Blacklight A Life

Blacklight A Life
Chapter 10


__ADS_3

"Eommaa!!!" teriak Yeri memanggil sang eomma saat ia memasuki mansionnya.


"Yeri-a,Sayang!! Kenapa kau berteriak seperti itu. Kau mengagetkan eomma." ucap nyonya Park setelah berlari dari dapur menghampiri Yeri yang tiba-tiba berteriak memanggilnya.


"hehe.. Maaf eomma. Dan Yeri akan menceritakan sesuatu ke eomma. Ini tentang appa" ucap yeri dengan antusias.


"Appa? Ada apa dengan appamu itu, Yeri-a? Ceritakan pada eomma."


"Appa sa.."


"Yeri-a!!! Anak appa. Kau baru pulang dari sekolah pergilah bersihkan tubuhmu dulu, badanmu sangat bau keringat." potong tuan Park tiba-tiba.


Yeri yang mendengar itupun mendengus kesal. Bisa-bisa nya appanya mengatai nya bau, padahal Yeri di sekolah tidak banyak gerak selain duduk di kantin sambil mengobrol dengan Hansu dan Anna. Bagaimana bisa dia bau keringat. Appa nya benar-benar tidak akan membiarkan Yeri memberitahu appanya yang selalu menguntit eomma nya dulu saat masih sekolah.


"Eomma, liat appa. Appa mengatai Yeri Bau.. Padahalkan Yeri wangi dan Yeri di sekolah juga gak banyak gerak. Appa menyebalkan sekali eomma." aduh Yeri pada sang Eomma. Dengan mempautkan bibir lucu dan menggoyang-goyangkan lengan sang eomma.


Nyonya dan tuan Park pun dibuat tertawa dengan tingkah Yeri. Sungguh, putrinya yang satu ini sangat menggemaskan.


"Aigo.. Eomma akan memarahi appa mu sekarang. Karena telah mengatai putri eomma yang cantik ini bau keringat." Ucap nyonya Park sambil mengelus kepala Yeri.


"Kau memang selalu bisa membuat eomma mu, membelamu Yeri-a.." Ucap Tuan Park gemas pada sang putri.


"Tentu saja eomma akan selalu membelaku. Marahi appa sekarang eomma."


"Iya.. Iya.. Eomma marahi sekarang. Tapi, pergi ke kamar dan mandi dulu. Setelah itu turun, eomma sudah buatkan camilan sore untuk kita." jawab nyonya Park.


"Benarkah? Apa eomma membuat camilan manis?" tanya Yeri dengan binar mata senang. Dan dijawab anggukan dan senyum manis nyonya Park.


"Baiklah. Kalau begitu Yeri ke atas dulu. Eomma, appa." pamit Yeri. Dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Yeobo, Sebenarnya apa yang mau di ceritakan Yeri?" tanya nyonya Park pada sang suami.


"Hanya cerita masalalu kita dulu Yeobo." ucap tuan Park dengan senyum jahilnya.


"Masalalu kita? Yak.. Kau sudah tua, masih saja menceritakan masalalu ke putri kita. Dasar pak tua."


"Yak, apa salahnya aku menceritakan tentang kita dulu. Toh, Yeri anak kita."


"Terserah kau sajalah."


Yeri melihat dan mendengar semua obrolan orang tuanya di lantai bawah. Yeri bahagia sekarang, keluarganya benar-benar menjadi keluarga yang hangat. Yeri tidak ingin keluarga nya seperti dulu, yang selalu sibuk dan tidak pernah ada waktu. Bahkan, tidak memperdulikan dan memperhatikannya.


"Eomma, appa. Yeri tetap ingin seperti ini. Selamanya." ucap lirih Yeri dengan senyum manis terukir cantik di wajahnya. Dan tanpa sadar Yeri menjatuhkan air mata.


25menit kemudian...


Yeri turun dari lantai atas tempat kamarnya. Ia berjalan ke ruang keluarga lantai bawah. Disana sudah duduk appa dan eommanya yang sedang mengobrol dan juga menikmati teh dan camilan. Sungguh, pemandangan yang sangat jarang sekali Yeri lihat.


