Blacklight A Life

Blacklight A Life
Chapter 6


__ADS_3

"Kita pulang sekarang" ucap tuan Park dingin


Tuan Park tiba-tiba datang dan menarik Yeri keluar meninggalkan Cafe dan Yejin yang masih diam mematung karena terkejut akan kedatangan tuan Park.


"Masuk!!" ucap dingin tuan Park mendorong Yeri masuk ke dalam mobil.


"A-appa, Yeri tid.."


"Diam Yeri!!!"


Yeri yang takut pun hanya menurut dan memilih diam. Ia tidak ingin membuat appa nya semakin marah.


Chiit..


Mobil yang dikendarai Tuan Park pun sampai di mansion mewahnya. Tuan Park turun lebih dulu dan disusul oleh Yeri.


Yeri berjalan takut sambil menunduk mengikuti langkah sang appa memasuki mansionnya.


"Apa yang akan kau rencana kan dengan temanmu itu Yeri?" Mulai Tuan Park dengan nada dinginnya.


"Y-yeri tidak m-merencanakan apapun, appa." Jawab Yeri gugup dan takut.


"Jangan membohongi appa Yeri!! Appa sudah bilangkan jangan mengulangi kesalahanmu yang dulu lagi. Jika kau tidak ingin apa hukum lagi"


"T-tidak appa. Y-yeri tidak melakukan apapun. Yer..."


"Jangan berbohong Park Yeri." Ucap Tuan Park dengan Nada meninggi.


"Kau pasti sedang merencanakan sesuatu dengan temanmu itu hingga kau bertemu lagi dengannya" Lanjut tuan Park.


"Ti-tidak appa. Yeri dan Yejin.."


"Jangan menyebut namanya Park Yeri"


Yeri memilih untuk diam, bahkan ia sudah menangis karena takut. Harus seperti apa Yeri menjelaskan bahwa iya dan Yejin tidak merencanakan apapun.


"Kenapa kau diam Park Yeri? dan appa tidak menyuruhmu untuk menangis. Apa kau ingin kembali seperti dulu lagi menjadi anak nakal? Menjadi anak yang suka membolos? Bermain tanpa tahu waktu dan.."


"Cukup Appa!!" Jawab Yeri dengan sedikit meninggikan suaranya


"Cukup" lirih Yeri melanjutkan.


"Park Yeri!!!" Panggilan Tuan Park penuh penekanan dan reflek menganggkat tangan kanan nya ke atas untuk menampar anaknya.


"Apa? Appa mau menamparku? Tampar saja appa. Kau juga bisa memukuliku, silahkan appa silahkan" Tantang Yeri.


"Pergi ke kamar mu Park Yeri!!" Perintah tuan Park sambil menurunkan tangannya kembali dan menahan emosinya.


"Kenapa appa? Tampar dan pukul saja, Aku akan menerimanya appa. Waktu kecil pun kau juga pernah memukuli ku bukan?Dan aku tidak merencanakan kenakalan apapun dengan Yejin. Apa harus, aku melakukan kenakalan dulu agar kau meperhatikanku seperti ini appa? Bahkan kau sampai menyuruh orang untuk memata-matai ku, saat aku menjadi Yeri kecil yang manis kau tidak pernah memperdulikanku appa. Aku sendiri, aku sendiri appa. Aku kesepian!!" Ucap Yeri dengan suara gemetar nya dan lari menaiki tangga ke kamarnya. Meninggalkan appa nya yang masih diam mematung.


Sesak, begitu sesak dada Yeri. Baru kali ini Yeri berdebat dengan appa nya. Bahkan Yeri pun meninggikan suaranya. Yeri menyesal, dan Yeri juga takut jika kejadian kekerasan itu terjadi lagi padanya. Ya kekerasan, yang Terjadi pada Yeri kecil.


Flasback on...


"Yeri-a" Panggil seseorang


"Iya ssaem."


"Minggu depan, Yeri terpilih ikut lomba membacakan puisi, dengan tema Aku Bahagia. Jadi, apa Yeri bisa membuat puisi indah untuk lomba minggu depan" tanya seonsaengnim Yeri.


"hm, tentu ssaem. Yeri akan membuat puisi yang sangat indah. Dan Yeri juga akan memakai gaun yang cantik untuk lomba minggu depan. Nanti Appa,eomma, seonsaengnim, teman-teman dan semua orang akan bertepuk tangan meriah untuk Yeri."Ucap ceria Yeri kecil.


"Tentu Yeri-a. Ssaem akan sabar menunggu, untuk mendengarkan puisi yang akan Yeri bacakan nanti." Jawab seonsaengnim


"Baiklah anak-anak. Sekarang bersiap untuk pulang." lanjut seonsaengnim


"Iya ssaem." Jawab semua anak-anak murid bersamaan dengan cerianya.

__ADS_1


Yeri kecil sangat senang saat tahu kalau ia terpilih mengikuti lomba puisi yang akan di lakukan antar kelas. Saat ini Yeri kecil masih bersekolah di taman kanak-kanak. Sekolah nya memang sering mengadakan lomba antar kelas, seperti melukis, bernyanyi dan membaca puisi. Itu bertujuan untuk mengasah kekreatifan dan rasa percaya diri murid-muridnya.


