Blacklight A Life

Blacklight A Life
Chapter 7


__ADS_3

Hari telah berganti. Suara kicau burung menyambut pagi hari yang begitu cerah. Seolah burung-burung sangat bahagia karena cuaca cerah dari sang surya. Bahkan tidak hanya para burung-burung saja yang merasa bahagia akan cuaca cerah pagi ini, manusia-manusia di bumi pun akan turut menyambut bahagia cuaca cerah langit pagi dan semilir angin sejuk yang begitu menenangkan di pagi hari. Tapi tidak, bagi seseorang yang tengah berkelut dengan pikiranannya yang berkecamuk karena masalah yang terjadi. Mau cuaca secerah apapun ia tidak akan bisa menikmatinya.


Park Yeri, seseorang yang tidak akan bisa menikmati pagi cerah nya, ia berangkat diam-diam meninggalkan rumahnya untuk pergi bersekolah. Dengan wajah dingin tanpa ekspresi dan tatapan kosongnya ia berangkat kesekolah tanpa di antar supir.


Ya, pagi-pagi sekali, tepatnya pukul 05.30 pagi. Yeri berjalan ke jalan raya untuk menyetop taxi. Ia memutuskan untuk naik taxi kesekolahnya. Sengaja ia berangkat pagi-pagi, untuk menghindari bertemu sang appa saat sarapan pagi. Yeri masih belum ingin bertatap atau berhadapan langsung dengan appa nya setelah kejadian kemarin.


Bahkan semalam ia mengabaikan sang eomma yang berkali-kali datang mengetuk pintu kamarnya untuk mengajaknya makan malam bersama. Dan tentu saja, usaha eomma nya itu hanya sia-sia, karena ia memilih untuk mengurung diri di dalam kamarnya dan melewatkan jam makan malamnya.


Dengan tatapan kosong Yeri terus berjalan ke tempat pemberhentian taxi di ujung jalan area masuk mansionnya. Tanpa memperhatikan sekitar dan tidak perduli dengan sekitarnya Yeri terus berjalan tanpa ia sadari, ia telah melawatkan tempat pemberhentian taxi, yang harus nya ia menunggu taxi dari situ. Hingga..


Bruuukkkkk....


"Maaf." Ucap singkat Yeri dan sedikit menunduk sopan pada orang yang tidak sengaja ia tabrak. Lalu ia melanjutkan langkahnya lagi tanpa melihat kondisi orang yang tadi tidak sengaja ia tabrak.


"Dia? Ada apa dengannya?" monolog seseorang dalam hati.


Yeri, yang masih terus berjalan pun tiba-tiba berhenti. Dan mulai melihat sekitarnya yang sedikit sudah ramai oleh pejalan kaki. Yeri baru menyadari bahwa ia telah berjalan jauh melewatkan tempat pemberhentian taxi dekat area mansionnya dan berakhir ia pun memilih untuk naik bus ke sekolahnya. Karena tempat ia berhenti dan tersadar dari alam bawah sadarnya, sangat deket dengan halte bus. Dan tak lama bus yang akan ia naiki menuju sekolah pun datang.


"Kenapa kau seperti ini Yeri-a." ucap lirih Yeri. Saat ia sudah duduk di bangku kosong yang tersedia di bus.


********


Jam sudah menunjuk kan pukul 10 pagi. Orang-orang sudah beraktivitas tentunya untuk menjalankan hari mereka. Untuk bekerja, sekolah, atau apapun segala aktivitas pagi hari.


"Kau tadi pagi pergi kemana? Aku menjemputmu ke mansion. Tapi maid yang bekerja dirumah mu mengatakan kau sudah pergi pagi-pagi sekali." tanya seseorang tiba-tiba.


"Ketuk pintu lebih dulu sebelum masuk hyung. Kebiasaan sekali." sahut seseorang sedikit jengah karena orang yang di panggil hyung itu masuk ke ruang kerja nya tanpa mengetuk pintu.

__ADS_1


"Maaf, maaf. Tidak akan ku ulangi lagi." sahut orang tadi meminta maaf dengan cengirannya. Dan duduk tepat di kursi berhadapan dengan sang pemilik ruangan. "Jadi, pergi kemana kau tadi pagi?" lanjutnya.


"Pergi sarapan"


"Pergi sarapan? Memang para maid yang bekerja di mansion mu tidak membuatkanmu sarapan, Tuan muda Kim Soo Jae?" Tanya seseorang yang di panggil hyung Oleh Kim Soo Jae.


Kim Soo Jae, 25 tahun. Seorang CEO muda yang menggantikan posisi appanya. Dia adalah seorang ahli waris dari keluarga Kim. Dia adalah laki-laki tampan dan menawan, siapa saja bakal jatuh hati saat bertemu dan bertatap muka dengan anak cebol itu. Postur tubuh yang gagah tinggi dan berotot,hidung mancung dengan garis wajah yang tegas dan berkulit putih. Sempurna sekali bukan?ciptaan tuhan yang satu ini. Sudah kaya raya, wajah dan postur tubuh pun sangat sempurna. Namun sayangnya, seorang Kim Soo Jae memiliki sifat yang dingin dan acuh dengan sekitarnya. Dan dia adalah tipe orang yang tidak bisa dibantah jika sudah bertitah. Tapi percayalah, ia akan menjadi orang yang sangat manja jika saat bersama Eommanya. Ya, pada Eommanya dan juga orang yang dia cintai nantinya.


