
"Ter... terbuka..!? "
Ucapku heran.
Pintu menuju kokpit Diprotorium yang memiliki rumor bahwa tidak ada satupun yang mampu membukanya selain Dr. Zen ternyata mampu aku bantahkan.
.
.
.
Pertanyaanku yang terbesit didalam hati..
.
.
.
Apabila aku tidak mampu membuka pintu ini, maka apa yang membedakanku dengan Dr. Zen?
.
.
.
Lalu..
.
.
.
Apabila aku mampu membukanya, maka apa yang membedakanku dengan rekan-rekanku?
.
.
.
Apapun itu aku yakin hanya Dr. Zen yang mampu menjawabnya..
.
__ADS_1
.
.
...
Didalam kokpit Diprotorium sengat luas. Terdapat ukiran-ukiran disetiap sudut. Ukiran-ukiran tersebut membentuk pola yang begitu aneh.
Tepat dibagian tengah kokpit terdapat dua buah perangkat yang biasa digunakan untuk menggabungkan kesadaran pilot dengan partnernya.
Perangkat tersebut nampak sangat berbeda dengan perangkat yang terdapat pada ruang latihan maupun M.E.C.H.A pada umumnya.
Perangkat tersebut terlihat sangat kompleks dengan banyak kabel yang melintang dan saling menghubungkan.
Sama halnya dengan kebanyakan M.E.C.H.A pada umumnya, Diprotorium nampak memiliki kapsul darurat. Fungsi dari kapsul darurat itu sendiri untuk melontarkan pilot keluar dari kokpit ketika dalam keadaan bahaya.
Semua yang terdapat didalam kokpit tersebut sangat berbeda dengan M.E.C.H.A pada umumnya. Semua didalam kokpit nampak memiliki ukiran-ukiran.
"Tidak kusangka aku mampu membuka pintunya. "
"Tapi mengapa yang lain tidak bisa? "
"Apa yang membedakanku? "
Aku sangat takjub dengan isi didalam kokpit tersebut. Terlihat sangat indah, terlihat sangat modern, terlihat sangat kompleks, terlihat bukan seperti buatan manusia.
Hal tersebut membuat banyak pilot menginginkan untuk mengendalikan Diprotorium. Namun M.E.C.H.A ini menolak kehadiran mereka.
Apapun itu M.E.C.H.A ini sudah melawati banyak sekali pertarungan. Melawan para Ignity, mencari sebuah kebebasan manusia.
Namum semenjak Dr. Zen pensiun menjadi pilot dan mengabdikan dirinya menjadi seorang ilmuwan membuat Diprotorium tidak pernah menginjakan kakinya ke medan perang kembali.
"Aku mohon ijinkan aku mengendalikanmu suatu saat! "
Aku sadar bahwa malam semakin larut jadi aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Ketika aku berjalan keluar dari kokpit kakiku tidak sengaja menginjak sebuah lembaran foto.
Di foto tersebut nampak pemandangan yang sangat indah. Terdapat padang rumput hijau serta langit cerah berawan. Nampak pula seorang pria dewasa sedang mengendong seorang anak kecil.
Anak kecil tersebut sama sekali tidak terlihat seperti manusia. Kulitnya berwarna biru dan juga terlihat memiliki ekor.
.
.
.
Mereka berdua tersenyum dan terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
.
.
.
Aku meletakan foto itu kembali dan berjalan keluar dari kokpit. Ketika aku berada diluar kokpit, pintu kokpit kembali menutup dan garis merah terang seketika memudar.
Aku bergegas kembali ke kamar tidur secara diam-diam agar tidak ketahuan oleh siapapun.
"Aku janji akan membawamu ke medan perang kembali, Diprotorium!"
...
[Keesokan Hari. ]
Sirene berdengung sangat kencang membuatku terbangun dari tidurku. Ketika aku melihat keluar jendela kamarku, semua orang nampak panik.
**Perhatian..perhatian..!!
Semua pilot diharap segera bergegas berkumpul aula M.E.C.H.A
Perhatian.. perhatian**..!!
"Ah... aku harus bergegas! "
Ucapku sembari mengenakan seragam.
Semua pilot beserta partnernya dengan segera berkumpul diaula tempat dimana M.E.C.H.A kami disimpan.
Di aula tersebut Drico sudah berdiri tegap menunggu kehadiran kami. Disamping Drico terdapat semacam hologram.
Hologram tersebut menampakan segala informasi mengenai Ignity yang sedang berada diluar tembok barlum 09.
"Ini memang sangat awal bagi kalian! Tapi aku memiliki misi untuk kalian! "
"Misi..?!"
"Ignity kelas Vreno dengan tinggi 30 meter sedang mendekat! Bersiap untuk bertempur! "
"Siap! "
.
.
.
__ADS_1
"Pertarungan kami yang pertama! Akan segera dimulai! "