
Pesantren Giri, 7 Tahun lalu
“Ayo maju!” seorang pemuda berteriak lantang. Tangannya mengacungkan sebilah pedang kayu. Tubuhnya membentuk kuda-kuda bertahan. Ia menantikan serangan dari lawan duelnya yang menatap tajam.
“Amir, kalahkan bocah songong itu! Rayon Timur pasti menang!” seorang pemuda yang duduk di pojok lapangan latih tanding berseru. Ia menyemangati Amir yang kini berdiri di sisi penyerang. Teriakannya itu membuahkan reaksi dari kubu lawannya. Anak-anak Rayon Barat juga berseru, “Arman, kamu bisa. Serang dia di waktu yang tepat. Kalahkan Rayon Timur!”
Amir tersenyum tipis mendengar sorakan dari kawan-kawannya. Ia pun menghentakkan kakinya ke tanah, lantas melesat cepat dengan pedang yang siap menebas secara vertikal maupun horizontal, tergantung dari bagaimana reaksi lawannya. Dipasangannya tatapan elang yang teliti mengincar kelemahan lawan.
Arman tak diam begitu saja. Matanya membaca arah pedang musuh, lantas bersiap membangun blokade yang kuat. Saat kedua pedang mereka bertemu, suara benturan keras terdengar. Begitu blokadenya sukses, Arman balas menyerang. Sayangnya, serangan itu hanya menyibak udara kosong.
“Belum selesai,” seru Amir yang sudah berdiri di samping lawannya. Ia pun langsung melayangkan serangan yang mengincar leher Arman. Namun, pemuda yang bertahan itu dapat segera membalikkan badannya dan kembali memblokade jalur pedang.
Sorak-sorai para penonton semakin keras. Mereka berseru-seru saat salah seorang peserta latih tanding terbanting ke tanah, apalagi saat orang itu masih dapat bangkit dan terus membalas serangan. Amir paling banyak melancarkan tebasan, tapi kebanyakan serangannya dapat dengan mudah ditepis oleh Arman. Pada akhirnya, guru pengawas menghentikan mereka dengan hasil imbang.
“Kamu tambah cepat saja,”Arman menepuk pundak Amir sambil tersenyum sportif. Amir hanya membalas dengan senyum yang sama dan memuji ketangkasan Arman dalam bertahan. Keduanya sama-sama lelah. Bulir-bulir keringat bercucuran membasahi badan. Napas mereka masih berat usai pertandingan.
Mereka pun duduk berdampingan menyaksikan pertandingan berikutnya. Jawara dari masing-masing rayon itu mengamati kawan-kawannya yang lain sambil mengoreksi teknik mereka. Keduanya saling beradu argumen, mengklaim bahwa pihaknya adalah yang lebih baik.
“Dah, yuk balik” Amir bangkit dari duduknya. Keringat sudah berhenti mengalir, napasnya pun telah kembali normal setelah bertanding dengan Arman tadi. Ia mengulurkan tangannya, mengajak Arman berdiri.
__ADS_1
Arman meraih uluran tangan rivalnya. Mereka pun menapaki jalan setapak yang menuruni bukit untuk menuju ke rayon masing-masing. Sebelum berpisah di persimpangan jalan, ada sesuatu yang membuat Amir terhenti.
Pandangan pemuda itu tertuju ke satu arah. Ia menatap lurus tanpa berkedip sampai Arman menepuknya. “Woi! Jaga pandangan!”
Amir seketika terkesiap. Hatinya merasa sangat malu karena kejadian, tapi ia menutupinya dengan berpura-pura kesal dengan tepukan Arman. Refleksnya yang salah tingkah itu malah membuat sang jawara dari Rayon Barat semakin memasang wajah usilnya.
“Apaan coba? Jelas-jelas dari tadi kamu lihatin terus putrinya Syeikh Yunus. Kamu masih mau menyangkal,” cibir Arman dengan senyum jahilnya yang menyebalkan, “Hais … kalau suka sama dia, lamar saja langsung. Datangin Syeikh Yunus, terus bilang, ‘Syeikh, saya mau membina keluarga dengan putri Panjenengan.’ Kalau yang ngelamar kamu mah pasti diterima.”
Wajah Amir bersemu merah. Ia sangat ingin memukul Arman kalau saja ada pedang kayu di tangannya. Apalagi saat cibiran pemuda itu semakin menjadi-jadi sampai di tahap mengancamnya akan menyebarkan rumor ini pada kawan-kawan yang lain.
Arman sudah lebih dulu berlari menghindari kemarahan Amir saat ia melihat pertanda buruk. Tentu saja ia bercanda tentang menyebarkan rumor itu. Namun, ia tak akan bisa melupakan bagaimana wajah Amir termangu menatap Putri Aminah binti Yunus. Jika dipikir-pikir, keduanya memang cocok. Setelah hari itu, Arman dengan rutin menyokong rivalnya untuk segera sowan ke Sunan Giri dan minta pendapat.
Bak angin yang berhembus amat cepat, berita itu tersiar sampai ke telinga para santriwati di Komplek Keputrian. Aminah sebagai gadis yang bersangkutan tidak bereaksi apa-apa. Ia cuek saja mendengar rumor itu dan tetap fokus belajar. Lagi pula, orang yang disukainya bukanlah pemuda bernama Amir tersebut.
