
Status : Belum Terhubung
.
.
.
Bersiap untuk menggabungkan kesadaran
.
.
.
1..
.
.
.
2..
.
.
.
3..
.
.
.
Start...
.
__ADS_1
.
.
Status : Mulai Terhubung
"Kenangan ini! Potongan-potongan gambar yang selama ini aku lihat kini... mulai nampak lebih jelas! "
...
[Kenangan yang Terlihat]
Seorang lelaki tengah berjalan dengan seeorang anak kecil. Anak kecil tersebut tidak nampak seperti anak manusia pada umumnya.
Seluruh kulitnya nampak berwarna biru. Kuku jari maupun kakinya panjang runcing, dan yang sangat aneh adalah anak tersebut memiliki sebuah ekor.
"Mulai hari ini, tempat ini adalah rumahmu. "
Ucap lelaki itu kepada anak tersebut.
Seakan-akan tidak mendengar apa yang lelaki itu katakan, anak lelaki tersebut terdiam dan hanya melihat ke sekeliling bangunan tersebut.
"Kalau begitu, mari kita melihat-lihat kedalam." Ucap lelaki tersebut dengan senyum hangat diwajahnya sembari menggandeng tangan anak tersebut.
Disetiap ruangan yang mereka berdua lalui nampak ruangan-ruangan dengan dibatasi kaca jendela. Didalam ruangan tersebut terdapat sebuah tempat tidur dan beberapa alat lainnya.
Kemudian mereka kembali berjalan dan sampai didepan sebuah ruangan. Ruangan tersebut hanya terdapat satu buah pintu sebagai akses keluar masuk.
Tidak terdapat jendela maupun ventilasi. Pintu dari ruangan tersebut nampak terbuat dari besi dengan papan sandi disampingnya.
Pemuda tersebut menekan beberapa nomor di papan sandi sehingga membuat pintu tersebut terbuka.
Didalam ruangan tersebut sangatlah gelap. Rasa lembab serta pengap terasa dikarenakan ruangan tersebut tidak memiliki jendela maupun ventilasi.
Didalam ruangan tersebut hanya terdapat sebuah tempat tidur, sebuah meja, dan sebuah kursi yang terbuat dari besi.
"Nah, ini adalah kamarmu mulai saat ini. Masuklah. " Ucap lelaku tersebut.
Didorong rasa penasaran, anak tersebut masuk kedalam ruangan tersebut. Tanpa disangka lelaki tadi menutup pintu dari ruangan tersebut sehingga anak tersebut terkunci didalam.
"buka.. aggu.. akut... helap.. kuka.. "
Ucap anak tersebut dari dalam ruangan tersebut sembari sesekali mengedor-gedor pintu tersebut.
__ADS_1
Namun, lelaki yang bersamanya tadi tidak kunjung membuka ruangan tersebut kembali dan meninggalkan anak tersebut sendirian diruangan tersebut.
Gelap, pengap, dingin, sendirian. Hanya ada rasa kesal serta takut yang anak tersebut rasakan. Anak tersebut hanya terduduk diam dipojok ruangan dan menundukkan kepalanya.
Pada keesokan harinya, pintu dari ruangan tersebut terbuka. Nampak lelaki yang dulunya bersama anak tersebut berdiri dibalik pintu.
Tangan lelaki tersebut terlihat sedang menggengam sesuatu. Raut wajah lelaki tersebut terlihat seperti kehilangan sesuatu didalam hidupnya.
"A.. Axell.. Aku kembali.. " Ucap lelaki tersebut.
Mendengar ucapan lelaki tersebut dengan spontan anak tersebut langsung berlari menghampiri lelaki tersebut.
"Ini adalah sesuatu untukmu. " Ucap lelaki tersebut sembari menyuguhkan sebuah manisan kepada anak tersebut.
Dikarenakan penasaran, anak tersebut langsung merebut manisan tersebut dan memasukkannya kedalam mulutnya.
"Ehh.. tunggu...kamu harus membuka bungkusnya dulu. " Ucap lelaki tersebut panik.
Lelaki tersebut mengajarkan beberapa kata kepada anak tersebut.
"Namaku Axell. "
Ucap lelaki tersebut perlahan.
"Hamayu Ayel..."
Kata anak itu mencoba mengulang perkataan lelaki tersebut.
"Tidak.. tidak.. na.. ma.. ku.. Axell.. "
Ucap lelaki tersebut kembali.
Tidak lama kemudian seorang pria lain berdiri dihadapan mereka.
"Doktor, kita harus segera menguji coba dia." Ucap pria tersebut.
"Tapi.. dia belum siap. Tidak bisakah kalian menunggu beberapa minggu lagi? "
Balas sang lelaki.
"Kalau begitu sampaikan sendiri kepada pak kepala."
Ucap pria itu sembari berjalan keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
"Kalau begitu Axell, aku harus segera pergi. Besok aku janji akan kembali, OK? "
Setelah mengatakan hal tersebut, lelaki itu berdiri kemudian berjalan keluar ruangan menyusul pria sebelumnya. Pintu dari ruangan itu kembali ditutup oleh lelaki tersebut. Meninggalkan anak tersebut dalam kegelapan dan rasa takut kembali.