Blacklight A Life

Blacklight A Life
Chapter 19


__ADS_3

Hwan menarik sedikit kasar tangan Yeri untuk pergi meninggalkan pria yang telah menyelamatkan Yeri dari tabrakan.


Grep..


"Tunggu dulu." ucap pria yang menyelamatkan Yeri yang tak lain adalah Soo Jae.


Soo Jae mencekal tangan kanan Yeri dan menghentikan langkah Hwan yang menarik kasar Yeri.


"Lepaskan tanganmu, dari kekasihku." ucap Hwan dengan menatap tajam ke arah Soo Jae.


"Okey" jawab Soo Jae santai dan melepaskan tangannya dari Yeri, "Sepertinya kau salah paham. Aku tadi hany.."


"Aku tidak butuh penjelasanmu. Aku tidak perduli tentang hubungan kalian berdua. Tapi aku peringatkan padamu." potong Hwan dengan geram dan berjalan mendekat ke arah Soo Jae.


"Jangan menganggu Park Yeri lagi. Dia hanya milikku dan dia hanya akan menjadi milikku." lanjut Soo Jae penuh penekanan dan menunjuk tepat di wajah Soo Jae.


"Ayo!"


Hwan kembali menarik kasar tangan Yeri menuju mobilnya dan langsung melajukan mobilnya cepat meninggalkan daerah tersebut.


"Kenapa pria itu kasar sekali. Apa wanita itu akan baik-baik saja?" ucap Soo Jae bertanya-tanya dan memikirkan Yeri, "Entahlah, untuk apa juga aku mencampuri dan memikirkan orang yang tidak aku kenal." ucap Soo Jae datar dan berjalan meninggalkan tempat tersebut menuju taksi yang masih menunggunya.


Tap..


Soo Jae mendadak menghentikan langkahnya, seolah ia teringat sesuatu.


"Wanita itu.. Gadis yang aku tabrak di minimarket 2tahun lalu."


*******


Hwan melajukan mobilnya dengan cepat, ia begitu marah karena melihat Yeri berpelukan dengan pria lain di depan umum.


"Aku tidak akan melepasmu, Park Yeri. Kau adalah sumber uangku." batin Hwan


"O..oppa, pelankan laju mobilnya. Kita bisa mengalami kecelakaan jika seperti ini." ucap Yeri yang sedari tadi takut akan kemarahan Hwan.


"Kenapa? Sekalian saja kita mati berdua. Kau hanya milikku Yeri. Tidak ada yang boleh merebutmu dariku. Kau mengerti." ucap Hwan dengan geram.


"Kau..kau salah paham oppa. To..tolong jangan marah."


Grep..


Hwan mencengkeram tangan kiri Yeri dengan kuat, hingga membuat luka sayatan ditangan Yeri mengeluarkan darah.


"Akh.. Sa..sakit. To..tolong..le..lepaskan."


Yeri meringis sakit dan memohon agar Hwan melepaskan cengkramannya dari pergelangan tangannya.


"Sakit kau bilang? Aku lebih sakit saat melihatmu dengan pria lain." ucap Hwan dengan geram dan semakin mencengkeram kuat tangan Yeri dengan tetap fokus pada jalanan didepannya.


"Kau..kau salah paham." jawab Yeri sedikit membentak di akhir ucapannya.


Yeri menatap tajam ke arah Hwan dan menepis kasar tangan Hwan dari tanganya. Yeri sudah tidak bisa menahan lagi, semua perlakuan Hwan kepadanya.

__ADS_1


"Pria tadi hanya ingin menyelamatkanku! Aku hampir mati tertabrak mobil jika pria tadi tidak datang untuk menyelamatkanku." jelas Yeri dengan nada tinggi juga isakan kecil.


Chiitt...


"Kau!!!" ucap Hwan geram setelah menepikan mobilnya secara mendadak.


Grep...


Akh...


Hwan mencengkeram kedua pipi Yeri kasar, hanya dengan satu tangan kekarnya.


"Kau sudah berani meninggikan suaramu kepadaku, Park Yeri. Aku akan memberimu hukuman yang akan membuatmu menyesali sikapmu kali ini." ucap Hwan dengan geram dan membalas tatapan tajam Yeri.


"Aku akan membuatmu cacat, hingga tidak akan ada pria yang mau bersamamu. Hanya aku yang akan menjadi pria satu-satunya yang akan kau butuhkan dan kau miliki, Park Yeri." ucap Hwan dengan penuh penekanan.


Hwan melepas kasar cengkramannya dan kembali melajukan mobilnya dengan cepat. Sedang Yeri masih tertegun atas ucapan Hwan, Yeri yakin sekali jika Hwan akan melakukan sesuatu padanya. Karena Yeri mengenal Hwan, ia adalah pria yang kejam dan tidak main-main dengan ancamannya. Jika Hwan sudah berucap seperti itu, maka Hwan akan benar-benar akan membuatnya cacat.


Tubuh Yeri bergetar takut, ia menatap kosong jalanan didepannya dan mobil semakin melaju dengan cepat. Hingga..


