Blacklight A Life

Blacklight A Life
Chapter 23


__ADS_3

"Tuan nyonya, saya pamit pulang dulu. Hari sudah semakin malam." pamit Soo Jae kepada kedua orang tua Yeri.


"Baiklah, terima kasih karena mau menjaga Yeri selama kami tidak ada." ucap tuan Park berterima kasih.


"Iya, eomma juga berterima kasih. Maaf jika sudah merepotkan." sahut nyonya Park.


"Sama-sama tuan nyonya. Dan, saya tidak merasa di repotkan, nyonya." jawab ramah Soo Jae.


Kedua orang tua Yeri mengangguk pelan dengan tersenyum hangat menatap Soo Jae. Mereka merasa Soo Jae adalah lelaki yang baik, sopan dan ramah.


"Yeri-a, aku pulang dulu. Kau beristirahatlah dan ingat, namaku Kim Soo Jae. Jangan lupa itu, hm." ucap Soo Jae pamit ke Yeri.


"Tentu, aku akan mengingatmu." jawab Yeri dengan senyum manis, "Apa kau besok akan kesini lagi?" tanya Yeri penuh harap.


"Tentu." jawab Soo Jae dengan senyum hangat.


Setelah berpamitan Soo Jae pun meninggalkan ruang rawat inap Yeri dengan senyum tipis yang masih menghiasi wajahnya. Entah apa yang sedang Soo Jae pikirkan dan rasakan, hingga senyum tipis di wajah nya tidak menghilang.


******


Malam telah berganti pagi, Yeri yang sudah bangun juga tengah menikmati sarapannya dengan disuapi oleh sang eomma.


Sedang tuan Park, harus pergi bekerja karena ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.


"Eomma." panggil Yeri lirih.


"Kenapa sayang? Kau mau minum? Apa makanannya tidak enak?" tanya nyonya Park.


Yeri menggelengkan kepalanya pelan dengan menatap sendu nyonya Park.


"Ada apa sayang? Kau merasa sakit? Mau eomma panggilkan dokter?" tanya nyonya Park dengan raut khawatir di wajahnya.


"Tidak eomma, aku baik-baik saja. Maafkan aku." jawab lirih Yeri.


"Kenapa kau meminta maaf sayang? Kau tidak salah, jadi jangan minta maaf."


"Maaf karena aku melupakan eomma dan appa." jawab lirih Yeri dengan menunduk dalam.


Nyonya Park yang mendengar itupun merasa sedih, namun ia tetap menampilkan senyum hangat di wajahnya, agar Yeri tidak merasa bersalah dan sedih.

__ADS_1


"Tapi sekarang kau sudah mengingat kami, sebagai orang tuamu sayang. Jadi jangan merasa bersalah dan sedih seperti ini. Sekarang kau hanya perlu fokus dalam pemulihanmu, kau mengerti?." jawab nyonya Park menguatkan Yeri dengan senyum hangat.


"Iya eomma." jawab Yeri dengan tersenyum manis.


"Sekarang, kau harus habiskan sarapanmu." ucap nyonya Park, sembari menyuapi Yeri bubur.


Saat Yeri menikmati sarapannya dengan sesekali mengobrol dengan sang eomma. Tiba-tiba saja pintu kamar rawat inap di buka seorang pria yang berjalan masuk dengan raut wajah terkejut, melihat Yeri yang sudah duduk bersandar di atas ranjangnya.


"Hwan, kau datang? Apa kau tidak bekerja? Hingga datang pagi seperti ini?" tanya nyonya Park saat Hwan datang menjenguk Yeri.


"I-iya eomma, aku-aku sedang tidak sibuk." jawab gugup Hwan dengan menatap Yeri yang juga menatapnya bingung.


"Ye-yeri.." ucap pelan Hwan sembari menatap Yeri.


"Ah, maaf. Eomma kemarin tidak mengabarimu, jika Yeri sudah sadar." jawab nyonya Park yang mengerti maksud Hwan.


"Be-begitukah? Ba-bagaiman keadaanmu, Yeri-a?" tanya Hwan gugup.


"Eomma, dia siapa?" tanya Yeri bertanya pada sang eomma.


"Yeri sayang, dia Lim Hwan. Kalian sudah berpacaran selama 1tahun lebih." jawab nyonya Park memperkenalkan Hwan.


"Berpacaran?" tanya Yeri sedikit tidak percaya.


"Yeri sayang, Hwan adalah kekasihmu." jawab nyonya Park pada Yeri, "Dan Hwan, Yeri mengalami Amnesia Disosiatif. Jadi, dia tidak bisa mengingat apapun tentang dirinya, orang-orang disekitarnya maupun kejadian-kejadian yang sudah dia alami. Dia tidak mengingatnya sama sekali." jelas nyonya Park, menjawab pertanyaan Hwan.


Hwan yang mendengar penjelasan nyonya Park itupun, menaikan sebelah alisnya seolah tidak percaya tentang apa yang terjadi pada Yeri. Namun, sedetik kemudian ia tersenyum tipis.


