
10.🐌
Cepat Bitha meraih kembali tas nya saat sadar apa yang terjadi.
Kesalahan yang bisa berakibat fatal.
Alex masih tetap pada posisinya berbaring di jok depan dengan mata terpejam, sebelah lengannya menutup dahi sedang sebelah lagi menutup aset berharga warisan keluarganya yang masih berdenyut nyeri.
Bitha tak berani menoleh sama sekali. Ia takut, takut apa - apa yang ditakuti oleh semua wanita.
Akhirnya Bitha memilih turun, keluar dari mobilnya untuk menghindari hal - hal yang ia takutkan tadi.
Bitha mengedarkan pandangannya menatap sekeliling rumah setengah jadi yang sebagian dindingnya di dominasi oleh kaca.
Sepertinya rumah ini sangat nyaman dihuni. Terlihat dari banyaknya calon tumbuhan rambat dan tanaman bunga serta beberapa pohon buah yang ditata secara apik akan terlihat hijau nan asri nantinya.
Ia mencoba melangkah kedalam rumah berlantai tiga itu, mata indahnya nampak terpesona dengan rumah bertajuk modern tropis tersebut.
Dibagian dalamnya terdapat taman indoor yang menghubungkan ruang keluarga dengan bakal kolam renang. Benar - benar indah baginya. Lampu - lampu yang sebagian menyala di area kolam memantulkan bayangan air hujan yang melewatinya.
Bitha mendekap erat tubuhnya sendiri, hujan tak kunjung reda sedangkan hari sudah mulai gelap. Teringat dengan pria tadi membuatnya keluar untuk melihat keadaannya.
Saat tiba ditempat, ia melihat Alex tertidur pulas masih dengan posisi yang sama.
Bitha bingung harus berbuat apa. Ia tak mengenal pria itu dengan baik. Juga tak tau harus melakukan apa. Jika membangunkanya ia pun tak tega mengingat perbuatannya tadi.
Tak berapa lama, ponsel Bitha bergetar. Membangunkan tidur nyenyak Alex yang hanya beberapa saat.
Alex menatap benda pipih itu, menampilkan panggilan telepon dengan wajah Sarah. Ia tahu siapa Sarah. Kemudian Alex menurunkan kaca jendela mobil Bitha saat melihat wanita itu tengah bersandar pada dinding bangunan sembari mengusap kedua lengannya.
Alex memunculkan ponsel itu melewati jendela tanpa bangun terlebih dahulu. masih dengan panggilan Sarah yang nampak berkedip.
Bitha berlari menghampiri ponselnya dan segera menerima panggilan Sarah.
📲Bith, kamu dimana?! Masih di RS?!."
📱Enggak!, Eh iya!!
📲Ha? Maksudnya?!.
Sarah nampak curiga,
📱bukan, ini loh ada yang nanya aku"
Sangkalnya,
📲Oh...! Ya udah, pulang jam berapa? Nitip martabak manis donk!." Pintanya
📱iya, entar mampir." Balasnya
__ADS_1
Setelahnya ia menghela nafas sembari menggaruk dahi. Ia merasa berdosa karena telah berbohong kepada sahabatnya itu, pasalnya saat ini dirinya berada tak jauh dari rumah kontrakan mereka.
Wajah cantik itu nampak kuyu, terlihat sekali jika sangat lelah. Setelah seharian berjibaku dengan keadaan orang lain dan sekarang ia malah dipusingkan dengan keadaanya sendiri.
Alex menatapnya dari dalam mobil.
'Ya ampun, Sudah sedekat ini tapi gak bisa di apa-apain,,,aaarrgghh' batinnya menjerit.
Pintu mobil terbuka. Pria itu turun memghampiri Bitha.
"Gak pulang?!." Tanyanya
"Masih mau keluar dulu cari titipan."
Kali ini Bitha menjawab dengan nada rendah, lebih ke lelah. Tak ada mata yang saling memicing ataupun adu urat seperti biasa.
Alex mengikuti langkah kaki Bitha yang menghampiri mobilnya.
Saat hendak menarik handle pintu, Alex dengan sigap menahannya.
Ia memegang kedua bahu Bitha dan menggiring wanita bertubuh ramping itu menuju pintu sebelah bagian penumpang.
Alex membukanya dan menyuruh Bitha untuk segera masuk.
"Kamu duduk aja, biar aku yang nyetir!." Ucapnya lembut
Bitha pun hanya menuruti tanpa perlawanan.
