Berbagi Cinta: Puspita Timur & Barat

Berbagi Cinta: Puspita Timur & Barat
Dendam yang Tak Padam


__ADS_3

Sang pria tua tak terlihat sampai menjelang tengah hari. Orang tua beruban itu pulang dari perburuannya dengan membawa dua ekor burung puyuh dan beberapa macam tanaman. Ia hanya tersenyum pada Schultz yang masih berjemur saat lewat di depannya.


Sepanjang pagi ini, Schultz telah memikirkan banyak hal. Ia jadi ingat dengan misinya yang telah gagal. Kekuatan musuh lebih besar dari dugaannya. Lagi pula, daripada memintanya memetakan kota, organisasi pasti punya cara lain untuk mendapat informasi tersebut.


“Kakak, tolong jaga ayah setelah kepergianku,” Schultz terkesiap seketika saat ingatan tentang Anastasia muncul. Dalam ingatan terakhirnya, gadis itu tampak menangis sambil tersenyum. Ada noda kepasrahan di wajah adik perempuannya itu. Sebagai seorang kakak, tentu ia tak tega membiarkannya.


“Bodoh! Kau tidak perlu melakukan itu,” maki Schultz. Kakinya pun menendang sebuah batu. Batu itu menggelinding jatuh sampai ke tempat sang pria tua sedang mencuci bahan makanannya.


Sang pria tua itu pun menoleh pada Schultz. Dilihatnya ada ekspresi buruk yang tercetak di wajah pemuda berambut pirang itu . Sang pria tua pun menghela napas. Ia memang tidak tahu bagaimana kisah hidup Schultz, tapi ia tetap berharap agar pemuda itu tidak termakan dalam amarahnya.


Schultz kembali mengingat masa lalunya. Potongan-potongan memori itu seolah muncul sepenggal demi sepenggal. Dilihatnya anak panah yang saat itu hampir mengenainya di brigantin, juga panah yang menyasar perahunya sebelum tertangkap. Pemuda itu pun mengepalkan tangannya. Ia bersumpah bahwa dirinya akan membalaskan dendam atas penghinaan ini.


“Nak, aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi wajahmu itu menunjukkan sesuatu yang tidak baik,” kata sang pria tua yang tiba-tiba muncul di dekat Schultz terduduk, “Nak, biarkan orang tua ini memberimu sedikit nasihat. Jangan sekali pun kamu jatuh dalam bujuk rayu setan. Sesungguhnya setan itu mengajak kepada keburukan dan menghalang-halangi yang haq. Ialah musuh yang nyata.”


“Pak tua, itu bukan urusanmu,” balas Schultz dengan ketus.


“Nak, dendam adalah penyakit hati yang akan menghancurkan segala hidupmu. Buang jauh-jauh dendam itu apabila kamu memilikinya dalam hatimu,” sang pria tua tetap melanjutkan mewejangnya tanpa peduli dengan sikap Schultz yang kuran sopan, “Kamu hidup tidaklah sendiri. Kuharap kamu bisa mempebaiki sikapmu di masa mendatang.”


Schultz mendengarkan perkataan sang pria tua dan sempat merenungkannya. Namun, saat sosok Anastasia kembali muncul di benaknya, ia pun langsung kembali meneguhkan pembalasan dendamnya. Pemuda itu tak bisa terlalu lama tinggal di hutan ini. Ia segera pamit setelah makan siang bersama sang pria tua.


“Terima kasih atas makanannya, Pak tua,” kata Schultz memberi hormatnya.

__ADS_1


Sang pria tua tersenyum. Ia pun memberikan sebuah bekal kepada pemuda itu untuk dimakannya pada sore nanti. “Maaf, hanya ini yang dapat kuberikan padamu. Semoga kita dapat bertemu lagi di masa depan. Saat itu terjadi, mari kita mengobrol dan minum wedang jahe bersama lagi.”


“Tentu saja, Pak tua,” Schultz membalas senyumnya. Ia pun pergi meninggalkan gubuk kecil itu. Ekspresinya segera berubah saat ia sudah cukup jauh dari sana. Dendam di hatinya lagi-lagi membara. Ia ingin segera kembali ke organisasi untuk melancarkan ambisinya.


Setelah berjalan hampir seharian penuh, Schultz sampai di sebuah kota kecil. Tidak, itu lebih seperti desa besar. Tidak ada yang menjaga gerbangnya. Padahal, ada rumah-rumah yang lumayan besar di sana. Anak-anak berlarian. Orang-orang bekerja seperti biasa tanpa peduli dengan kehadiran Schultz yang kini telah menyemir kembali rambutnya.


Schultz pun mengelilingi jalan besar di desa itu. Dicarinya sebuah kedai berpelat khusus yang mungkin saja ada di sana. Pemuda itu pun berdecak senang saat melihat kedai berpelat itu benar-benar ada.


“Cih, aku tak punya uang,” gerutu Schultz saat melihat para pelanggan yang asyik minum-minum di kedai. Ia pun mengetuk meja kasir sebanyak bilangan tertentu. Tak lama setelah itu, seorang pria tinggi berbadan kurus muncul di depannya sebagai seorang butler.


“Apa yang ingin Anda pesan, Tuan?” ucap pria tinggi itu dengan ramah. Schultz pun mengucapkan beberapa patah kata yang merupakan kode masuk ke bagian bayang-bayang kedai. Ia segera diantar ke sana setelah mengonfirmasikan identitasnya.