"Bagulah, dia tidak mengingat apapun. Tapi, kau harus tetap mengingatku sebagai kekasihmu. Tidak, aku akan menjadi suamimu." batin Hwan penuh kemenangan.


"Yeri-a, aku Hwan kekasihmu. Tidak masalah kau melupakanku sekarang. Yang terpenting kau kembali pulih dan sehat, aku benar-khawatir padamu." ucap Hwan yang sudah mendekat di sisi kanan Yeri.


"I-iya." jawab Yeri lirih, seolah merasa tidak nyaman berada di dekat Hwan.


Ketakutan, rasa itu tengah menyelimuti perasaan Yeri. Ia begitu tidak nyaman berada di dekat Hwan, ia merasa takut jika berdekatan dengan Hwan. Entah apa yang terjadi, hingga Yeri merasakan ketakutan berlebihan saat melihat dan berdekatan dengan Hwan.


"Hwan, bisakah kau menjaga Yeri disini? Eomma akan pulang sebentar untuk menyiapkan bekal buat appa." tanya nyonya Park.


"Tentu eomma. Jangan khawatir, aku akan menjaga Yeri disini." jawab Hwan dengan senyum hangat.

__ADS_1


Nyonya Park pun tersenyum hangat dan menganggukkan kepalanya dan bersiap untuk pulang ke mansion. Namun, nyonya Park tidak memperhatikan raut wajah Yeri yang sedang merasa takut dan tidak nyaman.


"Eomma tinggal dulu sayang." pamit nyonya Park sembari mengecup sayang kening Yeri dan langsung meninggalkan kamar rawat Yeri.


"Yeri sayang, kau butuh sesuatu?" tanya Hwan dengan senyum merekah.


********


Kim Company...


Soo Jae baru saja memasuki ruangan kerjanya. Ia melepaskan jasnya dan menggantung jasnya di kursi kerjanya.


Saat ini jam menunjukkan pukul 8 pagi dan Soo Jae sudah memulai paginya dengan beberapa dokumen kerjanya. Hingga ia teringat sesuatu dan langsung menghubungi seseorang lewat panggilan.


"Datanglah ke ruanganku. Sekarang!" ucap Soo Jae ketika panggilannya sudah tersambung dan langsung memutuskan panggilannya begitu saja.


Hingga beberapa menit kemudian, pintu ruangan Soo Jae dibuka dengan kasar dan menampilkan Hye-joon dengan raut wajah kesalnya.


"Yak, kau benar-benar lelaki dingin. Tidak bisakah kau menutup panggilan setelah aku memberi jawaban." ucap kesal Hye-joon.


"Aku ingin meminta bantuanmu." ucap Soo Jae tanpa basa-basi, "Bantu aku mencari tahu lebih dalam tentang Lim Hwan, kekasih Park Yeri." lanjut Soo Jae dengan raut wajah datar.


"Lim Hwan? Park Yeri? Untuk apa?" tanya Hye-joon yang langsung duduk dihadapan Soo Jae dengan rasa penasarannya.


"Aku merasa dia pria yang tidak baik untuk Yeri." jawab Soo Jae datar.


"Pria tidak baik? Waahhh!!!!" ucap Hye-joon dengan mulut mengangah, "Apa kau sekarang merasa cemburu, kau ingin merebut Park Yeri dari Lim Hwan itu? Hingga mengatakan jika Lim Hwan itu bukan pria baik." lanjut Hye-joon menggebu-gebu.


"Haish, bukan seperti itu. Aku merasa kecelakaan yang menimpa Yeri waktu itu, adalah ulahnya." jawab Soo Jae dengan raut wajah dingin, "Karena di beberapa bagian badan Yeri memiliki memar seolah mengalami kekerasan." lanjut Soo Jae.


"Apa kau bilang? Kekerasan?" tanya Hye-joon tidak habis pikir, "Apa kau yakin? Mungkin memar itu ia dapat karena waktu kecelakaan." lanjut Hye-joon.


"Tidak. Dokter mengatakan, memar itu bukan terjadi karena kecelakaan yang di alami Yeri. Bahkan aku juga melihat sendiri, ada memar dileher Yeri. Seolah ia habis di cekik dengan kuat hingga meninggalkan bekas, namun bekas itu sudah nampak samar." jelas Soo Jae kembali.


"Jika memang pria itu melakukan itu pada Yeri, waah... Bukankah dia keterlaluan? Bukankah dia baj*ngan gila?" ucap Hye-joon dengan sedikit emosi.


"Ya, dia adalah baj*ngan gila. Maka dari itu, kau harus membantuku untuk mencari tahu tentangnya, hyung."


"Baiklah. Aku akan membantumu untuk mencari tahu tentang baj*ngan gila ini." jawan Hye-joon pasti.

__ADS_1


"Aku akan melindungimu dari baj*ngan itu, Park Yeri." batin Soo Jae.


******


__ADS_2