Berbagi Cinta: Puspita Timur & Barat

Berbagi Cinta: Puspita Timur & Barat
Sekelut Rijiger


__ADS_3

Setelah berhari-hari menapaki gunung dan lembah, akhirnya Schultz sampai di sebuah kota. Ia memasuki kota itu dengan santai dan wajah tertunduk. Para prajurit yang berjaga di pintu gerbang sama sekali tidak memperhatikannya.


“Cih! Mereka sombong sekali hanya karena bisa mengalahkan kami sekali,” gerutu Schultz dengan suara yang lirih. Matanya berseliweran ke sana-ke mari walaupun dengan wajah yang tertunduk. Ia mengamati setiap detail kota dan aktivitas para penduduknya.


“Sial! Aku belum sempat makan dari kemarin. Persediaanku juga sudah habis,” Schultz merogoh kantong saat tiba-tiba perutnya berbunyi. Ia hanya dapat mengumpat berulang kali dan mengutuk kesialannya itu. Baginya, Tuhan sangat tidak adil. Ia telah ditelantarkan dan dibuang di tengah-tengah musuhnya. Keimanannya pun telah lenyap sepenuhnya. Hanya balas dendam yang saat ini bersemayam di hatinya.


“Paman, Paman,” suara seorang anak kecil terdengar di telinga Schultz. Saat pemuda itu menoleh, ia mendapati seorang bocah tengah mengulurkan sepotong roti kepadanya, “Paman, ini untukmu.”


“Ha? Apa kau menghinaku, Bocah?” kata Schultz tak mau menerima roti dari anak kecil itu. Ia malah menampakkan wajah seram dengan penampilan manusia gunungnya yang kumuh. Dengan intonasi yang tinggi, ia meneriaki bocah itu dengan bahasa asalnya, “Dasar sialan! Kau kira aku akan menerima makanan hina seperti ini.”


Si bocah amat terkejut. Matanya terbelalak melihat betapa mengerikannya sosok Schultz yang tiba-tiba marah. Air matanya pun tumpah seketika. Ia mundur perlahan dan menaruh rotinya dengan harapan agar paman jahat itu tak mengejarnya. Setelah rotinya sempurna tertaruh di tempat yang lumayan bersih, bocah itu pun berlari sambil menangis tersedu-sedu.


“Ck!” decak Schultz yang kemudian kembali mengumpat. Ia pun melanjutkan perjalanannnya dengan kelaparan yang menusuk-nusuk. Cacing-cacing di perutnya sudah mulai berdemo minta diberi makan. Padahal, mereka hanya parasit yang tidak memberi apa-apa selain kerugian.


Schultz terus memperhatikan sekitar. Ia mencoba untuk menghafalkan setiap jalan-jalan yang ada di kota ini. Sayangnya, ia tak mampu lagi berjalan kerana tenaga yang telah habis terkuras dan kelaparan yang tak kunjung teratasi. Matanya langsung berbinar-binar saat melihat sebuah toko roti. Ia ingin memakan roti itu walaupun hanya sedikit saja.


“Hai! Pergi dari sini! Kamu mengganggu pemandangan di depan tokoku. Pelanggan yang lain jadi tidak nyaman karenamu,” maki si pemilik toko.


Schultz menggeram kesal. Kalau saja ia dalam kondisi yang baik, pasti ia akan mencabik-cabik pria itu dengan pedangnya. Ah!? Pedangnya pun sudah hilang entah di mana. Ia hanya memiliki sebilah belati sekarang. Tanpa dapat berkomentar sedikit pun, ia pergi meninggalkan toko. Mulutnya komat-kamit menggumamkan sesuatu. Hatinya memaki-maki kesialan yang bertubi-tubi menimpanya, sedangkan ia tidak berdaya.


Putra dari Keluarga Bangsawan de Raiziger itu terus mengelilingi kota. Setiap kali ia melihat toko, ia selalu berhenti di depannya. Namun, ia akan segera diusir dari sana tak lama kemudian. Itu karena penampilannya yang buruk dan bau. Tidak ada orang yang mau dekat dengannya. Mereka mengira bahwa Schultz adalah orang gila yang tersesat.


Saat mentari mulai menyentuh peraduannya, sedangkan awan-awan berubah merah karena sinarnya, Schultz belum juga mendapat sedikit pun makanan. Ia terus berjalan dan berjalan. Matanya pun tiba-tiba menusuk sesuatu yang amat dicarinya.

__ADS_1


Roti! Ada sebuah roti yang tergeletak di pinggir jalan. Roti itu sudah sedikit berdebu, tapi masih terlihat enak di mata Schultz yang sangat kelaparan. Ia pun meraihnya tanpa pikir panjang. Dimakannya rati yang telah masuk angin itu.


Schultz pun terduduk setelah berhasil mengisi perutnya sedikit. Ia sama sekali tidak sadar bahwa itu adalah tempatnya tadi memaki bocah yang menawarinya sepotong roti, sedangkan roti yang dimakannya itu adalah roti yang sama dengan yang tadi pagi ditolaknya. Matanya segera memburam. Kesadarannya pun menghilang. Ia tertidur di sebuah gang sampai pagi kembali datang.


Sepotong roti terlihat di depan Schultz saat ia terbangun. Awalnya, ia sedikit bingung. Wajahnya pun menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada orang lain di dekatnya. Setelah puas melakukannya, ia pun mencomot roti itu begitu saja.


Perutnya kembali terisi. Tenaganya juga cukup pulih dengan istirahat semalam. Ia siap melanjutkan misinya. Saat ia pergi dari gang itu, dua orang anak kecil keluar dari tempat persembunyian mereka. Keduanya pun saling berdiskusi, lalu pergi meninggalkan gang begitu saja.


