
"Si..siapa kau?" tanya lirih Yeri, yang baru saja tersadar dari tidur lamanya.
Soo Jae yang melihat Yeri sudah membuka matanya itupun tersenyum hangat menatap Yeri.
"Kim Soo Jae." jawab Soo Jae dengan pelan, "Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu." lanjut Soo Jae dan akan menekan tombol yang berada di dekat ranjang Yeri untuk memanggil dokter.
"Dokter? Apa aku di rumah sakit?" tanya lirih Yeri.
"Iya, kau di rumah sakit sekarang. Aku akan panggilkan dokter." jawab Soo Jae.
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja."
"Baiklah." Soo Jae pun menuruti kemauan Yeri.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kenapa kau ada disini? Aku tidak mengenalmu sama sekali." tanya Yeri memandang Soo Jae penuh tanya.
"Orang tuamu sedang ada pekerjaan, jadi aku disuru mereka untuk menjagamu disini. Dan, kau bisa mengenalku sekarang." jawab Soo Jae dengan senyum tipis.
"Apa maksudmu? Orang tuaku? Sebenarnya kau siapa? Apa maksudmu, bisa mengenalmu sekarang? Apa itu berarti kita tidak saling mengenal sebelumnya? Lalu untuk apa kau berada disini?" tanya Yeri beruntun dengan raut wajah bingung.
Huh..
Helaan nafas kasar keluar dari bilang bibir Soo Jae, ia memijat pangkal hidungnya karena merasa lelah harus menjawab semua pertanyaan yang terlontar dari mulut Yeri.
"Kim Soo Jae, itu namaku. Kita memang tidak saling mengenal, tapi mulai sekarang kita akan saling mengenal. Jadi berhenti bertanya terus, aku bukan orang jahat." jawab Soo Jae jengah.
"Kau baru sadar tapi sudah banyak bicara." keluh pelan Soo Jae.
Yeri yang mendengar itupun langsung memasang wajah tertekuk dan diam tanpa menjawab atau mempertanyakan tentang Soo Jae lagi.
"Apa salahnya aku banyak bicara? Dasar orang asing." batin Yeri kesal terhadap Soo Jae.
"Kenapa sekarang kau diam? Apa kepalamu terasa sakit? Kau mau aku panggilkan dokter?" tanya Soo Jae sedikit khawatir.
"Tidak aku baik-baik saja." jawab Yeri sedikit ketus.
"Kau marah?"
"Tidak."
"Dasar wanita." ucap Soo Jae ikut kesal.
"Ya aku wanita, kau pikir aku lelaki." jawab kesal Yeri.
"Kau baru mengalami kecelakaan kemarin hingga harus menjalani operasi, tapi lihat sekarang. Kau malah berbicara ketus seolah kau bukan pasien."
Deg...
Dada Yeri langsung berdenyut nyeri ketika mendengar penuturan Soo Jae. Seolah ada sesuatu yang menghantam dadanya dengan begitu keras, hingga membuat nya terasa nyeri.
"Ke-kecelakaan? O-operasi?" tanya lirih Yeri.
Soo Jae yang mendengar itupun mengerutkan keningnya, bingung.
__ADS_1
"Kau tidak ingat, kalau kau mengalami kecelakaan, kemarin?" tanya Soo Jae pelan, dengan menatap dalam kedua manik sendu Yeri.
"Ti-tidak." jawab Yeri dengan gelengan kepala.
"Aku akan memanggil dokter."
*********
Setelah Soo Jae memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Yeri, dokter langsung mendatangi ruang rawat inap Yeri bersama perawat dan langsung memeriksa kondisi Yeri.
"Nona, apa ada keluhan yang anda rasakan sekarang?" tanya dokter.
"Hanya merasa sedikit sakit dikepala."
"Baiklah. Lalu ada lagi yang anda rasakan selain merasa sakit dikepala?"
"Apa saya mengalami kecelakaan?" tanya lirih Yeri,
"Anda tidak ingat, jika kemarin anda mengalami kecelakaan?" tanya sang dokter.
"Tidak, saya tidak mengingat apapun."
"Anda di bawah ke rumah sakit kemarin, karena mengalami kecelakaan dan mengakibatkan pendarah otak hingga kami melakukan tindakan operasi." jelas sang dokter, "Apa anda mengingat nama anda? Atau keluarga anda?"
Yeri hanya menggelengkan pelan kepalanya dengan tatapan sendu.
"Baiklah, saya akan membicarakan kondisi anda dengan wali anda nanti. Saya permisi dulu." ucap dan pamit sang dokter.
"Maaf dokter, apa anda bisa jelaskan ke saya?" tanya Soo Jae yang menyusul dokter yang sudah berada di luar ruang rawat inap Yeri.
"Iya, saya adalah calon suami pasien. Bagaimana kondisinya sekarang? Apa yang terjadi dengan calon istri saya, dokter?"jawab bohong Soo Jae dan tanya Soo Jae ingin tahu.
"Dari pasien tidak mengingat dirinya sendiri dan kejadian yang dia alami. Maka diagnosa saya, pasien mengalami Amnesia Disosiatif. Dimana pasien tidak bisa mengingat apapun tentang dirinya maupun kejadian-kejadian yang pasien alami." jelas sang dokter.
