Blacklight A Life

Blacklight A Life
Chapter 24


__ADS_3

Sore harinya Soo Jae datang untuk menjenguk Yeri kembali. Seperti perkataannya kemarin, jika Soo Jae akan datang kembali untuk menjenguk Yeri.


Setelah menyelesaikan segala pekerjaannya di kantor, ia langsung bergegas ke rumah sakit untuk menjenguk Yeri. Tidak lupa ia mampir untuk membeli buah dan bunga. Seperti sekarang ia sedang di toko bunga untuk ia berikan kepada Yeri, namun Soo Jae masih bingung dan berpikir keras, untuk membawahkan jenis bunga apa kepada Yeri.


"Aku harus membeli bunga apa? Mawar?" tanya Soo Jae bingung pada dirinya,


"Tapi, bukankah bunga mawar hanya untuk diberikan kepada seorang kekasih saja? Aku dan Yeri kan hanya berteman.. Haish lalu aku harus membawahkan dia bunga apa?!" ucap Soo Jae bingung.


"Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya karyawan toko bunga yang menghampiri Soo Jae.


"Bisakah anda beritahu, bunga apa yang cocok untuk menjenguk teman dekat wanita, yang sedang sakit?" jawab Soo Jae mengajukan pertanyaan.


"Ah, anda ingin membelikan bunga untuk kekasih anda yang sedang sakit?"


"Bukan kekasih. Hanya teman." jawab Soo Jae cepat.


"Ba-baiklah tuan, saya akan siapkan segara siapkan satu bucket bunga untuk anda."


Pegawai toko pun langsung menyiapkan bunga untuk Soo Jae. Selang 10menit kemudian pegawai toko kembali membawah satu bucket bunga mawar dengan jenis berbeda.


"Mawar? Bukankah mawar hanya untuk sepasang kekasih? Aku akan memberikan kepada teman wanitaku bukan kekasihku." tanya Soo Jae.


"Tuan, bunga mawar tidak melulu disangkut pautkan tentang keromantisan untuk diberikan kepada kekasih saja. Bunga mawar jug..."


"Sudah, tidak perlu dijelaskan. Aku ambil ini." ucap Soo Jae menerima bucketnya dan menyerahkan blackcardnya untuk membayar.


Setelah menyelesaikan pembayaran, Soo Jae langsung meninggalkan toko bunga dan menuju tempat mobilnya terparkir.


"Aku harap Yeri menyukainya. Bunga ini cantik sama seperti Yeri." ucap Soo Jae ketika sudah berada di mobil.


Soo Jae tersenyum hangat memandang bunga yang akan ia berikan kepada Yeri.



Sumber picture : Pinterest


Soo Jae pun langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang jaraknya sudah tidak jauh dari toko bunga tempatnya ia mampir.


********


Rumah sakit...


Di kamar rawat Yeri, kini sudah ada kedua orang tua Yeri dan juga Hwan yang masih menjaga Yeri. Namun, sedari Hwan menjaga Yeri, mereka berdua tidak banyak bicara dan Yeri selalu memilih tidur daripada harus mengobrol dengan Hwan yang menurutnya adalah orang asing.


"Appa eomma. Ada yang ingin aku bicarakan." ucap Hwan yang sudah duduk di sofa kamar rawat Yeri, berhadapan dengan kedua orang tua Yeri.


"Ada apa Hwan? Katakan." jawab tuan Park.


"Aku ingin melamar Yeri dan ingin segera menikahinya." ucap Hwan tanpa rasa ragu dan gugup.

__ADS_1


Kedua orang tua Yeri yang mendengar itupun sedikit terkejut, akan lamaran yang disampaikan Hwan.


"Apa kau serius Hwan? Kau tahu sendiri kan, bagaimana keadaan Yeri sekarang? Apa kau yakin ingin membahas itu sekarang?" tanya pelan tuan Park.


"Iya Hwan. Yeri bahkan masih menganggap kamu asing, karena hilang ingatannya. Bagaimana bisa kamu ingin segara menikahi nya, dalam kondisi Yeri yang masih belum sepenuhnya pulih dan ingat akan dirinya sendiri." sahut nyonya Park.


"Justru karena itu, appa eomma. Aku ingin segera menikahi Yeri, agar aku bisa membantu Yeri mengingat akan semua tentang dirinya dan orang-orang sekitarnya." jawab Hwan yakin.


"Tapi.."


Belum selesai nyonya Park menyelesaikan ucapannya. Pintu kamar rawat terbuka dan menampilkan sosok Soo Jae yang baru saja datang, dengan kedua tangannya yang membawah buah dan bucket bunga.


"Soo Jae, kau datang? Masuklah." sambut tuan Park beranjak dari duduknya dengan senyum hangat dan langsung menghampiri Soo Jae.


"Iya tuan, saya sudah janji dengan Yeri untuk datang menjenguknya lagi." jawab Soo Jae,


"Iya, ayo temui Yeri." ajak tuan Park.