Clik...


Bruuukkk....


"Yeri-a!!!"


Tanpa berpikir panjang, Yeri menjatuhkan dirinya dari mobil yang dikendarai Hwan. Ia jatuh ke jalanan begitu keras dan berguling-guling di jalanan.


Yeri merasakan sakit disekujur tubuhnya, bau angir darah segar juga memenuhi indra penciumnya. Ia menatap mobil Hwan yang berhenti tidak jauh darinya, Yeri masih melihat Hwan yang turun dari mobil dan berlari menghampirinya. Hingga perlahan pandangan Yeri mengabur dan kehilangan kesadarannya.


********


Hwan memeriksa denyut nadi Yeri dan dapat Hwan rasakan denyut nadi Yeri begitu lemah. Bahkan darah terus mengalir dari kepala Yeri, yang mungkin mengalami benturan sangat keras.


Hwan melihat jalanan sekelilingnya, yang sangat sepi tidak ada pengendara lain yang lewat. Hwan memang akan berencana membawah Yeri ke hutan pinggiran kota, jadi wajar jika jalanan yang ia lewati begitu sepi pengendara.


"Aku harus menelfon ambulance. Aku tidak bisa membawah nya begitu saja." ucap Hwan panik dan langsung menghubungi ambulance.


Setelah menghubungi ambulance, Hwan pun terus memeriksa denyut nadi Yeri dan menekan luka kepala Yeri untuk menghentikan pendarahan. Hwan takut jika Yeri kehilangan nyawanya hari itu juga.


"Kenapa mereka lama sekali." ucap kesal Hwan.


20menit kemudian ambulance datang, tim medis segera melakukan pertolongan pertama kepada Yeri, lalu setelah itu membawah Yeri ke rumah sakit terdekat.


*********


Rumah sakit....


"Apa anda walinya?" tanya perawat perempuan yang mendatangi Hwan di ruang tunggu.


"Bu..bukan. Ada apa? Bagaimana kondisinya?" tanya Hwan sedikit gugup.


"Pasien harus segera menjalani operasi, karena ada pendarahan di kepala. Jadi, kami harus mendapat persetujuan dari wali." jelas perawat.

__ADS_1


"La..lakukan saja. Pihak rumah sakit baru saja menghubungi keluarganya."


"Baiklah."


Hwan begitu takut dan cemas, ia takut bila ia akan di penjarakan oleh orang tua Yeri. Hwan sudah memberikan nomer orang tua Yeri kepada pihak rumah sakit, dan orang tua Yeri akan segara datang ke rumah sakit.


"Aku tidak ingin jika sampai dipenjara, gara-gara kebodohan Yeri yang melompat keluar dari mobil." ucap Hwan pelan dengan raut wajah cemas akan dirinya sendiri.


"Tidak..tidak.. Aku tidak mau di penjara, aku harus mencari alasan. Yah., aku harus mencari alasan lain atas penyebab kecelakaan Yeri."


*******



Sumber picture : Pinterest


Siang telah berganti sore dan Soo Jae baru saja sampai di mansionnya. Ia melangkah pelan memasuki mansionnya dengan menggeret kopernya. Soo Jae masih saja memikirkan Yeri, gadis yang pernah ia temui karena tidak sengaja bertabrakan dengannya. Entah takdir seperti apa yang sudah mengikat mereka berdua, yang jelas Soo Jae masih ingat gadis tersebut.


"Dia semakin cantik dan dewasa sekarang." ucap pelan Soo Jae saat menghentikan langkahnya di ruang tengah.


"Siapa yang cantik?"


Brak...


"Yak.. Haish..."


Pertanyaan tiba-tiba Hye Joon membuat Soo Jae tersentak kaget hingga kopernya tak sengaja ia senggol.


"Kenapa kau ada disini?" tanya Soo Jae malas sambil mendudukan diri di samping Hye Joon.


"Yak, anak nakal. Aku sudah menunggumu dari jam 2 siang tadi. Dan kau malah baru tiba. Dari mana saja kau?" ucap dan tanya Hye Joon kesal.


"Aku berjalan-jalan sebentar." jawab acuh Soo Jae.


"Lalu, siapa yang cantik dan dewasa? Kau bertemu dengan wanita? Kau langsung berkencan setelah kembali dari amerika?" tanya beruntun Hye Joon dengan nada menggoda.


"Hentikan. Aku sedang lelah, pulanglah."


"Lihat, kau benar-benar tidak berubah. Masih saja dingin dan suka mengusir."


Soo Jae hanya menggidikkan bahu acuh dan bersendekap dada menyandarkan dirinya di sofa.


"Baiklah, aku pulang beristirahatlah. Kau besok harus datang ke kantor."


Hye Joon beranjak bangun dan melangkah pergi untuk pulang dari mansion Soo Jae.


"Tunggu hyung!"


Soo Jae menghentikan Hye Joon, lalu menghampiri Hye Joon.


"Carikan aku data identitas seseorang."


"Identitas seseorang?" tanya Hye Joon dengan kerutan di keningnya.

__ADS_1


********


__ADS_2