Blacklight A Life

Blacklight A Life
Chapter 21


__ADS_3

Tap...


Soo Jae sudah berdiri di depan pintu kamar rawat inap Yeri. Sedikit ada rasa ragu dan gugup di benak Soo Jae saat ingin memasuki ruang rawat inap Yeri, ia bahkan berkali-kali menarik nafas dalam dan menghembuskan pelan, tapi tetap saja tidak menghilangkan rasa gugupnya.


"Ada apa denganmu, Kim Soo Jae? Kenapa kau gugup seperti ini? Kau hanya perlu masuk dan memperkenalkan dirimu saja." ucap lirih Soo Jae pada dirinya sendiri, "Baiklah, tenang. Dan ayo masuk."


Klek..


Soo Jae membuka perlahan pintu ruang rawat inap Yeri, dan membuat kedua orang tua Yeri menoleh bersamaan dengan manatap Soo Jae bingung dan bertanya-tanya.


"Kau siapa?" tanya tuan Park dingin, saat Soo Jae berjalan pelan mendekat.


"Selamat siang, perkenalkan saya Kim Soo Jae teman kuliah Yeri." jawab Soo Jae memperkenalkan diri dengan sopan.


"Teman kuliah?" tanya tuan Park sedikit tidak percaya.


"Iya, tuan. Saya teman kuliah Yeri, kami berada di kelas yang sama. Dan saya kesini ingin menjenguk Yeri, karena tadi pagi saya mendapat kabar jika Yeri di rawat disini." jelas Soo Jae.


"Yeobo, dia hanya ingin menjenguk." sahut nyonya Park pelan.


Tuan Park pun mengangguk pelan dan mempersilahkan Soo Jae mendekat ke ranjang Yeri.


"Dia masih belum sadar setelah menjalani operasi kemarin." ucap nyonya Park tiba-tiba saat melihat Soo Jae menatap Yeri begitu dalam.


"Operasi?" tanya Soo Jae dengan menatap kedua orang tua Yeri secara bergantian.


"Iya, benturan di kepalanya cukup keras dan membuat pendarahan hebat di kepalanya. Hingga dokter mengambil tindakan, operasi untuk menyalamat Yeri." sahut tuan Park menjelaskan


"Maaf tuan, jika boleh saya tahu..apa yang sebenarnya terjadi pada, Yeri?" tanya Soo Jae pelan.


"Dia mengalami tabrak lari di jalanan menuju hutan pinggiran kota. Untung ada orang yang melintas di jalan itu dan langsung menghubungi ambulance. " jelas tuan Park.


"Lalu penabraknya?"


"Sepertinya dia langsung melarikan diri setelah menabrak, Yeri."


Soo Jae mengkerutkan keningnya mendengar semua penjelasan dari tuan Park. Ia merasakan ada yang janggal dari kecelakaan yang menimpa Yeri, karena melihat perlakuan kasar kekasih Yeri saat ia menolong Yeri yang juga hampir tertabrak. Namun ia tidak bisa mengunggkapkannya karena tidak ada bukti apapun.


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa aku merasa janggal dari kecelakaan yang menimpa gadis ini? Seolah aku tidak percaya jika dia mengalami tabrak lari. Apa kau benar mengalami tabrak lari? Apa kau sengaja ingin bunuh diri atau kekasih itu yang menjadi penyabab dirimu berbaring disini?" batin Soo Jae dengan menatap dalam Yeri yang masih setia memejamkan matanya.


"Tuan, apa anda sudah menemui orang yang sudah menolong, Yeri?" tanya Soo Jae


"Belum, kata pihak rumah sakit orang itu langsung pergi begitu saja setelah pihak rumah sakit menghubungi kami." jawab tuan Park.


Drrrtt...drrrtt...drrrttt....


Getar ponsel dari tuan Park mengalihkan atensi tuan Park. Ia langsung berjalan menjauh dari ranjang Yeri dan menjawab panggilan masuk di ponselnya.

__ADS_1


"Apa kamu teman dekatnya, Yeri?" tanya tiba-tiba nyonya Park.


"Iya nyonya." jawab Soo Jae dengan senyum ramah.


"Syukurlah, saya pikir Yeri tidak memiliki teman. Karena Yeri tidak pernah membawah teman-teman kuliahnya untuk datang ke rumah. Dan juga, Yeri tidak pernah menceritakan hari-harinya di kampus. Jadi, saya sempat berfikir jika Yeri tidak memiliki teman." jelas nyonya Park.


Soo Jae hanya diam tidak menjawab, ia bingung harus menjawab seperti apa. Karena ia dan Yeri tidak saling mengenal.


"Apa dia tipikal gadis yang pendiam?" batin Soo Jae.


"Yeobo, aku harus pergi.." ucap tuan Park tiba-tiba, "Ada pertemuan dadakan dan tidak bisa di batalkan." lanjutnya.


"Kau, Soo Jae. Bisa menemani Yeri sebentar disini?" tanya tuan Park.


"Yeobo, aku akan menjaga Yeri disini." sahut nyonya Park.


"Kau harus membantuku untuk menyiapkan dokumen lainnya. Soo Jae apa tidak apa, kau menemani Yeri dulu? Saya akan menyelesaikan semuanya dengan cepat dan kembali kesini."


