
Malam telah berganti pagi, Yeri tengah bersiap untuk pergi ke kampus karena mendapat jadwal kelas pagi.
Seperti hari-hari biasanya, Yeri mengenakan pakaian yang sedikit tertutup untuk menutupi segala luka yang ada di tubuhnya. Ia tidak ingin siapapun mengatahui luka yang ada ditubuhnya.
"Yeri-a, kau ada kelas pagi sayang? Ayo sarapan dulu." ucap nyonya Park saat melihat Yeri baru turun dari lantai atas.
"Tidak eomma. Yeri langsung berangkat saja." jawab Yeri dan membungkuk sedikit untuk pamit.
Nyonya Park hanya menatap sendu punggung sang putri yang sudah berjalan menuju pintu utama. Yeri selalu saja menolak untuk makan bersama. Yeri nya telah berubah, bahkan Yeri tidak pernah tersenyum ceria lagi. Yeri selalu menghabiskan waktunya mengurung diri di dalam kamar, ia akan keluar kamar ketika ia lapar dan ketika ia akan pergi ke kampus. Yeri menjadi sangat pendiam dan dingin, seolah tidak perduli dengan apa yang ada di sekitarnya.
"Selamat pagi sayang." sapa Hwan dengan senyum hangat saat Yeri berjalan menghampirinya.
"Pagi." jawab Yeri dengan senyum tipis.
Grep..
Hwan memeluk hangat Yeri dan mengelus pelan punggung Yeri.
"Kau tidur nyenyak semalam, sayang?" tanya Hwan dengan lembut.
Yeri hanya bisa terdiam kaku tanpa membalas pelukan Hwan. Tangannya bahkan mulai bergetar takut karena berdekatan dengan Hwan.
"Kenapa kau hanya diam saja, sayang?"
"I-iya.. Aku tidur nyenyak, oppa." jawab Yeri,
"Syukurlah." ucap Hwan sambil melepas pelukannya dan tersenyum hangat pada Yeri. "Ayo kita berangkat sekarang." ajak Hwan lalu membukakan pintu mobil untuk yeri.
"Te-terimakasih, oppa."
*******
Hening... Itulah yang terjadi didalam mobil Hwan. Mereka berdua tidak saling berbicara atau apapun. Hwan yang fokus pada jalanan dan Yeri yang sedari tadi meremat jari-jari tangannya karena takut. Hingga...
"Sayang.." panggil Hwan pelan dengan menoleh sebentar ke arah Yeri.
"I-iya, oppa."
"Bisakah kau mentransfer uang untukku hari ini? Uangku sudah habis, aku tidak memegang uang sama sekali."
"Uang?"
"Hm, bisakan?" tanya Hwan dengan senyum hangat saat menoleh ke arah Yeri.
"Tapi, seminggu lalu aku sudah mentransfer uang untukmu, oppa." ucap Yeri hati-hati.
"Ya, aku tahu. Tapi uang itu sudah habis, aku pakai untuk membayar sewa apartemen dan makan selama seminggu. Apa kau akan membiarkanku kelaparan bulan ini?" tanya Hwan sedikit dingin.
"Ta-tapi, oppa.."
"Kau tidak mau memberiku uang lagi?" tanya Hwan sedikit meninggikan suaranya.
"Ba-baiklah. Aku.. Aku akan mentransfernya untukmu."
Sudah biasa jika Hwan meminta uang kepada Yeri untuk kebutuhannya. Semenjak Hwan menceritakan kesusahannya kepada Yeri di awal hubungan mereka, mulai dari situ Yeri selalu membantu Hwan dalam segala kebutuhan finansialnya.
Namun, Hwan semakin tidak tahu diri dan terus mengandalkan uang pemberian dari Yeri. Bahkan, setelah Hwan mendapatkan gelar sarjananya, ia tidak mau usaha untuk mencari pekerjaan. Walaupun pernah sekali Hwan bekerja, namun hanya bertahan selama satu minggu saja. Lalu menjadi pengangguran kembali.
Yeri ingin lepas dari Hwan, namun ia tidak bisa dan terlalu takut. Karena Hwan tidak pernah mau mengakhiri hubungannya dengan Yeri. Bahkan, ketika Yeri dengan berani memutuskan hubungannya dengan Hwan, maka kekerasanlah yang Yeri dapatkan. Hwan bahkan selalu mengancam Yeri dengan hal buruk. Itulah sebabnya Yeri masih bertahan dengan Hwan sampai saat ini.
"Turunlah sayang. Semangat ya" ucap Hwan dengan senyum hangat saat mobilnya sudah terparkir di depan gerbang masuk kampus Yeri.
"Te-terimakasih, oppa."
Grep..
Hwan mencekal tangan kiri Yeri, saat ia akan membuka pintu mobil untuk turun.
"A-ada apa, oppa?" tanya takut Yeri menghadap Hwan.
"Kau bisa mentransfer uangnya sekarang kan?" tanya Hwan dengan mengelus punggung tangan Yeri.
"I-iya, akan segera aku transfer sekarang."
Hwan tersenyum lebar dan langsung memeluk sayang Yeri.
