Berbagi Cinta: Puspita Timur & Barat

Berbagi Cinta: Puspita Timur & Barat
Tekad Anastasia


__ADS_3

“Apa maksudmu?” tanya Amir memastikan pendengarannya tepat. Dahinya mengernyit. Dalam hati, ia menyimpan curiga pada gadis yang berasal dari negeri asing itu. Ekspedisinya adalah perjalanan berbaya. Tidak mungkin ia membawa istrinya ke sana.


“Izinkan saya menyertai ekspedisi Anda,” ulang Anastasia dengan nada suara yang datar dan wajah tertunduk seolah tak berani bertatapan mata dengan Amir secara langsung, “Saya harus memastikan sendiri gerak-gerik kakak saya.”


“Kenapa kamu berpikir ekspedisi itu berkaitan dengan kakakmu?” tanya Amir menyelidik. Ia pun menyeret kursi dari meja dan duduk di sana. Tangannya diulurkan menunjuk kursi di hadapannya, mengisyaratkan agar Anastasia juga segera duduk di sana.


“Intuisi wanita … mungkin?” Anastasia sedikit ragu dengan jawabannya. Ia hanya mengkhawatirkan kondisi kakaknya selama Amir pergi bersembahyang tadi. Karena percaya diri dengan kemampuan pedangnya, ia pun berani mengajukan diri untuk ikut.


“Hah?” heran Amir. Matanya menatap dingin. Ia tidak ingin mengajak istrinya ke tempat berbahaya sama sekali, “Hanya karena itu? Aku sudah bilang padamu, kamu tidak perlu khawatir dengan keluarga maupun dirimu.”


“Saya tidak bisa menghilangkan kecemasan itu. Saya mohon. Saya bersumpah demi nama Tuhan saya, saya tidak akan kabur atau merepotkan Anda,” pinta Anastasia memohon. Tangannya saling menggenggam, menahan gemetar takut karena aura yang Amir pancarkan. Ia sangat yakin, suaminya itu pasti akan marah sekarang.


“Aku bisa mengerti perasaanmu. Kalau ini hanya perjalan biasa, aku tidak akan keberatan mengajakmu. Namun, ini adalah ekspedisi yang berbahaya,” jelas Amir selugas mungkin agar istrinya mengerti. Ia pun menyentuh tangan gadis yang kelihatan kaku itu. Senyumnya mengembang agar pasangannya merasa tenang.


“Saya pandai seni pedang. Kalau saya bisa melindungi diri dan tidak merepotkan Tuan, apakah Anda akan mengizinkan saya untuk ikut?” Anastasia mencari ruang bernegosiasi. Ia bersikeras untuk ikut. Bagaimana pun caranya, ia harus bisa memastikan sendiri kondisi kakaknya.


“Hah … itu tetap sulit untuk dikabulkan. Sekalipun kamu seorang ahli, bukan berarti aku bisa membawa istriku begitu saja ke tempat berbahaya,” Amir mengelus-elus dagunya yang berjenggot. Ia heran dengan kekeraskapalaan istrinya itu.


“Tuan, saya mohon. Saya bersumpah dengan nama Tuhan, saya tidak akan jauh dari Anda selama ekspedisi ini berlangsung,” Anastasia tertunduk dalam. Tubuhnya benar-benar bergetar kali ini. Air matanya pun tumpah sehingga membuat Amir tertegun.


“Cukup! Kita lanjutkan lagi besok pagi,” Amir bangkit dari kursinya. Ia pun mendekati gadis itu dan menepuk ubun-ubunnya pelan. Dengan sentuhan yang hangat, ia pun mencium kening Anastasia lama. Sebelum pergi, ia berbisik agar istrinya segera beristirahat.

__ADS_1


Kini, Anastasia yang tertegun. Air matanya masih mengalir. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa malam ini berjalan jauh dari yang ia duga. Tak ada perlakuan keras yang menimpanya. Tak ada cemooh maupun bentakan yang ditujukan padanya. Suaminya hanya menjelaskan hal-hal penting mengenai pekerjaannya dan memberikan kecupan selamat tidur, lantas masuk ke ruangan yang diklaim sebagai markas oleh anak-anaknya hari ini. Sekalipun tidak ada cinta di dalamnya, hati kecil Anastasia tetap tersentuh olehnya.


Malam itu, Anastasia tidur sendiri di kamarnya. Ia meringkuk dengan air mata yang tak kunjung berhenti sampai menguap kesadarannya. Saat terbangun, mentari masih temaram di ufuk fajarnya. Kabut putih sedikit menutupi keberadaannya. Hawa dingin pun menusuk kulit hingga ke tulang.


Setelah agak lama terduduk mengumpulkan nyawa, Anastasia bangkit dari ranjangnya. Ia berjalan ke pintu dengan sedikit terhuyung. Tubuhnya masih lelah dengan isak tangis tadi malam. Setelah mengusap muka dengan air yang tersisa di dalam kendi, barulah ia merasa segar kembali.


Anastasia mendapati kediaman sunyi. Ini sama seperti pagi-pagi biasanya. Ia selalu sendirian sampai Maimunah atau si kembar datang. Namun, ada hawa yang berbeda hari ini. Seharusnya ia tidak sendirian pagi ini. Amirdiningrat harusnya ada di sini. Apakah dia sudah pergi?


Gadis berambut pirang itu pun menggeleng. Ia menaruh sedikit percaya pada Amir setelah kejadian semalam. Suaminya itu pasti datang untuk melanjutkan pembicaraan yang belum usai kemarin.