"Tentu, tuan Park. Saya akan menemani Yeri disini." jawab Soo Jae ramah.


"Apa tidak merepotkanmu?" tanya nyonya Park.


"Tidak nyonya, saya tidak merasa di repotkan. Kalian bisa mengurus pekerjaan kalian dulu, saya akan menemani Yeri disini."


"Baiklah, terima kasih. Kami pergi dulu, Soo Jae-a." pamit tuan Park di ikuti nyonya Park.


"Apa kau tidak ingin bangun? Aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi." ucap Soo Jae dengan menatap lekat wajah pucat Yeri.


********


Klek...


"Kenapa kau kesini? Urus saja wanita itu dan lupakan aku." ucap A-yeong kesal saat Hwan baru saja memasuki apartemennya.


"Sayang, tolong jangan marah. Aku kan sudah memberitahumu, bagaimana keadaan Yeri sekarang. Jadi maafkan aku, karena semalam aku tidak datang." ucap Hwan penuh sesal.


Hwan mendekati A-yeong dan langsung memeluk A-yeong untuk menenangkannya.


"Maafkan aku sayang, sekarang aku akan menemanimu."


Bruk...


A-yeong mendorong kuat Hwan hingga jatuh, ia begitu kesal dan marah kepada Hwan karena terlalu perhatian kepada Yeri.


"Sampai kapan hubungan kita seperti ini terus? Aku sudah lelah menjalani hubungan seperti ini. Jika kau tidak bisa memutuskan hubunganmu dengannya, maka lebih baik hubungan kita saja yang berakhir." ucap kesal A-yeong.


"Tidak!" tolak Hwan dan langsung berdiri menghadap A-yeong, "Aku tidak ingin berpisah denganmu. Tolong bersabarlah sedikit lagi sayang. Aku harus mengambil alih kekayaannya terlebih dulu, baru setelah itu aku akan meninggalkannya. Tolong, bersabarlah sayang. Aku hanya mencintaimu."

__ADS_1


"Sampai kapan aku harus bersabar? Apa kau pikir aku tidak cemburu dan marah ketika kau menghabiskan waktu bersamanya? Aku sudah lelah harus menahan semuanya." keluh A-yeong.


"Sayang, dengar. Saat dia sadar aku akan langsung mengajaknya menikah. Dan, saat aku sudah menikahinya, secara perlahan aku akan mengalihkan segala aset kekayaannya atas namaku, setelah itu kita akan menikah dan hidup bahagia." jelas Hwan dengan pelan dan menggengam erat kedua tangan A-yeong.


"Aku hanya ingin membuatmu bahagia sayang dan aku ingin menjadikanmu ratu dalam hidupku. Hanya kau." ucap Hwan dengan yakin.


"Tapi, kau tidak mencintainya kan?"


"Aku hanya mencintaimu sayang."


"Setelah kau mengalihkan semua atas namamu, kau akan langsung menceraikannya kan?"


"Tentu sayang, aku akan langsung menceraikannya. Dan, kita akan langsung menikah. Kau ingin pernikahan yang mewahkan? Maka kita akan buat pernikahan kita nanti, semewah mungkin." jawab Hwan dengan tersenyum tampan dan memeluk A-yeong.


"Baiklah, tapi berjanji padaku. Jangan pernah menyentuhnya!" ucap A-yeong dengan penuh penekanan setelah melepas pelukan Hwan.


"Aku hanya tergoda dengan tubuhmu saja sayang." jawab Hwan dengan nada menggoda.


"Cih, aku menyuruhmu berjanji. Bukan malah menggodaku." ucap kesal A-yeong dengan bersendekap dada.


"Aku berjanji sayang." jawab Hwan sambil menangkup kedua pipi A-yeong.


*******


Rumah sakit...


Hari sudah sore, langit sudah dilukis indah dengan warna jingga dari matahari yang akan terbenam dan Soo Jae, masih setia menemani Yeri di ruang rawat inap.


"Yeri-a, suasana sore sangat cerah. Apa kau tidak ingin bangun dan berjalan-jalan sore? Aku akan menemanimu, jika kau ingin berjalan-jalan sore." ucap Soo Jae mengajak Yeri mengobrol.


"Bangunlah, ayo kita berteman. Entah kenapa aku langsung nyaman didekatmu."


Soo Jae menatap teduh wajah pucat Yeri, ia terus berbicara seolah mengajak Yeri mengobrol. Ia melakukan itu, karena ia berharap Yeri akan memberikan respon dan bangun dari tidur pulasnya.


Huuhh...


Hembusan nafas pelan keluar dari bibir pucat Yeri. Soo Jae yang mendengarnya itupun langsung berdiri dari duduknya.


"Yeri-a kau bisa mendengarku?" tanya Soo Jae sedikit membungkukkan badannya mendekat pada Yeri.


Soo Jae menatap lamat Yeri dan perlahan Yeri membuka matanya. Soo Jae tersenyum hangat dan meresa lega karena Yeri bangun dari tidur lamanya.


"Si..siapa?" tanya lirih Yeri, saat melihat Soo Jae.


"Kim Soo Jae." jawab Soo Jae dengan senyum tampannya.


*******

__ADS_1


__ADS_2