“Sialan! Sia-sia saja aku menghafalkan jalan-jalan ini. Aku sama sekali tidak bisa mengingatnya,” gerutu Schultz dengan bahasa dari negeri asalnya, “Organisasi terlalu kejam memberiku tugas untuk memetakan kota sebesar ini.”


Duk!


Schultz yang berjalan sambil tertunduk tiba-tiba menabrak seseorang. Ia ingin sekali mengumpat keras saking kesalnya. Namun, ia tidak bisa melakukannya karena tenggorokan yang kering. Ia pun mendongakkan wajah. Matanya seketika terbelalak saat melihat bahwa orang yang ditabraknya adalah seorang pria yang mengenakan seragam prajurit Aliansi Tanah Jawa.


“Pak,” panggil pria itu lagi.


“Pergi! Jangan ganggu aku,” kata Schultz yang langsung kembali melangkah begitu saja. Ia melewati pria itu tanpa peduli apa-apa. Tujuannya saar ini hanyalah pergi sejauh-jauhnya dari pria itu.


“Behenti!” tegas pria berseragam prajurit itu, “Anda harus ikut dengan kami untuk melakukan pemeriksaan.”


“Apa?” Schultz menoleh. Hatinya berdebar. Keringat dingin mulai menetes di keningnya. Habis sudah nasibnya kalau sampai tertangkap oleh pria berseragam itu. Ia pun memutuskan untuk mengabaikannya dan mempercepat langkahnya.


“Sekelut Rijiger!” bentak pria tadi membuat Schultz amat terkesiap, tapi tidak sampai terjatuh, “Berhenti dan ikuti kami dengan tenang!”

__ADS_1


Schultz benar-benar berhenti. Ia mengusap rambutnya dan mendapati tangannya langsung kotor oleh warna gelap. Ia pun tersenyum getir. Ternyata cat rambutnya sudah luntur. Pantas saja ia bisa langsung dikenali.


“Cih! Jangan kira pikir aku akan menyerahkan diri begitu saja,” gumam Schultz dengan suara yang tak jelas. Ia pun melempar jubah lusuh yang menutupi pakaian luarnya, lalu segera berlari meninggalkan pria itu.


Si pria berseragam cukup terkejut. Apalagi dengan jubah bau yang tiba-tiba menimpuk kepalanya. Ia pun segera berlari mengejar buronannya. Kalau sampai ia gagal lagi kali ini, pencarian orang itu akan jadi semakin sulit.


“Sialan! Tuhan sungguh tidak adil!” umpat Schultz sambil terus berlari dengan badan baunya. Setiap kali ia melintas, orang-orang pasti akan segera menyingkir. Bau badannya yang tidak tertutup jubah itu menyeruak dalam jarak beberapa meter darinya.


“Dia di sana!” teriakan seorang prajurit membuat Schultz amat terkejut. Ia pun mempercepat larinya seolah dipenuhi dengan tenaga. Beruntungnya gerbang keluar tidak terlalu jauh darinya. Ia pun melewati gerbang itu tanpa peduli dengan para penjaga yang tersentak degan kehadirannya.


“Kejar terus! Jangan sampai dia lolos,” sebuah teriakan menggelegar diikuti dengan serombongan prajurit yang tiba-tiba keluar dari gerbang kota. Mereka pun berpencar ke segala penjuru dan menyusuri setiap jengkal hutan dengan teliti. Sayangnya, buronan yang dicari tak dapat ditemukan juga.


Schultz bersembunyi telungkup di bawah sebuah batu besar. Ia tidak bisa bisa bangkit, apalagi berdiri. Lubang di batu besar itu sangat kecil. Seorang anak kecil bahkan tak akan dapat merangkak masuk ke dalamnya. Schultz harus berusaha keras untuk terjepit di batu yang sempit itu.


Beberapa kali kaki para prajurit maupun penduduk melewati tempatnya. Karena itu, Schultz sama sekali tidak bisa keluar sampai malam datang. Ia pun berjalan di tengah kegelapan. Badannya kedinginan karena tidak lagi dibungkus jubah yang tadi siang sudah berkorban demi keselamatannya. Ia hanya dapat berjalan dan terus berjalan.


Hujan yang turun tiba-tiba menambah daftar kesialan di kepala Schultz. Pemuda itu pun tak henti-hentinya mengumpat seakan umpatan itu dapat menyelamatkannya. Padahal, segala peristiwa yang menimpa dirinya itu juga karena kebodohannya sendiri.


Di tengah hutan yang lebat, dalam derasnya hujan yang mengguyur, Schultz menemukan sebuah harapan. Dilihatnya sebuah gubuk kecil yang menyala temaram. Melihat cahaya itu, sudah pasti ada orang di dalamnya. Jika ada orang di dalamnya, pasti ada makanan di sana.


Schultz pun menyiapkan belatinya. Demi mendapat makanan dan tempat berteduh, ia tidak peduli meski tangannya harus bersimbah darah. Ia pun berjalan mengendap-endap ke sana. Saat jaraknya sudah semakin dekat dengan gubuk itu, tiba-tiba pintu gubuk terbuka dan seorang pria tua terlihat berdiri tegak di sana.


“Nak, letakkan senjatamu dan masuklah dengan tenang!” kata pria tua itu dengan suara yang lirih, tapi terdengar tegas. Belati di tangan Schultz seketika terjatuh. Keberanian di dada pemuda itu lantas menciut. Kalau saja sang pria tua tidak memanggilnya sekali lagi, mungkin ia akan mati mematung di halaman gubuk kecil itu.

__ADS_1


__ADS_2