"Aku hanya ingin sarapan di luar hyung." Jawab Soo Jae. "Dan apa kau tidak punya kerjaan hingga datang ke kantorku? setauku ini belum jam makan siang?" lanjut Soo jae.


"Aku hanya ingin menemui mu saja Soo Jae-a. Lagi pula kerjaan yang kau berikan sudah hyung selesaikan. Jadi, hyung sedang ada waktu saja." Jawab orang tersebut.


"Terserah kau saja..."


Jawab Soo Jae jengah, selalu saja orang yang dia anggap sebagai hyung nya itu akan menganggunya bekerja saat hyung nya itu tidak memiliki pekerjaan apapun.


"Ya pergi lah. Kau mengganggu konsentrasiku hyung." Jawab Soo Jae tanpa melihat kepada orang yang ia ajak bicara.


"Baiklah, hyung pergi dulu. Kabari hyung jika kau tidak sibuk." pamit orang tersebut dan beranjak berdiri untuk meninggalkan ruangan Soo Jae. Namun...


"Hye Joon hyung..." Panggil Soo Jae. Orang yang bernama Hye Joon itupun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya lagi menghadap Soo Jae.


"Ada apa, Soo Jae-a?" Tanyanya.


"Apa kau pernah, bertemu tanpa sengaja dengan orang asing yang tidak kau kenal sama sekali. Lalu kemudian setelah lama, kau bertemu kembali dengan orang asing yang pernah kau temui dulu dan saat kau bertemu kembali dengannya kau langsung mengingat wajahnya. Apa kau pernah seperti itu hyung?" Jelas dan tanya Soo Jae panjang lebar.


Hye Joon tidak langsung menjawab Ucapan Soo Jae. Ia sedikit bingung akan penjelasan yang di utarakan Soo Jae. Apa Maksudnya? Hye Joon terus memaksa otaknya untuk memahami setiap kata yang di ucapkan Soo Jae..

__ADS_1


"Hyung.. Kenapa kau hanya diam? Aku sedang bertanya kepadamu, hyung." Sentak Soo Jae karena melihat keterdiaman Hye Joon tidak menjawab pertanyaannya.


"Tunggu sebantar. Hyung masih mencoba memahami maksud dari setiap katamu itu, Tuan muda Kim." Sahut Hye Joon. Soo Jae pun morotasi bola matanya malas. Entah dia yang terlalu berbelit menjelaskannya atau otak Hye Joon yang sedikit lamban menerima maksud dari ucapanya. Entahlah..


"Apa maksud mu begini, kau pernah tanpa sengaja bertemu dengan orang asing yang tidak kau kenal. Lalu kau bertemu kembali dengannya di kemudian hari, minggu atau bulan? Dan saat kau bertemu kembali dengannya kau langsung mengenali wajahnya? Begitukah?" lanjut dan tanya Hye Joon untuk lebih memastikan.


"Hmm. Ya, seperti itu. Tapi bukan hari, minggu dan bulan melainkan satu tahun lalu dan aku bertemu kembali dengannya di tahun ini. Bahkan aku bertemu dengannya 2 kali." jawab Soo Jae menceritakan detailnya.


"Kau serius? Lalu kenapa kau masih menginggat wajahnya? Bukankah itu pertemuan yang tidak di sengaja? Bahkan kau tidak mengenalnya?bagaimana bisa kau masih mengingat wajahnya? Apa dia seorang gadis yang cantik? Hingga kau tidak melupakan wajahnya? Hmmm." Tanya Hye Joon beruntun dan sedikit mengoda Soo Jae.


"aaahhh sudah lah hyung. Aku tidak ingin menceritakan nya lagi. Pergilah aku harus menyelesaikan pekerjaanku saat ini." Jawab Soo Jae dan mengusir Hye Joon.


"Tapi, hyung sangat penasaran. Ayo ceritakan seperti apa dia?"


"Tidak..tidak.. Pergilah hyung, kau sangat menganggu." Usir Soo Jae lagi.


"Oh ayolah. Hyung sangat penasaran Soo Jae-a. Hyung yakin sekali kalau dia adalah takdirmu, untuk menggantikan ****** itu. Bahkan Kau dan Gadis asing itu bertemu kembali setelah setahun lamanya. Dan hubungan kalian hanya orang asing yang tidak sengaja bertemu. Wah, Takdir memang benar-benar penuh kejutan..."


"Cukup Hyung..Pergi lah dan jangan bawah-bawah takdir lagi." Sahut Soo Jae dengan nada kesal.


" Baiklah Hyung pergi. Dan hyung saranin, kau untuk mengajaknya berkenalan atau ajak dia berkencan kalau kau bertemu lagi dengannya. Atau kau juga bisa, beri tahu ciri-ciri nya kepada hyung. Hyung akan mencarikan identitas nya untukmu." Ucap Hye Joon memberi saran dan pamit untuk pergi meninggalkan ruangan Soo jae.


Soo Jae hanya menjawabnya dengan gumaman, ia terlalu malas untuk meladeni ucapan Hye Joon. Untuk apa Ia repot-repot mencari tahu tentang gadis asing itu. Itu hanya pertemuan tidak sengaja, tentu saja bisa terjadi lagi karena mereka tinggal di satu kota yang sama. Jadi, tidak menutup kemungkinan mereka akan bertemu kembali. Bukan?


"Apa memang ada Takdir seperti itu?" Tanya Soo Jae lirih pada diri sendiri,saat Hye Joon sudah meninggalkan nya sendiri di ruangannya.


******

__ADS_1


__ADS_2