Untuk menunjukkan keseriusannya, Anastasia mengeluarkan sepasang pedang kayu. Sebenarnya pedang kayu itu ia buatkan untuk Hanif dan Syarif sebagai hadiah perdamaian, tapi ada hal yang lebih urgen sekarang. Pedang untuk si kembar bisa disiapkan lagi kapan-kapan.


Sembari menunggu kedatangan suaminya yang tidak pasti, Anastasia menggodok air untuk menyeduh teh. Hatinya was-was dan penuh harap. Sampai air itu matang, Amirdiningrat masih belum juga datang. Anastasia tetap menunggu walaupun harapannya mulai pupus. Ia menyiapkan sepasang cangkir teh untuk dinikmati berdua nanti. Entah dengan Amir atau Maimunah.


“Ini enak. Kamu cukup pandai menyeduhnya,” puji Amir setelah menyeruput sedikit tehnya yang masih panas dan mengepul. Sebenarnya ia lebih suka dengan teh atau kopi yang dibuatkan Aminah, tapi ia tidak bisa mengungkapkannya agar tidak menyakiti hati istri keduanya itu. Lagi pula dua-dua memang enak.


“Tuan, mari bertanding dengan saya,” Asya mengeluarkan sepasang pedang kayunya. Wajahnya jauh berbeda dengan semalam. Tidak gelisah, tidak dingin, tidak juga datar. Ada tekad yang terpancar di sana. Ia amat serius dengan permintaannya.


“Kamu serius? Boleh sih, kalau gitu,” Amir tersenyum percaya diri. Ia yakin tidak akan kalah dengan istri mudanya. Panglima muda itu pun memberi keringanan, “Kalau kamu bisa bertahan dan mengenaiku dalam sepuluh gerakan, aku akan mengizinkanmu ikut.”


“Saya setuju,” Anastasia bangkit tanpa banyak menawar lagi, “Anda akan menyesal jika meremehkan kemampuan saya.”

__ADS_1


“Tentu, aku akan menghadapimu dengan serius agar kamu tinggal di rumah,” Amir menyungging selarik senyum ramah. Ia serius dengan perkatannya. Alasannya untuk menang itu sampai membuat Anastasia sedikit jengkel. Seolah-olah ia ingin mengurung Asya di rumah.


“Tepat sekali!” Amir sama sekali tidak menyangkalnya, “Itu karena kamu istriku. Aku hanya ingin kamu berada di tempat yang aman.”


“Pesesif!” ucap Anastasia lirih.


“Itu bukan suatu yang salah bahwa aku ingin melindungi istriku,” Amir dan Anastasia telah sampai di halaman Joglo Barat. Mereka telah siap dengan pedangnya masing-masing. Anastasia pun membangun kuda-kuda dan berkata, “Anda tidak bolah menarik janji Anda.”


“Hm,” Amir mengangguk sambil tersenyum. Jika dilihat sekilas, ia seakan meremehkan Asya. Namun, sebenarnya matanya sangat awas dan waspada. Saat serangan pertama istrinya datang, ia dengan cepat menangkisnya dan membalas serangan. Pertandingan pun mangalir dengan sendirinya.


Permainan pedang Anastasia sangat lihai. Gerakannya lincah dan cepat. Kekuatannya juga jauh di atas wanita kebanyakan. Berkali-kali ia menghempaskan serangan Amir. Namun, ia juga belum bisa melancarkan serangan kepada pria itu.


“Tiga lagi,” kata Amir menngingatkan dengan senyum yang sama seperti saat pertama kali memulai sparing. Ia menekan kekuatannya saat melancarkan serangan, tapi memaksimalkan pertahanan saat Anastasia datang menerjang. “Kamu tidak akan bisa ikut dengan kemampuan seperti ini.”


“Saya akan berusaha,”Anastasia kembali menyabetkan pedang. Serangan itu ditangkis dengan mudah oleh Amir. Gadis itu pun mengalihkannya ke sisi yang lain, tapi kembali tertangkis. Hanya tersisa satu kesempatan. Ia pun berpikir dengan cepat. Peluh keringat mengalir di wajahnya. Konsentrasinya mulai buyar. Namun, ia masih bisa menghindari sebuah serangan.


Saat itulah kesempatannya muncul. Secepat mungkin, Asya menghunuskan pedang ke titik buta Amir. Pedangnya menyibak udara dengan cepat. Hanya dengan satu serangan ini, ia bisa memastikan kondisi kakaknya.


“Sepuluh!” entah bagaimana Amir menangkis serangan itu. Tahu-tahu, ujung pedang kayu Asya sudah menghantam tanah. Misinya gagal. Ia pun berlutut dan tertunduk dalam. Air matanya nyaris tumpah. Namun, harga dirinya sebagai ahli pedang tak dapat mengizinkannya. Ia hanya bisa menahan semua itu dan menerima apa adanya.


“Kerja bagus! Kamu sudah berusaha dengan baik,” Amir menepuk kepala Asya, lantas duduk selonjor di depannya. Ia membuang napas panjang dan menunjukkan senyum ramahnya seperti biasa. Pertarungan singkat barusan membuatnya cukup lelah, tapi ia lega karena masih bisa menang dengan gadis yang tidak terduga itu.

__ADS_1


Anastasia terdiam. Ini pertama kalinya ia mendapat pujian seperti itu. Hatinya pun menghangat seolah ada angin musim semi yang meniupnya. Namun, fakta bahwa ia kalah tetap tidak berubah, kecuali Tuhan berkehendak lain.


__ADS_2