
“Seorang ibu memiliki kedudukan yang amat tinggi, apalagi atas anak-anaknya. Beliau adalah orang yang melahirkan kita ke dunia. Kita tidak akan merasakan dunia yang penuh binar dan bayang ini kecuali dengan pengorbanannya,” Amir bercerita kepada Asya tanpa terputus. Pandangannya menatap sendu ke angkasa yang luas. Namun, bibirnya tetap bertutur sambil tersenyum seolah tengah menyembunyikan kerinduan yang mendalam.
“Bagi seorang anak, hak ibu atas dirinya sangatlah tinggi. Ia harus mengutamakan ibunya, sosok wanita yang amat mulia. Sebagai gantinya, ia mendapat hak yang utama dari istrinya sebagai seorang suami, sedangkan istri adalah ibu bagi anak-anaknya. Begitulah hak-hak ini terus berputar dengan keadilan yang seadil-adilnya,” kini Amir menatap bumi. Ia memainkan jari telunjuknya untuk menggores tanah dan menggambar lingkaran di sana. “Ah, apa penjelasanku terlalu rumit atau berputar-putar.”
“Tidak, saya mengerti,” Asya menggeleng. Ia menatap jari telunjuk Amir yang berhenti berputar di tanah, lalu menatap kembali suaminya yang masih tersenyum sendu. Amir pun menegur, “Sudah berapa kali kubilang? Jangan terlalu kaku begitu. Ataukah mungkin kamu belum pandai bercakap sehari-hari?”
Asya terdiam. Ia malah merasa canggung kalau menyapa Amir tanpa bahasa formal. Dalam hatinya, ia masih saja berpikir bahwa posisinya tidak lebih dari sekadar tawanan yang tak akan bisa lepas. Bagaimana mungkin ia berani bersikap lancang pada junjungannya?
“Hah ... sudahlah. Bicaralah senyamanmu saja,” Amir menyandarkan tangannya ke tanah. Ia kembali memandang langit yang gelap, tapi berbintang. Ketika angin dingin berhembus mengelus wajahnya, ia terpejam menikmati udara yang segar.
“Tuan, apakah wanita adalah sumber dari segala dosa?” pertanyaan Asya yang tiba-tiba membuat Amir membuka matanya dan menoleh. Panglima muda itu pun langsung menyangkalnya dengan tegas. Tidak mungkin wanita menjadi entitas yang serendah itu, kecuali kalau wanita itu adalah wanita nakal atau pelacur. Jelas mereka adalah sumber dari dosa.
“Kenapa kamu tanya kayak gitu?” tanya Amir heran.
“Itu …,” Anastasia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Itu adalah salah satu doktrin yang ada di kampung halaman saya. Doktrin itu membuat wanita seakan menjadi barang yang dapat dibuang kapan saja. Mereka ada hanya untuk menghasilkan keturunan dan memuaskan nafsu semata. Setiap ada wanita yang berusaha memberontak, mereka akan dibekuk oleh pasukan yang dielu-elukan sebagai tentara suci. Para cendekiawan religius yang berakal pun kesulitan menghadapi kekuatan doktrin itu.”
“Itu pasti berat,” Amir bersimpati, “Dulu, di tanah Nabi Muhammad SAW., hal demikian juga pernah terjadi sebelum kerasulannya. Bagi orang-orang jahiliyah di masa lalu, anak perempuan adalah aib. Mereka bahkan tega mengubur bayi-bayi perempuannya hidup-hidup. Wanita juga dianggap barang warisan saat seorang pria meninggal. Hanya wanita kaya dan berkuasa saja yang tidak mengalami hal semacam itu.”
Amir diam beberapa janak, membiarkan Anastasia merenungkan ceritanya. Cerita yang bukan sekadar dongeng belaka, tapi benar-benar pernah terjadi di masa lampau. Setelah dirasa cukup, ia pun melanjutkan.
__ADS_1
“Islam adalah rahmatal lil alamain, karunia untuk semesta alam. Islam menaikkan derajat wanita, memenuhi hak-haknya, dan menjelaskan kewajibannya. Semua sesuai kadar yang tepat untuknya. Tidak berlebihan maupun kurang,” kata Amir dengan senyum yang mengembang indah. Kini, tak ada lagi rona kerinduan di sana.
Tanpa sadar, Asya pun bersandar pada pundak suaminya. Ia kembali mengantuk selama mendengar cerita Amir. Hatinya terasa hangat mendengar cerita itu. Penderitaan yang selama ini ia rasakan di kampung halaman seolah palsu. Hanya ada ketenteraman yang hinggap di hatinya sekarang.
Lama-kelamaan, kepala gadis itu turun ke pangkuan suaminya. Ia merasakan ada elusan lembut yang membelai kepalanya, membawakan kehangatan dan kedamaian yang selama ini dirindukannya. Ia pun memejamkan mata, berusaha menikmati setiap detiknya yang penuh dengan debaran hati dan cinta.
Angin malam kembali berhembus dari ujung bukit. Asya pun merapatkan selimut yang sejak tadi melingkupinya. Tubuhnya bergetar karena dingin. Namun, ia tetap merasa nyaman karena ada seseorang yang menemaninya.
“Dingin, ya? Masuk yuk,” ajak Amir begitu melihat Asya yang semakin merinding seiring bertambah kencangnya angin gunung. Asya pun bangkit dari pangkuan Amir. Gelap malam menyembunyikan rona merah di pipinya. Ia menggigit bibir, baru saja sadar kalau barusan ia berbaring di pangkuan suaminya. Mereka lantas masuk ke rumah untuk tidur di kamar masing-masing.
