Blacklight A Life

Blacklight A Life
Chapter 20


__ADS_3

Soo Jae dan Hye Joon tengah menikmati wine di bar ruang santai mansion. Soo Jae sudah menceritakan semuanya ke Hye Joon tentang pertemuannya dengan Yeri yang tidak sengaja, namun pertemuan tidak sengaja itu terus saja berlanjut walau mereka berdua tidak saling mengenal.


"Jadi namanya Park Yeri?" tanya Hye Joon setelah menyesap wine di gelasnya.


"Ya. Aku ingin kau mencari tahu tentangnya Hyung. Dan juga, lelaki tadi. Dia terlihat begitu kasar saat menarik tangan Yeri."


"Lalu, kenapa kau tidak menghentikannya?"


"Aku bisa apa? Pria itu adalah kekasihnya. Dan juga, tadi aku belum mengenali dia sepenuhnya. Aku baru mengingatnya saat ia kekasihnya sudah membawahnya pergi dengan mobil." jelas Soo Jae dengan raut wajah datar.


"Dia sudah punya kekasih. Lalu untuk apa kau ingin mencari tahu tentangnya?"


"Aku hanya ingin tahu saja. Kau mau membantu atau tidak?" tanya Soo Jae jengah.


"Baiklah, aku akan mencari tahu tentangnya."


Mereka berduapun menikmati minuman mereka kembali.


********


Rumah sakit...


"Dokter, bagaimana anak saya?" tanya nyonya Park saat sang dokter baru saja keluar dari ruang operasi.


"Iya dokter, apa operasinya berjalan lancar?" sahut tuan Park dengan raut wajah khawatir.


"Apa kalian wali dari pasien Park Yeri?" tanya sang dokter,


"Iya dokter, kami orang tuanya." jawab tuan Park.


"Operasinya berjalan lancar dan kami sudah menghentikan pendarahannya. Selebihnya, kita tunggu sampai pasien sadar terlebih dulu. Pasien akan segara di pindahkan ke ruang rawat inap."


"Baik dokter, terima kasih." jawab tuan Park.


Selang beberapa menit kemudian, para perawat membawah Yeri keluar dari ruang operasi dengan keadaan Yeri masih belum sadarkan diri. Yeri akan dipindahkan ke ruang rawat inap VIP di rumah sakit tersebut. Tuan Park ingin putrinya mendapatkan perawatan yang terbaik agar putrinya kembali sehat.


******


Tit...tit...tit...


Bunyi alat detektor jantung memenuhi ruang inap Yeri. Nyonya Park tidak henti-hentinya menangis di samping Yeri dengan mengenggam hangat tangan Yeri. Hari sudah berganti malam namun, Yeri masih belum sadarkan diri setelah menjalani operasi.


"Yeobo, makanlah dulu. Kau dari siang belum makan sama sekali." ucap tuan Park


"Aku tidak lapar."


"Jika kau tidak makan, kau akan sakit dan akan membuat putri kita sedih, karena saat dia sadar tidak melihat eommanya berada disampingnya."

__ADS_1


Mendengar itupun nyonya Park menatap sendu tuan Park dan langsung mengangguk pelan menurut untuk makan.


Pasangan suami istri itupun makan malam di ruang tunggu di dalam ruang rawat inap Yeri. Mereka berdua hanya memakan makan malamnya sedikit karena perut mereka berasa penuh karena terus memikirkan keadaan Yeri, yang masih nyaman berbaring dan menutup matanya di ranjang pasien. Hingga...


Ceklek...


"Appa eomma." panggil Hwan saat memasuki kamar rawat inap Yeri.


Hwan menghampiri kedua orang tua Yeri dengan raut wajah sedih.


"Maaf, aku baru datang." ucap Hwan dengan rasa bersalah.


"Tidak apa Hwan. Kami mengerti, kau pasti sibuk bekerja." ucap tuan Park.


Kedua orang tua Yeri mengetahui jika Hwan sedang mengelola bisnis kecilnya, namun kenyataannya Hwan tidaklah bekerja atau mengelola bisnis. Tapi, Hwan memanfaatkan kekayaan dari Yeri dan menjadikan Yeri sumber keuangannya untuk memenuhi segala kebutuhannya.


Hwan juga berpura-pura tidak tahu menahu akan kecelakaan yang menimpa Yeri. Siang tadi setelah pihak rumah sakit menghubungi kedua orang tua Yeri, ia memilih langsung meninggalkan rumah sakit agar ia tidak disalahkan akan kecelakaan yang menimpa Yeri.


"Ba..bagimana kondisi, Yeri?" tanya Hwan dengan pelan dan masih memasang raut wajah sedih.


"Dia belum sadar, kau bisa melihatnya." jawab tuan Park dan hanya di angguki pelan Hwan.


Hwan pun berjalan menemui Yeri yang terbaring di ranjang pasien, dapat Hwan lihat muka pucat Yeri dan mata yang terpejam rapat dengan perban yang membalut kepala Yeri.


"Yeri-a, sayang. Aku datang." bisik Hwan tepat di telinga Yeri, "Aku harap kau lupa ingatan atas apa yang terjadi tadi. Tapi, jangan pernah melupakanku. Karena kau hanya milikku dan kau harus selalu mengingatku. Lim Hwan kekasihmu." lanjut Hwan berbisik dan tersenyum tipis.


