Blacklight A Life

Blacklight A Life
Chapter 25


__ADS_3

Setelah Hwan menyusul Soo Jae ke tempat parkir, ia pun kembali ke ruang rawat inap Yeri. Ia masih terus membujuk kedua orang tua Yeri, agar dirinya bisa cepat menikahi Yeri.


Jika tadi Hwan membicarakannya dengan kedua orang tua Yeri. Maka sekarang Yeri pun ikut dalam pembicaraan rencana Hwan untuk segera menikahinya.


"Yeri sayang, kamu setuju kan jika kita menikah secepatnya? Aku tahu kamu belum mengingatku sepenuhnya. Tapi, setelah kita menikah dan kita tinggal bersama, aku yakin kamu akan segera mengingatku dan semua kenanganmu yang dulu." bujuk Hwan sembari menggenggam kedua tangan Yeri.


Yeri merasa tidak nyaman ketika Hwan menggenggam tangannya. Ia ingin melepaskan tangannya dari genggaman tangan Hwan, namun Hwan menggenggamnya sangat kuat.


"Sayang, bagaimana? Semua keputusan ada di tanganmu sayang." ucap tuan Park.


Melihat keterdiaman Yeri, nyonya Park meraih kedua tangan Yeri dari tangan Hwan dan mengelusnya pelan.


"Hwan, kau tahu kan kondisi Yeri bagaimana sekarang? Jadi, kami tidak bisa memaksakan keputusan kepada Yeri, agar kalian bisa menikah secepatnya." ujar nyonya Park kepada Hwan.


Hwan yang mendengar itupun mengepalkan tangannya kuat menahan kesalnya.


"Sial, padahal jika aku menikahi Yeri dalam kondisi seperti ini. Aku semakin mudah untuk mendapatkan hartanya." batin Hwan kesal.


"Aku mau menikahinya." sahut Yeri yang akhirnya berbicara setelah hanya duduk diam bersandar di atas ranjangnya.


Hwan yang mendengar itupun langsung tersenyum menang.


"Sayang, kau yakin? Benar kata eomma sayang. Kami tidak akan memaksamu untuk segera menikah dengan Hwan, karena kau belum pulih." ucap tuan Park pelan.


"Sayang?" panggil nyonya Park pelan dan masih mengelus pelan punggung tangan Yeri.


"Eomma appa, yang dikatakan Hwan oppa benar. Mungkin jika aku menikah dengannya dan tinggal satu atap, itu bisa membantuku untuk mendapatkan ingatanku." jelas Yeri pada kedua orang tuanya.


"Kami juga bisa membantumu sayang. Bagaimana pun juga kami adalah orangtuamu." ucap nyonya Park.


"Aku tahu eomma. Tapi jika Hwan juga bisa membantu, bukankah itu lebih baik. Eomma sendiri kan yang sudah bilang kepadaku, jika aku dan Hwan adalah sepasang kekasih. Tapi aku malah menganggapnya asing."


"Eomma appa, kalian tidak perlu khawatir. Aku akan berusaha untuk mambantu Yeri pulih dan mendapatkan ingatannya seperti dulu lagi." sahut Hwan ikut meyakinkan.


Kedua orang tua Yeri pun saling pandang dan sedetik kemudian mereka mengangguk pelan.


"Baiklah, kalian akan menikah. Tapi setelah dokter membolehkan Yeri untuk pulang." ucap tuan Park menyetujui keputusan Hwan dan Yeri.


Hwan pun tersenyum lebar mendengar hal itu dan Yeri juga tersenyum tipis ke arah Hwan.


*******


Mansion Soo Jae...


Sedang Soo Jae sekarang baru saja memasuki mansionnya dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya, karena terus mengingat wajah cantik Yeri.


"Apa kau sedang kerasukan setan? Ada apa dengan senyum di wajahmu itu?" tanya Hye-joon tiba-tiba yang entah sejak kapan sudah berada di ruang tengah mansion Soo Jae.


"Oh.. Aku merinding sekali melihat wajah tersenyummu itu. Apa kepalamu terbentur? Hingga membuatmu tersenyum seperti itu?" tanya Hye-joon lagi.


