
Saat Anastasia tengah sendirian, ia merindukan rumah yang dulu pernah ditinggalinya. Bukan rumah di Benua Barat nun jauh di sana, tapi rumah di Malaka di mana ia pernah bersenda gurau dengan nyaman dan bebas bersama kakak dan ayahnya. Itu adalah kenangan yang indah sebelum ia mendapat keluarga baru di negeri ini.
Anastasia pun tersenyum simpul. Apa pun yang terjadi, ia harus tetap bersyukur. Meskipun ada beberapa hal buruk yang telah menimpanya, hal-hal yang baik telah menutupi semua keburukan itu sehingga ia tak mengingatnya lagi. Itu adalah anugerah yang besar baginya.
Menjelang senja, Maimunah datang menjenguknya. Wanita tua itu membawakan bahan-bahan mentah yang cukup untuk kehidupan sehari-hari Anastasia. Sebelum pergi lagi, wanita itu berkata, "Mulai hari ini, aku mungkin akan jarang menemuimu. Kandungan Aminah sudah semakin besar. Dia harus lebih banyak beristirahat agar anaknya lahir dengan sehat. Kamu juga, jagalah kesehatanmu."
"Baik, Opah," balas Anastasia dengan seulas senyum simpul di wajahnya, "Semoga Kak Ami juga sehat selalu. Aku akan sangat senang bisa melihat anaknya nanti."
Anastasia menatap punggung Maimunah sampai menghilang dari pandangan. Ia pun masuk kembali ke rumahnya. Rasanya sepi. Hari ini, anak-anak tirinya yang berisik itu tak datang berkunjung. Mereka pasti melakukan hal-hal menyenangkan bersama ayah dan ibu kandungnya.
Asap mengepul. Anastasia menatap nasi yang dimasaknya. Porsi nasi itu cukup untuk makan dua orang, padahal ia sedang sendirian. Dalam kesendirian itu, ia pun bergumam, "Apa aku mengharapkan kedatangannya, ya?"
"Ini aneh," begitulah pikir Anastasia. Dulu, ia sangat takut dan membenci Amir. Pria itu adalah orang yang menghabisi rombongan militernya. Namun, ia tak bisa menyalahkan sang panglima muda. Pada dasarnya, yang dilakukan suaminya hanyalah upaya perlindungan diri.
"Ah, aku pun sudah jadi serakah sekarang," Anastasia tertegun sendiri. Sebelumnya, ia tak pernah menyangka bahwa ia mencintai pria itu sampai sedalam ini, bahkan sampai meminta "hak" yang patut didapatkannya sebagai istri.
Yah, sebagai istri. Dulu, Anastasia mengira bahwa dirinya mungkin akan dijadikan sebatas gundik rendahan saja. Ia mengira bahwa dirinya hanyalah tawanan perang yang mungkin akan dilecehkan kapan saja. Namun, ternyata itu tidaklah terjadi. Ayahnya pun benar-benar mendapat jaminan untuk hidup. Sayangnya …
"Kakak …," gumam Anastasia begitu mengingat kakaknya yang membuat masalah. Ia pun menghela napas pelan. Wajahnya tertunduk menatap makan malam yang sudah terhidang.
__ADS_1
Selepas makan, Anastasia menatap ke luar sebentar, berharap ada sosok yang datang di sana. Ah, itu tidaklah mungkin. Hari ini, suaminya itu pasti sedang di rumah utama. Lagi pula, bukankah ia baru saja menikmati malam yang indah kemarin? Begitulah pikirnya.
Anastasia menggigit bibirnya pelan, berusaha meredam gelagat serakah yang bergelora dalam hatinya. Ia pun menutup pintu dan menguncinya. Setelah memastikan semua jendela, pintu, dan kendi-kendi tertutup rapat, ia pun melangkah ke kamarnya.
Gelap perlahan menerjang. Cahaya senja pun sirna seutuhnya. Anastasia segera terlelap dalam tidur. Ia berharap agar bisa kembali berkunjung ke rumah Aminah keesokan harinya.
Pagi pun datang dengan cepat. Mentari mendaki tinggi dari peraduannya. Anastasia bergegas menyelesaikan semua tugasnya. Ia ingin segera bertemu dengan Aminah.
"Masuklah, Asya," ucap Aminah begitu melihat Anastasia mengunjunginya. Wanita itu tersenyum simpul, menunjukkan keramahannya, "Apa yang mau kamu pelajari hari ini? Silakan pilih salah satu."
Anastasia menatap deretan buku yang ditata rapi memenuhi rak. Buku-buku itu sangat tebal. Isinya pun bermacam-macam, tapi tak ada satu pun yang bisa Asya baca.
"Wah, apa akhirnya kamu tertarik untuk belajar Ilmu Tauhid?" tanya Aminah antusias begitu Anastasia menyentuh sebuah buku bertulisan aksara jawi.
"Buku itu," ucap Aminah yang kemudian memberi tahu, "Itu adalah Kitab Tauhid. Kitab yang di dalamnya membahas mengenai keesaan Allah Yang Mahakuasa."
"Keesaan?" Anastasia tak begitu paham.
"Iya, kamu akan belajar banyak hal menakjubkan di sana," Aminah pun mengambilkan buku itu dan membukanya, "Apa kamu mau mendengarnya?"
__ADS_1
"Hm," Anastasia mengangguk kecil. Ia sudah mendengar tentang kisah orang-orang hebat sebelumnya. Aminah membacakan dan menjelaskannya dengan baik. Ia pun jadi tertarik untuk mendengar yang lainnya. "Baiklah."
"Mari kita baca pengantarnya dulu," ajak Aminah yang kemudian mulai membacakan teks aslinya. Kitab itu berbahasa Arab. Jadi, setelah Aminah selesai membaca satu paragraf atau kalimat tertentu, ia akan berhenti untuk membacakan artinya.
Hari itu berlalu dengan cepat. Saat Syarif dan Hanif pulang dari pendidikannya, mereka tampak terheran dengan kehadiran Anastasia. Namun, itu hanya sesaat karena mereka segera berhambur kepada Aminah dan memeluknya dengan mesra.
"Mereka seperti mutiara," gumam Anastasia pelan. Dalam lubuk sukmanya yang terdalam, ia mulai mengharapkan kehadiran buah hati. Seakan ia merasa rindu, padahal ia belum pernah bertemu.
"Salim dulu dengan Mama Asya," ucap Aminah mengajarkan etika dan budi pekerti pada kedua putranya.
"Bibi Asya," balas Syarif spontan. Hanif pun mengangguk, lalu mengatakan panggilan yang sama. Mereka berdua memang kompak satu sama lain sejak dulu.
"Syarif, Hanif, panggil Ma-ma A-sya," Aminah tetap berusaha untuk menuntun, tapi Syarif dan Hanif malah menggeleng dan menjawab, "Bibi. Asya."
"Syarif, Hanif …," Aminah mulai berniat menegur, tapi Anastasia segera menolaknya.
"Tak apa, Kak," kata Asya legawa, "Biarkan mereka memanggil sesukanya selama itu sopan."
"Hm," Aminah pun mengangguk pelan, "Baiklah."
__ADS_1
Asya pun terdiam. Sebenarnya, ia sudah berharap agar kedua bocah itu memanggilnya ibu, mama, atau umma sama seperti Aminah. Namun, ia tidak ingin memaksakannya. Lagi pula, ia juga akan segera memiliki anak.
"Iya, kan?" tanya Anastasia dalam hatinya. Itu adalah tanda betapa besar harapannya. Ia tak akan pernah bisa menyangkalnya.