"Appa, eomma." panggil Yeri mendekat.


"Kau sudah turun sayang. Kemari dan duduk lah." sahut nyonya Park.


Yeri pun mendudukkan diri di tengah-tengah orang tuanya. Ia segera menerima gelas teh yang sudah eommanya siapkan. Meminum teh hangatnya dan juga mencicip camilan yang dibuat eomma.

__ADS_1


"Apa manis nya pas?" tanya nyonya Park saat Yeri mencicipi kue yang ia buat.


"Ini enak sekali eomma. Yeri suka." jawab Yeri dengan senyum ceria. Dan kembali menyuapkan lagi kue buatan sang eomma kemulutnya.


"Hmm appa.." panggil Yeri saat mulutnya masih terisi Kue.


"Habiskan Kue yang di dalam mulut mu itu Yeri-a. Baru setelah itu bicara." Ucap Tuan Park.


"Maaf appa." Jawab Yeri ketika sudah menelan habis kue yang dia kunyah.


"Hmm.. Sekarang bicara? Kenapa memanggil appa?"


"Appa.. Bolehkah Yeri pergi bersama Hansu dan Anna malam ini?" Jawab Yeri dengan nada pelan dan menundukkan kepalanya meminta izin.


Tuan Park yang melihat Yeri menunduk takut itupun, langsung mengelus sayang kepala Yeri, Memegang tangan Yeri, yang jarinya saling bertautan karena gugup dan takut. Nyonya Park yang melihat interaksi sang suami dan putrinya itupun hanya tersenyum hangat.


"Kenapa kau menundukkan kepala mu, Yeri-a? Apa kau takut pada appa mu ini?" tanya Tuan Park.


Yeri pun langsung menggelengkan kepalanya cepat dan mendongakkan kepalanya untuk menghadap sang appa, yang masih menggenggam tangannya.


"Ti-tidak appa. Yeri.."


"Appa mengerti. Sudah.. Dan appa izinkan, asal jangan pulang terlalu larut malam. Kau mengerti?"


"Yeri, janji tidak akan pulang larut malam appa. Terimakasih appa. Yeri sayang appa." Ucap senang Yeri dan memeluk sang appa.


"Lagi-lagi eomma di lupakan." sahut Nyonya Park dengan nada sedih.


Yeri dan Tuan Park yang mendengar itupun langsung merengangkan pelukan, saling menatap dan tersenyum..


Sebuah keluarga itu ada untuk saling melengkapi, melindungi, dan saling memberi kasih dan sayang. Memberikan dukungan dan nasihat jika salah satu dari keluarga mengalami hal yang kurang baik. Bukan untuk saling mengabaikan, sekarang Yeri sudah mendapatkan keluarga yang dia inginkan. Appa dan eomma yang selalu perhatian, memiliki waktu untuknya, mengobrol dan berkumpul bersama untuk menyalurkan segala kasih sayang. Yeri mendapatkan kasih sayang orangtuanya kembali.


******


"Yeri-a!!!" panggil seseorang saat Yeri akan memasuki cafe tempat pertama kali Yeri, Hansu dan Anna merayakan pertemanan mereka.


"Lim Hwan-ssi?" Sahut Yeri saat melihat siapa yang memanggilnya.


"Syukurlah..Kau masih mengingatku." Jawab Hwan.


"Tentu aku masih mengingatmu. Bagaimana kau bisa disini, Hwan-ssi?" Tanya Yeri.


"Aku baru saja menemui temanku, dan sedang berjalan-jalan sebentar. Lalu aku melihatmu saat akan memasuki cafe. Aku senang bisa bertemu denganmu lagi disini." Jelas Hwan.


"aahh begitu.. Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi. Sepertinya pertemuan kita memang selalu tanpa disengaja."


"Ya, kau benar Yeri-ssi. Aku selama seminggu lalu menghubungimu, tapi kau tidak pernah menjawabnya. Bahkan, pesanku juga tidak kau balas. Apa terjadi sesuatu pada mu, Yeri-ssi?" Tanya Hwan untuk memastikan.


