
Kriiinggg....
Suara bel berbunyi nyaring, menandakan istirahat di jam makan siang telah tiba. Semua siswa dan siswi pun berhamburan dari kelas untuk meninggalkan ruang kelas masing-masing.
"Y-yeri-a.." Panggil Hansu sedikit takut-takut. " A-ayo kita ke kantin, Anna pasti sudah menunggu kita." Lanjut nya.
"Tidak, aku di kelas saja. Pergilah." jawab Yeri
"Tapi.."
"Pergilah Hansu-a. Aku ingin di kelas saja. Aku mohon." Potong Yeri dengan nada dinginnya.
"Ba-baiklah. Jika kau ingin menitip sesuatu, kabari aku. Aku ke kantin dulu."
Hansu pun pergi tanpa Yeri. Hansu benar-benar tidak mengerti dengan sikap Yeri sedari pagi. Yeri yang biasa nya ceria, selalu mengajak mengobrol, bercanda bahkan bergosip. Menjadi Yeri yang ia kenal dulu saat pertama kali menjadi murid baru. Yeri yang dingin, tidak banyak bicara dan hanya menghabiskan waktu istirahatnya berdiam diri di kelas untuk menyendiri. Entah hal apa yang sedang menimpa temannya itu hingga membuatnya kembali seperti Yeri yang menutup diri dan tidak perduli dengan sekitarnya.
"Aku harap dia baik-baik saja." Monolog Hansu lirih saat berjalan pelan ke kantin sambil menundukkan kepalanya sedih, karena sikap dingin Yeri kembali.
Yeri yang memilih diam di kelas pun hanya bisa menengkulupkan kepala nya bersembunyi di antara lengannya. Yeri juga merasa bersalah karena bersikap dingin ke Hansu. Tapi mau bagaimana lagi, pikiran Yeri masih benar-benar kalut. Dan ia hanya ingin sendiri tanpa ada yang menganggunya.
Yeri bahkan merasa tidak lapar sama sekali, seolah perutnya sudah terisi penuh. Walaupun ia sudah melewat jam makan malamnya kemarin, sarapan pagi tadi dan sekarang ia juga melewatkan jam makan siangnya. Yeri benar-benar tidak memeliki nafsu makan sama sekali. Ia hanya ingin sendiri, menyembunyikan dirinya agar tidak ada siapapun yang mengetahui keberadaannya. Ya, seperti itulah pikiran Yeri. Hanya inginkan kesendirian saja.
"Kau memang tidak pernah bisa berubah Park Yeri. Kau memang hanya pantas sendirian tanpa berteman atau dekat dengan siapa pun. Kau tidak pantas di perhatikan kau hanya pantas untuk sendiri, hanya seorang diri." Monolog nya lirih sambil menahan isakan tangisnya.
Yeri Pov...
Kegelapan, Mungkin itu adalah tempat yang tepat untuk ku. Karena di tempat seperti itu hanya akan ada diriku seorang diri tanpa ada siapapun yang akan melihatku atau mengetahui keberadaanku. Tapi, Jujur dari hati. Aku sangat ingin lari dari kegelapan,kesunyian dan kehampaan yang terjadi dalam hidupku. Aku tidak ingin sendiri, aku tidak ingin berada di kegelapan ini. Aku ingin diperhatikan seperti teman-temanku yang lain. Tapi..
Aku selalu di tinggalkan, aku selalu sendirian. Bahkan di usiaku yang menginjak 5 tahun aku sudah harus terbiasa mandiri dan sendiri. Saat aku ingin berangkat sekolah, aku mandi membersihkan diriku sendiri, memakai seragamku sendiri tanpa bantuan dari eomma, menyisir dan menguncir rambutku sendiri walau tangan kecilku sangat susah sekali saat menguncir rambut panjangku sendiri, aku juga selalu sarapan sendiri karena eomma dan appa sudah pergi bekerja lebih dulu, dan eonni.. Kakak perempuanku, juga selalu berangkat pagi-pagi sekali ke sekolahnya untuk menghindari appa. Sama halnya yang sedang aku lakukan hari ini.
eonni juga mengalami hal yang sama sepertiku, kurang di perhatikan dan juga mendapatkan kekerasan sejak kecil dari appa kami sendiri. Bahkan aku dan eonni pun tidak seperti saudara kandung pada umumnya, Yang saling berbagi, bermain, bercanda dan menghabiskan waktu bersama. Tidak.. Tidak seperti itu, aku dan eonni seperti orang asing satu sama lain. Karena aku dan eonni selalu mengurung diri dalam kamar kecil kami masing-masing.
