
Jam sudah menunjukkan pukul 21.15. Yeri, Hansu, Anna dan juga Lim Hwan masih berada di cafe. Mereka sedari tadi menikmati waktu mereka dengan mengobrol dan lebih mengenal sosok Lim Hwan.
"Sepertinya aku harus pulang, appa tidak membolehkan ku pulang terlalu larut malam." Ucap Yeri.
"Aku akan mengantarmu pulang dan aku harap kali ini kau tidak menolaknya." sahut Hwan.
"Oppa Hwan benar, Yeri-a. Lebih baik kau diantar olehnya." sahut Hansu juga.
"Hmm.. Apa tidak merepotkan mu, Hwan oppa?"
"Tidak sama sekali Yeri-a." Jawab Hwan dengan senyum hangat.
"Baiklah oppa. Ayo. Hansu-a, Anna-a aku pulang duluan yah. Nanti kalian hati-hati." pamit Yeri.
"Iya, kau juga hati-hati. Dan Hwan oppa, pastikan kau mengantar Yeri tanpa lecet sedikitpun." Jawab Anna. Dan di angguki setuju oleh Hansu.
"Tentu saja. Aku akan mengantarnya dengan hati-hati." Jawab Hwan dengan senyuman.
"Baiklah, ayo oppa." ajak Yeri.
Hwan dan Yeri pun berjalan beriringan keluar cafe. Mereka menuju mobil Hwan yang sedang terparkir di area parkir yang tidak jauh dari cafe tempat mereka berkumpul.
"Masuk lah, Yeri-a." Ucap Hwan mepersilahkan Yeri masuk ke dalam mobilnya saat ia telah membukakan pintu mobil untuk Yeri.
"Kau tidak perlu sampai seperti ini, oppa. Aku bisa membuka sendiri. Tapi, terimakasih." Ucap Yeri sedikit tidak enak hati dan masuk kedalam mobil. Dan kemudian disusul oleh Hwan.
*******
"Yak!!! Soo Jae-a!! Kenapa kau bersikap dingin seperti itu? Tidak bisakah kau tersenyum sedikit dan mengobrol santai.. Kau sangat tidak mengasyikan Soo Jae-a." Ucap Hye Joon sedikit kesal.
"Aku tidak perduli. Lagi pula itu kencan buta mu Hyung, bukan aku. Jadi untuk apa aku tersenyum konyol di hadapan wanita-wanita tadi." Jawab malas Soo Jae.
"Dasar manusia dingin."
"Terserah."
Soo Jae dan Hye Joon sudah kembali dari acara kencan buta mereka, ah tidak.. Lebih tepatnya kencan buta Hye Joon, karena Soo Jae hanya duduk ganteng dan berkencan dengan kerjaan diponselnya.
"Aku menginap disini, aku malas pulang." ucap Hye Joon.
"Terserah kau saja. Aku ke kamar dulu." Jawab acuh Soo jae. Dan melangkah pergi meninggalkan Hye Joon diruang tengah mansionnya.
__ADS_1
Hye Joon sudah biasa menginap di mansion Soo Jae. Bahkan, mungkin Hye Joon sudah menganggap mansion Soo Jae sebagai rumah kedua nya. Karena Hye Joon lebih sering menginap di Mansion Soo Jae ketimbang pulang ke rumahnya. Dan Soo Jae tidak keberatan tentang itu, karena dia tinggal di mansion hanya seorang diri.
Ceklek...
Soo Jae memasuki kamarnya, ia berjalan ke arah kamar mandi untuk menyegarkan badannya. Ia sangat lelah, karena pekerjaannya di kantor di tambah ia juga harus ikut menemani Hye Joon pergi kencan buta.
"Sepertinya aku tidak akan bertemu dengannya lagi" Ucap Soo Jae lirih di bawah guyuran air dari shower.
********
Tidak ada manusiapun yang mengetahui tentang takdir mereka seperti apa dan bagaimana. Semua akan menjalani kehidupannya seperti air mengalir tanpa memusingkan takdir hidupnya. Namun, beberapa manusia mungkin akan memikirkan takdir nya juga dan beberapa mungkin akan menjalani kehidupannya dengan apa yang sudah ia jalani. Hidup untuk hari dan menyambut hidup keesokan harinya, mereka yang hidup tanpa memikirkan takdir akan menemui takdir mereka dengan penuh kejutan.
"Terimakasih oppa sudah mengantarku." Ucap Yeri saat sudah turun dari mobil dan masih berada di depan mansionnya bersama dengan Hwan yang ikut turun mengantarkan.
Mereka telah sampai di mansion Yeri sebelum pukul 22.00 malam. Hwan bersikap manis sekali untuk Yeri, ia bahkan membukakan pintu mobil lagi untuk Yeri saat ia akan turun. Yeri bahkan sempat tersipu malu akan hal manis yang Hwan lakukan untuknya.
"Sama-sama Yeri-a. Hmm.. Apa besok aku boleh mengantarmu sekolah? Tapi jika tidak, aku tidak akan memaksa." Jawab dan tanya Hwan sedikit ragu.