"Aku baik-baik saja. Maaf, aku sedang sibuk belajar seminggu lalu untuk menyiapkan ujian semester pertama. Aku masih seorang pelajar." bohong Yeri.


"Begitu ya.. Maaf jika aku mengganggu mu." jawab Hwan tidak enak hati.


"Tidak apa Hwan-ssi. Kau tidak menggangguku, aku yang harusnya minta maaf karena tanpa sengaja mengabaikkanmu."

__ADS_1


"Ti.."


"Yeri-a!!" Panggil Hansu saat baru datang bersama Anna. Yeri pun membalas dengan melambaikan tangannya.


"Kalian sudah datang?" ucap Yeri.


"hmm.. Dia?" Jawab dan Tanya Hansu saat melihat Hwan.


"Ah.. Kenalkan aku Lim Hwan. Teman Yeri juga." Sahut Hwan memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya kepada Hansu dan Anna.


"Hansu, Kim Hansu. Teman sekolah Yeri."


"Lee Anna, aku juga teman sekolah Yeri."


"Senang bisa berkenalan dengan kalian." Ucap Hwan ramah.


"Bisakah kita masuk kedalam dan memasan minum. Hwan-ssi jika kau mau, kau bisa bergabung dengan kami. Aku akan mentraktirmu sebagai ucapan maaf karena mengabaikan panggilan dan pesanmu." Sahut Yeri.


"Tentu."


*****


"Hyung!!" Panggil Soo Jae.


Mereka kini sedang di restoran tempat Hye-joon akan bertemu dengan wanita yang ia ajak untuk kencan buta.


"Kenapa? Bisakah kau tersenyum sedikit? Kau akan membuat takut wanita-wanita yang ikut kencan buta ini, Soo Jae-a." Sahut Hye-joon jengah melihat ekspresi dingin dan datar Soo Jae.


"Aku tidak peduli. Kau yang akan kencan buta bukan aku." Jawab acuh Soo Jae.


"Kau benar-benar tidak membantu." Ucap Hye-joon kesal mendengar jawaban dan sikap Soo Jae.


"Permisi.. Apa anda Choi Hye-joon?" Tanya seorang wanita yang menghampiri meja Hye-joon dan Soo Jae.


"Ya, aku Hye-joon, Choi Hye-joon. Kau Hara?" Jawab Hye-joon sambil beranjak berdiri menyambut wanita tersebut dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


Wanita tersebutpun tersenyum cantik, dan membalas jabatan tangan Hye-joon. Wanita itu tidak sendiri, ia juga mengajak teman wanitanya juga. Tanpa basa-basi, Hye-joon langsung mempersilahkan kedua wanita cantik itu untuk duduk di kursi berhadapan dengannya dan Soo Jae.


"Maaf jika membuat kalian menunggu lama... Dan dia?" Ucap Hara dan bertanya saat melihat Soo Jae yang hanya duduk dengan raut muka datar dan fokus dengan ponselnya.


"Yakk... Kenalkan dirimu." ucap Hye-joon berbisik sambil menyikut lengan Soo Jae pelan.


Huft...


Soo jae pun menghela nafas kasar. Haruskah ia memperkenalkan dirinya juga?bukankah yang bekencan mereka? Lalu untuk apa juga ia repot-repot meperkenalkan diri. Tidak penting sekali.


"Kim Soo Jae." Ucap Soo Jae malas menatap sebentar dua wanita di hadapannya dan kembali fokus pada ponselnya.


"Hahaha... Dia memang pria seperti ini, Dingin. Jadi, harap memakluminya." Ucap Hye-joon dengan di iringi tawa Garing.


Kedua wanita itupun hanya tersenyum simpul dan mengangguk mengerti. Sudah, bisa dilihat jika Soo Jae bersikap seperti itu, karena merasa tidak nyaman dan tidak perduli dengan kencan buta yang Hye-joon lakukan.


"Kapan acara kencan buta ini selesai. Membosankan dan membuang waktu saja." ucap Soo Jae dalam hati.

__ADS_1


********


__ADS_2