********


Pagi sudah datang, hari ini Soo Jae memutuskan untuk pergi ke perusahaannya. Soo Jae sekarang sudah berada di kantornya, ia sudah sibuk dengan beberapa dokumen dari kontrak kerjasama antar perusahaan lain. Hingga ke hadiran Hye Joon membuatnya menghentikan aktivitas nya dan langsung menatap penuh harap ke arah Hye Joon.


"Lihat, aku sangat membenci tatapanmu saat ini, kau hanya menatapku seperti itu untuk mendapatkan sesuatu dari ku." ucap jengah Hye Joon.


"Bagaimana? Kau sudah mengetahui tentang Park Yeri?" tanya Soo Jae penuh harap.


"Park Yeri, 20 tahun putri kedua di keluarga Park. Dia berkuliah di Universitas Seoul dan kekasihnya Lim Hwan, dia hanya seorang lelaki yang tidak bekerja setelah aku mencari tahu."


"Lelaki itu tidak bekerja? Dia pengangguran?"


"Iya." jawab singkat Hye Joon, "Dan.. Aku mendengar kabar dari orang kepercayaanku, kalau Yeri mengalami kecelakaan siang kemarin." lanjutnya.


"Apa? Kecelakaan? Bersama kekasihnya juga?" tanya Soo Jae sedikit terkejut.


"Tidak, dia sendiri. Kabarnya Yeri menjadi korban tabrak lari."


Soo Jae yang mendengar itupun mengerutkan keningnya. Ia merasakan ada sesuatu dari kecelakaan yang menimpa Yeri.


"Hyung, apa kau tahu dimana Yeri di rawat?"

__ADS_1


*******


Rumah sakit...


"Yeri-a, kenapa kau masih betah untuk tidur sayang? Apa kau tidak bosan tidur seperti ini sayang? Bangun sayang." ucap nyonya Park dengan mata berkaca-kaca.


Hari sudah berganti namun Yeri masih belum sadar dari kemarin. Kedua orang tua Yeri, terus menemaninya dan berharap Yeri segara sadar dari tidur lelapnya.


"Kita doa kan saja, agar putri kita cepat sadar." ucap tuan Park menenangkan istrinya agar tidak menangis lagi.


Hwan yang sedari tadi duduk di sofa dekat ranjang Yeri, memasang wajah jengah melihat drama kesedihan orang tua Yeri. Ia merasa mengantuk dan juga lelah karena semalam harus berpura-pura menjaga Yeri dan hanya tidur sebentar.


"*Jika bukan karena mengambil hati orang tuamu, aku tidak akan menungguimu seperti ini, Park Yeri." keluh Hwan dalam hati.


"Aku sangat merindukan A-yeong, harusnya pagi ini aku bangun dengan memeluk A-yeong. Tapi, aku malah terjebak di ruangan ini. Menyebalkan sekali." batin Hwan kesal*.


"Hwan-a, kau bisa meninggalkan Yeri. Biar appa dan eomma yang menjaganya disini. Kau pasti mempunyai banyak pekerjaan di kantormu." ucap tuan Park yang sudah duduk disamping Hwan.


"Tidak appa, aku ingin menunggu Yeri sampai sadar." tolak Hwan pelan.


"Jangan seperti itu, kau kan baru memulai bisnis mu, jadi kau tidak bisa menunda pekerjaanmu begitu saja. Pulanglah dan urus pekerjaanmu, kau bisa kembali lagi nanti."


"Baiklah, appa. Aku pamit dulu." pamit Hwan mengalah dan menuruti ucapan tuan Park, "Eomma, Hwan pamit pulang dulu. Nanti Hwan akan kembali." pamitnya pada nyonya Park.


"Iya, hati-hati." jawab nyonya Park.


Hwan pun berjalan mendekati ranjang Yeri, dan menggenggam hangat tangan Yeri.


"Yeri-a, aku akan kembali nanti dan saat aku kembali, aku mohon sambut aku dengan senyummu." ucap Hwan pada Yeri dengan nada dibuat sedih, "Cepatlah bangun." lanjutnya.


"Aku pamit appa eomma." pamit Hwan dan hanya di angguki oleh kedua orang tua Yeri.


Hwan pun melangkahkan kaki nya meninggalkan ruang rawat inap Yeri. Ia tersenyum simpul saat sudah berjalan menuju lift.


"Akhirnya aku terbebas dari ruangan itu. Aku akan menemui A-yeong sekarang, aku sangat merindukannya." ucap Hwan penuh binar bahagia.


Hwan pun langsung mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor A-yeong, ia akan mengirim pesan ke A-yeong untuk memberi kabar jika ia akan menemuinya.


Tap...


"Bukankah dia kekasihnya, Park Yeri?" ucap Soo Jae yang sudah membalikkan badannya menatap punggung Hwan yang sedang berjalan menuju lift dengan pandangan yang masih fokus ke ponselnya.


Setelah mendapat informasi dari Hye Joon, Soo Jae memutuskan untuk mendatangi rumah sakit tempat Yeri di rawat. Dan, saat ia sedang berjalan di lorong menuju kamar rawat Yeri, ia berpapasan dengan Hwan yang sedang memaikan ponselnya.


"Kenapa dia terlihat senang sekali?"


******

__ADS_1


__ADS_2