Lambat laun, para guru juga mendengar rumor ini. Menimbang status Amir yang tidak biasa, mereka pun ikut meributkannya. Saking gaduhnya masalah itu, Sunan Giri selaku pimpinan tertinggi di pesantren sampai turun tangan untuk mengatasinya. Amir yang saat itu masih berusia 18 tahun pun dipanggil untuk menghadap pada sang sunan.
Amir sangat gelisah kala itu. Ia amat yakin bahwa pemanggilannya ini berkaitan dengan rumor yang Arman sebarkan. Pemuda itu jadi bertekad untuk memberi pelajaran pada rivalnya selepas masalah ini selesai. Tangannya mengepal saat membayangkan bagaimana ia menjitak Arman nanti.
Dugaan yang meresahkan Amir itu tepat sasaran. Sunan Giri benar-benar mempertanyakan rumor yang meliputi Amir, putra dari raja terdahulu yang gugur dalam peperangan di samudra. Tetua tertinggi Pesantren Giri itu tidak memarahinya, melainkan ingin memastikan keteguhan Amir dalam membina keluarga. Selama pemuda itu siap, maka Sunan Giri dengan senang hati akan mendampinginya untuk sowan ke kediaman Syeikh Yunus.
__ADS_1
Tawaran dari Sunan Giri itu di luar prediksi Amir. Ia gelagapan saat ditanya dan hanya dapat menundukkan mukanya karena malu. Wajahnya sedikit memerah sehingga membuat Sunan Giri cenderung untuk mendorongnya bertaaruf.
Pria sepuh itu memberinya wejangan mengenai pernikahan dan keutamaan-keutamaannya. Tak hanya itu, Sunan Giri juga memberi nasihat Amir mengenai sifat wanita. Setelah bercakap panjang lebar, ia berkata pada muridnya yang spesial itu sambil tersenyum, “Pikirkan baik-baik keputusanmu. Kamu memang tidak perlu buru-buru. Namun, kalau kamu tidak bergegas, mungkin gadis itu sudah menjadi milik orang lain besok.”
Entah mengapa Amir merasa tak rela melepaskan setelah mendengar kata-kata dari sang sunan, tapi ia buru-buru menepisnya. Ia pun meminta waktu untuk beristikharah terlebih dahulu. Dalam perjalanan pulang, pemuda itu bertemu Arman. Melihat wajahnya yang tetap saja usil main menjodohkan, Amir pun benar-benar menunaikan tekadnya. Ia menempeleng kepala Arman keras-keras dan mengajaknya berduel.
Setelah beberapa hari berlalu, Amir kembali kepada Sunan Giri dengan hati yang mantap. Ia meminta taaruf dengan Aminah guna mengenalnya lebih jauh. Sang sunan pun mengirimkan surat kepada Syeikh Yunus sampai membuat mubalig itu delima, tapi tak menentang permintaan sahabatnya sama sekali.
Naasnya, saat Amir pulang dari kediaman Sunan Giri hari itu, ia mendengar rumor baru dari rivalnya yang menyebalkan. Suara angin yang meresahkan itu berkata bahwa Aminah sama sekali tidak peduli, tidak tertarik, dan tidak kenal sama dengan Amir. Arman mengatakannya sambil cengengesan. Perbuatannya membuat Amir sangat sebal dan kesal. Lagi-lagi, mereka berakhir dengan duel di hari tersebut. Tak hanya itu, Amir juga sempat menyesal karena menyampaikan kesanggupannya pada Sunan Giri. Namun, ia sangat bersyukur bertahun-tahun kemudian.
...***...
“Tuan!” seruan Anastasia memburamkan lamunan Amir. Gadis itu menangkis sebuah panah yang melesat pada suaminya dengan pedang. Sejak awal pertempuran, Asya tak sedikit pun menjauh dari junjungannya. Mereka terus bersisian, saling melindungi, dan membantu satu sama lain.
Amir sempat terpesona dengan teknik istri keduanya yang seperti tarian pedang. Padahal, ia sangat cemas di awal pertempuran tadi. Gadis yang bergerak dengan luwes dan tak segan pada lawannya itu sampai membuat para Penyamun Kumuning bergidik takut. Para Prajurit Tasik juga memberikan perlawanan yang tak diduga musuh. Mereka dapat mulumpuhkan para penjahat walau terjebak dalam kepungan.
Ki Gendeng, pria timbun yang memimpin para penyamun terbunuh saat hendak menyerang Amir secara tiba-tiba. Kematiannya menurunkan moral para Penyamun Kumuning. Mereka pun semakin mudah dibekuk, tapi sebagaian besarnya berhasil kabur ke lembah dan menyebar ke berbagai arah.
Di tengah pertempuran, seorang pria berambut pirang, bermata biru, dan berhidung mancung mengamati dari ketinggian. Ia mengukur kekuatan Amir dengan cermat. Saat melihat Anastasia berada di sisi panglima muda itu, matanya terbelalak. Pria itu menggeram tak percaya. Tangannya mengepalkan tinju kesal. Ia pun meninggalkan lokasi pertempuran dengan hati yang kecewa. Padahal, ia sudah membangun rencana untuk membebaskan adiknya.
__ADS_1