Soo Jae pun memutar bola matanya malas menanggapi Hye-joon. Ia langsung melangkah menaiki tangga dengan wajah datarnya tanpa menanggapi Hye-joon.


"Wah, sepertinya dia memang kerasukan makhluk ghoib. Ah tidak-tidak, sepertinya kepalanya terbentur cukup keras, hingga wajah datar dan dinginnya runtuh begitu saja." ucap Hye-joon menerka-nerka di luar nalar.

__ADS_1


Sedangkan Soo Jae baru saja memasuki kamar, ia menutup pintu secara perlahan dan sedetik kemudian senyuman kembali menghiasi wajahnya.


"Sebenarnya aku ini kenapa?" ucap Soo Jae sembari memengang dadanya dan tersenyum.


"Apa aku memiliki perasaan kepadanya?" ucap Soo Jae kembali, "Tidak-tidak, Soo Jae sadarlah."


Soo Jae pun langsung melepas jasnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


********


Hari berlalu begitu cepat sudah satu minggu Yeri di rawat di rumah sakit dan satu minggu itu juga Soo Jae terus mengunjungi Yeri saat dia telah selesai menyelesaikan pekerjaan kantornya. Seperti sekarang, Soo Jae sudah berada di ruang rawat Yeri. Setelah meeting dengan client dan makan siang, Soo Jae langsung ke rumah sakit untuk bertemu dengan Yeri.


Hubunga mereka berdua semakin dekat, hingga membuat Hwan selalu geram melihat kedekatan mereka berdua dan Yeri pun juga belum memberitahu Soo Jae jika dia akan menikah dengan Hwan, walaupun dia belum mengingat apapun.


"Apa kekasihmu itu tidak kesini?" tanya Soo Jae pada Yeri.


"Dia sibuk, mungkin." jawab Yeri tersenyum tipis.


"Apa kau sudah mengingat hubunganmu dengannya?"


Yeri tersenyum mendengar pertanyaan itu. Yeri menatap dalam mata Soo Jae, membuat Soo Jae menaikkan alisnya sebelah. Seolah tahu jika ada hal yang ingin Yeri bicarakan, namun Yeri tidak tahu bagaimana memulainya.


"Ada apa?" tanya Soo Jae dengan menggenggam hangat tangan Yeri, "Katakan jika kau ingin mengatakan sesuatu! Aku akan mendengarkanmu."


"Aku akan menikah dengan Hwan." jawab Yeri lirih dengan membalas genggaman tangan Soo Jae dan mengelus pelan punggung tangan Soo Jae.


Deg....


Hati Soo Jae berdenyut nyeri mendengar pengakuan Yeri, jika dia akan menikah dengan Hwan. Entah karena Soo Jae sudah tahu segala niat jahat Hwan termasuk perselingkuhan yang Hwan lakukan di belakang Yeri atau karena Soo Jae mulai memiliki perasaan kepada Yeri. Entahlah, yang jelas Soo Jae merasa sakit menerima hal itu.


"Iya, aku akan menikah dengannya. Setelah aku pulih dan bisa pulang dari sini." jawab Yeri.


"Yeri-a, ada yang ingin aku katakan. Dia.."


"Oppa, maukah kau berjanji padaku?" potong Yeri cepat.


"Apa?"


"Tetaplah di sampingku."


Yeri tersenyum cantik dengan mentap dalam kedua mata Soo Jae. Sedang Soo Jae tidak mengerti apa yang Yeri inginkan. Untuk apa Yeri memintanya berada di sampingnya jika dia akan menikah dengan pria lain. Apa Yeri ingin mempermainkannya atau apa. Soo Jae benar-benar tidak mengerti dan bingung harus menjawab apa.


Namun, Soo Jae merasa ada hal lain yang membuat Soo Jae mau berjanji pada Yeri. Ada ketulusan di sorot mata Yeri, seolah Yeri hanya ingin berada di sampingnya.


"Baiklah, aku berjanji." jawab Soo Jae yakin.


Yeri tersenyum penuh arti setelah mendengar jawaban Soo Jae, seolah meresa tenang karena Soo Jae akan selalu berada di sisinya.


******


1 minggu kemudian dokter telah mengizinkan Yeri untuk pulang dan beristirahat di rumah. Kini Yeri sudah di temani oleh kedua orang tuanya dan juga Hwan.


