Blacklight A Life

Blacklight A Life
Chapter 14


__ADS_3

1tahun kemudian...


Akh...


"Aku sudah sering memperingatimu, Yeri-a!!! Kau hanya boleh pergi bersama ku saja, kenapa kau masih membangkang dan pergi bersama teman-temanmu itu" ucap Hwan-ki dengan geram dan mencekik leher Yeri.


Wajah Yeri sudah memerah karena kekurangan pasokan udara,Hwan mencekik Yeri sangat kuat. Air mata Yeri pun tak luput mengalir dengan derasnya. Yeri benar-benar kesakitan, sakit fisik, batin dan mentalnya. Hwan, menambah kesakitan Yeri yang sudah ada sejak kecil. Kini saat dewasa Yeri mendapatkan kembali kekerasan fisik, yang membuat mentalnya jatuh kembali.


"To..to..long, le..le..pas..kan" mohon Yeri dengan sisa tenaga nya.


Bugh..


Bugh..


Yeri berusaha melepaskan tangan Hwan yang mencekiknya, ia terus memukul dada Hwan dengan sisa tenanganya yang sedikit demi sedikit melemah karena kekurangan pasokan udara di paru-parunya.


"Kenapa? Kau ingin aku lepaskan? Apa belum cukup aku memberimu hukuman selama ini, hum?" ucap Hwan penuh penekanan dan semakin mengeratkan cekikannya pada leher Yeri.


Bagi Yeri melihat Hwan marah adalah melihat sosok monster dan iblis. Hwan selalu menyakiti fisik Yeri tanpa ampun, bahkan Hwan selalu mengekang Yeri.


"Am..pun" ucap Yeri memohon.


Cih...


Hwan berdecih mendengar permohonan Yeri, dengan mata yang masih berkilat tajam, Hwan pun melepas cekikannya di leher Yeri.


Uhuk...uhuk..uhuk..


Hah..hah..hah..


Yeri terbatuk-batuk dan menghirup udara banyak-banyak. Ia menetralkan detak jantung nya, ia benar-benar lemas karena hampir kehilangan kesadarannya.


"Jangan membangkang, Yeri-a. Aku mencintaimu, kau adalah milikku. Jadi, kau harus menurut kepadaku!! Kau harus mengerti itu, sayang" ucap Hwan pelan sambil menghapus air mata Yeri yang sudah membasih kedua pipi Yeri.


Cup...


"Aku mencintaimu" ucap Hwan setelah mencium kening Yeri.


Yeri tidak menjawab apapun, ia masih menetralkan pernafasan dan juga isakannya. Yeri benar-benar kacau, ia lelah. Yeri lelah dan sakit dengan semua perlakuan yang di dapatkan dari Hwan. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Hapus air matamu, sayang. Aku akan mengantarmu pulang. Dan, ingat!! Jadilah kekasih yang menurut, aku tidak mau kau mengulanginya lagi" ucap Hwan mengelus pelan rambut Yeri.


"Aku akan menunggumu diruang tengah. Cepatlah!!"


Hwan pun meninggalkan Yeri yang masih sedikit terisak dan meringkuk di lantai yang dingin di dalam kamar apartemen Hwan.


"Aku membencimu, Lim Hwan" lirih Yeri.

__ADS_1


Yeri mengusap airmatanya yang terus-terusan jatuh dari pelupuk matanya. Ia beranjak bangun dari lantai, dan merapikan sedikit pakaian dan rambutnya yang berantakan karena Hwan menindihnya saat mencekiknya.


Yeri berjalan pelan ke arah kaca yang berada di sudut kamar Hwan. Ia melihat pantulan dirinya di dalam kaca. Dapat Yeri lihat jika lehernya memerah dan luka akibat kuku jari Hwan yang menancap saat Hwan mencekiknya.


Hiks..


Yeri terisak kembali, ia menutup mulutnya kuat dengan kedua tangannya. Ia menahan isakannya agar tidak terdenger oleh Hwan.


Hwan pria yang ia cintai dulu telah berubah, pria yang selalu berlaku manis padanya telah berubah menjadi monster bagi Yeri. Bahkan Yeri, bagai burung dalam sangkar yang selalu di kekang oleh Hwan.


Hwan berubah saat mereka menjalin hubungan menginjak 6bulan. Tepatnya satu bulan setelah Yeri lulus sekolah dan mulai menjadi seorang mahasiswi disalah satu perguruan tinggi.


Flasback 6bulan kebelakang..


Malam ini Yeri tengah pergi keluar bersama Hansu dan Anna, mereka bertiga sudah jarang sekali menghabiskan waktu bersama dan keluar bersama. Di tambah mereka bertiga berkuliah dikampus yang berbeda sekarang.


Mereka bertiga sedang berjalan menuju kafe, hingga mereka tiba dikafe dan seketika Yeri menghentikan langkahnya dan berdiri kaku saat melihat kekasihnya yang sudah hampir 6bulan menjalin kasih dengannya.


