
Pria tersebut sedang berjalan menuju ruang uji coba dengan sesosok monster digengamnya.
Dengan sekuat tenaga anak tersebut terus meronta. Tetapi semua usahanya sia-sia, pria tersebut terus menyeretnya.
"Hentikan dasar monster! Gara-gara dirimu kami hampir punah! " Ucap pria itu penuh emosi.
Tak lama kemudian seorang gadis kecil berlari mendekati pria yang tengah menyeret anak monster teresebut.
"Ayah! Hentikan! Apa yang akan ayah lakukan?! " Teriak gadis tersebut.
Mendengar teriakan gadis tersebut, pria itu berhenti berjalan kemudian menatap gadis itu dengan mata sedikit berkaca-kaca.
"Tenang saja, putriku. Ayah akan menyembuhkanmu. " Ucap pria itu.
"A.. apa yang ayah bicarakan? Mau ayah apakah anak itu? " Balas gadis tersebut.
Pria tersebut kembali berjalan tanpa mengucapkan satu katapun.
"Ayah! Aku benci ayah! " Teriak gadis itu sembari berlari menjauh.
"Maaf putriku. Tetapi aku mencintaimu. " Balas pria itu perlahan sembari kembali menyeret anak monster tersebut.
...
Didalam ruangan uji coba, anak monster tersebut ditempatkan disebuah tempat tidur. Tangan beserta kakinya diikat. Terdapat semacam kain yang menutup kedua matanya.
__ADS_1
"Tahan bocah! Ini akan sakit!"
Salah seorang profesor di ruangan tersebut mengambil sampel darah anak tersebut. Darah anak tersebut berwarna kuning pekat.
"Sudah aku duga. Darah anak ini sangat sempurna! Operasi pembuatan manusia kloning dapat segera dimulai, pak! "
"Segera ambil sampel darah yang banyak! "
Lelaki yang selalu bersama anak tersebut berlari dengan terhuyung-huyung. Wajahnya telah babak belur akibat dihajar.
"He.. hentikan, pak! Ka.. kalau anda mengambil darahnya terlalu banyak... anak itu bisa mati.. " Ucap lelaki tersebut.
"Hmm.. baiklah! Lepaskan monster itu! Akan sia-sia kalau monster itu mati sekarang! "
Balas pria itu.
"Kamu tidak apa-apa, Axell? "
Tanpa menghiraukan lelaki tersebut, anak monster itu duduk terdiam di pojok ruangan dan terus memandangi bekas darah yang keluar ketika pengambilan sampel.
"Ma.. maafkan aku.. " Ucap lelaki tersebut sembari menutup ruangan tersebut.
...
Pada hari-hari berikutnya, anak tersebut kembali di uji coba oleh orang-orang didalam lab tersebut. Darah anak tersebut juga diambil sekali dalam sehari.
__ADS_1
Suatu hari, pintu ruangan tersebut terbuka namun bukan para petugas yang biasa melakukan uji coba, melainkan gadis yang sebelumnya. Gadis tersebut membawa sebuah buku cerita bergambar ditangannya.
Tanpa ragu gadis tersebut masuk kedalam ruangan tersebut dan duduk disebelah anak monster tersebut.
"Ini semua pasti ulah ayah dan rekan-rekannya. Orang dewasa memang kejam. "
Ucap gadis tersebut sembari melihat bekas luka ditubuh anak tersebut.
Gadis tersebut membuka buku ceritanya dan mulai membaca halaman per halaman dan menunjukkan gambar-gambar menarik kepada anak monster tersebut.
"Kisah yang bagus, ya.. Hei.. hei.. lihat.. ini yang dinamakan ksatria.. dan ini naga!."
Ucap gadis tersebut riang.
"Hini.. hapa..? "
Kata anak tersebut sembari menunjuk kearah gambar seekor burung yang sedang terbang.
"Seekor burung. Ahh... pasti enak, bukan bisa terbang bebas kesana kemari. Bebas... tidak perlu menerima perintah apa yang harus dilakukan.. " Balas gadis tersebut.
"Hurung..?? "
...
"Sudah dulu ya.. besok aku janji akan kemari lagi.. Oh, ya.. aku juga minta ayahku untuk memperbolehkan kita bermain bersama.. "
__ADS_1
Wajah anak monster tersebut seketika tersenyum kembali. Gadis tersebut membalas senyuman hangat diwajahnya sembari menutup pintu ruangan tersebut.