"Aku akan minta izin appa dulu, jika appa membolehkan. Kau bisa menjemputku untuk berangkat sekolah, oppa." Jawab Yeri dengan senyum manisnya.
"Baiklah, kabari aku jika appa mu membolehkan. Sekarang masuklah dan segera pergi istirahat."
"Iya oppa. Sekali lagi terimakasih dan hati-hati."
Hwan pun melajukan kembali mobilnya meninggalkan area mansin keluarga Park. Dan Yeri juga sudah berjalan riang memasuki mansionnya. Ia senang sekali hari ini, bisa berkumpul dengan teman-temannya dan juga bertemu dengan Hwan.
"Kau baru pulang, Yeri-a." Ucap appa Yeri saat melihat Yeri baru memasuki mansion.
"Appa!! Appa belum tidur? Apa, appa menunggu Yeri?" tanya Yeri sedikit gugup.
"Iya, appa menunggu putri appa pulang. Siapa yang mengantarmu tadi, Yeri-a?" Jawab dan tanya tuan Park dengan nada tenang.
"Dia.. Dia Lim Hwan. Appa ingat, pria yang mentratirku minum kopi si penabrak mobilku. Yang waktu itu orang suruhan appa memata-mataiku melihat aku pergi bersamanya ke cafe dekat toko buku? Dia adalah Lim Hwan orang yang mengantarku barusan, appa." jelas Yeri.
"Hmm.. Ternyata dia cukup tampan kalau dilihat secara langsung ya.. Hmm.." ucap tuan Park dengan senyum jailnya. Menggoda sang putri.
"Appa.. Jangan menggodaku seperti itu. Dia, dia.."
"Dia memang tampan kan? Hmm.." potong tuan Park, terus menggoda sang putri dan tertawa kecil.
"Appa hentikan!! sudahlah, aku mau ke kamar." ucap Yeri dengan rona merah di pipinya.
__ADS_1
Dengan menyembunyikan rona merah dipipinya Yeri pun dengan langkah cepat meninggalkan sang appa yang masih tertawa karena telah berhasil menggodanya. Hingga..
"Appa.. Bolehkah.. Bolehkah Besok Hwan oppa, menjemputku untuk kesekolah?" Ucap pelan Yeri saat ia sudah berbalik dan menghadap sang Appa.
"Boleh. Asal dia sendiri yang izin ke appa secara langsung, besok pagi." Jawab Tuan Park dengan senyum hangatnya.
"Benarkah? Terimakasih appa." Ucap Yeri dengan binar senang dan berlari memeluk sang appa. Dan tuan Park pun juga membalas pelukan sang putri.
"Pergi ke kamarmu dan istirahatlah."
"Baik appa. Selamat malam." jawab Yeri sambil melepas pelukannya pada sang appa dan dibalas anggukan oleh tuan Park. Yeri pun melangkah kembali menuju tangga untuk kekamarnya.
Saat Yeri sudah berada di dalam kamarnya ia pun langsung mengambil ponselnya dalam tas yang ia bawah saat pergi tadi. Yeri akan memberi kabar ke Hwan kalau, appa nya membolehkan untuk menjemputnya besok pagi.
*_*
"Hwan oppa.. Appa membolehkan oppa menjemputku untuk mengantarku ke sekolah. Tapi, appa bilang.. Oppa harus meminta izin sendiri besok pagi ke appa, saat menjemputku."
*_*
"Baiklah aku sudah mengirim pesannya. Sekarang aku harus membersihkan diriku dan mengganti bajuku. Agar aku bisa tidur nyenyak" Ucap Yeri pada diri sendiri dan berjalan ke kamar mandi untuk menyergarkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pajama.
10 menit kemudian...
Ting..Ting..
Suara notifikasih pesan masuk. Dengan secepat kilat Yeri mengambil kembali Ponselnya saat ia sedang melakukan rutinitas malamnya merawat kulitnya.
*_*
"Tentu tuan putri, besok aku akan izin langsung ke appa. Sampai bertemu besok pagi, cepat istirahat. Selamat malam tuan putri yang cantik." balas Hwan penuh kata-kata manis.
*_*
Yeri yang membaca pesan dari Hwan itupun tersenyum malu. Ia bahkan memeluk ponselnya karena membaca kata-kata manis yang di kirim oleh Hwan.
"Yeri-a!! Sepertinya kau akan tidur nyenyak malam ini." Ucap Yeri sambil menjatuhkan dirinya di kasur king size nya. Beberapa menit kemudianpun ia terlelap.
****
Langit malam sangat gelap tanpa bintang dan bulan. Namun, kegelapan malam tanpa bintang dan bulan, akan kalah oleh kegelapan hati seseorang. Jika hati seseorang dipenuhi dengan kegelapan maka hanya akan ada keburukan saja yang dia lakukan dan bahkan dapat merugikan orang disekitarnya. Seseorang yang sudah gelap hati, ia tidak akan pernah memperdulikan sekitarnya. Yang ia perdulikan hanya dirinya sendiri. Licik, picik dan penuh tipu muslihat.
__ADS_1
"Sedikit lagi." ucap seseorang dengan sunggingan senyum.
******