Blacklight A Life

Blacklight A Life
Chapter 26


__ADS_3

Malam sudah menyapa, hawa dingin mulai menyelimuti gelapnya malam. Namun, di tengah gelapnya malam ada sosok yang tengah berjalan dengan langkah ringannya. Seolah ia tidak takut jika kegelapan malam akan melahapnya.


Sosok itu terus berjalan menuju rumah petak yang terdapat di pinggiran hutan. Ia menyusuri jalanan setapak untuk menuju rumah petak tersebut. Hingga langkahnya terhenti kala ia berhadapan dengan sosok lain yang berdiri membelakanginya.


"Apa kau sudah menunggu lama?" tanya Seorang wanita yang baru saja datang dan melanjutkan langkahnya mendekati seseorang yang menunggunya.


"Tidak, aku juga baru sampai. Yejin-a." jawabnya.


Yejin pun tersenyum tipis melihat seseorang di hadapannya yang memakai hoodie hitam dengan tudungnya yang menutupi kepalanya dan masker yang menyembunyikan wajahnya.


"Masuklah. Aku sudah membawahnya untukmu." ucap Yejin sembari mengajak seseorang tersebut untuk masuk kedalam rumah petak.


Kreekk..


Derit pintu usang yang di buka terdengar menggema di bangunan rumah petak itu, hingga membuat seorang wanita yang duduk dengan tangan, kaki terikat dan mata yang tertutup dengan kain hitam, terperanjat dalam diamnya.


"Si-siapa kalian? Le-lepaskan aku." teriak wanita itu.


Sedang seorang yang memakai hoodie hitam berjalan mendekati wanita yang terikat tersebut. Ia berjalan mendekat dan berjalan memutari wanita itu dengan langkah pelan.


"Si-siapa kau?" tanya wanita yang terikat pada kursi, karena mendengar langkah kaki seseorang berada di dekatnya.


Srek..


Seseorang yang memakai hoodie menurunkan maskernya dan memperlihatkan smirik mengerikannya. Sedang Yejin, yang melihat itupun juga ikut bersmirik. Seolah ia mengenal betul siapa seseorang yang memakai hoodie tersebut.


"Kang A Yeong." ucap seseorang memakai hoodie.


Deg...


Tubuh A-yeong mendadak kaku, ketika namanya di sebut oleh seseorang yang A-yeong kenal ketika mendengar suaranya.


"Ka-kau.." ucap A-yeong pelan, dengan menajamkan telinganya untuk mengetahui posisi orang yang ia kenal.


"Kau mengenaliku ternyata."


"Le-lepaskan aku. Apa maumu, sialan?!" bentak A-yeong.


"Ssstt, kau berisik sekali A-yeong-ssi. Aku benci dengan kebisingan." bisik seseorang yang memakai hoodie tepat di telinga A-yeong.


"Lepaskan aku, Park Yeri." ucap A-yeong lagi dengan geram.


Ya, Park Yeri. Sosok yang memakai hoodie hitam dengan maskes yang menutup wajahnya. Yeri keluar secara diam-diam dari mansion saat jam sudah menunjukkan jam 12 malam tepat, dimana semua orang sudah tertidur pulas.


Yeri keluar menemui Yejin, karena Yejin berhasil membawah dan menyekap A-yeong. Wanita yang menjadi selingkuhan Hwan.


Puft...


Yeri menahan tawa saat A-yeong menyebut namanya. Namun, kemudian Yeri tertawa terbahak-bahak hingga bulir air matanya keluar dari ekor matanya.


"Hah, kau membuatku geli A-yeong-ssi." ucap Yeri sembari menghapus bulir air matanya, "Jangan pernah menyebut namaku dengan mulutmu itu, A-yeong-ssi." ucap Yeri penuh penekan dengan mencengkeram kedua pipi A-yeong.

__ADS_1


"Akh..le-lepaskan, sialan!!" ucap A-yeong memberontak dengan meringis sakit karena cengkraman kuat Yeri.


Yeri pun melepaskan kasar cengkramannya pada pipi A-yeong dan berjalan menjauhi A-yeong.


"Yejin-a, bisakah kau tetap mengurungnya disini sampai hari pernikahanku dan Hwan selesai?" tanya Yeri pada Yejin.


"Tentu saja. Aku tidak akan melepaskannya, sampai kau sendiri yang menyuruhku untuk melepaskannya." jawab Yejin dengan menyunggingkan senyum.


Yeri pun tersenyum manis menatap Yejin. Ia merasa beruntung karena ada Yejin yang mau membantunya untuk bangkit dari ketakutan yang di sebabkan oleh Hwan.



7jam setelah operasi Yeri tersadar, Yeri tersadar tepat jam 6malam setelah menjalani operasi pada siang hari. Ia mengerjapkan matanya pelan menyesuaikan penerangan di sekitarnya. Ia melihat langit-langit atap berwarna putih dan ia juga mencium bau obat-obatan khas di rumah sakit. Hingga suara seorang dokter mengalihkan Yeri, menatap ke arah dokter tersebut.


"Nona Yeri, anda sudah sadar? Apa anda mendengar saya?" ucap sang dokter.


"Iya.." jawab lirih Yeri sembari melihat sekitarnya.


Yeri tidak melihat orang tua atau pun Hwan berada di ruang rawatnya. Ia hanya melihat dokter dan perawat saja, yang mungkin kebetulan sedang memeriksanya.


"Apa anda merasakan sakit? Apa anda tahu, anda dimana sekarang?" tanya kembali sang dokter.


"Kepalaku sedikit berdenyut sakit. Dan, aku berada dirumah sakit?!." jawab Yeri pelan.


