
Orang-orang mendambakan kebahagiaan. Namun, apa sebenarnya kebahagiaan itu? Apakah ia adalah kebebasan? Ataukah ia adalah kemakmuran? Ataukah mungkin kekayaan, kehormatan, dan pernak-pernik yang menghiasi kehidupan ini?
Entahlah. Ketika seorang telah mendapatkan kebebasannya, apakah ia akan bahagia? Apa yang terjadi padanya selanjutnya? Apakah hidupnya akan mulus setelah ia mendapatkan kebebasannya? Orang yang telah mengalami pahit-manisnya kehidupan pasti lebih mampu menjawab hal itu.
Apakah dengan hidup makmur seorang akan bahagia? Bisa jadi, bukan? Sayangnya, manusia punya sikap serakah yang tak pernah puas. Setelah ia mendapat ini, ia ingin itu. Ketika ia ingin itu dan tak mendapatkannya, ia pun jadi gelisah. Apakah begitu arti dari sebuah kebahagiaan?
Kekayaan, kehormatan, dan pernak-pernik dunia hanyalah semu. Di mata Tuhan Yang Maha Esa, ia tak lebih baik dari selembar sayap lalat yang mungil dan tak berharga. Betapa hinanya dunia yang fana itu.
Namun, dunia itu begitu indah di mata manusia. Tak sedikit manusia yang rela membuang waktunya demi mengejar dunia. Padahal, andai ia tak mengejarnya dan cukup berbuat seadanya, dunia itu tak akan pernah meninggalkannya karena Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjamin rezeki setiap hamba-Nya.
Maka, apakah memiliki segala kekayaan, kehormatan, dan pernak-pernik dunia itu adalah kebahagiaan? Hmph! Berapa banyak orang kaya yang takut kehilangan hartanya? Berapa banyak politisi yang rela melakukan segala cara demi menjaga kehormatannya? Apakah pernak-pernik dunia itu akan senantiasa ada di sisi manusia?
"Bukan, itu bukanlah kebahagiaan," gumam Asya yang kemudian menutup buku tebal di pangkuannya, "Yang kuinginkan adalah kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang tertanam dalam hati dan kekal abadi."
"Sebenarnya, kebahagiaan adalah hal yang sederhana," Maimunah yang tengah memintal kain di halaman rumah Asya berkomentar, "Apa kau mau dengar pendapatku, Nak?"
"Tentu saja, Nyonya," jawab Asya.
"Hais ... ini sudah beberapa bulan. Kau bisa panggil aku 'Bibi' macam Ami panggill aku," Maimunah tersenyum kecil. Asya pun tersentak ringan, lantas mengangguk canggung, "Baik, Nyo—Bibi."
"Nak, aku akan menjelaskannya dengan berhikayat. Kau tak keberatan, kan?" tanya Maimunah sebelum memulai. Ia tetap merajut kerajinannya. Begitu Asya mengangguk, ia pun mulai bercerita.
"Kata empunya cerita ...
__ADS_1
Ada sultan nan hebat dan kaya-raya. Ia memerintah negerinya dengan baik dan bijaksana. Rakyat pun hidup makmur sentosa dan menyayangi pemimpinnya.
Namun, diceritakan bahwa suatu hari sang sultan merasa bosan dan hampa. Ia ingin merasakan kebahagian yang sebenarnya. Ia pun mengumpulkan segenap menteri dan sarjananya. Ditanyanya mereka satu per satu sehingga berkatalah seorang menteri, "Baginda Sultan, syair adalah sebaik-baik penenang jiwa. Maka, datangkanlah para penyair dari seluruh neegeri. Jika Baginda berkehendak, patik pasti akan segera melaksanakannya."
Sang sultan pun setuju. Diadakanlah sayembara besar khusus para penyair. Mereka membacakan syair-syair nan indah dan mempesona. Sayang sungguh sayangnya, sang sultan tak kunjung bahagia.
Ia pun kembali mengumpulkan meteri dan sarjananya, lantas menanyakan perihal yang sama pada mereka. Maka, berkatalah seorang sarjana, "Baginda Sultan, langit malam amatlah mempesona. Bintang-gemintang bersinar di atas sana tanpa ada tali yang menggantungnya. Cobalah Anda melihatnya, maka Anda akan berbahagia."
Sultan pun menolak saran itu. Setiap malam, dipandangnya langit yang berbintang. Namun, tak ada pun kebahagiaan dalam pandangannya.