Eomma, appa.. Yeri juga menginginkan perhatian, kasih sayang dan juga waktu bersama seperti teman-teman Yeri lainnya. Eomma, Yeri ingin eomma memandikan Yeri dan memakaikan seragam, Yeri ingin eomma merapikan dan menguncir rambut Yeri, Yeri juga ingin eomma menyuapi Yeri. Yeri menginginkan hal seperti itu. Dan Appa..
__ADS_1
Bisa kah appa tidak memukul Yeri saat Yeri merengek meminta waktu bersama atau meminta hal lainnya? Yeri sangat takut saat appa memukuli Yeri, badan Yeri pun terasa sangat sakit saat appa pukuli , tapi saat appa memukuli Yeri appa selalu tidak membolehkan Yeri untuk menangis dan Yeri pun menahan itu semua untuk menurut pada appa, agar appa berhenti memukuli Yeri.
Dan bisakah appa tidak meninggi kan suara appa saat mengingatkan Yeri? Yeri juga merasa takut saat appa meninggikan suara appa. Dan bisakah Appa dan eomma meluangkan waktu untuk bermain bersama dengan Yeri dan Eonni? Kami sangat membutuhkan kalian. Sangat.. Walau sedikit terlambat.
Dan.. apa, eomma dan appa tau? Yeri menjadi sangat pendiam sejak Yeri mendapatkan kekerasan dari appa, dan eomma hanya diam melihat tubuh kecil Yeri di pukuli dan Meringkuk di lantai dingin itu. Yeri masih sangat jelas mengingat hari itu dan juga di tambah appa dan eomma tidak datang untuk melihat Yeri mengikuti perlombaan,mulai saat itu Yeri hanya ingin sendiri dan mulai dari situ juga Yeri memiliki sikap dingin Yeri..Yeri kecil Eomma dan Appa yang manis dan ceria sudah menghilang..
Aku tidak ingin sendiri, aku benci sendiri.. Aku sangat membenci kesendirian.. Aku ingin menjadi Yeri yang ceria, berada di keluarga yang hangat, dan punya banyak teman. Salahkah aku menginginkan hal itu?
Yeri pov end...
******
Satu minggu berlalu. Yeri benar-benar menjadi Yeri yang pendiam dan penyendiri. Satu minggu itu pula Yeri masih menghindari bertemu orang tuanya. Entah lah, Yeri masih belum bisa berhadapan langsung dengan orang tuanya. Hari ini, hari minggu. Yeri pun tetap mengurung diri di dalam kamar mewahnya.
tok..tok..tok...
"Yeri-a, sayang. Ayo sarapan. Kenapa kau terus-terusan mengurung diri seperti ini Yeri-a? Eomma mohon, jangan seperti ini terus." ucap nyonya Park dari luar kamar Yeri.
Nyonya Park sudah 4kali mencoba membujuk Yeri keluar kamar dan turun untuk makan bersama. Namun, usahanya itu tidak membuahkan hasil. Karena Yeri masih saja mengurung diri tanpa mau makan, bahkan nyonya Park tidak pernah melihat Yeri makan dirumah selama satu minggu terakhir ini. Pikirannya nyonya Park begitu kalut dan khawatir akan keadaannya anak bungsunya itu.
"Baiklah." ucap singkat tuan Park dan bangkit dari duduk nya di sofa ruang keluarga.
Tuan Park pun menaiki tangga untuk membujuk Yeri keluar dari dalam kamarnya. Entah berhasil atau tidak, setidaknya tuan Park harus membantu istrinya untuk membujuk anaknya itu. Bagaimanapun juga tuan Park juga sedikit khawatir pada anaknya itu. Dia terlalu keras saat memarahi Yeri waktu itu, tuan Park juga merasa bersalah hingga tidak tahu harus bagaimana menghadapi sang anak.
tok..tok..tok..
"Yeri-a.." panggil tuan Park setelah mengetuk pelan pintu kamar Yeri.
"Yeri-a. Ayo sarapan bersama, appa sudah lapar karena menunggu mu dari tadi. Dan eomma mu itu tidak membolehkan appa makan jika tidak berhasil membawah mu keluar kamar dan turun untuk sarapan bersama." bujuk tuan Park.