"Terima kasih sayang." ucap Hwan dan langsung melepas pelukannya, "Baiklah, turunlah. Nanti aku akan menjemputmu. Dan ingat, jangan mengobrol atau deket dengan pria lain dan jangan pergi bersama teman-temanmu tanpa izinku. Kau paham sayang?"
__ADS_1
"Iya oppa." jawab Yeri dengan menunduk takut, "A-aku turun dulu, oppa." pamit Yeri dan segera turun dari mobil Hwan.
"Kau hanya miliku, Park Yeri." ucap Hwan dengan smirk saat Yeri sudah turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke area kampusnya.
Kling...
Bunyi notifikasih dari ponsel Hwan mengalihkan atensi Hwan yang sedari tadi menatap punggung Yeri yang sudah berjalan sedikit jauh dari mobilnya.
Hwan merogoh kantung jaketnya dan membuka ponselnya. Sepersekian detik kemudian Hwan tersenyum lebar, karena notifikasih tersebut dari M-banking nya. Dimana Yeri telah mentranfer uangnya ke rekening Hwan.
"Kau memang kekasihku yang terbaik, Yeria. Muach.." ucap Hwan sambil mencium layar ponselnya.
"Mari kita lihat, aku akan bersenang-senang hari ini.."
Hwan mengusap layar ponselnya untuk mencari nomor seseorang yang akan ia hubungi. Entah apa yang akan Hwan lakukan hari ini, sungguh Hwan adalah pria yang tidak tahu malu.
"Hai, baby.." sapa Hwan saat panggilannya telah tersambung.
"Apa kau sibuk hari ini?"
"Bersiaplah, 20menit lagi aku akan menjemputmu. Aku akan mengajakmu berbelanja hari ini sayang." ucap Hwan dengan senyum merekah.
"Hm, tunggu aku ya. Aku tutup dulu. Bye sayang.."
Bip...
Hwan memutuskan panggilannya dan menyimpan kembali ponselnya. Dengan senyum merekahnya Hwan melajukan kembali mobilnya meninggalkan gerbang utama kampus Yeri.
\*\*\*\*\*\*
Seperti itulah Yeri saat berada di kampus, dia adalah mahasiswi yang dingin, pendiam dan acuh. Bahkan, sekarangpun ia tidak memiliki teman sama sekali, karena sikap dinginnya.
Yeri bahkan sedikit takut ketika berdekatan dengan teman prianya. Bagi Yeri, saat melihat teman prianya, disitulah Yeri melihat wajah amarah Hwan yang menyiksanya dengan kasar.
Puk...
Yeri menghentikan langkahnya saat ada yang menepuk pundaknya. Ia masih menundukkan kepalanya tidak menoleh ke arah orang yang menupuk pundaknya dari belakang.
"Park Yeri?!" panggil ragu seseorang yang menepuk pundak Yeri.
Yeri yang mendengar itupun langsung mendongakkan kepalanya, karena mengenal suara tersebut. Suara yang sudah 2tahun lebih tidak ia dengar.
"Yejin-a" ucap lirih Yeri dengan senyum tipis.
"Aku pikir aku salah mengenalimu." ucap Yejin tersenyum hangat dan memeluk Yeri.
__ADS_1
Jeon Yejin, teman semasa sekolah menengah pertamanya Yeri. Teman yang dulu pernah ia abaikan dan teman yang tidak disukai oleh appanya. Selama 2tahun lebih mereka tidak bertemu atau bertukar kabar setelah kejadian di cafe, saat tuan Park tiba-tiba datang dan menarik Yeri untuk pulang bersamanya.
"Kau apa kabar, Yeria? Aku merindukanmu, temanku." tanya dan ucap Yejin setelah melepas pelukannya.
"Aku baik. Kau?"
"Seperti yang kau lihat, aku juga baik." jawab Yejin dengan senyum ceria.
Yeri menatap Yejin yang begitu terlihat bahagia dan lebih dewasa. Yejin telah berubah banyak, menurut Yeri.
"Syukurlah," ucap Yeri dengan senyum tipis.
"Ayo kita ke kantin, aku ingin mengobrol banyak denganmu." ucap Yejin dengan binar mata senang.
Grep...
Akh...
Yejin menggenggam pergelangan tangan Yeri pelan untuk mengandengnya ke kantin bersama. Namun, ringisan Yeri membuat Yejin menatap bingung.
Srek..
Yeri dengan cepat menarik tangannya dari genggaman Yejin dan menyembunyikan tanganya di belakang punggungnya.
"A-aku ada kelas pagi. Ki-kita bisa bertemu setelah kelas selesai. Maaf Yejin-a." ucap Yeri sedikit gugup.
Yejin menatap curiga pada sikap Yeri. Ia merasa ada yang aneh dari sikap Yeri yang ia kenal dulu.
Grep...
Akh...
Srek...
Yejin membulatkan matanya saat dengan paksa ia menarik pergelangan tangan Yeri mendekat padanya dan menggulung lengan panjang hoodie Yeri.
"A-apa yang.. Sudah kau lakukan, Yeria?"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*