"Sakit kepala anda akan segera mereda, ini hanya efek karena 7jam lalu anda harus mendapatkan tindakan operasi."


"Operasi?" tanya Yeri.


"Iya, kami harus melakukan tindak operasi untuk menghentikan pendarah di kepala anda."


"Dokter, dimana keluarga saya?" tanya Yeri,


"Keluarga anda sedang menunggu di luar, karena kami sedang melakukan pemeriksaan."


"Bisakah, kau membantuku?"


"Tentu katakan, nona. Saya akan membantu? Apa anda ingin saya panggilkan keluarga anda?" tanya sang dokter.


"Tidak. Tapi, tolong beritahu keluarga saya. Jika saya hilang ingatan saat saya tersadar. Tapi bukan sekarang, tapi besok."


"Hilang ingatan?" tanya dokter sedikit tidak mengerti.


"Iya dok, tolong bantu saya. Dokter juga pasti tahu, jika beberapa bagian tubuh saya mengalami lebam dan juga dokter juga pasti tahu, luka sayat pada pergelangan tangan saya."


Dan dokter pun mengangguk membenarkan ucapan Yeri.


"Tolong rahasiakan itu juga. Saya mohon bantu saya. Saya akan pura-pura belum sadar sampai besok."


"Baiklah, sepertinya memang saya harus membantu kamu."


Dokter pun setuju untuk membantu Yeri, yang akan berpura-pura belum sadar dari tidurnya setelah operasi dan mengalami hilang ingatan saat sudah tersadar nantinya.

__ADS_1


"Terima kasih dok. Apa boleh aku meminjam ponsel anda?"


"Tentu." jawab dokter menyerahkan ponselnya dan sedikit memberi privasi pada Yeri yang akan menghubungi seseorang.


Yeri mendial nomer seseorang sembari berbaring di atas ranjangnya, karena Yeri masih merasakan sakit di bagian kepalanya hingga tidak mampu untuk bagun posisi tidurnya.


"Yejin-a.." ucap Yeri ketika panggilan sudah tersambung dan terjawab, "Bantu aku."



Ya, semua sudah Yeri dan Yejin rencanakan, termasuk menerima pernikahan yang di ajukan oleh Hwan. Yeri begitu merasa senang, ketika Hwan mengusulkan pernikahan tersebut. Karena bagi Yeri permainan yang akan ia buat untuk Hwan akan semakin menarik.


Yeri yang sekarang bukan Yeri yang akan tunduk dan menerima segala perilaku Hwan. Yeri sekarang adalah orang yang berbeda, ia tidak akan melepaskan Hwan begitu saja setelah apa yang Hwan perbuat padanya. Katakanlah jika Yeri jahat, tapi selama semua rasa sakit yang ia dapatkan bisa dirasakan oleh Hwan, maka Yeri akan dengan senang hati menjadi sosok wanita yang jahat.


*******


"Lepaskan, aku sialan!!" ucap A-yeong kembali berteriak dan memberontak untuk melepaskan diri dari ikatannya.


"Kau berisik sekali, A-yeong-ssi. Setidaknya berbicaralah dengan nada yang lembut sebelum aku pergi dari tempat ini." jawab Yeri dengan raut wajah dingin.


"Lepaskan aku. Jika kau tidak melepaskanku, Hwan akan membunuhmu hari ini juga. Aku yakin Hwan akan mencariku dan kau, kau harus lenyap karena kau telah melakukan ini padaku."


Yeri menyunggingkan senyum saat mendengar ucapan itu keluar dari bibir A-yeong. Yeri menghebuskan nafas panjang dan berjalan mendekati A-yeong.


"A-yeong-ssi, jangan terlalu berharap jika kau tidak ingin di hempaskan begitu keras oleh harapan." ucap Yeri berdiri di hadapan A-yeong, "Kekasihmu itu.. Ah tidak, lebih tepatnya kekasih kita itu, tidak akan pernah datang kesini dan dia tidak akan pernah bisa membunuhku." jelas Yeri penuh penekanan.


"Dia mencintaiku dan dia akan mencariku." teriak A-yeong.


"Hah, rasanya aku ingin menampar wajahnya begitu keras. Agar mulutnya bisa bungkam dan tidak berteriak." sahut Yejin dengan geram.


"Tenanglah Yejin-a. Biarkan saja dia berteriak sesuka hatinya. Toh, dia akan tetap disini sampai aku menyelesaikan urusanku dengan, Lim Hwan." ucap Yeri berjalan mendekat ke arah Yejin, "Ayo, biarkan dia. Aku harus kembali."


"Ayo.." jawab Yejin.


"Lepaskan aku, sialan!! Jangan tinggalkan aku disini. Lepaskan aku!!"


Mereka berdua melangkah keluar dari rumah petak tersebut dan menghiraukan teriakan A-yeong yang meminta untuk di lepaskan. Mereka tidak ambil pusing dengan A-yeong yang terus berteriak, toh tidak akan ada yang mendengarnya. Karena sekitar rumah petak itu hanyalah hutan yang di penuhi pepohonan rimbun.


"Kalian berjaga disini." ucap Yejin, pada dua orang pria berbadan tegap.


"Baik, nona muda."


Kini Yeri dan Yejin berjalan di jalanan setapak untuk keluar dari area hutan letak rumah petak tersebut.


"Apa dia masih belum menemui?" tanya Yejin memecah keheningan.


"Belum." jawab Yeri datar.


"Apa kau mau aku menemuinya, agar dia mau menemuimu?"


"Tidak perlu. Aku percaya padanya jika dia akan menepati janjinya." jawab Yeri yakin, "Dia akan segera menemuiku."

__ADS_1


*******


__ADS_2