Sarjana lain pun turut memberi saran, "Baginda Sultan, apabila Anda hendak berbahagia, bagaimana kalau Anda memakai pakaian orang yang paling bahagia di negeri ini? Dengan begitu, barangkali Anda mendapatkan kebahagiaannya."
Meskipun terkesan aneh, ternyata sang sultan menyetujui hal itu. Ia pun mengirim utusan ke setiap penjuru untuk mencari orang yang paling bahagia di negerinya. Ternyata, pencarian itu tak semudah yang ia kira.
Pria itu adalah seorang yang miskin. Pakaiannya pun terlalu compang-camping. Tak mungkin sang sultan memakainya. Ketika sang sultan bertanya, "Bagaimana kau bisa bahagia?"
"Dengan bersyukur," jawab pria itu, "Wahai Baginda, saya selalu merasa cukup dengan apa yang saya miliki. Dengan begitu, saya tak pernah sekali pun merasa gelisah dengan apa yang tidak saya miliki. Sejatinya, segala sesuatu itu milik Allah. Allah memberi kekuasaan pada siapa pun yang Ia kehendaki dan mencabut kekuasaan dari siapa pun yang Ia kehendaki. Maka bersyukurlah, wahai Baginda Sultan. Allah telah menganugerahkan kebijaksanaan dan negeri yang makmur kepada Anda."
"Bersyukur, ya?" Asya mengangguk paham. Benar, itulah salah satu pangkal dari kebahagiaan. Berapa banyak orang tua miskin yang bahagia melihat anaknya masih dapat makan? Berapa banyak guru yang bahagia melihat muridnya dapat meraih kesuksesan? Berapa banyak pedagang yang bahagia karena dagangannya mau dibeli orang? Pada sejatinya, kebahagiaan itu sederhana.
"Opah," panggil Syarif dengan suara imutnya, "Lihat Hanif, nggak?"
"Hm? Hanif?" Maimunah menoleh, lalu menggeleng. Ia belum melihat Hanif selama memintal.
__ADS_1
"Beneran?" tanya Syarif mendesak. Mereka berdua sedang main petak umpet. Karena banyak spot bersembunyi yang strategis di sini, Syarif jadi kesulitan menemukan saudaranya.
"...," Syarif pun menatap Asya. Ia ingin bertanya, tapi bingung cara menanyakannya. Padahal, ia tinggal bertanya seperti biasa.
Melihat itu, Asya pun tersenyum setulus mungkin. Ia ingin segera akrab dengan kedua putra tirinya. Namun, Syarif malah berpaling dan meninggalkannya begitu saja. Asya jadi menghela napas karenanya.
Maimunah terkekeh kecil. Ia pun mengatakan hal yang sama dengan Amir. Pokoknya, cepat atau lambat, kedua bocah itu pasti akan mau menerima keberadaan Asya.
"Dia sudah pergi, kan?" sebuah bisikan dari belakang Asya bertanya. Wanita muda itu pun mengangguk. Ia menunjuk arah Syarif pergi.
"..."
"Hayo!" Syarif kembali muncul dari balik bilik. Kemunculannya yang mendadak itu membuat Hanif reflek bertiarap. Syarif segera berlari ke arahnya dan menangkap Hanif. "Kena kamu! Kamu yang jaga sekarang!"
"Iya, iya," Hanif bangkit dan membersihkan bajunya yang berdebu. Ia pun menutup matanya dan berkata, "Aku hitung sampai sepuluh. Cepat sembunyi."
"Satu, dua, tiga ...," masuk hitungan kelima, Hanif membuka jari-jemarinya untuk mengintip.
"Kamu curang!" tuding Syarif kesal, "Cepat ulangi! Sana di dekat tembok!"
"Hmph! Kamu juga cepatan sembunyi!" balas Hanif yang kemudian segera merapat ke tembok. Ia pun mulai menghitung ulang.
Syarif bergegas mencari tempat sembunyi, tapi tak terlalu jauh dari tempat itu. Ia kembali menatap Asya dan menaruh telunjuknya di bibir. Setelah Asya mengangguk, ia pun meringkuk di bawah meja bacanya.
__ADS_1
Asya tersenyum senang melihat itu. Seperti kata Amir dan Maimunah, kedua bocah itu akan segera akrab dan menerima kehadirannya. Ia cukup menunggu sampai saat itu tiba.