Hwan tampak senang sekali karena Yeri sudah di bolehkan untuk pulang dan sesuai dengan kesepakatan yang di buat, ia akan menikah dengan Yeri 3 hari setelah Yeri di izinkan pulang.

__ADS_1


Jika Hwan senang, maka Yeri merasa sedih karena tidak melihat kehadiran Soo Jae saat dia akan pulang ke mansionnya. Yeri sangat mengharap kedatangan Soo Jae, namun pria itu tidak kunjung juga untuk datang menemuinya.


"Kau kemana? Kenapa kau tidak datang." batin Yeri sedih.


Yeri menundukkan kepalanya dalam di sofa ruang rawat inapnya memikirkan Soo Jae.


"Sayang, kau kenapa?" tanya nyonya Park mendekati Yeri setelah mengemas pakaian Yeri.


"Tidak apa, eomma. Aku baik-baik saja." jawab Yeri tersenyum tipis.


"Eomma appa, semua sudah beres. Kita bisa pulang sekarang." sahut Hwan yang sedari tadi juga turut membantu mengemasi.


"Baiklah, ayo sayang." ajak nyonya Park.


Mereka pun meninggalkan kamar rawat inap yang sudah 2minggu Yeri tempati. Orang tua Yeri begitu senang dan merasa bersyukur karena Yeri bisa pulang bersama mereka, walaupun Yeri masih belum mengingat apapun.


Setelah meninggalkan rumah sakit dan menempuh perjalanan hampir 2 jam menuju mansion Park, Yeri beserta kedua orang tuanya dan Hwan pun sudah memasuki area mansion.


"Eomma appa, aku akan mengantar Yeri ke kamar." ucap Hwan sembari merangkul pundak Yeri untuk membantu Yeri berjalan.


"Iya baiklah." jawab tuan Park.


"Eomma akan membuatkan kalian minum." jawab nyonya Park dengan senyum.


"Iya eomma." jawab Hwan, "Ayo sayang." ajak Hwan pada Yeri.


Hwan pun menuntun Yeri menaiki tangga menuju kamar Yeri yang berada di lantai atas. Yeri sesekali melihat sekitar ruang mansionnya dengan tatapan seolah asing dengan sekitarnya.


"Ini mansion keluargamu dan ini adalah kamarmu." ucap Hwan ketika sudah berdiri di depan pintu kamar Yeri, "Ayo masuk."


Yeri pun mengikuti langkah Hwan untuk masuk ke kamar mewahnya. Yeri melihat sekeliling kamarnya yang terlihat begitu rapi dan bersih walaupun Yeri tidak menempatinya selama 2 minggu.


"Aku meresa nyaman disini." ucap pelan Yeri.


"Tentu saja sayang. Karena kau sudah pulang ke mansion, tempat dimana kau tinggal selama ini. Jadi, wajar saja jika kau merasa nyaman." jawab Hwan dengan senyum tipis, "Berbaringlah, kau harus istirahat."


"Terima kasih."


Hwan pun membantu Yeri berbaring di ranjang king sizenya, ia menyelimuti Yeri dan mengelus sayang rambut Yeri.


"Sayang, aku harus mengurus beberapa hal untuk pernikahan kita. Apa tidak apa jika aku pamit sekarang?"


"Tidak apa, kau bisa pergi. Maaf, aku tidak bisa membantu untuk menyiapkan acara pernikahan kita." jawab Yeri sedikit merasa bersalah.


"Tidak apa sayang. Yang terpenting sekarang kau harus istirahat, agar kau benar-benar pulih saat hari pernikahan kita."


"Iya, tentu." jawab Yeri dengan tersenyum kecil.


"Baiklah, aku pamit sayang. Beristirahatlah." pamit Hwan dengan mengecup sayang kening Yeri dan meninggalkan Yeri sendiri di dalam kamar.


Setelah kepergian Hwan raut wajah Yeri berubah menjadi datar dan dingin. Ia bangun dari posisi tidurnya, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang dan menatap dingin pintu kamarnya, dimana Hwan baru saja keluar dari pintu tersebut.


"Permainan akan kita mulai, Lim Hwan."

__ADS_1


*********


__ADS_2