“Sir Raiziger, senang bertemu denganmu,” sambut seorang pria timbun berpipi bengkak. Pria itu memiliki seringai seram yang terkesan culas. Ia adalah kepala cabang organisasi yang beroperasi di sekitar sini. Schultz menjawab sambutannya tanpa banyak basa-basi. Ia pun melaporkan hasil investigasinya.


“Aku setuju dengan saranmu, Sir Raiziger,” balas si timbun. Ia memutar-mutar pena di jarinya sambil menyandarkan kepala pada tangan lainnya, “Sayangnya, akses kita kepada Malaka telah terputus. Banten dan Kalapa telah jatuh ke tangan aliansi.”


“Cih, apakah tidak ada cara lain?” tanya Schultz kesal.


“Ada, tapi itu adalah rencana jangka panjang. Para atasan pun sudah sering membahasnya,” kata si timbun memberi angin segar. Seringai di wajahnya kembali mengembang. Ia amat suka melihat wajah Schultz yang dipenuhi oleh dendam.


“Pecah belah dan kuasai,” si timbun mengetuk-ngetuk meja dengan penanya, “Sir Raiziger, saat ini kami butuh seorang untuk menyampaikan informasi. Pergilah ke Pakuan. Bawa surat ini dan sampaikan kepada direktur pusat yang ada di sana. Kami akan menyiapkan kendaraan Anda untuk ke sana.”

__ADS_1


Schultz menerima misi itu tanpa pikir panjang. Masa bodoh dengan segala risiko yang akan menimpanya. Sebelum ia bisa menuntaskan dendamnya, ia tidak akan bisa sedkit pun hidup dengan tenang.


Pemuda itu diberi seekor kuda untuk pergi ke Pakuan di hari berikutnya. Saat melihat kuda yang akan ditumpanginya, Schultz kembali mengingat sesuatu. Kuda berwarna cokelat yang mirip seperti ini pernah ditumpangi oleh seseorang yang amat dekat dengannya. Karena itu, Schultz tiba-tiba mengingatnya.


Yah, warna kuda ini mirip dengan kuda yang ditumpangi Anastasia di lembah Kumuning waktu itu. Saat itu, Schultz melihat adiknya bersisian dengan seorang pria. Mereka saling melindungi satu sama lain seolah keudanya adalah satu tubuh yang saling membutuhkan. Rasanya sungguh jijik mengingat hal itu.


Schultz jadi geram membayangkannya. Ia pun memacu kudanya dengan perasaan marah dan emosi yang kian bertambah. Selama perjalanan berlangsung, pandangannya terhadap Anastasia mulai berubah sedikit demi sedikit. Apalagi, memori keserasian adiknya itu terus terulang di benaknya. Ia tidak terima dengan itu. Padahal, ia sudah berencana untuk membebaskan Anastasia. Namun, ….


“Ah, sudahlah,” gumam Schultz dalam hatinya, “Aku tidak perlu peduli lagi dengannya. Dia telah berkhianat. Kelak, aku sendiri yang akan mencabut nyawanya.”


Begitulah awal dari jatuh Schultz de Raiziger ke lembah terdalam. Diabaikannya nasihat dan wejangan sang pria tua. Bujukan setan lebih indah terdengar di telinganya. Saat ini ia belum sadar bahwa setan-setan itu akan berpaling darinya ketika ia tidak lagi berguna untuk mereka.


...***...


“Tersangka kembali terlihat di kota ini. Entah apa yang dilakukannya di sana,” kata Ki Fadil saat memberikan kabar terbaru tentang kasus pelarian Schultz, “Dia hilang lagi di hutan sekitar kota. Melihat bagaimana pola pergerakannya yang cepat, ia mungkin akan sampai di kota lain pada beberapa hari mendatang.”


“Terima kasih atas informasinya, Ki Fadil. Kami pasti akan selalu waspada dan bertindak cepat jika tersangka memasuki Tasik,” ucap Amir berjanji. Kota yang dikelolanya tak jauh dari tempat terakhir kali Schultz terlihat. Bisa jadi, orang dari Lojie itu akan berkunjung ke tempatnya untuk melakukan sesuatu yang tidak dimengerti.


“Oh, ya. Menurut laporan para saksi, kondisi kejiwaan tersangka terlihat aneh. Ada yang bilang bahwa dia sudah gila. Jika dia benar-benar masuk ke Tasik, maka lindungilah rakyat dan keluargamu dengan hati-hati,” ucap Ki Fadil menasihati, “Terutama istri keduamu yang merupakan saudari dari tersangka.”


“Saya akan mengingatnya,” balas Amir dengan raut wajah yang serius. Pertemuannya dengan Ki Fadil hari itu pun usai. Ia kembali pada pekerjaannya seperti biasa. Namun, hatinya tetap was-was ketika mengingat peringatan dari gurunya.

__ADS_1


“Ya Allah, sungguh aku memohonkan perlindungan untuk keluargaku kepada-Mu,” doa Amir sekaligus menenangkan hatinya, “Sungguh, hanya kepada Engkaulah hamba bertawakal.”


Entah bagaimana masa depan akan mengarah, tak ada seorang pun yang tahu.


__ADS_2