"Yeri-a!! Yeri, terlihat sangat senang sekali? Apa Yeri mendapat nilai bagus hari ini?"


"Yeri terpilih ikut lomba membaca puisi imo." Jawab Yeri kecil ke orang yang di panggil imo.


"Iya, eomma. Yeri terpilih untuk ikut lomba baca puisi. Bahkan Yeri tadi berkata akan memakai gaun cantik saat lomba nanti." Sahut Yoora ikut membenarkan ucapan Yeri Kecil.


Yeri kecil sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya bersama eomma Yoora, Shin Hara dan tentu juga bersama dengan Shin Yoora teman sekelas Yeri kecil. Ia memang selalu di antar jemput oleh nyonya Shin. Karena nyonya Park menitipkan Yeri kecil kepada nyonya Shin untuk berangkat dan pulang bersama.


"Wah.. Imo jadi tidak sabar menunggu uri Yeri tampil membacakan puisi." Ucap nyonya Shin.


"Yeri akan membuat puisi yang indah, jadi imo harus memberikan tepuk tangan yang meriah untuk Yeri nanti. Kau juga Yoora-a" ucap Yeri kecil dengan wajah ceria dan hanya mendapatkan anggukan kepala dari Yoora.


"Baiklah, Imo akan menunggunya. Dan kita sudah sampai. Ayo imo antar sampai depan pintu." Sahut nyonya Shin


"Tidak perlu imo. Terimakasih sudah mengantar dan menjemput Yeri setiap sekolah" Ucap Yeri kecil sopan sambil membungkukkan badannya.


"Imo bisa langsung pulang saja. Hati-hati imo, Yoora-a. paipai." lanjut Yeri kecil sambil melambaikan tangan sebelum turun.


Yeri kecil pun langsung masuk ke dalam rumah sederhananya. Dengan halaman tidak terlalu luas, rumah dengan 2lantai dan 3kamar tidur, ruang tamu yang juga tidak terlalu luas, serta dapur dan ruang makan yang menjadi satu.


Langkah kaki kecil itu melangkah riang memasuki rumah. Saat ingin menaiki anak tangga menuju kamarnya, langkahnya terhenti dan berbalik menuju meja makan. Yeri kecil melihat makanan yang sudah tersusun rapi di meja makan. Yeri kecilpun langsung mencuci tangannya dan segara mendudukan diri untuk makan.


"Apa eomma sudah pergi lagi." monolog Yeri kecil


Yeri kecil memakan makan siang nya seorang diri. Setelah makan Yeri kecil langsung menuju kamarnya. Berganti baju sendiri seperti biasanya dan langsung pergi tidur siang. Semua sudah biasa Yeri kecil lakukan sendiri. Bahkan ia tidak merasa takut walau ditinggal dirumah sendirian.


Yeri memiliki seorang kakak perempuan, namun mereka tidak terlalu banyak berinteraksi, bahkan Yeri kecilpun merasa asing dengan kakak perempuan satu-satunya. Yeri kecil memang selalu mengahabiskan waktunya didalam kamar nya. Ia hanya akan keluar kamar menyambut kakak perempuannya pulang dari sekolah atau orang tuanya saat mereka telah pulang ke rumah.


Ceklek..


Terdengar suara pintu terbuka membangunkan si kecil Yeri. Yeri kecil pun segara bagun dari tempat tidur nya berlari keluar kamar. Ia yakin eomma dan appa nya sudah pulang dari bekerja.


"Eomma, Appa." Panggil Yeri kecil dengan senyum ceria


"Maaf eomma"


"Sudah tidak apa. Apa kau lapar Yeri-a?" Tanya nyonya Park.


"Yeri belum lapar eomma. Tapi Yeri ingin memberi tahu eomma dan appa." Jawab Yeri kecil dengan Ceria.


"Apa? Apa Uri Yeri mendapat nilai bagus?" Sahut tuan Park.


Yeri kecil pun tersenyum mendengar sahutan sang appa, ia pun berjalan dan duduk disebelah appa nya yang tengah duduk di sofa ruang tengah.


"Appa. Yeri terpilih mengikuti lomba membaca puisi minggu depan. Appa dan eomma harus datang ya untuk melihat Yeri." Ucap Yeri kecil memberitahu dengan cerianya


"Dan, appa. Yeri ingin memakai gaun yang cantik saat mengikuti lomba nanti. Bolehkah Yeri meminta dibelikan Gaun?" Lanjutnya.


"Wah, benarkah? Tentu, appa dan eomma akan melihat Yeri saat mengikuti lomba membacakan puisi itu nanti. Dan Yeri boleh membeli gaun yang cantik sesuai kemauan Yeri" Jawab tuan Park dengan senyum simpul.


"Benarkah appa? Yeri boleh membeli gaun cantik?" tanya Yeri kecil antusias.


"Tentu saja sayang. Belilah, ajak eonni mu untuk menemani membeli gaun"


"Tidak appa. Yeri mau nya pergi bersama appa dan eomma. Jadi, ayo kita pergi bersama appa. Yeri ingin berjalan-jalan dengan appa dan eomma" Rengek Yeri Kecil.