"Maafkan appa Yeri-a. Appa terlalu banyak menyakiti mu nak, maaf app.."
Ceklek..
__ADS_1
Belum sempat tuan Park melanjutkan ucapannya, pintu kamar Yeri terbuka perlahan. Menampil Yeri daribalik pintu yang sedang menundukkan kepalanya.
"ap-pa.." ucap lirih Yeri masih memunundukkan kepalanya.
Tuan Park yang berhasil membuat Yeri membuka pintu kamarnya itu pun, langsung tersenyum melihat Yeri. Dan tuan Park pun langsung memeluk sayang Yeri, anak bungsunya yang manis.
"Maafkan appa Yeri-a. Karena membentak mu, dan.." ucap tuan Park dengan menjeda kalimatnya. "Appa hampir menamparmu." lanjut lirih tuan Park masih mendekap sayang anaknya.
"Ti-tidak appa. Yeri yang salah. Maafkan Yeri juga karena sudah meninggikan suara saat berbicara dengan Appa. Maaf appa, maafkan Yeri." jawab Yeri lirih dan menangis di dekapan sang appa, karena tidak bisa lagi menahan segala sesuatu yang berkelut di pikiran dan hatinya.
"Tidak nak, maafkan appa. Menangislah sepuas Yeri, appa disini." ucap tulus tuan Park sambil mengelus sayang kepala Yeri.
Yeri yang mendengar itupun, semakin terisak didalam dekapan tuan Park, untuk pertama kalinya bagi Yeri menangis didalam dekapan sang appa. Seolah meminta perlindungan, rasa aman dan nyaman. Yeri merasa bahagia, sangat. Jika ini mimpi Yeri tidak ingin bangun dari mimpi indah ini. Dimana appanya memeluknya, membiarkan ia menangis mengeluarkan segala yang ia tahan seorang diri, dan mengelus kepalanya hangat. Nyaman sekali. Sangat.
"Apa kalian melupakan eomma sekarang?" ucap tiba-tiba nyonya Park. Membuat tuan Park merenggangkan pelukannya, dan tersenyum lembut ke sang istri.
"Kemarilah, anak kita sedang ingin bermanja." ucap tuan Park sambil mengulurkan tangan kanannya untuk mengajak sang istri memeluk anaknya juga.
Nyonya Park pun tersenyum hangat dan berjalan menghampiri sang suami dan anaknya. Ikut memberikan pelukan hangat untuk sang anak, memberikan kenyamanan dan menyalurkan segala kasih sayang nya kepada sang anak. Sungguh, seperti inikah keluarga hangat yang Yeri inginkan selama ini.
Yeri tidak akan pernah melupakan rasa nyaman ini untuk pertama kalinya ia rasakan. Mendapatkan dekapan hangat dari kedua orang tuanya yang sangat ia sayangi, walaupun dulu Yeri sempat mendapatkan kekerasan berkali-kali. Bukan berarti Yeri membenci orang tuanya. Tidak, Yeri tidak pernah membenci orang tuanya. Tidak pernah sedikitpun terlintas dibenak dan pikiran Yeri untuk membenci orangtuanya.
Seringkali orang tua akan melakukan kesalahan juga dalam mendidik dan membesarkan anak. Tapi, satu hal yang pasti. Tidak ada orang tua yang tidak sayang pada anaknya sendiri, pasti dilubuk hati setiap orang tua memiliki kasih sayang yang begitu tulus untuk anak-anaknya. Dan sekarang mungkin Appa dan eomma Yeri merasa menyesal karena tidak mendidik,membimbing dan memberikan perhatian dan kasih sayang yang penuh untuk Yeri.
"Maafkan appa Yeri-a...maaf untuk segalanya." ucap pelan Tuan Park.
"Eomma juga Yeri.. Maafkan eomma."
"Yeri memaafkan appa dan eomma, maafkan Yeri juga."
"Appa dan eomma juga memaafkan Yeri.." jawab tuan Park
"Jadi, bisakah kita sarapan sekarang? Appa sudah sangat lapar Yeri-a..." lanjut tuan Park dengan nada suara di buat lucu.
__ADS_1
Yeri dan nyonya Park pun tertawa saat mendengar nada suara lucu tuan Park. Yeri pun mengangguk dan turun ke bawah bersama orangtuanya untuk sarapan bersama dan memulai menjadi keluarga kecil yang hangat.
*******