang ditetapkan.”
Asya mengedip-ngedipkan kedua matanya beberapa kali setelah mendengar cerita itu. Ia pun menatap ke luar jendela. Matanya langsung menyapu pemandangan yang asri di luar sana. Ada kedamaian yang terus menerus masuk ke dadanya. Sebagai soerang yang telah hidup di sekitar orang-orang muslim, ia pun sudah merasakan betul bahwa tidak pernah ada paksaan dalam agama mereka.