
"Kita sampai, kita sampai," seru Hanif dengan riangnya, "Umma, kita sampai."
"Iya, hati-hati, ya," ucap Aminah lembut, "Biar nggak jatuh."
"Syarif, ayo lomba lari sampai ke sana," ajak Hanif semangat. Tangannya menunjuk puncak bukit yang tampak tinggi. Syarif pun mengangguk setuju. Lomba lari adalah salah satu permainan favorit mereka. Sekejap kemudian, mereka sudah berlari ke tempat yang ditunjuk.
"Anak-anak memang banyak tenaga," Maimunah yang ikut dalam perjalanan itu tersenyum tipis. Ia membawakan sebagian perbekalan yang mereka siapkan untuk makan siang.
"Benar, mereka memang sangat suka wira-wiri sejak lancar berjalan," Amir membawa perbekalan sisanya sambil memapah Aminah. Sejak turun dari kereta kuda, ia tak melepaskan tangan istrinya barang sedetik pun. Aminah pun nyaman dimanja suaminya.
Begitu sampai di sebuah saung yang cukup besar, mereka pun menghamparkan tikar. Amir dan Maimunah meletakkan perbekalan yang mereka bawa, lantas beristirahat di sana. Tempat yang mereka pilih itu sangat cocok untuk menikmati pemandangan.
"Ami," panggil Amir halus. Ia ingin tahu segala keluh kesah istrinya selama ini. Mumpung ada Maimunah di sini. Wanita tua itu merupakan penasihat yang bijak.
"Aku …," pastilah Aminah punya beribu keluhan di hatinya. Ia adalah istri seorang pemimpin. Harusnya, ia bisa hidup mewah dan santai dengan segala status dan kekayaan yang suaminya punya. Namun, ia tahu bahwa akhirat itu lebih bermakna. Semua kekayaan itu lebih baik digunakan untuk kelancaran dakwah para dai di tanah Jawi yang asri ini.
Aminah tak mengeluhkan sedikit pun mengenai nafkah yang ia terima dari suaminya. Wanita yang sedang mengandung itu hanya mengeluhkan kondisi tubuhnya yang semakin lama semakin berat. Ia cepat lelah dan lesu. Namun, ia masih bisa menahan semua itu.
"Ami, mulai besok, biar aku saja yang mengerjakan pekerjaanmu," Maimunah langsung menyahut ketika mendengar keluhannya itu. Ia tidak mau keponakan dan calon cucunya dalam bahaya. Itu merupakan bentuk kasih sayang pada keluarga.
"Kamu istirahat saja," tambah Maimunah, "Bukannya sebentar lagi anak itu akan lahir. Kamu harus menjaga kesehatanmu baik-baik."
__ADS_1
"Tapi, Bibi …," Aminah merasa tak enak hati.
"Benar, Ami," Amir mendukung tawaran Maimunah, "Kamu harus banyak istirahat. Jaga kesehatanmu baik-baik."
"Hm," Maimunah mengangguk, "Lagi pula, Asya sudah bisa beradaptasi dengan baik. Tak akan ada masalah kalaupun aku mengurangi kunjunganku padanya."
"Asya …," gumam Aminah pelan sampai tak terdengar oleh Amir dan Maimunah. Sejujurnya, keberadaan Anastasia adalah keluhan yang paling ingin disampaikannya. Namun, ia berusaha menahan perasaan itu karena tahu bahwa akan ada ganjaran yang ia dapatkan kelak. Ganjaran itu adalah surga. Ia ingin kembali ke sana bersama seluruh keluarganya.
"Umma, Umma," panggilan Syarif dan Hanif segera mengalihkan Aminah dari pikiran itu. Ia pun menoleh dan mendapati kedua bocah itu tengah berlari ke saung tempatnya berteduh. Baju yang dikenakan kedua bocah itu sudah kotor dengan debu dan tanah.
"Syarif, Hanif," Aminah menatap kedua putranya yang kini sudah sampai di depan saung, "Kalian habis ngapain aja? Kok sampai kotor begitu?"
"..."
"Syarif mendorongku ke jurang," lapor Hanif. Mendengar itu, Syarif tidak terima dan membalas, "Kamu dulu yang berulah."
"Aku nggak ngapa-ngapain," bantah Hanif.
"Kamu mau ngagetin aku tadi," balas Syarif membela diri, "Aku kan jadi nggak sengaja dorong kamu. Kamunya juga malah nyeret aku ke dalam."
"Ka …," Hanif hampir menyahut kembali ucapan saudaranya, tapi Aminah lebih dulu menyela, "Anak-anak, kalian nggak apa-apa, kan? Ada yang sakit, nggak?"
__ADS_1
"Nggak," jawab Syarif spontan.
"Lututku sakit," sementara Hanif mengeluhkan luka di kakinya.
Aminah pun bangkit dan memeriksa luka itu. Untung saja lukanya hanya luka ringan. Sambil membersihkannya, sang umma mengatakan, "Lain kali, mainnya hati-hati, ya."
"Hm," Hanif dan Syarif mengangguk pelan.
"Hais …," Amir ikut turun dari saung. Ia pun membersihkan pakaian Syarif yang kotor. Syarif tidak menolak kali ini. Ia membiarkan sang abah mendekatinya.
Mentari memanjat langit dengan cepat. Amir bercerita banyak untuk mengisi waktu dengan keluarganya. Ia menceritakan betapa hebatnya para sahabat nabi di awal-awal masa kebangkitan Islam dulu. Caranya menyampaikan kisah amat unik sehingga mampu mengajak pendengarnya bertualang seolah datang sendiri ke cerita tersebut.
Maimunah mengeluarkan perbekalan yang dibawanya. Ia menyiapkan lauk sambil mendengar cerita Amir yang seru. Tak lupa pula ia membuatkan teh yang harum.
"Abah, Abah," panggil Syarif dengan riangnya, "Aku mau jadi Utsman bin Affan. Aku mau jadi pedagang kaya yang dermawan."
"Aku mau jadi Khalid bin Walid," Hanif tak mau kalah, "Aku mau jadi panglima yang tak pernah kalah."
Amir terkekeh mendengarnya. Ia bangga kepada kedua putranya itu. Mereka sudah memiliki cita-cita yang mulia sejak dini. Itu adalah bukti bahwa ia berhasil mendidik anak-anaknya sampai saat ini. Yah, walaupun kadang Syarif dan Hanif masih suka berbuat nakal dan egois.
Aminah tersenyum lembut mendengar semangat anak-anaknya. Kasih sayang dan cintanya tumbuh semakin tinggi dan besar hingga menaungi perasaan yang lainnya. Ia merasa tenang. Syukur pun terucap di lisannya, termenung khusyuk di hatinya.
__ADS_1
Yah, ia amatlah sangat bersyukur. Keluarganya dianugerahi keharmonisan nan manis. Sungguh besar nikmat yang Ar-Rahman berikan pada setiap hamba-Nya.