
Sama seperti hari sebelumnya, gadis itu terus menerus mengunjungi anak monster tersebut. Gadis tersebut tidak sekedar mengunjunginya. Mereka berdua bermain bersama, membaca buku yang mengisahkan dongeng-dongeng, dan tak jarang pula sang gadis mengajari anak tersebut berbicara bahasa manusia.
Hari demi haripun berlalu. Anak monster tersebut sudah mulai lancar untuk berbicara, meski terkadang terdapat kesalahan dalam mengucapkan beberapa kata.
Lelaki yang membawa anak tersebut ke laboratorium berhenti mengunjungi anak tersebut. Meski begitu anak monster tersebut tetap berbahagia karena ia mendapatkan teman baru yang senantiasa mengunjunginya setiap waktu.
"Hei...hei...siapa namamu?" Ucap gadis itu.
Meski mereka berdua sudah lama bermain bersama namun sang gadis masih belum mengetahui nama anak tersebut dikarenakan anak tersebut yang masih belum dapat berbicara dengan lancar sebelumnya.
"Eh...namaku..?!" Balas anak tersebut.
"Iya..siapa namamu?"
"A...Axell. Bagaimana denganmu? Ciapa namamu?"
Sang gadispun tersenyum.
"Namaku Olivia.." Balas gadis tersebut.
Tiba-tiba gadis tersebut tersungkur dengan kedua tangannya menekan dadanya.
__ADS_1
"K..kamu kepapa..??" Ucap anak tersebut panik.
"TIdak apa-apa. Aku rasa penyakitku mulai kambuh lagi. Kelihatannya semakin hari semakin sering seperti ini." Balas gadis tersebut.
"Kalau begitu kita lanjut bermain besok, ya? Aku harus menemui ayahku sekarang." Lanjut gadis tersebut sembari berjalan keluar ruangan.
...
Dengan menahan rasa sakit, sang gadis pergi keruangan ayahnya.
"A..ayah.."
Gadis tersebut tiba-tiba tidak sadarkan diri. Dada gadis itu mengeluarkan semacam cahaya merah menyala. Suhu badan gadis tersebut meningkat drastis. Dengan segera pria tersebut mengambil semacam obat dan menyuntikkannya.
"Andai saja. Andai saja waktu itu ayah tepat waktu, kamu tidak mungkin akan terpapar radiasi itu. Maafkan ayah, putriku! Maafkan ayah! " Ucap pria tersebut sembari memeluk sang gadis yang tengah tidak sadarkan diri.
...
"Kita harus segera menciptakan seorang manusia kloning! Segera!" Ucap ayah gadis tersebut.
"Ta..tapi pak! Kita masih membutuhkan setidaknya 1 liter darah anak monster itu." Balas seorang ilmuwan di ruangan tersebut.
__ADS_1
"Putriku. Putriku tidak dapat diselamatkan lagi! Suatu hari ia akan meninggalkan karena penyakit ditubuhnya. Kloning adalah satu-satunya cara agar ia bisa hidup kembali! Maka dari itu. Segera ambil lagi darah anak monster itu segera!" Perintah pria tersebut.
Gadis yang sebelumnya tidak sadarkan diri kini sudah siuman dan mendengar segala percakapan yang pria tersebut beserta seluruh rencananya. Gadis itupun lantas berlari kembali ke ruangan dimana anak monster itu berada.
"Axell..!! Kamu ingin bebas, kan? Ayo ikut aku! Kamu akan segera keluar dari tempat ini!" Kata gadis itu tergesa-gesa.
Dua orang ilmuwan yang akan mengambil darah anak monster tersebut mendapati bahwa ruangan tempat anak tersebut tinggal telah terbuka lebar dan tidak ada siapapun didalam ruangan tersebut.
"Segera bunyikan alarm! Anak monster itu telah melarikan diri!" Ucap salah seorang ilmuwan tersebut.
Alarmpun dibunyikan. Beberapa penjaga lab tersebut mencari keberadaan anak monster itu. Di lain sisi sang gadis dan anak monster itu tengah berlari menuju pintu belakang lab.
"Itu dia! Cepat kejar!" Teriak seorang penjaga.
Para penjaga lab terus mengejar gadis beserta anak monster tersebut dan sampailah mereka di pintu belakang lab tersebut. Seorang penjaga yang berhasil menyusul mereka berdua mengarahkan sebuah pistol kearah anak monster tersebut.
"Berhenti!" Teriak penjaga tersebut mengancam.
Sang gadis yang tidak memperdulikan ancaman penjaga tersebut kini telah berhasil membuka pintu belakang dari lab tersebut. Hal tersebut membuat penjaga itu panik dan tidak sengaja melepaskan tembakan.
BANGG...!!!
__ADS_1