Alex mengemudikan hatchback Bitha keluar komplek dengan santai.
"Kamu mau cari apa?!."
Lima detik tak ada jawaban.
"Martabak... manis .....yang ... enak......" Lirihnya dengan mata hampir tertutup.
Alex tersenyum saat melihat sekilas wanita cantik disebelahnya sudah terlelap.
Ia menggeleng pelan dengan senyum yang masih lekat dibibirnya.
Ingin rasanya mendekap tubuh itu. Tapi apa daya hatinya belum ia dapatkan. Perjuangan masih dua tahap lagi sembari menunggu kerjaannya rampung.
Alex menghentikan mobil Bitha tepat didepan restoran mewah tanpa membangunkan sang empu hajat. Ia nampak mengetikan sesuatu diposelnya.
Setelah menunggu hampir limabelas menit, terlihat seorang waitress berjalan menghampiri mobilnya.
Alex menurunkan kaca jedelanya dan menyuruh sang pelayan untuk meletakkan pesanannya di jok belakang. Mobil pun melesat kembali ketempatnya bernaung.
.
__ADS_1
.
Tiba dirumah sewaan Bitha dan Sarah. Alex mendiamkan wanita itu. Perlahan ia menarik tuas sandaran jok yang sempat menjadi malapetaka untuknya beberapa saat lalu. Alex membiarkannya terlelap, melepas seatbelt juga menyelimutinya dengan jaket yang ia kenakan.
Dua jam lebih berlalu dan keduanya hanya diam didalam mobil. Mereka tertidur pulas. Alex yang semula hanya ingin menatap Bitha tidur malah tertular kantuk dan akhirnya mereka sama-sama terlelap hingga hampir tengah malam.
Bitha yang merasakan pegal disekujur tubuh akhirnya terbangun. Alangkah terkejutnya saat menatap pria yang juga tengah memejamkan mata disebelahnya. Ia membekap mulutnya sendiri dengan sebelah tangannya.
"Hei!!."
Bitha menggoyangkan pundak Alex,
"Hei!!."
Tetap sama
"Kak!?. Bangun!." Ucapnya
Alex yang samar mendengar panggilan 'kak' dari Bitha tetap diam, menajamkan pendengarannya untuk memastikan panggilan dari wanita disebelahnya.
"Kak!?."
"Bangun!."
Bitha terus menggoyangkan lengan Alex dengan sedikit kuat.
"Eehhh,,, ya ampun ini manusia apa beruang sih susah banget banguninnya." Gerutunya
"Kak!!!
ALEX!!!!!..... panggilnya dengan sedikit keras.
Dan pria itu hanya ber 'Heemmh' ria tanpa mau membuka mata, sekedar memutar kepalanya saja menghadap Bitha.
Sesaat Bitha terpesona dengan tampilan wajah tenang Herland Alexander. Benar kata Sarah, jika pria dihadapannya ini punya sejuta pesona, Tampan, tinggi, kulit bersih, rambut sedikit panjang dan kecoklatan, beralis tebal.
Bitha duduk dengan sebelah tangan menahan tubuh diposisinya. Ia menatap lekat wajah pria berdarah pribumi campuran yang tak pernah ia ketahui siapa, dan dari mana asalnya.
Senyumnya mengembang tatkala mengingat kejadian dan kekesalannya terhadap pria dihadapannya ini. Disaat itu pula Alex membuka matanya. Menatap lekat wajah ayu yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
Betapa gugupnya Bitha saat ketahuan tengah memindai wajah seseorang yang sering ia katakan 'menyebalkan' itu. Ia salah tingkah dan berujung marah-marah, Bitha meluapkan semua kekesalannya karena merasa dikerjai hingga membuat Alex tak kuasa untuk menahan tawanya.
"Kamu jahat banget tau!. HIIH!."
"A - A - AMPUUN!!."
Alex menghidari serangan bertubi-tubi yang dilakukan Bitha menggunakan bantalan tissu. Pria itu terkekeh dibalik wajahnya yang tertutupi oleh kedua lengannya.
Selesai dengan pertempuran sepihak yang pasti dimenangkan oleh si pemilik mobil. Alex berpamitan, pria itu melambaikan tangan dari balik pagar. Sedangkan Bitha hanya menatap kepergianya tanpa membalas dengan hal serupa.
__ADS_1
"Bye, jaga kesehatan. Makasih buat tumpangannya!." Serunya dari balik pagar
Bitha hanya menampilkan senyum tipis sebelum pria itu benar-benar pergi.