"Amnesia?" tanya Soo Jae sedikit tidak percaya,
"Iya, itu bisa saja terjadi karena pasien mengalami pendarahan pada otak, akibat benturan keras saat kecelakaan dan juga bisa terjadi karena akibat trauma atau depresi." jelas sang dokter kembali.
"Depresi?"
"Iya, depresi juga bisa mengakibatkan Amnesia Disosiatif." jawab sang dokter, "Jika saya boleh tahu, apa pasien pernah mengalami kekerasan?" tanya sang dokter.
"Apa maksud dokter? Kekerasan?"
"Iya, dari hasil pemeriksaan di badan pasien ada sejumlah memar di punggung, leher dan juga pergelangan tangan pasien terdapat beberapa sayatan benda tajam."
Soo Jae hanya diam tidak menjawab, karena ia tidak begitu mengenal Yeri. Tapi iya harus tahu semua kondisi Yeri dengan berpura-pura menjadi calon suami Yeri.
"Calon istri saya itu, orang nya sangat pendiam dokter dan saya tidak tahu jika calon istri saya memiliki luka sayatan di pergelangan tangannya."
"Baiklah, saya mengerti. Saya akan membuat jadwal bertemu dengan dokter Psikiater, agar bisa memeriksa lebih lanjut keadaan mental pasien." jawab dokter ramah,
"Apa ingatan calon istri saya bisa pulih kembali, dok?" tanya Soo Jae
__ADS_1
"Tentu bisa, dengan menceritakan kembali tentang dirinya dan lingkungannya. Itu bisa menjadi pemicu agar ingatan pasien kembali, tapi harus secara pelan. Jika tidak, pasien bisa saja mengalami amnesia permanen."
"Baiklah, dokter. Terima kasih." ucap Soo Jae setelah dokter menjelaskan kondisi Yeri secara rinci.
Dokterpun meninggalkan Soo Jae yang masih berdiri di depan pintu dengan pikirannya yang berkecamuk.
"Aku harus mencari tahu penyebab Yeri kecelakaan." ucap lirih Soo Jae.
*********
Hari telah berganti malam dan diluar tengah hujan deras. Yeri dan Soo Jae kini juga sudah semakin akrab setelah 4jam bersama.
Soo Jae menceritakan banyak hal tentang dirinya kepada Yeri, namun Yeri juga sedikit merasa sedih karena tidak dapat menceritakan apapun tentang dirinya karena dia tidak mengingat apapun.
Walaupun begitu, mereka sekarang sudah menjadi teman dan Soo Jae juga memberitahu, siapa nama Yeri.
"Kau masih butuh sesuatu?" tanya Soo Jae pelan setelah membantu Yeri untuk minum.
"Tidak oppa." jawab Yeri dengan senyum manisnya, "Terima kasih."
"Sama-sama." jawab Soo Jae dengan tatapan teduhnya.
Keduanya saling menatap dalam, seolah mereka sedang berbicara lewat pandangan mereka. Namun, mereka harus memutus pandangan mereka ketika mendengar suara pintu terbuka.
"Yeri, sayang.. Kau sudah sadar sayang?" ucap nyonya Park yang baru saja memasuki ruang rawat inap dan langsung berlari kecil mendekat ke Yeri.
"Yeri-a, kau sudah sadar?" tanya tuan Park juga yang baru memasuki ruangan dan melihat Yeri yang duduk bersandar di ranjangnya dengan dipeluk hangat oleh istrinya.
"Siapa kalian?" tanya lirih Yeri yang masih dipeluk oleh nyonya Park.
Nyonya Park dengan perlahan melepaskan pelukannya dari Yeri dan menatap sendu kedua manik Yeri.
"Kau tidak mengingat, eomma sayang?" tanya lirih nyonya Park.
"Yeri-a, ini appa sayang. Kau tidak mengingat appa dan eomma?" tanya Tuan Park dengan nada sedih.
"Maaf tuan, nyonya. Saat Yeri sadar, dokter langsung memeriksanya dan.. Dokter bilang, jika Yeri mengalami Amnesia Disosiatif." sahut Soo Jae yang berdiri tidak jauh dari ranjang Yeri.
Kedua orang tua Yeri yang mendengar penjelasan Soo Jae itupun merasa sedih karena Yeri tidak mengingat mereka.
"Yeri sayang, ini eomma. Ibu kandungmu sayang." ucap Nyonya Park mengenalkan dirinya.
"Eomma.." jawab Yeri lirih dengan mata berkaca-kaca.
"Iya sayang ini eomma."
"Ini appa Yeri-a, ayah kandungmu." sahut tuan Park memperkenalkan dirinya.
"Eomma appa." panggil lirih Yeri dan langsung memeluk sang eomma erat di susul dengan tuan Park yang juga ikut memeluknya.
Soo Jae yang melihat keluarga kecil yang begitu hangat itupun, hanya bisa tersenyum tipis dengan tatapan sendunya.
"Eomma, aku merindukanmu. Dan, sepertinya takdir membawahku pada seseorang yang harus aku jaga dan aku lindungi." batin Soo Jae mengingat sang eomma dan takdir yang mengikatnya dengan Yeri.
__ADS_1
*******