Ketika Amir hendak masuk ke kamarnya, Asya menarik ujung pakaiannya sehingga ia pun menoleh. Dilihatnya gadis itu tertunduk dalam. Kalau saja ada lentera barang secuil, pasti ia bisa melihat wajah gadis itu yang merona semerah tomat.
“Ya, apa …?” Amir tak perlu melanjutkan pertanyaannya karena Asya sudah keburu mengangguk. Gadis itu menarik-narik ujung pakaian Amir, memberinya kode untuk tidur satu kamar. Amir pun tersenyum hangat. Tanpa aba-aba, ia menggengdong Asya masuk ke kamarnya. Malam yang panjang pun kembali berlanjut dengan bara api yang menyala di hati kedua insan yang saling terikat dalam akad pernikahan. Mereka bersatu saling melengkapi dan menunaikan hak serta kewajiban masing-masing. Pahala pun mengalir dari hubungan yang dihalalkan.
Begitulah pernikahan menyempurnakan setengah agama manusia. Akad pernikahan adalah untaian kata yang sakral nan ajaib. Dengan mengucapkannya, tembok antara kedua insan saling disatukan, membentuk sebuah pondasi yang disebut rumah tangga. Haram menjadi halal. Dosa menjadi pahala. Syariat menuntun bahtera mereka menuju surga nan abadi.
...***...
Sinar mentari hangat yang menyusup lewat ventilasi atap menyengat wajah Asya. Gadis itu pun mengerjapkan matanya dan terbangun. Tubuhnya pegal dan nyeri. Saat mengingat apa yang terjadi semalam, wajahnya langsung bersemu merah. Ia pun terduduk dan mendapati Amir sudah tidak ada di sampingnya.
__ADS_1
Setelah terdiam selama beberapa saat, Anastasia kembali tersadar bahwa dirinya hanyalah seorang sandera. Wanita berambut pirang itu pun tertunduk dalam. Wajah bersemunya telah sepenuhnya padam. Ia pun bertanya-tanya dalam hatinya sekali lagi, “Apakah aku pantas mendapatkan cinta?”
Suara ketukan pintu terdengar hingga menyadarkan Anastasia dari lamunannya. Ia pun menjawab ketukan itu dan menemukan Maimunah membuka pintu kamarnya. Wanita tua itu membawa sepiring sarapan dan segelas air di sebuah nampan. Ia hanya tersenyum simpul saat melihat penampilan Asya yang berantakan.
“Beristirahatlah lebih lama. Amir bilang, kamu susah tidur semalam,” kata Maimunah, lantas meletakkan nampannya di meja. Ucapan wanita itu membuat Asya kembali mengingat pengalaman pertamanya semalam. Pipinya pun kembali merona. Kedua tangannya reflek menutup wajah agar Maimunah tidak melihat ekspresinya itu.
Maimunah hendak tertawa kecil melihat reaksi Asya. Namun, ia menahannya dan pura-pura tidak tahu. Ia bisa mengerti perasaan wanita muda itu. Setelah mengatakan beberapa patah kata lagi, ia pun keluar dari kamar Asya agar tidak mengganggunya lebih jauh.
Di dalam kamar, hati Asya tangah berdebar. Ia masih was-was walaupun Maimunah sudah keluar. Wanita muda itu takut kalau-kalau mimik malunya terlalu kentara. Entah bagaimana ia bisa berhadapan dengan sesepuh Tumenggung Tasik yang paling dekat dengannya itu nanti. Setelah dapat lebih mengendalikan diri, barulah ia menyantap sarapan yang dibawakan Maimunah.
Kegiatan pertama Asya setelah berbersih diri adalah membereskan rumah. Karena kemarin Hanif dan Syarif tidak berkunjung, kondisinya lumayan rapi dan Asya pun tidak membutuhkan banyak waktu untuk mengerjakannya. Ia lantas terduduk di kursi.
Kalau dipikir-pikir, kemarin malam adalah malam terakhirnya dengan Amir pada giliran minggu ini. Pipinya pun kembali merona setiap kali mengingat apa yang selamam dilakukannya bersama sang suami. Entah mengapa, ia tak dapat melupakannya sama sekali.
Hatinya kembali diterpa dilema. Namun, bukan dilema akan depresi dan tekanan seperti di masa-masa awal pernikahannya. Ini adalah dilema yang lain. Hatinya seolah berbunga ketika memikirkan hal itu. Ada musim semi yang datang kepadanya.
Namun, saat ia mengingat posisinya sebagai istri kedua, ia pun termenung. Anastasia kembali mengingatkan dirinya bahwa ia sekadar sandera di joglo yang sederhanan ini. Dirinya tak lebih selain jaminan atas keselamatan bagi ayah dan kakaknya. Yah, sayangnya tidak lagi untuk kakaknya yang berkhianat.
Saat mentari mulai memanjat lebih tinggi di cakrawala, Hanif dan Syarif datang mengunjungi Joglo Barat seperti biasa. Awalnya, mereka menyapa Asya dengan penuh hormat dan sopan santun. Namun, tak lama kemudian, masing-masing dari mereka menodongkan pedang kayu, mengajak Anastasia untuk bertanding ulang atas kekalahan mereka beberapa minggu yang lalu. Asya pun tersenyum. Ia menerima tantangan itu dengan senang hati.
__ADS_1