"Tidak bisa Yeri-a Appa lelah dan banyak pekerjaan" ucap final tuan Park tidak ingin di bantah.


"Yeri maunya di temeni appa dan eomma."


"Park Yeri" bentak tuan Park karena sedikit kesal akan rengekan Yeri


"Kalau kau tidak mau pergi bersama eonni mu, maka tidak perlu membeli gaun" Ucap tuan Park dengan nada Tegas.


Yeri kecilpun menangis karena mendengar bentakan appanya. Karena ia tidak pernah di bentak seperti itu oleh appanya. Walau mereka jarang menghabiskan waktu bersama, Yeri tidak pernah di bentak oleh kedua orang tuanya.

__ADS_1


Yeri kecil semakin kencang menangis karena merasa takut ke appanya. Hingga..


Bruk..


Plak..


Plak..


Tubuh Yeri kecil di hempaskan ke lantai oleh tuan Park dan tubuh Yeri kecil dipukul berkali-kali dengan sendal rumah yang tuan Park pakai. Yeri kecilpun meringkuk takut dan semakin menangis kencang saat tuan Park terus memukulinya.


Plak...


Plak...


"Berhenti menangis, atau appa akan terus memukulmu" Ucap Tuan park dingin


Yeri kecilpun langsung menahan isakannya. Ia tidak ingin di pukul terus-terusan oleh sang appa. Yeri kecil terus berusaha menahan isakan dan rasa sakit di sekujur tubuhnya karena pukulan appanya yang berubi-tubi.


Plak..


Pukulan terakhir dari tuan Park. Karena Yeri kecil menahan isakan tangisnya. Dan tanpa bicara apapun, tuan Park pergi begitu saja meninggalkan Yeri kecil yang masih meringkuk di lantai.


"Kembali ke kamar Yeri-a" ucap nyonya Park tiba-tiba.


Yeri kecil tahu, kalau sedari tadi eomma nya melihat ia di pukuli oleh sang appa. Tapi, eommanya hanya membiarkannya.


Dengan tubuh kecilnya yang bergetar, Yeri kecilpun bangun dan berjalan tertatih untuk menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Appa. Kenapa appa memukuli Yeri? Kenapa eomma hanya diam saja?" Ucap lirih Yeri kecil saat sudah berada di kamarnya.


*****


1minggu kemudian, hari perlombaan membaca puisi.


"Appa, eomma." panggil Yeri kecil saat melihat kedua orang tuanya akan berangkat bekerja.


"Ada apa Yeri-a? Eomma sudah menyiapkan sarapanmu. Mandi, bersiap dan makan sarapanmu, sebelum imo shin menjemput." jawab nyonya park.


"Eomma dan appa tidak lupakan kalau nanti Yeri akan ikut lomba baca puisi. Jadi, eomma dan appa harus datang, jam 10"


"Iya, nanti eomma dan appa akan datang. Sekarang eomma dan appa harus pergi bekerja. eomma dan appa berangkat dulu ya sayang." pamit nyonya Park dengan senyum simpul.


Yeri kecilpun hanya mengangguk, dan langsung kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap berangkat ke sekolahnya. Yeri memilih memakai baju yang ia punya. Setelah kejadian waktu itu, Yeri kecil tidak berani lagi mengungkit untuk dibelikan gaun. Jadi, Yeri kecil memakai baju seadanya.


Disekolah...


"Yeri-a. Ayo imo bantu berganti pakaian." Ajakan nyonya shin.


"Tidak imo. Yeri tetap memakai baju ini."


"Imo membawahkan gaun untuk Yeri. Jadi, Yeri harus memakainya agar terlihat cantik. Ayo sayang" Ajak nyonya Shin lagi dan menarik pelan tangan Yeri kecil ke ruang ganti.


"Wah imo,. Ini gaunnya sangat canti sekali. Terimakasih Imo." Ucap Yeri kecil dengan wajah yang ceria.


"Yeri-a. Ayo sekarang giliranmu."Ucap seonsaengnim tiba-tiba. Yeri kecilpun langsung melepaskan pelukannya dari nyonya Shin.


"Iya ssaem." Jawab Yeri Kecil. "Imo Yeri pergi dulu, dan nanti imo harus memberi tepuk tangan yang meriah untuk Yeri." ucap dan pamit Yeri kecil.


"Tentu sayang."


Yeri kecilpun berjalan ke arah belakang panggung untuk mempersiapkan dirinya. Hingga tiba gilirannya. Yeri kecilpun dengan semangat menaiki panggung. Dapat ia liat banyak orang tua wali murid dan guru yang duduk dikursi depan panggung. Yeri kecilpun melihat kearah tempat duduk orang tua wali murid untuk mencari kedua sosok orangtuanya. Namun, Yeri kecil tidak menemukan appa dan eomma nya di antara orang tua wali murid lainnya. Yeri kecilpun langsung menundukkan kepalanya dalam, karena sedih.


"Appa dan eomma tidak datang."


Flasback off...


******

__ADS_1


__ADS_2