"Yeri-a kau kenapa?" tanya Hansu heran saat melihat keterdiaman Yeri saat baru memasuki kafe.


Yeri diam tak menjawab dan pandangannya hanya lurus ke depan melihat sosok Hwan yang tengah tertawa.


"Yeri-a!!" panggil Anna namun juga tidak digubris oleh Yeri.


Hansu dan Anna yang sedikit heran melihat keterdiaman tiba-tiba Yeri itupun, langsung mengikuti arah pandang Yeri. Dan, seketika membuat Hansu dan Anna membulatkan matanya terkejut.


"Iya, ayo pergi ketempat lain. Aku tidak suka suasana kafe ini" sahut Hansu menyetujui dan juga ikut mengandeng Yeri


"Tunggu!" ucap Yeri lirih dan melepas tangan kedua temannya dari kedua lengannya.


Yeri berjalan pelan lurus kedepan dengan tatapan sendunya.


"Oppa!" panggil lirih Yeri saat berada di samping Hwan.


Hwan membulatkan matanya terkejut dengan kedatangan Yeri tiba-tiba. Hwan yang terkejut itupun langsung beranjak dari duduknya dan berdiri menghadap Yeri.


"Kenapa kau disini?" tanya Hwan dengan nada dingin


"Siapa dia Hwan?" tanya seorang wanita yang duduk berhadapan dengan Hwan.


Ya, Yeri melihat Hwan bersama seorang wanita cantik yang sepertinya seumuran dengan Hwan. Yeri melihat Hwan dan wanita cantik itu tertawa bersama. Bahkan, saling menggenggam tangan di atas meja. Seolah mereka adalah sepasang kekasih.


"Apa.. Apa yang kau lakukan disini oppa? Bukankah, bukankah kau bilang tengah sibuk karena kerjaan barumu?" tanya Yeri dengan suara tercekat.


"A Yeong-a, maaf. Tapi, aku harus pergi dulu. Apa kau tidak apa pulang sendiri?" ucap dan tanya Hwan penuh sesal dan tidak menghiraukan Yeri.


Yeri tersenyum miris melihat Hwan begitu merasa bersalah saat akan berpamitan dengan wanita cantik yang tidak Yeri ketahui siapa.

__ADS_1


"Tidak apa Hwan. Aku bisa pulang sendiri" jawab lembut sang wanita dengan senyum hangat dan di balas senyum hangat oleh Hwan.


"Oppa!" panggil lirih Yeri yang masih diabaikan Hwan.


Grep...


Hwan mencengkeram tangan Yeri dan langsung menarik kasar tangan Yeri untuk meninggalkan kafe.


"Lepas oppa!! Sshh..." ucap Yeri dengan ringisan memberontak dari genggaman kuat tangan Hwan.


"Yak!!! Lepaskan tangan Yeri" teriak Hansu yang mengejar Hwan dan Yeri.


Hwan pun menghentikan langkahnya dan semakin mengkuatkan genggamannya pada tangan Yeri.


"Jangan ikut campur!! Ini urusanku dengan Yeri, dia kekasihku. Pergi lah kalian, Yeri akan ikut bersamaku" ucap Hwan dengan dingin dan penuh penekanan di awal kalimatnya.


Bugh...


Bugh...


"Kau menyakiti Yeri, lepaskan tanganmu dari Yeri" ucap Anna sambi memukul bahu Hwan.


Hwan sudah tersulut oleh amarah, itupun langsung menatap tajam ke arah Anna dan mencengkeram tangan Anna yang memukulinya, sedangkan Yeri sudah terisak hebat dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Hwan yang sangat menyakitinya.


"Akh.." ringis Anna,


"Anna-a" teriak Hansu dan panggil lirih Yeri bersamaan.


"Aku sudah bilang, jangan ikut campur!!" ucap Hwan penuh penekanan dan melepas cengkramannya pada Anna.


"Masuk ke dalam mobil" ucap Hwan pada Yeri dan membuka pintu mobilnya.


Bugh...


Yeri di hempaskan begitu saja untuk masuk ke dalam mobilnya dan di susul masuk oleh Hwan meninggalkan kedua teman Yeri yang menatap iba dan penuh rasa bersalah kepada Yeri.


"Kenapa kau begitu kasar, oppa?" tanya Yeri lirih dengan isakan.


"Diam!!" bentak Hwan dan seketika membuat Yeri bergetar takut.


"Hubungi kedua temanmu itu, untuk tutup mulut dan tidak ikut campur dalam hubungan kita"


Yeri hanya diam tidak menjawab. Yeri semakin dibuat ketakutan oleh sikap Hwan yang tidak seperti biasanya.


"Kau tuli!! Cepat hubungi temanmu itu. Atau aku akan melakukan hal lebih padamu" ancam Hwan dengan geram dan menatap tajam pada Yeri.


Dengan isakan dan tangan gemetar takut, Yeri mengambil ponselnya dan menghubungi Hansu.

__ADS_1


"Ha..hallo"


__ADS_2