"Nyonya, ini." ucap Soo Jae menyerahkan buah yang dia bawah.


"Ya ampun, kenapa kamu repot sekali. Lain kali, tidak perlu membawah apapun." ucap nyonya Park menerima buahnya dengan senyum hangat.


"Tidak repot, nyonya."


Perhatian Soo Jae mendadak teralihkan dari orang tua Yeri, menatap Hwan yang masih duduk di sofa.


Mereka berdua saling bertatap dingin. Karena Hwan mengenali Soo Jae. Pria yang telah memeluk Yeri di depan umum dan membuat Hwan merasa emosi hingga berakhir Yeri melompat dari mobilnya.


"Dia masih tertidur belum bangun setelah makan siang tadi. Tapi sepertinya dia akan langsung bangun jika tahu kamu datang menjenguknya." jawab nyonya Park.


"Iya nyonya."


Soo Jae pun mendekati Yeri yang tertidur pulas di atas ranjangnya. Ia menatap lamat wajah Yeri yang sudah tidak terlihat pucat.


"Cantik." batin Soo Jae dengan tersenyum tipis.


Soo Jae masih saja terus memandangi wajah Yeri yang terlelap dalam tidur dan tanpa Soo Jae sadari nyonya Park sudah berdiri disampingnya.


"Kenapa kau hanya diam saja?" tanya nyonya Park setelah menepuk pelan bahu Soo Jae.


"Maaf nyonya. Saya tidak tega membangunkan Yeri." jawab Soo Jae.


"Biar eomma yang bangunkan."


Nyonya Park pun mengelus sayang kepala Yeri dan sedikit membungkuk mendekat ke wajah Yeri.


"Yeri sayang, bangunlah. Soo Jae ada disini." ucap pelan nyonya Park membangunkan Yeri.


Yeri mengerjapkan matanya perlahan bangun dari tidurnya dan tersenyum manis karena melihat Soo Jae berada di samping eommanya.

__ADS_1


"Aku menunggumu, oppa." ucap Yeri dengan suara serak khas bangun tidur.


Soo Jae pun membalas senyum Yeri dengan tersenyum hangat.


"Ini, aku belikan untukmu." ucap Soo Jae dengan memberikan bucket bunganya kepada Yeri.


"Terima kasih oppa. Bunganya cantik."


Mereka berdua pun saling menatap dalam dan tersenyum hangat. Seolah ada perasaan yang tidak asing di antara mereka.


"Aku merasa nyaman di dekatnya." batin Soo Jae dan Yeri bersamaan seolah batin mereka saling terikat.


Deg..deg..deg...


Degup jantung Soo Jae dan Yeri pun berdegup kencang, walaupun hanya mereka hanya mereka yang bisa merasakannya.


Nyonya Park yang masih berdiri di dekat ranjang Yeri dan berada di samping Soo Jae, hanya bisa tersenyum hangat melihat Soo Jae dan Yeri yang saling menatap hangat dengan senyum yang terukir di wajah mereka.


*******


Hari telah berganti malam, Soo Jae memutuskan pamit setelah menghabiskan sorenya untuk bertemu dengan Yeri. Kini ia sudah berjalan menuju tempat parkir mobilnya yang berada di halaman parkir rumah sakit.


"Tunggu!!!!" ucap Hwan menghentikan langkah kaki Soo Jae saat akan memasuki mobilnya.


Soo Jae pun membalikkan badannya karena mengenali suara Hwan. Ia memasang wajah datar dan dinginnya saat berhadapan dengan Hwan.


"Ada apa?" tanya Soo Jae.


"Sejak kapan kau mengenal Yeri? Apa kalian benar-benar berselingkuh?" tanya Hwan dengan nada dingin.


Soo Jae yang mendengar itupun tersenyum miring dan mendekati Hwan.


"Sejak kapan aku mengenalnya, bukan urusanmu. Dan, kami bukan pasangan yang sedang berselingkuh. Tidak seperti dirimu dan Kang A-yeong." jawab Soo Jae penuh penekanan tepat di telinga Hwan.


Grep...


Hwan tersulut emosi hingga mencengkeram kuat kerah kemeja Soo Jae.


"Kau!!!" ucap geram Hwan.


Srek...


Soo Jae melepas cengkraman kuat Hwan dan merapikan dasi nya yang berantakan akibat cengkraman yang dilakukan Hwan.


"Jauhkan tangan kotormu itu dariku." ucap Soo Jae dengan geram, "Dan aku peringkatkan padamu. Segera jauhi Yeri, atau kau akan berurusan denganku." lanjut Soo Jae memperingati dengan menatap tajam Hwan.


Soo Jae yang tidak ingin berlama-lama berurusan dengan Hwan pun, langsung memasuki mobilnya dan meninggalkan area rumah sakit.


"Brengsek!! Aku akan memberimu perhitungan." ucap geram Hwan melihat kepergian mobil Soo Jae.

__ADS_1


********


__ADS_2